The Real Beauty

The Real Beauty
Kisah Si Gadis Kecil


__ADS_3

Terdengar isak tangis seorang gadis yang berumur 7 tahun di rumah megah itu, ia tengah menangis sambil berjalan menghampiri ibunya, masih lengkap dengan seragam sekolah dasar yang melekat di tubuhnya. Tentu saja tangisannya memicu sang bunda keluar menghampiri anak gadis itu, ia berlutut menyetarakan tingginya dengan anak gadisnya.


“Ada apa dengan gadis ibu?” tanya sang bunda, “Aku tidak ingin sekolah lagi, bu. Huhuhu...” isaknya. “Loh? Memang kenapa tidak mau sekolah?” di ajaknya gadis itu ke ruang tamu, memangku anak itu dan mengusap lembut surainya serta menyeka air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya.


“Mereka mengatai aku gendut seperti gajah, huhu..” ucapnya masih tersedu-sedu, Sang bunda tersenyum menenangngkan, “Kau tidak gendut, kau sehat. Tenu anak ibu sehat karena ibu memberi kamu makanan yang enak juga bergizi, sekarang kau ganti pakaianmu lalu makan bersama ibu ya? Jangan menangis lagi,” sahut sang ibu, menggiring gadis itu ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Gadis itu adalah Putri, ia tumbuh dengan kasih sayang dari ibunya, Putri memiliki tubuh yang gendut sejak kecil, pula ia selalu menjadi bahan ejekan teman sekolahnya, seperti saat ia menginjak usia remaja, temannya masih terus mengejeknya gendut, karena geram ia membalas, “Aku memang gendut, tapi aku tak pernah meminta makanan pada kalian. Justru karena aku kaya, aku bisa membeli semua makanan yang tidak bisa kalian beli, miskin!” hardiknya dengan kesal, siswa/i yang mengejeknya terdiam, sejak saat itu tak ada yang berani mengejeknya lagi.


Tepat saat ia akan memasuki SMA, Putri mulai melakukan diet dan berolahraga secara teratur, tetapi tutur katanya masih sama seperti saat ia SMP dulu, ia mengenal Mikki semenjak sekolah dasar, Mikki tahu betul sikap Putri, menurut pandangan Mikki, Putri berubah semenjak ia SMP, karena malu terus menerus di olok-olok teman sekolahnya, ia jadi lebih berani menghardik orang tersebut, tak ada yang berani membalas perkataan maupun tindakannya secara fisik, karena Putri sangat di lindungi, Putri bisa membayar seseorang yang pernah mencelakainya, maka dari itu mereka semua tak ada yang berani mengganggu Putri.


Mikki sudah sering kali mengingatkan Putri untuk tidak bersikap demi kian, tapi Putri tak mengindahkan perkataan Mikki, baginya, dengan menjadi seperti itu tak ada yang berani mengolok-oloknya, sungguh Putri tidak ingin seseorang menjatuhkan harga dirinya, tetapi justru ia senang menjatuhkan harga diri orang lain.

__ADS_1


Ayah dan Ibu Putri seorang pebisnis terkenal di kotanya, semua orang mengenal siapa ayah dan ibu Putri, namun anak itu tidak terlalu dekat dengan ayahnya, karena sejak kecil ayahnya tak pernah menggendong bahkan berbicara padanya, bagi Putri, ayahnya hanya orang asing yang tinggal di rumah.


Putri sangat kesepian, ia sering di tinggal ke luar kota bahkan ke luar negeri oleh kedua orangtuanya, maka dari itu Mikki selalu menemani Putri sampai saat ini.


Mikki tak pernah meninggalkan Putri, Mikki akan tetap berada di samping Putri untuk menjaganya, meski tak jarang Putri membentak bahkan menghardiknya hanya karena Mikki meminta Putri merubah sikapnya, tak sedikitpun bagi Mikki berniat meninggalkan Putri.


Putri sudah dianggap seperti adiknya, adik yang paling ia sayangi dan ia lindungi, tanpa Mikki sadari, justru Putri telah menaruh hati pada Mikki sedari lama, mungkin sampai sekarang.


Putri tidak suka jika Mikki berdekatan dengan gadis lain, seperti waktu Clara datang di pesta ulangtahun Mikki dengan gaun yang sama, hal itu membuat Putri murka pada Clara juga Mikki, ia tak habis pikir, mengapa bisa Mikki mengenal Clara, bahkan gadis itu sangat membencinya.


...****************...

__ADS_1


Putri mendatangi kediaman Mikki, ia merasa bersalah mendiami Mikki hanya karena ia tak menyukai Clara hadir di pesta Mikki, sangat egois memang, namun itulah Putri, ia sudah terbiasa dengan sikap buruknya itu.


“Wahh ada angin apa ini?” selidik Mikki sejak Putri mendudukan dirinya di sofa ruang tamu, “Kau tak marah padaku?” tanya nya lagi, karena Putri tak membuka suara sejak ia berada di rumah Mikki 20 menit yang lalu, “Bisakah kau diam? Aku lapar, temani aku makan. Ayo, tak perlu berganti pakaian,” ujarnya beranjak keluar meninggalkan Mikki.


Mikki yang bingung pun langsung bergegas menghampiri Putri, kemudian ia memasuki mobil yang Putri bawa dan melenggang mencari makanan favorit Putri, “Kau ingin makan seafood?” tanya Mikki sambil fokus menyetir, “Tidak. Aku ingin KFV,” jawab Putri, “Baiklah, tuan Putri.” Mikki mengedarkan pandangannya mencari restoran siap saji lalu memarkirkan mobilnya, mereka kemudian memasuki restoran itu dan memesan makanan.


“Sejak kapan kau mengenal Clara?” tanya Putri tiba-tiba, Mikki menaikkan satu alisnya, “loh? Bukankah aku sudah mengatakan padamu, bahwa aku bertemu dengannya di kantin rumah sakit?” Putri mengedikan bahu, “Sedekat itu?”


“Clara anak yang baik,” ucap Mikki acuh tak acuh, Putri terdiam, “Seberapa baik?” kali ini pertanyaan Putri terdengar mencurigakan bagi Mikki, namun dengan cepat Putri menepis, “Sudahlah lupakan. Hari ini temani aku bermain, aku bosan sejak kemarin ke rumah sakit terus, aku butuh liburan,”


“Bagaimana dengan ibumu? Bukankah kondisinya belum stabil?”

__ADS_1


“Ada ART di rumah, lagi pula aku pergi hanya sehari, bukan berminggu-minggu. Tenang saja.” sahutnya sambil meminum colla, aku mengiyakan tawarannya.


Seharian aku menemaninya bermain, saat itu terlihat sikap Putri yang sebenarnya, seperti anak kecil yang lugu, polos dan juga baik. Tentu, meski Putri seorang yang mempunyai sikap buruk bukan berarti tak ada sisi baik dalam dirinya kan?


__ADS_2