The Little Detective

The Little Detective
Part 6 : Who Exactly Is The Protagonist?


__ADS_3

"Aku ingin identitasku sebagai Scarlett,"


"Selain namanya yang cantik Scarlett berarti merah terang aku ingin seperti itu merah memiliki aura kuat, berani, percaya diri, ambisius dan bisa jadi pertanda dan bahaya aku ingin seperti warna merah,"


"Ok, baiklah identitasmu sudah dibuat ku ucapkan selamat datang littel detective scarlett kau akan di tempatkan di tim RL dan ku sarankan kau untuk mencari asisten kecil,"


'Persiapkan dirimu untuk membalas dendam Cia! dark eyes?aku datang dan selamat bermain,'


* * * *


Di ruang tim RL...


"Fe nama lengkap kamu siapa?"tanya De Luca.


"Felicia Amirah Lashira A," jawab Felicia sambil memakan cemilannya.


"Tempat tanggal lahir?" tanya De Luca lagi.


"Yogyakarta 28 Oktober xxxx," jawab Felicia.


"Umur?" tanya Jiemi.


"12 tahun 9 bulan," jawab Felicia lagi.


"Zodiak?" tanya Jiemi lagi.


"Scorpio," jawab Felicia dengan bosan.


"Hobi?" tanya De Luca.


"Menulis," jawab Felicia masih dengan membuka bungkus cemilan berikutnya.


"Yang di sukai?" tanya Jiemi.


"Kucing, apel, cemilan, coklat sama permen," jawab Felicia.


"Golongan darah?" tanya De Luca lagi dan lagi.


"AB," jawab Felicia.


"Motto?" tanya Jiemi.


"Selalu dua langkah di depan musuh," jawab Felicia membuat De Luca dan Jiemi menganguk-anguk dan lanjut mengetik sesuatu di handphone mereka.


"Emang untuk apa sih kalian nanyain itu?" tanya Felicia akhirnya menyuarakan rasa bingungnya.


"Bukan untuk apa-apa yaudah makasih ya Fe," ucap Jiemi yang diangguki Felicia, De Luca masih duduk di samping Felicia.


"Ada apa?" tanya Felicia membuat De Luca tersenyum memohon.


"Fe cantik deh, kasih tau dong ruangan rahasia yang ada di WE!" mohon De Luca dengan wajah memeles.


'Tadi nginah nginah, terus nanya nanya, sekarang? Haduh capek deh,' batin Felicia mengabaikan De Luca lalu mengambil handphonenya yang baru saja bergetar menandakan ada pesan yang masuk.


    Felicia menyerengit bingung pada pesan yang memintanya bergabung juga dengan sebuah aplikasi yang tiba-tiba muncul di sana, padahal ia tak pernah menginstalnya. Felicia menekan tanda menerima permintaan bergabung tadi dan....


tring~


tring~


tring~


   Bunyi keras bertubi-tubi menandakan pesan masuk itu membuat semua mata yang ada di ruang itu memandang Felicia yang sedang menutup telinganya begitu juga De Luca yang ada didekatnya. Felicia segera menonaktifkan volume handphonenya.


"Apaan sih nih?" tanya Felicia ketika melihat pesan dan berita yang ada di aplikasi tadi membuat Juna, Zain, Alan, Rafan, Ryon, El, Ara, Tina, Ezar, Dylan, Hanif, Faraz, Vina, Alma, Nara, Erland, Arman, Jiemi, Beak Hyeon, Bagni dan Bram mendekat pada Felicia dan De Luca.


"Wih ternyata beritanya cepat menyebar ya!" seru Jiemi.


"Siapa yang nyebarin?" tanya Baek hyeon bingung.


"Siapa lagi kalau bukan Ezra," jawab Juna


"Hah?! si Ezra sekarang jadi tukang gosip?" tanya Faraz


"Udah dari dulu Raz," jawab Tina.


"Hayo lagi ngomongin gue ya?" tanya Ezra yang tiba tiba muncul diantara El dan Ryon.


"Ngagetin aja sih loh!" seru El kesal yang hanya dibalas cengengesan oleh Ezra.


"Sorry sorry," ucap Ezra


"Lo ngapa di sini Zra?" tanya Dylan pada Ezra.


"Yey gak boleh apa? Lagian gue mau ketemu si bintang utama di berita WE yang lagi anget-angetnya dibicarakan, iyakan Scarlett," ucap Ezra agak menekan ucapan terakhirnya sambil tersenyum pada Felicia yang diabaikan oleh si empuh yang dapat senyuman itu yang sedang fokus pada ponselnya.


"'Anggota baru termuda yang bergabung di WE Scarlett' 'Agen temuda WE Scarlett yang ditunjuk langsung oleh pimpinan WE' 'agen termuda we yang langsung ditest oleh pimpinan' 'Scarlett agen muda yang di hormati ketua akan kemampuannya 'dan bla bla bla beritanya bosenin," ucap Felicia dengan pandangan bosan.


"Gila nih anak dia yang di beritain tapi dianya bosan gitu aneh!" seru Jack yang tiba-tiba datang entah dari mana.


"Lo yang gila ngagetin aja!" seru Ryon kesal pada Jack.


"Ngapain lo pada disini?" tanya Erland pada Jack dan Ezra.


"Ngapa lagi kalau gak nyari informasi," jawab Ezra.


"Dan untuk dapat imbalan besar," tambah Dyra anggota tim Ezra yang tiba-tiba ada disana membuat orang di ruangan itu mengelengkan kepalanya, Dyra datang dengan membawa tablet yang berisi tentang misi, Alan dan Zain yang penasaran mendekat dan melihat misi itu lalu membelalakkan mata mereka


"Gila! informasi biodata aja 280 JT!" seru Rafan dan Zain bersamaan.


"Dan kalau dapat informasi tambahan ditambah 420 jt! Gila!" seru Zain.


"Siapa yang ngasih misinya sih?" tanya Rafan.


"pimpinan," jawab Jack, Ezra dan Dyra bersamaan.


"Pantas aja," gumam Alan.


'Tinggal 2 tim lagi untuk misi yang baru di berikan'suara dari tablet, komputer dan handphone mereka semua. (kecuali Alan, Rafan dan Zain)


"2 tim lagi! 3 nya siapa?" tanya Jack, Ezra dan Dyra berseru kaget.


"Tim aku dong!" seru De Luca.


"Saya juga," ucap Jiemi


"Jadi kalian nanyain tadi untuk ini?" tanya Felicia memandang dua orang itu datar yang dibalas cengengesan oleh Jiemi dan De Luca.


"Datanya udah ke kirim periksa rekening kalian masing masing dapat jatah 23 jt," ucap arman memberi tau pada anggota RL.


"Fea gimana Kak?" tanya Felicia dengan mata berbinar.


"Lo kan yang jadi misinya mana dapat," ucap Ryon sadis.


"Jahat!" seru Felicia manyun.


"Lo dapat kok 25 jt sama satu pesan gue gak tau maksudnya males mikir," ucap Arman membuat semua yang ada di ruangan itu melotot kaget dengan Felicia yang melompat senang.

__ADS_1


"Sini pesannya Fea liat," ucap Felicia, Arman memberikan tabletnya pada Felicia.


'XDQJ MDMDK VDPD KDGLDK UHODPDW GDUDKJ. WWG JUDKGSD' ya kira-kira itu pesan yang di tunjukan untuk Felicia


"Uang jajan sama hadiah selamat datang. ttd Grandpa," gumam Felicia tanpa suara.


"Cuma 25 jt? Yaudah deh gak papa!" seru Felicia membuat semua yang ada di ruangan itu melotot.


"Cuma?! 25 jt itu banyak kali!" seru yang ada di ruangan itu bersamaan.


"Ya terus?" tanya Felicia memutar bola matanya malas. Ezra, Dyra  dan Jack menatap Felicia lama membuat Felicia menyerengit.


"Kenapa kalian bertiga?" tanya Felicia.


"Scarlett bantu tim kami dong!" seru Ezra memeles begitu juga Dyra dan Jack.


"Mager, Malas," balas Felicia mengulingkan dirinya di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Ayo dong Scar gak perlu tim Ezra tim gue jadilah," mohon Jack yang diabaikan Felicia.


"Gimana kalau gue aja yang bantu Kak," tawar Zain membuat mata Ezra, Jack dan Dyra berbinar.


"Tapi ada imbalannya loh!" seru Zain membuat ketiga orang itu menatapnya datar.


"Pamrih bener sih lo Zai," ucap Dyra.


"Iya kalau di sini gak ada cemilan lo kan makan cemilan di tim gue sama Jack," ucap Ezra.


"Serah deh mau atau gak?" tanya Zain membuat mereka bertiga diam berpikir, Dyra memandang kearah Ezra meminta pendapat sang kapten.


"Gak mau ya yaudah d-"


"Eh, mau mau," jawab ketiga orang itu memotong ucapan Zain, membuat Zain menyeringai kecil.


"Dael ya kasih imbalan ingat loh," ucap Zain


"Iya, iya kasih tau aja!" seru Jack lalu Zain memberitahu hal yang ia ketahui.


   Tak lama setelah itu Elam dan Falih memasuki ruangan tim RL, Elam menghampiri Felicia yang berguling di sofa dan fokus ke ponselnya.


"Kak jadi gak yang tadi?" tanya Elam membuat Felicia mengalih padangannya dari ponsel ke ayahnya itu.


"Jadi kok Yah," jawab Felicia duduk sambil memasukan handphonenya ke dalam saku dan membereskan barangnya lalu mengendong Cat yang bermain bersama Rafan.


meong~


"Udah ayo Yah kita pergi!" seru Felicia semangat, Elam mengangkat alisnya bingung melihat Cat yang ada pada Felicia.


"Kucing dari mana lagi itu?" tanya Elam memandang Felicia tajam.


"Dapat dijalan," jawab Felicia asal.


"Di jalan gimana sih jelas-jelas itu kucing jenis bombay," balas Elam memandang Felicia tambah tajam Felicia menelan salivanya susah payah sambil memutar otak mencari alasan.


"Ya, ya yaudah deh Ayah gak percaya juga gak papa kok, Yah Cia gak jadi pergi kita pulang aja yuk," ucap Felicia mengalihkan topik membuat Elam menghebuskan napas kasar.


"Hah gak usah, nanti sampai rumah kamu ngerengek lagi kepikiran terus sama barang yang kamu mau," ucap Elam.


"Kalau Bunda marahin kamu tentang itu, Ayah gak tangung jawab ya," ucap Elam yang diangguki Felicia yang tersenyum cerah.


"yaudah ayo pergi!"seru Felicia semangat.


"Mau pergi kemana sih ya?" tanya Zain penasaran.


"Anak SMA yang sering ke klub malam gak perlu tau," ucap Felicia mencibir yang dibalas tatapan tajam dari Zain.


"Ke mall ada yang mau dicari," jawab Elam.


"Gak kamu langsung pulang sana!" pinta Elam membuat Felicia mencibir pada Zain.


"Tapikan Yah, tadikan Zain kesini sama Alan masa minta antar pulang sama Alan kan kasihan juga, diakan masih mau di sini lagian Zain gak boleh pakai mobil sama motor kan disita Ayah kemarin," ucap Zain memandang prihatin pada Alan dan dirinya sendiri membuat Alan mendengus kesal.


"Tuh kan ada Rafan," ucap Elam.


"Rafan juga masih mau di sini Yah dan Zain gak kaya Cia si tukang bully yang suka jadiin Rafan sebagai babu," balas Zain yang dipandang datar oleh Rafan dan Felicia memandangnya tajam setajam silet.


"Ngomong apa tadi?!" tanya Felicia berseru marah, menantang.


"Cia si tukang bully," ejek Zain membalas tatapan tajam Felicia dengan tatapan sama tajamnya membuat emosi Felicia naik satu saraf.


"Terus gimana kabar situnya anak SMA yang suka ke klub malam? Mau jadi apa besarnya?" tanya Felicia mengejek lalu menatap tajam Zain begitu juga sebaliknya.


"Adik durharka!" seru Zain pada Felicia.


"Kakak jahannam!" seru Felicia tak mau kalah lalu kedua kakak beradik itu saling adu mulut membuat Elam memandang tajam kedua anaknya tapi karena asiknya adu mulut kedua kakak adik itu tak menyadari aura dingin yang dikeluarkan Elam.


"Zain," bisik Alan.


"Diam Lan nih bocah harus diajarin sopan santun," ucap Zain memandang tajam Felicia.


"Gak salah dengar ya harusnya Abang yang di ajarin sopan santun masih SMA mainnya ke klub malam," ucap Felicia kesal.


"Hei bocah!" seru Zain nantang.


"Apa?!" tanya Felicia berseru menantang balik lalu keduanya kembali adu mulut saling menjelekakan.


"stt Roul, Lici," bisik Rafan memperingati mereka berdua.


"Apa?!" seru mereka berdua kompak memandang tajam Rafan membuat nyali Rafan ciut seketika.


"Gak, gak, c-cuma bisa diam gak?"tanya Rafan agak terbata.


"Gak bisa gue harus ngajar bocah licik satu ini dulu," ucap Zain


"Yang harus diajar itu Abang kali, anak gak tau diri," balas Felicia


"Keras kepala!" seru Zain.


"Nakal, kasar, bodoh!" seru Felicia tak mau kalah.


"Degil!" seru Zain tak mau mengalah.


"Jelek!" seru Felicia.


"Apa lo bilang tadi?!" seru Zain tak terima.


"Jelek!" seru Felicia.


"Cia, Zain," panggil Elam yang tak diubrik oleh dua anaknya.


"Felicia! Zain!" seru Elam dengan suara dingin, tatapan tajam dan muka datar membuat Zain dan Felicia diam menatap Elam sambil menelan salivanya susah payah, Zain menyengol lengan Felicia dibalas balik Felicia dan terjadilah aksi saling sengol menyenggol, Elam semakin menatap tajam kedua anaknya itu membuat keduanya terdiam.


"Eh, Ayah jadi pergikan?" tanya Zain tak dibalas Elam, Zain melirik ke Felicia.


"Ah ayah Cia mau jajan kita pergi sama Bang Zain!" mohon Felicia dengan manja pada Elam, Elam menghentikan tatapan tajamnya membuat Felicia dan Zain bernapas lega.


"Huf selamat," ucap mereka berdua kompak sambil berbisik

__ADS_1


"Ayo cepat Bunda nungguin dirumah," ucap Elam berlalu pergi dari ruangan itu.


"Yaudah dah Om Falih dan kakak-kakak sekalian," ucap Felicia melambaikan tangan pada Falih dan yang lain lalu pergi mengikuti Elam begitu juga dengan Zain.


"hah Lici udah pergi tandanya tugas gue selesai deh pulang juga ah," ucap Rafan pergi tanpa pamit.


"Wah parah tuh bocah satu pergi tanpa pamit," ucap Ryon mengelengkan kepalanya melihat tingkah Rafan.


"Lo gimana Lan gak pulang?"tanya Faraz pada Alan.


"Gak gue mau main sini aja," jawab Alan, Falih membuang napas lega entah apa yang dilegakan olehnya.


"Juna, Ezra, Jack, Bram, De Luca, Jiemi, Beak Hyeon dan Bagni, ikut dengan saya," ucap Falih membuat delapan orang itu menganguk lalu juga ikut pergi mengikuti Falih sedangkan yang lainnya kembali ke aktivitas mereka masing-masing.


Di lain tempat...


"Sial! Bagaimana mungkin mereka bisa menyelesaikannya dalam sehari!" seru pria berjas dokter itu marah.


"Maaf Tuan, tapi mereka juga menemukan kode yang anda berikan," ucap salah satu pria ketakutan.


"Emang gue nanya?!" bentak pria tadi.


"Lo bisa tenang dikit gak B-08?" tanya pria yang bersandar di dinding berdiri dengan tenang dengan kode name B-02 dilehernya menunjukan identitasnya.


"Lo nyuruh gue tenang di saat rencana gue gagal!" seru pria yang di panggil B-08 itu masih berseru murka.


"Siapa yang menemukan petunjuk itu?" tanya B-02 masih dalam mode tenang pada anak buah yang ada disana.


"S-scarlett," jawab pria berkode name B-234.


"Scarlett? siapa itu anggota baru mereka?" tanya B-08 penasaran.


"Dia anggota baru yang paling muda," jawab pria berkode name B-1235.


"Berapa umurnya?" tanya B-02 mulai penasaran.


"belum sampai 13 tahun," ucap B-234.


"Prfff bhahahaha ini konyol mereka memperkerjakan bocah hahahaha," ucap B-08 tertawa geli.


"Berhenti tertawa B-08!" bentak B-02.


"Ah, baiklah tapi ini benar benar konyol," ucap B-08.


"Tapi lo gak boleh meremehkannya dia bahkan bisa memecahkan sandi lo," ucap pria berkode name B-03 yang ntah dari mana datang.


"Itu hanya sandi klasik apa susahnya memecahkan itu," ucap B-08 enteng.


"Tapi bocah itu yang nyelesaikan kasus itu dan lo tau dia langsung ditunjuk oleh pimpinan tertinggi WE," ucap B-03.


"Apa istimewahnya bocah itu?" tanya B-02.


"Hahaha ini menarik kita liat apa istimewahnya bocah satu ini," ucap B-08 tertawa senang.


"Kayaknya gue harus nyari rencana baru rencana menyenangkan yang rumit hahahahaha," ucap B-08 dengan tawa jahat dan rencana cermerlang di otak gilanya.


"Kayaknya gue harus ngasih tau Master," ucap B-02.


"Mereka mulai mengila ah ayolah kenapa dia keras kepala? Aku hanya ingin dia selamat," ucap seorang gadis yang kini berada di ruangannya saat tadi berlari setelah mendengar percakapan B-08, B-02 dan B-03.


"Hm... C-01," panggil gadis berambut panjang sebahu berdiri di depan gadis tadi.


"Oh, ayolah Caera jangan pangil aku begitu panggil namaku saja Celin ok," ucap gadis bernama Celin itu pada gadis berambut sebahu yang bernama Caera.


"Ok, baiklah jadi bagaimana denganmu?Maksudku rencana berikutnya," ucap Caera


"Entahlah tapi ku harap dia baik-baik saja," jawab celin.


"Oh, baiklah, maaf aku tak bisa lama, Master memanggil," ucap Caera diangguki Celin lalu Caera pergi meninggalkan ruangan Celin.


   Celin menghembuskan napasnya lalu mengambil handphonenya mengetik sesuatu disana dengan berharap lalu memandang foto yang ada di mejanya.


tepat disamping ruangan Celin terdapat gadis yang mirip dengannya yang juga mengetik sesuatu di handphonenya sambil berharap lalu membuka galery handphonenya sambil meneteskan air matanya.


di rumah Felicia....


hashin~


hashim~


hacim~


Felicia sedari tadi bersin bersin dan ini sudah ketiga kalinya Zain, Baim, Fani dan Elam memandangnya bingung sedangkan Khaina yang tadi mengomel berhenti sejenak melihat Felicia bingung.


"Kak jangan bilang bersin gitu biar Bunda berhenti marahin ya," tuduh Khaina pada putrinya itu.


"Ih, Bunda jangan sembarang tuduh dong," ucap Felicia.


"Bun jangan-jangan Kak Cia alergi kucing lagi," ucap Baim.


"Enak aja gak kali kayaknya ada yang lagi ngomongin Kakak deh," ucap Felicia membantah.


"Oh ya? Mitos kayak gitu di percaya," ucap Zain.


"Udah, udah kalian mandi sana," pinta Elam pada Felicia sebelum dua kakak adik itu adu mulut lagi, Khaina memandang protes pada Elam karena ia belum belum selesai mengomeli Felicia.


"Tapikan Mas," ucapan Khaina terpotong karena pandang Elam yang menyuruhnya untuk diam.


"Yaudah deh kalau gitu Cia ke kamar dulu," ucap Felicia senang.


"Jangan lupa nanti makan Kak, awas kalau gak makan kucing-kucing kamu Bunda buang!" ancam Khaina.


"Iya Bunda," teriak Felicia ditangga lalu berlari menuju kamarnya.


   Sesampainya di kamar Felicia membuka laptopnya memutar musik kesukaannya lalu memasang headphonenya dan mengambil handphonenya yang berbunyi menandakan pesan masuk notif pesan dari dua nomor yang membuatnya heran beberapa hari ini.


pratogonis C 1


aku harap kakak akan baik baik saja mereka mulai mengila


pratogonis C 2


mereka mulai mengila kakak harus hati hati maaf karna aku belum bisa membantu


   Dua pesan dari nomor berbeda kata berbeda namun bermakna sama dua pesan itu menunjukan bahwa pengirimnya khawatir padanya entah mereka baik atau bagaimana, Felicia melirik laptopnya lalu mengetik sesuatu disana.


Mereka baik atau tidak itu masih jadi pertanyaan mereka lawan atau kawan itu masih menjadi rahasia disatu sisi dia lugu dan lemah tapi ia tetap bertahan dengan keyakinan disisi lain dia menunjukan sikapnya yang kuat angkuh dan sombong tapi sebenarnya ia rapuh dan masih berharap tapi siapa yang akan mengambulkan harapan mereka?


ada hal yang harus aku selesaikan sebuah asisten bukanlah hal besar yang terpenting aku ingin mengabulkan harapan mereka semua dan melaksanakan amanah yang di berikan padaku walau mungkin aku tak mampu tapi aku harap akan ada dukungan dari belakang untukku


aku bukan melawan tanpa sebab atau terpaksa aku melakukan dari hati karena ini sudah takdirku aku tidak menyari kebenaran tapi kebenaran yang ingin aku mencari mereka memintaku untuk mencari mereka kalau aku boleh jujur aku malas melakukannya tapi bagaimanapun itu adalah tangung jawabku semalas dan secuek apapun aku itu adalah takdirku.


send-


Bersambung....


Sabtu, 27 Juli 2019

__ADS_1


Noveltoon : kamis, 24 Desember 2020


Jangan lupa vote dan comments


__ADS_2