
Jakarta, Indonesia
Markas pusat WE
Felicia, Elyza dan Caera dengan riang melihat-lihat para perkerja memakai jas dengan kaca mata putih canggih yang kini sedang meneliti dan membuat alat-alat senjata yang membuat ketiga gadis itu tertarik.
"Eh, Ci, Za cobain deh nih," ucap Caera sambil mengambil sebuah kalung.
"Lah guna nih kalung apaan dah?" tanya Elyza.
"Nih lihat perhatiin baik-baik," ucap Felicia sambil mengambil kalung yang di pegang Caera.
Felicia memutar kalung tersebut mengarahkan pada papan bidikan dan plas sebuah bola sekecil biji kacang hijau mengenai sasaran.
"Wih hebat jadi kayak peluru gitu permata yang ada di tengahnya!" seru Caera.
"Di sini ada beberapa peluru kecil berbentuk permata bukan itu aja lihat nih," ucap Felicia lalu memegang erat permata itu sambil menghentakkannya kebawah dan plas kalung itu berubah menjadi sebuah cambuk.
"Kalung ini bisa jadi cambuk dalam satu benda memiliki 2 senjanta cambuk ini juga berguna untuk melilit kaki orang kalian tau awalnya dia melilit lalu ketika kita menariknya orang yang terkena lilitannya akan terjatuh, permata yang di tengahnya juga bisa jadi pengintai," ucap Felicia.
"Wah hebat kamu Ci tau dari mana?" tanya Elyza kagum.
"Felicia gitu loh semuanya bisa tau," ucap Felicia dengan sombong.
"Eh Ci kamu tau dari sinikan? Aku baru nyadar ada pemberitahuan mengenai alatnya," ucap Caera sambil menekan tombol dan keluarlah sebuah layar transparan yang menampilkan tulisan mengenai kegunaan alat tersebut.
Elyza memandang datar pada Felicia membuat gadis itu cengegesan dengan Caera memandang mereka dengan polos.
"Ck, bocah! Kalian ditungguin dari tadi malah anteng di sini!" seru Arman kesal kepada Felicia, Elyza dan Caera.
Ketiga gadis itu berbalik memandang heran kepada Arman juga Chelsea dari timnya Jack heran. ( ada yang ingat sama Jack? Kalau lupa buka kembali part 5 dan 6)
"Kakak...," ucap Caera sengaja di potong.
"Tau...," sambung Felicia.
"Kami...," sambung Elyza.
"Dari mana?" tanya ketiga gadis itu kompak.
"Ya taulah lo berdua ninggalin jejak noh di ruang masuk, Scarlett, Gemini dan La Tempesta ada di sini, ninut," ucap Arman seakan menirukan suara monitor.
"Emang ada yang begituan ya?" tanya Caera.
"Fea baru tau," ucap Felicia.
"Iya Ely juga baru tau," ucap Elyza yang juga sama binggungnya dengan kedua temannya.
"Ya gaklah gue yang ngasih tau guekan memang sering bolak-balik di sini," ucap Chelsea.
"Oo...iya juga sih," ucap Felicia.
"Kak Arman nih gak baik loh bohong gitu," ucap Caera.
"Iya Kak dosa loh kalau bohong gitu apa lagi sama kami kalau kami juga ikutan suka bohong gimana? Dosa Kakak nanti tambah banyak loh," tambah Elyza.
"Tau ah pusing gue, cukup sama kalian bertiga aja gak usah nambah," ucap Arman kesal.
"Yah kok gitu sih Kak," ucap Caera.
"Iya lagian Kami masih punya teman satu kemampuannya bagus," ucap Felicia.
"Gak usah! Gak ada nambah menambah ngurusin kalian bertiga aja gue capek! Ayo balik!" seru Arman dengan kesal.
"Chel gue duluan," pamit Arman pada Chelsea.
"Bye Kak Chel," ucap Elyza berpamitan.
"Kalau ada senjata bagus jangan lupa kasih kami," ucap Felicia.
"Yang paling canggih pokoknya," tambah Caera.
"Gak usah! Jangan dikasih Chel!" seru Arman sambil menatap tajam Felicia dan Caera.
Si Elyza mah gak papa dia juga biasanya anteng di depan komputer lah kalau Felicia dan Caera, kacau semua di porak-parik habis apa lagi kalau megang senjata ganas banget, kalah semua musuh gara mereka untungnya sih misi selesai uang ngalir terus kalau ruginya ya itu otak di bawa lari terus pusing ngurusnya.
Chelsea menggelengkan kepalanya walau Arman menyuruhnya agar tak memberikan alat senjata pada Felicia dan Caera ia tetap akan memberikan alat itu bagaimanapun keduanya juga merupakan agen WE jadi itu wajar. Ia termenung sejenak mengingat kalau timnya dulu sangat iri dengan tim Juna yang memiliki Felicia di sana yang secara tak langsung merupakan agen muda berbakat kebanggaan WE namun sekarang tidak mengingat berapa sulitnya nengurusi bocah-bocah tersebut.
Tim RL
Arman melangkah kesal memasuki ruangan tim di belakangnya sudah ada Felicia, Elyza dan Caera yang dengan riang memasuki ruangan tersebut sambil memakan es krim yang di belikan Arman pada mereka stelah membuat pria itu pusing hal yang sampai kini membuat Arman kesal.
"Kenapa lo Ar? Kesal amat nampaknya," ucap Erland heran.
Arman terdiam sambil duduk di sofa ia mendengus kesal tak kala mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Beberapa menit yang lalu....
Arman berjalan menuju arah ruangan timnya namun langkahnya terhenti saat tak mendengar suara bising dari ketiga gadis yang mengikutinya.
Arman menoleh kebelakang namun ia tak mendapati ketiga gadis tersebut membuatnya memijit pelipisnya dengan pusing.
"Hilang kemana lagi sih tu bocah," gumam Arman dengan kesal.
Mata Arman tertuju pada pintu ruang Westeria yang ada di belakangnya.
"Masa sih?" gumamnya lagi namun tak ayal pria itu mencoba menghampiri ruangan tersebut.
Saat Arman masuk ia mendapati Felicia, Elyza dan Caera yang duduk di sofa tim tersebut bersama dengan Farzan dan Dyra menikmati satu box kecil es krim.
"Eh bocah! Ngapain lo santai-santai di sini! Lo bertiga udah ditungguin dari tadi!" seru kesal.
__ADS_1
"Slow dong Kak santai aja kali," ucap Felicia.
"Iya Kak slow aja gak usah buru-buru," timpal Elyza.
"Santai yang terbaik," ucap Caera sambil memasukan sesuap es krim ke mulutnya.
"Yaelah nih bocah! Kalian mau misi atau gak sih!" seru Arman dengan kesal.
"Berapa?" tanya Caera membuat Arman mengedipkan matanya binggung.
"Yaelah Kak maksudnya moneynya berapa," tambah Elyza memperjelas.
"6 pakai nol dua pakai kata jt di belakangnya," ucap Arman.
"Serius!" seru ketiganya tak percaya.
"Dua rius jadi ayo cepatan balik!" seru Arman.
"Gak deh, di ruang RL gak ada es krim," ucap Elyza.
"Astagfirullah Ya Allah tabahkan hati hamba," gumam Arman.
"Sabar ya Man," ujur Farzan.
"Gue beliin cepatan balik!" seru Arman kesal.
"Gak ah, nanti Kakak boong," ucap Caera.
"Gue serius, gue beliin cepatan!" seru Arman membuat ketiga gadis itu tersenyum lebar.
Felicia, Caera dan Elyza berlari kearah Arman memegang tangan pria itu membawanya pergi.
"Pergi dulu Kak Farfar Kak Dyrdyr," pamit Elyza.
"Makasih es krimnya Kak," ucap Caera.
"Jangan lupa titip salam untuk Kak Ezra ya," ucap Felicia lalu keempat orang itu segera pergi.
Ezra masuk keruangan timnya, langkahnya terhenti ketika melihat satu box es krim di meja. Ia menghampiri meja sambil melihat box yang telah kosong tersebut.
"Siapa yang makan es krim gue!" seru Ezra marah.
"Fea, Cae sama Ely," jawab Farzan singkat.
"BOCAH!" seru Ezra dengan marah.
Sedangkan yang di teriaki kini sedang cekikikan sambil memakan es krim di ruang tim RL.
"Oh udah datang lama banget sih," ucap Vina.
"Kalau lama kenapa gak lo aja yang jemput tadi," sewot Arman.
"Lo kenapa sih Man? Aneh banget," ucap Vina heran.
Juna mengangkat alisnya bingung namun wajahnya datar seketika saat mengetahui apa yang di maksud oleh Arman pasti tiga gadis yang kini sedang makan es krim.
"Kalian serius gak pengen ngambil misi itu?" tanya Vina pada Juna, El, Ryon dan Adira.
"Gak!" seru keempat orang itu kompak.
"Misi lain terima selain misi itu!" seru El.
"Pusing tau udah sebulan gak dapat hasil," ucap Ryon.
"Benar, gak ada satupun petunjuk apa lagi pada mayat korban karena mereka kecebur kesungai gak bisa memeriksa adanya sidik jari sedikitpun karena sidik jarinya terhapus air," ucap Adira.
"Kalau kalian gak mau misinya untuk kami ya," ucap Felicia membuat semua mata memandang kearah mereka.
"Dan otomatis uangnya kami bagi tiga," ucap Caera.
"Yakin kalian? Gak ada petunjuk sama sekali loh," ucap El.
"Kalaupun ketemu penjahatnya gak ada bukti mana bisa nangkap," tambah Ryon.
"Yakin seratus persen," ucap Elyza.
"Bukan Scarlett namanya kalau gak ada trik licik," ucap Felicia.
"Bukan La Tempesta namanya kalau gak bisa menganalisa," ucap Caera.
"Dan bukan Gemini namanya kalau gak ada rencana," ucap Elyza.
"Ya deh terserah kalian aja kalau gak dapat jangan kesal ya," ucap Faraz.
"Hoho tenang aja ini tuh gampil," sombong Caera.
"Benar tuh kasus ini gampil!" seru Elyza.
"Mudah banget malah," tambah Felicia.
"Gue curiga," ucap Arman sambil memandang lekat ketiga gadis itu.
"Curiga kenapa Ar?" tanya Vina.
"Gue curiga jangan-jangan semua bukti udah lo bertiga borong semuakan?" tanya Arman.
"Hm itu...," ucap Caera bingung.
"G-gak mungkin deh," ucap Elyza dengan gugup.
"Kalian berjalan tanpa perintah lagi!" seru Juna marah.
__ADS_1
"Oh iya Cae, Eza ayo kita harus mampir ke Markas dulu tugas anak-anak kemarin belum keperiksa semua," ucap Felicia berusaha kabur.
"Kalian mau kabur kemana?!" tanya Juna berseru kesal.
"Dah Kak Jun dan yang lainnya kami pergi!" seru Elyza lalu ketiga gadis itu langsung kabur.
"pantes gak dapat satupun bukti," ucap Adira.
"Dan pantes aja mereka tenang kayak gitu," ucap El.
"Vin, Ar cari misi yang ada menghancurkan orangnya," ucap Juna dengan aura membunuh yang mengelilinginya membuat yang melihat menegukkan salivanya dengan susah payah.
"J-Jun sabar Jun," ucap Faraz berusaha menenangkan sang kapten.
"G-gak terlalu berbahaya tuh Jun," ucap Arman berusaha menolak.
Iya Junannya gak bakal bahaya yang kena bahaya itu musuhnya kalau auranya kayak gini bisa-bisa sebelum nyerang musuhnya udah mati duluan.
"Ini perintah! Cari selama 5 menit kalau gak dapat awas aja," ancam Juna membuat Arman dan Vina kalang kabut dengan kecepatan penuh mencari misi.
Kalau di Markas WE ada yang ke susahan beda lagi dengan ketiga gadis yang kini sedang happy fun ada di Mall.
"Ci kasusnya kapan kita selesaiin?" tanya Elyza.
"Jam tigaan nanti," bukan Felicia yang menjawab melainkan Caera.
"Cari aja dulu yang bisa di ajak kerja sama nantinya," ucap Felicia.
"Kenapa gak Kak Juna aja?" tanya Elyza.
"Eza ku sayang kalau kita kerja bareng Kak Juna yang ada kita kena marah karena berjalan sebelum ada perintah," ucap Caera.
"Ya tapi tetap aja liat nih," ucap Elyza memperlihatkan handphonenya yang menampilkan pesan dari Vina 'Warning!! Juna ngamuk!' ya kira-kira begitulah isi pesannya.
"Yaudah hubungi Kak Juna tapi bilang kita gerak jam tigaan," ucap Felicia.
"Ha'ah lagian aku masih mau adem di sini dulu," ucap Caera.
"Ok bakal aku sampaiin," ucap Elyza.
Di sisi lain....
"Sial! D-01 dan B-03! Cari penganti mereka!" seru pria itu master DE dengan marah.
"Panggil B-08 kesini cepat!" pintah sang master dengan marah membuat yang ada di sekitar gemetar ketakutan.
Satu orang anak buahnya dengan segera berlari memanggil B-08 dengan cepat.
"Salam Master," ucap A-01 yang datang.
"A-01, ada apa?" tanya sang master dengan angkuh.
"Ini tentang rencana itu," ucap A-01 membuat sang master mengangguk paham.
"Sebentar lagi temui aku di ruang rapat," ucap sang Master dan dengan segera A-01 pergi.
Tak lama setelah itu seorang pria yang memakai jas dokter dengan pakaian yang ada sedikit percikan noda darah di jasnya, B-08 priskopat gila yang selalu membuat Felicia geram.
"Ini sudah kesepantanmu yang ke berapa B-08," seru sang master penuh penekanan.
"Oh tenanglah Master, kali ini B-09 ingin bersenang-senang setelah itu baru aku akan masuk kembali lagi pula ini sudah mencapai akhir," ucap B-08 dengan santai.
"Kau yakin ini sudah hampir akhir?" tanya sang master menatap tajam B-08.
"Tentu hanya beberapa permainan kecil lalu aku akan mulai serius," ucap B-08.
"Satu hal yang pasti membuat gadis itu terpukul, orang yang ia sayangi tiada," ucap B-08 membuat sang master mengangkat satu alisnya bingung.
Sang master lalu tertawa keras ketika mengetahui maksud dari B-08. "Bagus B-08 bagus dan jangan sampai Scarlett mendapatkan chip itu," ucap sang master.
"Tentu saja Master, anda tenang saja chip itu aman bersamaku," ucap B-08 sambil melihat pergelangan tangannya.
"Baiklah Master saya undur diri dulu," pamit B-08.
"Aku tak ingin mendengar adanya kegagalan B-08," ucap sang master.
"Tentu Master anda tak akan mendengar adanya kegagalan," ucap B-08 dengan kilatan dendam di matanya.
B-08 berbalik lalu pergi. Sang master terdiam lalu ia beranjak dari kursi ke besarannya dan segera pergi menuju suatu ruangan merencanakan sesuatu rencana besar maybe?
"Dunia akan menjadi milikku! Dan permata Scarlet aku akan merebut permata itu, seorang gadis kecil tak pantas memegangnya bukan?" gumam sang master sambil tersenyum licik.
"Wah permainan ini makin seru saja bukan?" tanya C-02.
"Hei C-01 bagaimana menurutmu?" tanya C-03 pada gadis kecil yang ada di sampingnya.
"Ya lumayan, dia harus berhati-hati," ucap C-01.
"Kapan kau akan muncul?" tanya C-02.
"Tidak sekarang namun aku pasti muncul aku percaya padanya dan aku percaya pada Caera," ucap C-01.
"Lagi pula kita tak tau seberapa licik dirinya, dia lebih licik dari pada yang di bayangkan," ucap C-01 dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Kakak aku percaya padamu," bisiknya.
^^^Bersambung.... ^^^
03 Februari 2020
27 Desember 2020
__ADS_1
Jangan lupa klik 🌟 dan 💬 berikan saran dan juga dukung terus ya 😊
dan kalau perlu sebarkan cerita ini pada teman kalian biar mereka juga dapat menikmati cerita ini.