The Little Detective

The Little Detective
Epilogue


__ADS_3

  Suasana tegang ruangan itu sangat terlihat jelas, aura dingin membunuh itu bagai menusuk setiap jantung orang yang berada di sekitarnya.


"Sialan! Bagimana mungkin ini terjadi! B-08 gagal!? Apa kalian benar-benar Dark Eyes dan berapa banyak yang berhianat! Kenapa kalian semua tidak becus!" seru pria itu sambil memberantakan mejanya.


"Maaf Master," ucap seluruh anggota yang ada di sana.


"Carikan orang-orang yang dapat mengantikan posisi yang kosong! Dan cepat selesaikan rencana itu, aku ingin semuanya berjalan lancar!" pinta sang Master.


"Semua keluar! A-01 tetap di sini!" pinta sang Master.


   Semua orang meninggalkan ruangan rapat tersebut kecuali A-01 yang menunduk hormat pada masternya itu.


"A-01 kau yang akan melawan Scarlett selanjut aku harap kau tak akan gagal, permata itu harus kita dapatkan," ucap sang master.


"Siap laksanakan!" seru A-01 lalu segera pergi.


"Felicia Amira Lashira Avram Abqary Ishan, tiga nama keluarga ada padanya, ini akan menarik, aku akan merebut permata itu," ucap sang master penuh akan tekat.


   Mata biru itu menatap dingin, matanya menajam seiring dengan ambisi membalas dendam yang semakin kuat.


...****...


Satu tahun kemudian....


Yogyakarta, Indonesia.


"Gak! gak! gak! Fani mau sama Kak Cia!" seru Fani sambil mengelengkan kepalanya tak terima dengan keputusan sang ayah yang menyuruhnya agar kembali ke Jakarta.


"Ayo dong Fan, nanti kalau gak ada Kak Cia terus Kamu juga gak ada gimana nasib Agam dan Agler siapa yang bakal jaga mereka?" tanya Khaina berusaha membujuk putrinya itu dengan menggunakan nama kedua putra lembarnya.


"Fani tetap teguh sama pilihan pertama Fani tetap stay di sini sama Kak Cia," ucap Fani dengan tegas tak terbantah.


   Elam menghela napasnya kasar, menyerah membujuk putrinya yang satu itu, ia lebih memilih bermain dengan Agam yang ingin bermain dengannya.


"Yah, kok diam aja sih, bantuin Bunda dong!" seru Khaina meminta tolong pada sang suami, namun Elam tetap saja diam.


"Fani yakin mau tinggal sama Kakak?" tanya Felicia yang datang sambil mengendong si bungsu Agler yang baru saja ia mandikan.


"Iya Fani yakin!" seru Fani bersungguh-sungguh.


"Buh mending gak usah, kamukan nyusahin," ucap Baim mengejek adiknya itu.


"Fani gak nyusahin!" seru Fani sambil memukul-mukul abangnya itu membuat Baim meringis sakit.


"Fan mending kamu ikut sama Bunda dan Ayah deh kasihan soalnya kalau Baim ditinggal sama Agam dan Agler bisa-bisa rumah hancur gara mereka bertiga," ucap Zain.


"Gak mau, kan Bang Zain ada," ucap Fani masih bersikeras.


"Abangkan kuliah Fani dan itu gak di sini pulang mentar kesini aja udah alhamdulilah lah besok-besoknya makin payah," ucap Zain menghela napasnya.

__ADS_1


"Hmp! Fani tetap gak mau," ucap Fani.


"Mending kamu pulang aja deh Fan, kan ada Kakak yang jagain Cia," ucap Neron sambil merangkul Felicia.


"Ada Kakak Nay sama Alexa juga," ucap Nayla sambil merangkul Alexa –sahabat masa kecil Felicia–.


"Tetap gak mau," ucap Fani.


"Yaudah kamu di sini aja sama Kakak, tapi kamu harus nurut sama peraturan Kakak," ucap Felicia dengan final.


"Patuh sama perintah juga," tambah Neron.


"Kok jadi kalian berdua yang mutusin finalnya sih?" heran Elam pada kedua anak itu.


"Yakan Ayah gak nyahut-nyahut," ucap Felicia.


"Jadi Ayah setujukan?" tanya Fani.


"Yaudah deh iya, iya, sana sekarang siap-siap antarin Ayah sama Bunda ke bandara, pesawatnya mau berangkat ini," ucap Elam.


"Siap pak bos!" seru Fani lalu pergi memasuki kamarnya segera bersiap.


Setelah pergi dan pamit dengan tangis bawang sama Khaina, Elam, Zain, Baim, Agam dan Agler. Felicia, Fani juga Neron segera pergi kepusat berbelanjaan sekaligus berbelanja keperluan rumah.


   Malam harinya setelah makan malam mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga.


"Kakak masih mikirin Nenek ya?" tanya Fani memandang sang Kakak.


"Jangan mulai lagi deh Ci, asumsi kamu itu gak benar, mana ada orang di dekat kamu yang akan kena bahaya, malahan kamu itu harus dilindungi," ucap Neron.


"Benar Kak Ci, lagian Fani di sini juga mau lindungi Kakak, Fani gak mau Kakak kenapa-napa," ucap Fani.


"Thanks ya," ucap Felicia sambil tersenyum hangat.


"Tinggal sama aku berarti kalian harus siap untuk melawan DE yang gak bakal berhenti menyerang," ucap Felicia.


"Tentu saja, bahkan Fani siap masuk Huriya," ucap Fani dengan semangat.


"Yey jadi niat kamu dari awal itu mau bebas latihan bertarung di sini sambil masuk Huriyakan," ucap Neron mengacak rambut Fani.


"Hehe ketahuan ya," ucap Fani cengengesan.


"Karena kalian udah tau itu kalian harus waspada karena permainan kedua akan segera dimulai di hitung dari detik ini," ucap Felicia.


"Aduh gak sabar deh mau ngelawan mereka," ucap Fani dengan semangat.


"Berarti mereka siap kalah dong!" seru Neron.


"Entahlah tapi mulai dari sekarang pionku berjalan satu angkah di depan mereka," ucap Felicia.

__ADS_1


'Seperti yang aku katakan sebelumnya yang aku sasarkan memang sang raja namun yang aku incar adalah yang mengendalikan permainan,'


...'Waspada selalu perhatikan langkahmu karena musuh selalu mengintai,' ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...THE END...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...The Little Detective ...


...Book 1 ...


...Kasus selesai. ...


WP


Publis         : 16 April 2019


Completed : 08 April 2020


Season 1 the end.


Bagaimana tanggapan kalian tentang cerita ini dari awal sampai akhir? Bosan? Seru? Tegang? Menakjubkan? Selalu bisa bikin penasaran? Atau sedih? Tulis di kolom komentar ya!


...Jangan lupa like dan commen...


...Dan jangan lupa pula follow author untuk mengetahui info lebih lanjut...


...   Nantikan season berikutnya...


Writers By : Alyaciya, PM05

__ADS_1


27 Desember 2020


__ADS_2