The Real Beauty

The Real Beauty
Competition


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Riyant akan bertanding basket dengan sekolah lain, team serta pendukung dari sekolah Riyant sudah mulai berkumpul beberapa yang lalu, sebentar lagi pertandingan akan di mulai, tetapi Riyant belum juga sampai di lokasi, hal ini menimbulkan banyak kekhawatiran dari team maupun pelatih terlebih Clara.


Mereka sudah menghubungi Riyant, tapi tak ada jawaban dari Riyant, bagaimana pun pertandingan harus tetap berlangsung bukan?


“Bagaimana ini? Riyant belum juga datang, sedangkan sebentar lagi kita akan bertanding,” ucap Yoga membuat satu team serta pelatih semakin gelisah.


“Kita harus mencari pemain sementara untuk menggantikan Riyant, ketika anak itu tiba, langsung kita ganti kembali,” usul pelatih. “Lalu siapa?” ujar Yoga,


“Aku”


Semua orang menatap asal suara itu dan terheran.


...----------------...


Di lain sisi, Riyant terlihat sangat terburu-buru dan melajukan motor dengan kecepatan penuh, ia terlambat bangun hari ini itu adalah kesalahannya, semalaman ia tak bisa tidur karena mencemaskan pertandingan,


Riyant melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga tanpa ia sadar tiba-tiba sebuah mobil truk berlawanan arah menghantamnya dan ia pun tergeletak jatuh tak sadarkan diri, semua orang berlari menyelamatkan Riyant dan membawanya langsung ke rumah sakit.


...----------------...


Di lapangan, Clara lah yang menggantikan Riyant, meski sempat di protes oleh Farhan tapi tetap Clara ikut bermain menggantikan Riyant, Clara tak tahu mengapa ia mengajukan diri untuk mengantikan Riyant, hanya saja saat itu Clara hanya ingin bermain di team sekolahnya sebagai Riyant.


Pertandingan usai dan ternyata, team sekolahnya kalah, semua orang menyalahkan Clara dan menyudutkannya.


Clara meminta maaf atas kesalahannya kepada team dan pelatih, namun team tidak memafkan Clara.


BRUK

__ADS_1


“Awh” rintih Clara,


Seseorang tiba-tiba saja mendorongnya dengan keras hingga tubuhnya terhempas ke loker ketika ia ingin mengganti pakaiannya, Clara melihat orang yang tadi mendorongnya, ia adalah Andi.


Andi terlihat marah pada Clara, ia kemudian memukul Clara dengan kayu yang entah dari mana ia dapatkan.


BUGH


“Aw, Andi. Maafkan aku, aku salah, aku telah membuat team kalian kalah” lirih Clara, seakan tuli Andi tetap memukulnya disana, hingga darah mengucur dari hidung, lengan juga kepala Clara.


Clara terduduk lemas tak berdaya, melihat itu Andi menghentikan pukulannya lalu pergi meninggalkan Clara sendiri di ruang ganti.


Clara menangis, ia mencoba untuk tetap sadar dan bangkit menuju tasnya mencari ponsel dan menelfon Riyant, seharian pikirannya tertuju pada Riyant, mengapa ia tak datang di pertandingan.


Tiba-tiba saja, notifikasi ponselnya penuh, semua itu dari Riyant. Clara membuka satu pesan terakhir pada pukul 07:30 pagi, isi pesan itu mengatakan bahwa, Riyant kecelakaan dan ia sedang berada di rumah sakit sekarang.


Clara bergegas berlari dengan sekuat tenaga menuju rumah sakit, ia memberhentikan beberapa taksi yang melintas tapi tak ada yang mau memberinya tumpangan bahkan ketika Clara menawari bayaran yang sangat mahal tetap saja taksi-taksi itu menolak, mau tak mau Clara berlari menuju rumah sakit dengan keadaan dirinya yang bersimbah darah.


...----------------...


Ia ingin bertemu dengan Riyant terlebih dahulu, jika sudah bertemu ia akan mengobati lukanya, Clara tak peduli dengan lukanya, ia peduli dengan Riyant,


ia bertanya pada satpam disana menanyakan dimana kamar rawat Riyant dengan memberikan foto Riyant berharap beliau tahu dimana Riyant sekarang, tak mungkin jika Riyant masih di IGD karena ini sudah malam, tentu ia langsung di pindahkan jika sudah di beri perawatan intensif.


Syukurnya satpam itu tahu dan mengantar Clara menuju kamar dimana Riyant di rawat, Clara masuk setelah mengucapkan terimakasih pada satpam tadi lalu menghampiri Riyant yang terbaring disana.


Ia menanyakan pada suster yang berjaga dan mengatakan bahwa kondisi Riyat sedang kritis karena benturan keras pada kepalanya yang mengharuskan ia terbaring dengan kondisi kritis

__ADS_1


Clara menangis di samping Riyant, melihat kondisi Riyant yang terbaring lemah di ranjang pasien membuat hati Clara berdenyut sakit, Clara berharap Riyant cepat sadar dan pulih seperti seharusnya.


Clara di minta untuk membersihkan lukanya, lalu ia kembali ke IGD dan diberikan pengobatan intesif di sana, kemudian kembali lagi ke kamar rawat Riyant, terdiam disana dan tertidur.


Clara tertidur sambil menggenggam tangan Riyant yang terpasang selang infus. Di hatinya, Clara berdoa agar Riyant cepat pulih kembali.


...----------------...


Pagi harinya, ayah Riyant datang dengan raut wajah cemas, di tatapnya Riyant dan juga Clara bergantian ketika ia tiba di kamar rawat Riyant, Clara masih berada disana, menemani Riyant.


Melihat itu Clara menunduk takut, ayah Riyant menghampiri Clara, “Apa anakku baik-baik saja?” tanya nya, “Maaf, tapi suster mengatakan bahwa, Riyant kritis” jawab Clara sedikit gemetar.


Beliau menghela napas berat, di pegangnya bahu Clara dan bertanya, “Kau? Apa kau juga baik? Kau terluka, anakku juga. Kalian kecelakaan bersama?” tanyanya. Aku menggeleng “Hanya Riyant,” ucap Clara, yang membuat ayah Riyant bingung, “Lantas? Mengapa kau terluka?” selidiknya.


“Um .. ini ku dapat ketika aku akan menyusul Riyant kemari,” Clara berbohong. “Kau arus memperhatikan dirimu, terimakasih sudah menjaga anakku” ungkap ayah Riyant kemudian berbalik menghadap anaknya.


Clara pikir ayah Riyant akan memarahinya ternyata tidak, ayahnya sungguh baik, sama seperti Riyant.


Riyant masih belum menunjukan ia akan siuman, tapi Clara tak pernah bosan untuk tetap menemani Riyant selama Riyant terbaring disana.


Sepulang sekolah Clara menyempatkan diri untuk menjenguk Riyant hampir setiap hari, kadang ia bertemu dengan ayah Riyant lalu ayah Riyant menyuruh Clara untuk tidak terlalu fokus dengan Riyant dan tetap fokus dengan sekolahnya, karena bagaimanapun itu adalah kewajiban.


Clara juga tak jarang mengajak ibunya menjenguk Riyant, tentu saja ibunya sangat shock mengetahui bahwa Riyant mengalami kecelakaan.


Clara tetap setia menjaga Riyant sampai ia terbangun, Clara selalu berdoa agar Riyant cepat sehat seperti sebelumnya.


"Cepatlah sembuh Riyant, masih banyak yang harus kita lewati. Aku akan berada disini sampai kau terbangun. Kau harus kuat,"

__ADS_1


Clara berujuar lirih sambil menggenggam tangan Riyant yang terpasang infus, kemudian Clara pamit untuk pergi ke sekolah.


Sengaja Clara datang pagi buta hanya untuk menemui Riyant sebelum ia menuju sekolah, Clara masih berharap ketika ia tiba di kamar rawat Riyant, ia melihat Riyant terbangun, meski kenyataannya Riyant masih terbaring tak berdaya di ranjang pasien. Namun, Clara terus berdoa agar Riyant cepat sehat seperti dulu.


__ADS_2