
4 bulan kemuadian....
Jakarta, Indonesia.
Felicia termenung memandangi keluar gedung, ibu kota tampak ramai, kendaraan berlalu lalang di jalan orang-orang berjalan dengan riang.
Sampai kapan ia bisa melihat senyum itu? Tak mungkin hanya sebenatar bukan? Felicia ingin melihat pemandangan ini tiap saat.
"Andai saja kekuatanku cukup untuk menghancurkan DE saat ini juga," gumam Felicia sambil duduk di kursinya.
Felicia memandangi kertas yang ada di depannya, tulisan simbol-simbol yang tidak dapat dimengerti oleh orang-orang tetapi dapat diketahui olehnya.
'Hai Scarlet!
Bagaimana jika kau melawanku? Aku menantangmu! Datanglah jalan MT Haryono, MS.
Jangan bawa orang bersamamu dan datanglah sendirian
Sampai jumpa Scarlett semoga beruntung.'
"Akhir dari permainan pertama ya?" gumam Felicia sambil tersenyum miring.
"MS? Menara Saidah, kenapa dia memilih gedung itu? Gedung itu memang kosong namun bukankah rentan ketahuan oleh orang-orang?" monolog Felicia bertanya.
"Felicia, naka ni iru no?" tanya seorang cowok berwajah khas asia itu memasuki ruangan Felicia.
"Kau bertanya namun kau langsung masuk begitu saja," ucap Felicia menggunakan bahasa jepang pada cowok itu.
"Gomen'nasai," balas cowok itu sambil cengegesan dan sedikit membungkuk.
"Ya, ya ada apa Hikaru?" tanya Felicia padanya.
"Tidak hanya saja, aku ingin memberikan laporan, aku menyelesaikannya dengan cepatkan!" serunya dengan bangga menggunakan bahasa Jepang.
"Hei itu juga berkatku!" seru Hyun Woo memasuki ruangan Felicia tak terima dengan apa yang diucapkan oleh teman sekelompoknya itu.
"Jangan lupakan aku! Aku juga membantu," ucap Cowok berambut pirang dengan mata biru, Willy.
"Ya, ya, good work all," ucap Felicia.
"Jadi selanjutnya apa yang harus kami lakukan?" tanya Willy.
"Istirahatlah, bukankah kalian sudah lelah?" tanya Felicia diangguki tiga orang itu.
"Fea, gue mau ngasih laporan nih," ucap Arman langsung memasuki ruangan Felicia setelah Hikaru, Hyun Woo dan Willy keluar.
"Nih data-data colon anggota agen itu, seperti yang lo suruh gue udah urutin dari yang paling berpotensi dibidangnya masing-masing," ucap Arman.
"Makasih Kak," ucap Felicia.
"Lo kenapa Fe? Gak seperti biasanya, ada masalah?" tanya Arman.
"Gak, Kakak keluar aja lanjutin tugas Kakak, Kak Juna tadi nyuruh sesuatukan," ucap Felicia.
"Iya sih kalau gitu gue keluar dulu ya," ucap Arman keluar tanpa protes.
Felicia menghebuskan napasnya lalu berguling di sofa yang ada di ruangannya.
"Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan," ucap Felicia lalu perlahan matanya terkatup dan tertidur.
Sudah beberapa menit yang lalu Arman keluar dari ruangan Felicia dan selama itu pula ia tak bisa konsen pada tugasnya.
"Man, tugas lo mana?" tanya Faraz.
"Belum selesai," jawab Arman.
"Gue ngasih tugas sama lo dari sejam yang lalu kok gak selesai-selesai sih!" seru Juna marah pada temannya itu.
Arman hanya terdiam membuat Juna yang awalnya marah menjadi heran bukan hanya juna saja tetapi juga Faraz, Ezar dan Erland yang memang berada di sana.
Arman tetap diam membuat mereka bertambah heran biasanya teman mereka satu ini jika dimarahi dia akan melawan balik tapi sekarang dia malah diam.
"Lo kenapa sih Man? Kok jadi nyeramin," ucap Ezar.
"Kayaknya, Fea ada masalah deh," ucap Arman.
"Hah?!" tanya Juna, Faraz, Ezar dan Erland bingung.
"Maksud lo apaan sih?" heran Erland tak mengerti.
"Lo sama yang lain bicarain apa sama Fea empat bulan yang lalu Jun?" tanya Dylan yang ntah sejak kapan duduk di sofa.
"Empat bulan yang lalu? Gue sama yang lain disuruh ngumpul sama dia, bicarain masalah keluarga," jawab Juna.
"Tentang Maya ya?" tanya Ara yang entah sejak kapan ada di samping Ezar membuat pria itu terlonjak kaget.
Namun kini Faraz melihat sekelilingnya heran baru menyadari bahwa anggota tim semuanya berkumpul termasuk Elyza, Caera dan Neron yang entah datang dari mana.
"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Faraz heran.
"Barusan," jawab Nara dengan enteng.
"Ngapain kalian pada ngumpul sih?" heran Juna.
"Masalah Feakan? Kita harus menyelesaikan bersama, dia adik kita," ucap El diangguki yang lainnya.
"Yaudah jadi gimana?" tanya Arman.
"Ya gue gak tau juga sih, lagian masa masalah empat bulan yang lalu masih dia pikirin," jawab Juna.
"Benar juga sih," gumam Dylan.
"Hoi, kalian ngerasa gak sih aura di sekitar Felicia dari hari ke hari berubah," ucap Vina.
"Seperti aura dendam akan sesuatu," tambah Alma.
"Dari tatapannya sih gue ngelihat ego, dendam sama ambisi gitu," ucap Hanif angkat suara.
"Ambisi yang kuat," tambah Arman.
"Jadi intinya apa?" tanya Tina.
"Ambisi akan sesuatu, DE tidak salah lagi dia memikirkan DE," ucap Caera.
"Firasatku entah mengapa jadi buruk," ucap Arman.
"Sesuatu yang besar akan terjadi malam ini," ucap Elyza dengan spontan.
"Sesuatu yang besar? Malam ini?" tanya Juna.
"Cia nyembunyiin sesuatu dari kita semua," ucap Neron.
Mereka semua terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing.
...*-*-*-*-*...
"Hah...hah...hah,"
'Dor,dor.
"Cia!"
"Master!"
"Tidak, Cia!"
Dor
-*-*
"Tidak!" seru Felicia terbangun dari tidurnya.
Mimpi buruk, lokasi itu Menara Saidah. Hal buruk jika ia benar-benar membawa seseorang dalam pertemuannya dengan B-08 nantinya.
Felicia melihat jam yang ada di dinding jam lima pas, Felicia mengusap wajahnya lalu berjalan menuju pintu kamar yang memang di sediakan untuknya.
Felicia membuka sebuah lemari kecil tempat ia menyimpan baju, gadis itu mengambil kunci yang ada di laci kecil.
Felicia berjalan menuju tempat tidur, duduk dibawahnya dan meletakkan kunci itu dilaci yang ada di tempat tidur.
Felicia memutar kunci hingga laci itu terbuka lalu menarik laci tersebut, senjata canggih lengkap tersunggahi di sana, Felicia mengambil salah satu pistol yang ada di dalamnya, dengan mata tajam ia mengamati pistol tersebut, Felicia meletakkan kembali pistolnya ketempat semula.
"Malam ini akan menjadi malam yang panjang," ucap Felicia sambil mengambil sebuah baju terlipat di sana.
Felicia berdiri lalu memasuki kamar mandi, seperti yang ia katakan tadi malam ini akan menjadi malam yang panjang jadi ia harus mempersiapkan diri bukan?
Jam 00.00 wib
Felicia memasuki gedung 28 lantai itu dengan hati-hati. Felicia membuaka pintu gedung itu dengan sedikit rasa heran ketika pintunya terbuka, kenapa pintu gedung itu terbuka? Bukankah pintu ini terkunci? Heran Felicia.
Felicia mengelengkan kepalanya lalu berjalan memasuki lobby gedung tersebut yang telah terbengkalai. Felicia mencari pintu tangga dalurat setelah menemukannya, gadis itu segera menaiki tangga.
__ADS_1
"222282, lantai delapan belas," gumam Felicia berlari dengan cepat.
Felicia membuka tangga dalurat lantai delapan belas, gadis itu menelusuri lantai itu.
Sebuah peluru melaju cepat bersamaan dengan suara letukan senjata, Felicia menghindar dengan cepat, jika ia terlambat sedikit saja sudah pasti peluru itu langsung mengenai jantungnya.
"B-08! Keluarlah aku sudah di sini! Jangan jadi pengecut!" seru Felicia.
B-08 keluar dari sebuah ruangan bukan hanya ia saja tetapi juga pasukan DE, perkiraan Felicia mereka ada lima ratus orang.
"Brengsek, kau ingin menyerangku beramai-ramai?! Kau tak lebih dari seorang pengecut!" seru Felicia dengan marah.
"Hehe aku terkesan, kau benar-benar tidak membawa orang ke sini," ucap B-08 sambil terkekeh geli.
"Hei B-08 bagaimana jika kita langsung mulai saja," ucap A-09 yang ternyata juga ikut bersama B-08.
"Jika kau siap Scarlett bagaimana jika kita langsung mulai saja," ucap B-08 mengisaratkan pada bawahannya agar menyerang Felicia.
Felicia mengindar dan terus menangkis serangan dari para orang-orang DE, lama-lama ia juga menjadi kewalahan melawan orang sebanyak itu.
"Wajahmu sangat cantik," ucap salah satu orang yang menyerang Felicia.
"Kau cantik Nona walau tertutup masker," ucap yang lainnya.
"Sepertinya kau bisa dijadikan mainan kami bukan?" tanya yang lainnya.
"Walau umurmu masih muda tapi jika dewasa kau akan sangat cantik, tenang kau akan menjadi orang istemewah di DE," ucap yang lainnya.
"Asal kau bisa selalu menghibur kami," ucap yang lainnya.
"BAJINGAN!" seru Felicia berteriak dengan marah mendengar ucapan mereka.
Jangan mengira Felicia tidak mengerti ucapan mereka, Felicia tak sepolos itu, mereka ingin menjadikannya wanita penghibur, jangan mimpi! Felicia mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaketnya.
"Aku tak akan bermain-main lagi! Maju semuanya! Akan aku habisi kalian," ucap Felicia memandang nyalang pada mereka semua dengan mata berkilat merah.
Dor
Dor
Letukan senjata terdengar, jika tadi mereka menyerang Felicia dengan tangan kosong dan selalu dihindari juga ditangkis oleh gadis itu kini Felicia menyerang balik.
Felicia tanpa belas kasih menembak mereka walau itu tidak berakibat fatal hingga membuat mereka mati tetap saja serangannya itu mampu membuat yang di serangnya pingsan.
"Gadis sialan!" seru salah satu dari mereka menyerang Felicia dari belakang mengunakan belati.
Felicia memegangi tangan pria yang ingin menyerangnya membawa tangan pria tersebut menyerang dirinya sendiri.
"Jangan bermain-main denganku," ucap Felicia sebelum pria itu terjatuh.
Felicia melempar senjatanya ketika peluru pistolnya habis, Felicia mengambil wolverine claw yang ia kenakan dikedua tangannya.
"Aku habisi kalian semua," seru Felicia.
Felicia melaju cepat dalam waktu lima menit ia telah menghabisi lima puluh orang sekaligus.
Perkiraan Felicia ada sekitar 50 orang yang tinggal di sana, Felicia telah menghabisi sekitar 300 orang diantara mereka selebihnya melarikan diri.
"Mau kemana Om?" tanya Felicia pada orang yang berbicara kurang hajar padanya tadi yang ingin melarikan diri.
"Le-lepaskan aku," ucapnya dengan ketakutan.
"Tak ada yang akan aku lepaskan, apa lagi orang kurang hajar sepertimu!" seru Felicia berteriak dan langsung mencakar pria itu.
Darah mengenai wajah Felicia, pria tadi adalah orang terakhir yang ia habisi.
"Aku selesai dengan mereka sekarang giliran kalian berdua!" seru Felicia pada B-08 dan A-09.
"Hahaha kau hebat dalam waktu tak sampai setengah jam kau menghabisi 350 orang," ucap A-09 sambil tertawa.
"Apa sebenarnya tujuan kalian?" tanya Felicia menatap tajam kedua pria itu.
"Memberikan permata Scarlett pada Master kami, apa lagi?" tanya A-09.
"Bukankah ini mudah? Kami hanya perlu merebut permata itu darimu dan mengeluarkan sisanya yang masih tersimpan di dalam dirimu," ucap B-08 dengan enteng.
"Hah, hahaha mudah? Aduh perutku, itu lucu!" seru Felicia sambil tertawa geli.
"Permata Scarlet bagian dari diriku kalian takkan bisa mengambilnya begitu saja," ucap Felicia dengan pandangan tajam mengimindasi.
"Permata Scarlet milikku, dia adalah sebagian dari nyawaku ingin mengambil permata Scarlet berarti kalian siap mati!" seru Felicia lantang.
'Tuan' gemaan panggilan Scarlet terdengan mengiang dipikiran Felicia.
"Kau adalah nyawaku, aku tak akan pernah menyerahkanmu pada siapapun," ucap Felicia.
"Maaf Nona kami akan menyerangmu dengan cara kasar," ucap A-09 memandang sengit Felicia.
"Semuanya serang!" seru A-09.
Pasukan DE keluar dari persembunyiannya sedari tadi mereka bersembunyi, firasat Felicia tak pernah salah, mereka ada lebih dari pasukan yang tadi.
Sementara itu....
"Hei Abra sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Baren heran pada temannya itu bukan hanya Baren tetapi juga Zia dan Dea yang ikut bersama mereka.
Kini mereka tengah merasa di pesawat dan akan segera mendarat di Indonesia, sebenarnya Baren, Zia dan Dea tak mengerti situasi apa kiranya yang kini terjadi yang mereka tau hanya Abra yang langsung datang ke rumah Baren bersama Zia yang bingung menyuruh mereka semua berkemas dan dengan memakan waktu hampir setengah hari itu mereka kini ada di sini.
"Mas sebenarnya kenapa sih? Dari tadi cemas gitu," ucap Zia yang ikut khawatir.
"Cucu bodoh!" seru Abra mengumpat melepaskan segela kegelisaannya.
"Apa itu artinya cucu perempuanmu? Felicia? Ada apa dengannya?" tanya Baren.
"Dia menerima tantangan dari B-08 dan dia pergi sendirian," ucap Abra memberitau.
"Psikopat gila itu?!" seru Dea bertanya tak percaya.
"Apa dia tak memikirkan ini adalah jebakan!" seru Baren menjadi kesal mendengar berita itu.
"Tidak, dia tau itu jebakan tapi sesuatu membuatnya nekat pergi sendiri," ucap Zia membuat mereka menoleh padanya.
"Apa maksudmu Zia?" tanya Dea tak mengerti.
"Apa permata Scarlet telah bereaksi?" tanya Baren dijawab anggukan oleh Zia.
"Gadis itu percaya dengam firasatnya, aku yakin dia mendapatkan firasat buruk jika saja dia membawa orang," ucap Abra.
"Itu terlalu nekat!" seru Baren.
"Oleh karena itu kita akan pergi ke sana, lokasinya Menara Saidah," ucap Abra.
"Tunggu apalagi kita harus cepat!" seru Baren ketika pesawat tepat telah mendarat.
Baren berjalan terlebih dahulu diikuti Abra di sampingnya dan Zia serta Dea yang ada dibelakang mereka.
Hal yang tak disangka-sangka diluar dugaan mereka, pasukan DE mengepung mereka saat mereka keluar dari pesawat.
"Mungkin dengan Ayahnya ia bisa menyembunyikan sesuatu, tetapi tidak dengan Kakeknya bukan begitu tuan Abqary?" tanya seorang pria yang mereka yakini memimpin pasukan itu, "saya terkesan melihat Anda datang bersama Tuan Rafailah dan para nyonya dua keluarga ini."
"A-01," desis Baren.
"Senang jika Anda mengingat saya," ucap Pria itu A-01 sambil tersenyum.
"Veta, Audric, Bovik, Brienne pergi ke Menara Saidah bantu Felicia cepat!" pinta Abra melalui alat komunikasi yang ada di telinganya.
"Mungkin keempat bawahan Anda akan membantu Tuan tapi tidak semudah itu," ucap A-01.
"Maaf Sir, DE mengepung kami berempat," ucap suara Veta dari sebrang sana.
"Sial! Baren, Zia, Dea, aku harap kalian siap," ucap Abra sambil memegang senjata dikedua tangannya.
"Sudah lama aku tak bersenang-senang," ucap Baren memasang posisi siap dengan keling yang telah melekat dikedua tangannya.
"Sudah lama aku tak bermain dengan senjata," ucap Dea mengambil pistol yang memang selalu ia bawa.
"Berolahraga sedikit tak masalah bukan?" tanya Zia dengan posisi siap menyerang dan belati yang ada di tangannya.
"Sepertinya kalian siap Tuan dan Nyonya, semuanya serang!" seru A-01.
Di Lain tempat....
Elam terbangun dari tidurnya, apa yang baru saja ia mimpikan? Itu mimpi buruk! Felicia ditembak? Itu tak pernah nyata.
Elam bangkit dari kasur firasatnya menjadi buruk tentang ini, Khaina tersentak terbangun dari tidurnya membuat Elam menoleh pada sang istri.
"Mas C-Cia," ucap Khaina dengan pandangan khawatir.
"Kamu juga memimpikannya?" tanya Elam diangguki Khaina.
Elam bangkit dari tempat tidurnya bergegas pergi keluar kamar bukan hanya dia tetapi juga Khaina.
__ADS_1
Sesampainya di luar kamar Elam dan Khaina memandang heran Fariz, Adele, Falih, Darra dan Neron yang memang menginap di sana juga Zain, Baim dan Fani dengan mata yang berkaca ingin menangis.
"Bunda...hiks...Fani takut, Fani mimpi Kak Cia ditembak," ucap Fani gemetar ketakutan sambil terisak memeluk sang Bunda.
"Kalian memimpikan hal itu juga?" tanya Elam.
"Kau juga?" tanya Falih balik.
"Om Elam! Ci-Cia gak ada di kamar!" seru Elyza yang keluar dari kamar Felicia bersama Caera.
"Kemana anak itu!" seru Elam marah bercampur khawatir apalagi dengan mimpi yang didapatnya.
"Kalian berkumpul disini?" heran Devian pada keluarga besar itu.
"Devian? Ada apa? Bukankah sepertinya kalian dalam tugas?" tanya Elam pada Devian yang memang kini sedang memakai topeng.
"Aku memang dalam tugas dan aku ingin memberitau sesuatu pada kalian ini genting, Audric tadi mendatangiku," ucap Devian.
"Apa Cia ada di Markas Huriya kini? Kenapa Audric kesana?" tanya Caera heran.
"Master tidak ada di Markas, dia dalam bahaya, B-08 menantangnya kini ia sedang di Menara Saidah," ucap Devian.
"Menara Saidah?! Di mana yang lainnya?" tanya Elyza.
"Mereka kini melawan DE, mereka mengepung!" seru Devian.
"Falih, Fariz siap-siap kita pergi!" seru Elam memasuki kamarnya segera bersiap begitu pula dengan Falih dan Fariz.
Caera, Elyza, Neron dan Zain juga tak tinggal diam ikut bersiap lagipula Felicia adik mereka.
"Schwarzer Nabel pimpin kami," ucap Elyza yang telah siap memakai topengnya begitu pula dengan Caera dan Neron.
"Mas Ina ikut ya," ucap Khaina memohon.
"Gak sayang kamu di rumah aja, Mas yang pergi, Cia bakal selamat," ucap Elam.
Elam lalu berjalan keluar dengan yang lainnya, pria itu tak menghentikan Zain yang ikut, lagipula keahlian putranya itu juga akan diperlukan nantinya.
Dor
Dor
Suara letukan pistol saat Elam membuka pintu rumah, terdengar hampir sedikit saja tembakan itu tepat mengenai Elam.
"Wah, Wah kalian ingin membantu Scarlett bukan? Tak semudah itu," ucap seorang pria yang berjalan dengan seorang wanita di sampingnya.
"Pasukan kalian lumayan banyak ya," ucap Wanita itu.
"B-02, A-06," desis Elam.
"Wah ternyata Ice Mask tau kodeku aku terharu," ucap wanita yang becode A-06.
"Ayah biar Zain sama Neron yang ngurusin mereka, Bunda, Tante Darra sama Tante Adele juga ada. Ayah, Om Falih, Om Fariz, Om Davian, Cae sama Ely pergi dulu aja," ucap Zain.
"Iya Om, kami bakal nyusul," tambah Neron.
"Baiklah kami serahkan yang di sini sama kamu," ucap Elam.
"Kak, Aku juga di sini nanti nyusulnya," ucap Fariz diangguki Elam.
"Wah mau berpencar tidak semudah itu," ucap B-02 menghalangi.
"Jangan ngehalangi dong Om, lawan gue aja sini," ucap Zain menantang B-02.
Zain memberi kode pada Elam agar mereka segera pergi dan untungnya Elam dengan tangkap mengetahui kode itu segera pergi.
Di tempat lain dengan waktu yang sama, kediaman keluarga Rafailah.
"Aku kira ada apa ternyata mereka menyerang," ucap Kenrich –Papa Alan– dengan kesal.
"Sepertinya Fea memang dalam bahaya," ucap Hazzam.
"Ini menyebalkan, aku harus berurusan dengan mereka," ucap Fathan menantu keluarga itu suami Ayla.
"Ayo dong Mas, Maskan mantan geng sekolah juga mafia," ucap Ayla menyemangati suaminya itu.
"Lan ini gimana? Si Juna juga, diam-diam aja lo," ucap Alvin kesal pada kedua adiknya itu.
"Ok, gue udah tau lokasi Fea, dia ada di Menara Saidah," ucap Juna.
"Ngapain mereka menyasarkan menara itu? Bukankah tempat itu masih di sekitar tempat warga?" tanya Rashin –Mama Alan– heran.
"Juna juga gak tau, tapi kita harus pencar," ucap Juna.
"Ok kalau gitu Gue, Fathan, Mama, Athi, Ayla tinggal," ucap Alvin membuat keputusan.
"Jadi yang pergi Papa, Juna, Alan sama Hazzam gitu? Alana gimana?" tanya Kenrich.
"Alana ikut gak ada yang bisa ganggu gugat!" seru Alana.
"Yaudah, Ma, Mama bisakan?" tanya Kenrich pada istrinya itu.
"Papa gak tau Mama aja, Mama dulu suka main senjata kok tenang aja," ucap Rashin.
"Juna, Alan, Alana, Hazzam ayo!" ajak Kenrich lalu pergi.
Kembali ke Felicia.
Jtar
Ter
Luka memenuhi A-09 pertarungan sengit telah berlangsung selama 1 jam dan tepat di luar sana hujan membasahi kota.
"B-08 sekarang giliran lo!" seru Felicia.
"Bukankah dari tadi lo udah ngelawan gue? Kalau ini kurang menarik buat lo Scar gue bisa nambah orang," ucap B-08 menjentikan jarinya.
Dua orang pria dan seorang wanita datang, berdiri di samping B-08.
"Benar-benar gadis yang tangguh," ucap pria bercode name C-02.
"Ini menyenangkan," tambah pria dengan code A-03.
"Aku tak sabar melawan gadis ini," ucap wanita dengan code D-02.
"Menyerahlah Scar, lo udah kalah, aku tau kau kelelahan dan jika kau melawan kami berempat itu hanya sia-sia lagian gak ada yang bisa nolong lo mereka udah di kepung!" seru B-08.
Felicia benar-benar kelelah sama seperti yang B-08 ucapkan, dia tidak sekuat itu bagaimanapun dia hanya anak-anak, Felicia sadar akan itu. Ia juga tau jika keluarganya, WE, Huriya, Grandpanya bahkan Keluarga Rafailah dan lainnya kini sedang di kepung oleh DE dan dia yakin di beberapa lantai di bawah sana kini sedang terjadi pertarungan.
"Tidak! Aku tidak akan menyerah! Kalau kalian sanggup lawan aku! Aku tak akan kalah!" seru Felicia berteriak lantang.
"Menarik, bagaimana jika aku yang lebih dahulu melawanmu!" seru D-02 berlari sambil menyerang Felicia.
Felicia memandang tajam wanita itu, mata emasnya berkilat merah penuh akan amarah dendam, ego serta ambisi, sejenak lari D-02 terasa lambat ia agak gemetar melihat mata itu, mata itu membuatnya takut. D-02 makin melambat, ia merasa ada yang membuatnya berhenti, mata tajam gadis itu bagai menusuk jantungnya.
Felicia diam namun tatapan matanya kian tajam, seperkian detik berlalu, D-02 semakin cepat. Felicia mengayunkan tangannya dalam sekali ayun ia merhasil mengenai D-02.
Mata wanita itu melebar, darah terlihat, ia terbatuk dengan mengeluarkan darah lalu terjatuh. Cipratan darah merah kental itu mengenai sedikit wajah Felicia, senjata welverine claw miliknya di hiasi oleh darah, lawannya tak sepenuhnya melayang namun mereka hanya pingsan.
Mata Felicia tak bergetar, tubuhnya tak bergetar dirinya tak merasa takut melihat darah itu, malah puas, gadis itu merasa puas ketika ia bisa melampiaskan dendamnya.
"Siapa selanjutnya?" tanya Felicia membuat B-08, C-02 dan A-03 sama-sama menyeringai.
"Serang kami bersamaan Scarlett!" seru mereka bertiga kompak berlari mendekati Felicia
Felicia kali ini tidak tinggal diam ia juga berlari mendekati ketiga pria itu, gerakannya lincah, sangat lincah. Ketika mereka semakin dekat Felicia menyilang tangannya, ketika mereka makin dekat dengan cepat Felicia menghempaskan tangannya dengan gerakan mencakar.
Felicia mendarat membelakangi ketiga pria itu, A-03 tumbang dengan darah yang keluar dari mulutnya, meninggalkan C-06 dengan luka cakar yang cukup panjang dan B-08 dengan bekas goresan di wajah napas keduanya terengah-engah.
"Kita akhiri ini dengan cepat."
^^^Bersambung....^^^
Senin, 06 April 2020
27 Desember 2020
Hai! Hai!
Bagaimana part kali ini seru? Bosanin? Sedih atau tambah bikin penasaran? Tulis di kolom komentar ya!
Jangan lupa juga Vote, kritik serta sarannya sekalian.
Dari senin sampai kedepannya TLD bakal up berturut-turut, bagikan cerita ini ke teman, saudara dan sahabat kalain agar mereka dapat menikmati cerita ini.
Sekian dari saya, jangan lupa jaga kesehatan.
See you bye~
Sampai jumpa besok selasa di part berikutnya.
__ADS_1