
"Hah....Hah...Kakek! KAKEK TIDAK!!!!!" teriak Felicia langsung terbangun dari tidurnya.
"Hanya mimpi, mimpi buruk," gumamnya.
Felicia mengusap wajahnya gusar lalu melihat ke arah jam dinding kamarnya yang kini menunjukan pukul 10:00 WIB. Elyza telah pergi ke sekolah dari tadi.
Felicia masih mengingat betapa khawatirnya sepupunya itu karena keringat dingin yang membasahinya juga suhu tubuhnya yang sangat panas. Ya, memang setelah pulang dari hutan kemarin tentu melihat kejadian yang membuat dirinya terguncan.
Hati Felicia menjadi tidak tenang setelahnya dan waktu tidurpun ia selalu diserang mimpi buruk seperti tadi, padahal sudah lama mimpi itu menghilang, terakhir kali saat ia kelas 5 SD. Tetapi, kini itu kembali muncul dan membuatnya menjadi sakit seperti ini apalagi dengan tambahan pikiran tentang Masked Women.
"Cia...." lirih Khaina membuka pintu kamar anak gadisnya itu dan berjalan duduk di kasur tepat di samping Felicia sambil memegang kening Felicia memeriksa suhu tubuhnya.
"Bunda," panggil Felicia pelan sambil memeluk Khaina, perlahan isakan tangis terdengar, Khaina memeluk Felicia sambil mengelus elus punggungnya.
"It's ok, semua akan baik-baik saja itu hanya mimpi. Do not cry anymore, Bunda di sini," ucap Khaina menenangkan Felicia.
khaina melepas pelukannya lalu mengangkat wajah Felicia agar melihatnya, mata yang awalnya bewarna amber itu kini berubah menjadi ungu gelap dengan bening air mata yang terus saja keluar. Khaina menghapus air mata itu menyatukan keningnya dan kening Felicia sambil mengucapkan kata-kata penenang lalu kembali memeluk Felicia.
Khaina tau Felicia kini sedang ketakutan dan juga marah serta putus asa, ia tidak lagi melihat binar ceria, kejahilan ataupun penuh teka-teki misterius di mata anak gadisnya itu, ia tau, ia sangat tau perangai putrinya itu yang selalu saja menyimpan masalah sendiri, selalu mengerjakan semua sendiri, merasa bisa, semua ia lakukan sendiri tidak membiarkan orang-orang tau bahkan padanya juga Elam yang merupakan orangtuanya.
perlahan tangis Felicia mereda, pintu kamar Felicia terbuka membuat Khaina menoleh mendapati Elam yang berjalan menuju arahnya juga Felicia. Elam duduk di kasur Felicia sambil mengelus kepala anak gadisnya, Felicia hanya diam tak menoleh sedikitpun ia hanya memeluk Khaina dan membiarkan ayahnya mengelus kepalanya.
"Cia, tadi malam kamu ke mana sama Ely?" tanya Elam membuat Felicia menoleh padanya.
"Ayah gak ke kantor?" tanya Felicia balik mengubah topik.
"Jangan nyoba ngalihin topik Ci," ucap Elam.
"Cia sama Eza gak ke mana-mana kamikan tidur," ucap Felicia dengan memeluk Khaina membenamkan diri dipelukan sang bunda agar Elam tak melihat matanya dan mengetahui kalau ia sedang berbohong.
"Cia jawab sambil mandang mata Ayah!" pinta Elam, Felicia masih memeluk Khaina bahkan kini makin erat.
"Mas...," lirih Khaina sambil memegang tangan Elam membuat suaminya itu menoleh padanya.
Khaina menggelengkan kepalanya sebagai tanda meminta agar Elam tidak meneruskan pembicaraannya, Elam memandang Khaina protes, ia tak setuju dengan hal yang diingin sang istri. Kalau bukan sekarang kapan lagi? ia hanya ingin Felicia terbuka padanya juga Khaina, sudah cukup dengan ini, ia harap Felicia mengungkapkan semua yang ia simpan, ia ingin anaknya itu lebih terbuka padanya.
"Cia, ayah tau kamu bohong, kamu sama Eza tadi malam pergi sambil melewati ladang bunga itu kan, kalian kemana?" tanya Elam yang tidak di pedulikan oleh Felicia.
"Cia untuk kali ini aja coba kebuka sama Ayah dan Bunda, jangan nyimpan semuannya sendiri," ucap Elam.
lagi-lagi isakan tangis terdengar dari Felicia ia memeluk Khaina makin erat, khaina juga memeluk anaknya itu sambil mengelus punggung Felicia berharap agar itu bisa menenangkannya. Elam juga memeluk Felicia dan Khaina.
"Do not cry anymore, Dad doesn't want to see you sad like this," bisik Elam menenangkan Felicia.
"Ayah...." lirih Felicia lalu memeluk Elam erat menangis kencang di pelukan sang ayah.
"Nangis kalau itu buat kamu tenang tapi setelah ini jangan menangis lagi karena ayah gak mau liat kamu sedih, cukup dengan kamu suka nangis sendiri pada malam hari, jangan mengangap semua itu beban lepaskan semuanya, kalau ada masalah bilang sama Ayah dan Bunda kami selalu ada untuk kamu," ucap Elam lembut.
tanpa sadar Khaina meneteskan air matanya, Elam menghapus air mata Khaina membawa sang istri ke dalam pelukannya juga.
"Kasih tau Bunda sayang, walau nanti kamu mungkin jauh dari Bunda , terus telpon Bunda ceritain semua sama Bunda, jangan membuat masalah kamu jadi beban," ucap Khaina.
perlahan isakan tangis Felicia terhenti ia memandangi Ayah dan Bundanya bergantian, setidaknya ia bisa menyakini diri bahwa masih ada kedua orangtuanya yang akan selalu ada untuknya, melindungi, menjaga juga mendukungnya.
satu tetes air mata lolos dari matanya mengalir cepat jatuh menjadi serpihan permata putih, kuning, coklat, oranye, juga biru yang menjadi satu.
"Permatanya masih sering keluar saat kamu nangis?" tanya Elam sambil mengambil permata tersebut membuat Felicia menjadi kaget.
"Ayah sama Bunda tau?" tanya Felicia.
"Apa sih yang Ayah sama bunda gak tau tentang putri kami yang satu ini," ucap Khaina sambil mencubit pipi Felicia gemas.
"Ih Bunda pipi Cia jadi merah nantinya," ucap Felicia.
"Jadi kamu semalam kemana sama Ely?" tanya Elam.
"Cia ke hutan, tempat Masked Women melancarkan aksinya," jawab Felicia.
"Sendiri?" tanya Khaina.
"Gak, Cia sama Ely pergi sama yang lain," jawab Felicia lagi.
"Dengan Juna sama yang lainnya?" tanya Khaina lagi yang kali ini di jawab gelengan oleh Felicia.
"Cia pergi sama anggota organisasi yang Cia buat atas izin pimpinan WE," ungkap Felicia.
"Organisai? organisasi apa? kenapa Ayah gak tau?" tanya Elam.
"Organisasi Huriya yang artinya ke bebasan, organisasi yang Cia buat untuk yang ingin bebas dari DE juga orang-orang yang ingin bergabung bebas, asal mereka tidak menghianati aja, lagian gak ada di WE yang tau tentang organisasi ini selain pimpinan, tim RL dan pasukan khusus yang membantu," jawab Felicia.
"Cia kamu tau siapa pimpinan WE sebenarnyakan?" tanya Elam lagi.
"Ya Cia tau tapi maafkan Cia ya Yah Cia gak bisa ngasih tau Ayah," ucap Felicia.
"Iya Ayah tau," jawab Elam, walau ia sangat amat ingin mengetahuinya.
"jadi anggota organisasi itu ada berapa?" tanya Khaina.
"Ada 8, Cia, Eza, Kak Alan, Kakaknya Kak Faiyaz Kak Fiana, Kak Atha mantan anggota tim Nightmore yang menjadi direktur rumah sakit perusahan H gurup, Kak Arsen mantan anggota DE yang Cia minta jadi direktur di bidang restorana juga pemasaran di perusahan, Kak Bima direktur di bidang properti juga Kak Dino yang menjadi direktur bidang perhotelan," jawab Felicia.
"Oke, Ayah ngerti sekarang, apa perusahan merupakan samaran kalian? juga apa ciri Khas organisasi kalian?" tanya Elam.
__ADS_1
"Iya dan ciri khas dari organisasi kami topeng," jawab Felicia, "mereka bebas memiliki karakter namun harus menyembunyikan identitas dengan topeng," jawab Felicia.
Elam mengacak rambut Felicia. "Percaya sama Ayah kalau kedepannya organisasi kalian akan di juluki Mysteriously Mask."
"Mungkin saja itu benar," jawab Felicia.
"Jadi, sekarang kamu mau cerita dari mana? Tentang kakek? Atau misi? Atau dengan hal yang kamu sembunyikan?" tanya Elam.
"Kakek...." lirih Felicia.
"Ih Ayahkan," ucap Khaina mencubit perut Elam.
"Sakit Bun," ringis Elam. Perlahan Felicia terkekeh melihat tingkah kedua orangtuanya.
"Bunda sama Ayah suka gitu ya, kalau Cia minta adek lagi boleh gak ya?" tanya Felicia.
"Boleh dong!" seru Elam cepat yang mendapatkan pelototan dari Khaina.
"Khm, Cia jadi ceritanya...," ucap Khaina mengalihkan topik.
"Iya, Bunda iya Cia cerita dari Kakek aja karena dari sana semuanya bermula," ucap Felicia.
"Waktu itu, pada malam itu Cia sama Kak Alan pergi ngikutin Kakek dan di sana Cia juga ngelihat secara lansung Kakek di bunuh sama salah satu anggota DE, saat itu Kakek nyuruh Cia pergi tapi Cia gak mau. Di detik-detik terakhir Kakek berpesan sama Cia, Cia harus ngelindungi semuanya Ayah, Bunda, Bang Zain, Fani, Baim, Nenek pokoknya semunya, yang diinginkan DE balas dendam, mereka ingin ngehancurin keluarga kita. Hal itu tebukti dengan kecelakaan yang hampir menimpa Baim dan Fani, nenek yang hampir keracunan, terror bangkai, juga Bang Zain yang waktu itu hampir di culikkan dan terakhir surat itu, surat yang membuat kita pindahkan," ucap Felicia bergantian memandang bunda dan ayahnya.
"Hah...Felicia tetaplah Felicia gadis penasaran yang ingin tau, anak Ayah yang nurut kalau di kasih tugas perusahaan dan meminta bayaran informasi," ucap Elam.
"Hehe haruskan informasi itu penting, jadi tentang suratnya?" tanya Felicia.
"Nanti Ayah kasih kamu liat sendiri," jawab Elam.
"Gak papa?" tanya Khaina.
"Gak papa kok," balas Elam, "Jadi selain itu apa yang kiranya di inginkan oleh mereka?"
"Permata merah ruby bercahaya pelangi, permata merah bercahaya bewarna darah, permata Scarlet mereka menginginkannya karena ingin menguasai dunia, merubah Manusia menjadi robot dan menghancurkan hukum," ucap Felicia.
"Hah...itu sudah pastikan," gumam Elam.
"Untuk sekarang itu dulu hanya itu yang membuat Cia kelimpungan juga Maked Womem," ujur Felicia.
"Serius cuma itu? Kamu gak mau kasih tau Bunda tentang keseharian kamu, misalnya aja ada orang yang kamu suka?" tanya Khaina.
Elam memandang serius Felicia. "Cia jangan pernah pacaran, jangan dekat-dekat sama cowok, pokoknya gak boleh!"
Felicia hanya tersenyum dan mengangguk lalu memeluk Elam. "Iya Ayah, iya."
"Ih, Ayah kok gitu sih, suka itu harfiah loh Yah," sebal Khaina.
"Pasti dongkan, pasti pernah," ucap Khaina membuat Elam melotot gak suka.
"Sama Allah, gak suka juga tapi cinta," ucap Khaina.
"Bun, Ayah serius loh," ucap Elam memeles.
"Bunda juga serius Ayah," ujur Khaina sambil terkekeh pelan.
Felicia hanya diam memeluk Elam, kini yang ia pikirkan hanya satu siapa Masked Women sebenarnya.
Pelukan Felicia makin erat pada Elam kala tekat yang ia kumpulkan menjadi lebih kuat.
"Cia, kalau kamu menerusuri Ladang bunga itu kamu pasti mendapatkan dukungan kuat kedepannya," ucap Elam membuat Felicia menoleh.
"Mau Ayah temanin sekarang atau kamu pergi sendiri?" tanya Elam.
"Cia sendiri aja nanti," ucap Felicia tersenyum.
"AYAH! BUNDA!" teriak Fani berlari memasuki kamar Felicia dan langsung meloncat memeluk Khaina.
"Wow, pelan-pelan sayang, Princess kecil Bunda udah pulang ternyata," ucap Khaina sambil mencium pipi Fani.
"Sudah jam segini saja ternyata," ucap Elam melihat jam yang kini menunjukan pukul satu tepat.
"Pangeran Baim datang!" seru Baim datang sambil berteriak menghampiri Khaina, Elam, Felicia dan Fani.
"Ayah emang ada pangeran ya di sini? Cia dengar suara tapi gak liat orangnya, orangnya mana ya Yah," ujur Felicia membuat Baim mendengus kesal.
"Gak, emang ada yang lain dari kita berempat?" tanya Elam membuat Baim melotot.
"Bunda! Ayah sama Kak Cia jahat!" adu Baim yang di balas kekehan kecil dari Khaina dan tawa dari Elam, Felicia serta Fani.
"Udah-udah ayo keluar biarin Kak Cianya istirahat," ucap Khaina menghentikan tawa mereka.
"Cepat sembuh Kakaknya Baim," ujur Baim sambil mencium pipi Cia.
"Cepat sembuh Kakak Cia punyanya Fani, Bang Baim buang tong sampah," ucap Fani membuat Baim melotot tak terima.
Fani tergelak mencium pipi Felicia lalu meloncat kepelukan Elam dan mencibir pada Baim membuat Baim tambah kesal.
"Cepat sembuh anak gadisnya Bunda," ujur Khaina mencium kening Felicia.
"Kalau ada apa-apa bilang sama Ayah, ok!" seru Elam mengacak rambut Felicia.
__ADS_1
"Ok," balas Felicia Elam tersenyum lalu mengecup kening Felicia.
"Istirahat yang banyak, biar princess Ayah cepat sembuh," ujur Elam.
Khaina, Baim, Elam dan Fani keluar dari kamar Felicia. Elam melihat Felicia untuk terakhirnya senyum kecil terbit di wajahnya ketika melihat binar di mata Felicia yang telah kembali lalu ia menutup pintu kamar anak gadisnya.
Felicia berguling di kasurnya menutupi tubuhnya dengan selimut lalu memejamkan matanya, namun setelah beberapa saat dirinya tak kunjung tertidur. Felicia membuka matanyanya memandang lurus kedepan.
"Sesuatu yang akan memberi dukungan kuat untukku jika aku menerusuri ladang bunga," gumam Felicia.
Felicia menyibak selimutnya bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu kamarnya menguncinya lalu dengan cepat memasuki walk in closet dan mengganti bajunya. Memakai hoodie khusus Huriyah lalu, memakai headphone, menutupi kepala dengan tudung hoodienya dan terakhir menutupi wajahnya menggunakan topeng.
ia akan pergi menyelusuri ladang bunga mencari sesuatu yang dapat mendukungnya kedepan seperti yang di katakan ayahnya. Bukan sebagai Felicia gadis tengil jenius yang penuh teka-teki, bukan pula menjadi Scarlett detektif cilik WE, tapi kali ini ia akan pergi sebagai Master S, master misterius organisasi Huriya dan pemilik perusahaan H grup.
Felicia menyibak pakaiannya yang tergantung dan menampilkan dinding polos besi di belakangnya.
"Khawla bin Azur," ucap Felicia lalu dinding tadi bergeser menampilkan sebuah ruangan persegi kecil di dalamnya.
Felicia memasuki ruangan tersebut sambil kembali berucap "Gardenia Flower," ucap Felicia lalu tempatnya seakan berpindah turun kebawah.
Pintunya kembali terbuka menampilkan sebuah tangga yang dinding dan pegangnya di belit dengan tanaman merambat berwarna putih White clematis.
Maklum kalau tanaman hias itu bisa hidup di sana pasalnya ruangan bertangga itu memiliki suhu yang rendah.
Felicia menaiki undukan tangga satu persatu hingga sampai di sebuah pintu dengan tanaman rambat yang menyembunyikannya.
Gadis itu memegang knop pintunya lalu membuka pintu tersebut dan langsung di sunggahi bunga bewarna putih indah, bunga Gardenia.
Felicia melangkahkan kakinya menerusuri ladang bunga Gardenia yang berbeda dari bunga yang di lewatinya kemarin bersama Elyza.
Di setiap dinding yang di jumpainya pasti ada tumbuhan merambat, ia juga di sunggahi pohon bunga indah yang menjuntai, juga bunga-bunga lainnya seperti mawar, melatih juga bunga kesukaannya Anggrek.
Sudah jauh rasanya ia menerusuri padang bunga itu, ia heran dari mana ayahnya mendapatkan tanah rumah hingga rumahnya luas juga dengan padang bunga yang sangat amat luasnya ini.
Akhir dari semuanya ini sia-sia, ya Felicia memang memikirkan itu tapi pikiran itu buyar ketika tanaman merambat sepanjang 3 m, bewarna hijau yang menarik perhatiannya.
Felicia menyentuh tanaman tersebut, merasakan di belakangnya memang ada dinding tapi setelahnya terasa sebuah besi.
"Apa ini sebuah pintu?" gumam Felicia.
Felicia menyibak tanaman merambat itu kesamping dan benar-benar menemukan sebauh pintu disana.
"Sebutkan kata kuncinya," ucap suara yang terdengar dari pintu.
"Mana tau orang juga baru pertama kali ke sini dan baru tau juga," dumel Felicia kesal sendiri.
Tring~
"kata kunci benar," suara itu kembali berucap membuat Felicia cengong.
Pintu besi itu terbuka, bunyi seperti beribu pintu terbuka terdengar, Felicia melihat ke dalam mendapati sebuah anak tangga yang menuju ke bawah.
"Padahal tadi cuma ngendumel masa kata kuncinya benar sih?" heran Felicia.
"Ck kalau kayak gini jadinya ngapain bikin pintu di dinding? Kenapa gak di bawah aja coba," ujur Felicia memasuki kedalam ruangan lalu berjalan menuruni tangga.
"Mas, gak papa emang Cia di biarin gitu ketemu mereka?" tanya Khaina cemas pada Elam.
Elam yang awalnya melihat keluar menoleh pada sang istri yang kini berada di sampinya, ia tersenyum untuk meyakinkan Khaina juga senyum penuh kemisteriusan.
"Ini udah saatnya, biarkan ia belajar mengepakkan sayapnya terlebih dahulu baru setelahnya dia akan terbang dengan sayap indah sempurna yang bersinar," ujur Elam tersenyum kembali memandang keluar kearah ladang bunga belakang sambil memeluk Khaina.
"Bunga yang cantik akan mekar pada waktunya," ucap Khaina memandang lurus keladang bunga.
"Dan ini saatnya, bunga itu di rawat, bunga mawar indah yang mempesona namun memiliki duri di tangkainya,"
^^^Bersambung....^^^
23 Desember 2019
27 Desember 2020
Assalamualaikum
Hai hai
The Little Detective come back
Rencana mau di publis tanggal 30 minggu depan tapi ngak jadi, lagian udah libur juga, yaudah deh
Gimana part kali ini, seru? Atau gimana?
Ada yang penasaran gak sih? Moga aja ada.
Dukung terus dengan memberikan Vote dan Comment ya! Kalau ada saran juga boleh di utarakan.
Makasih semua
Wassalamualaikum
Salam
__ADS_1
PM05