The Real Beauty

The Real Beauty
Perubahan


__ADS_3

“RIYANT, AWAS!!!”


BRAKK


Sontak semua mata tertuju pada jalanan, seseorang tertabrak mobil, hingga membuat area sekolah menjadi ramai, banyak murid-murid yang mengerubungi korban, beberapa hanya melihat dan memotret, segelintir orang menghubungi guru juga ambulance, kejadiannya sangat begitu cepat.


Riyant melihat itu, terdiam dan tubuhnya gemetar, Clara yang berada di depan sana berlari dengan tergesa-gesa ke arah Riyant dan korban itu, “PUTRI!” tangis Clara pecah di samping tubuh Putri yang terkapar bersimbah darah.


Putri mencoba untuk membuka mata dan berbicara pada Clara yang tengah menangis, “Ra, ma-maafkhan akuhhhh. Ri-riyant, maafk-an a-ahh ak-uu ju-gahh, jj-aa janganh menang-ishh,”


“Put, bertahanlah. Sebentar lagi ambulance datang,” ucap Clara, benar saja, ambulan segera datang dan membawa tubuh Putri ke rumah sakit.

__ADS_1


Clara masih menatap jalanan itu, jalanan tempat Putri tertabrak, ada bekas darah disana, kemudian ia menoleh ke belakang, ke arah Riyant, ia terlihat bingung dengan tingkah Riyant, seperti sedang cemas.


“Riyant, kau tak apa?” tanya Clara, lelaki itu terlihat gemetar ketakutan, juga keringan mengucur di pelipisnya, “Ra. A-aku, aku mau. Aku mau pulang,” ucapnya, “Kita harus ke rumah sakit, melihat kondisi Putri, yant.” jelas Clara, Riyant menggeleng, kemudian ia pergi meninggalkan Clara begitu saja.


“RIYANT, MAU KEMANA?” Riyant menaiki motornya dan meninggalkan Clara sendiri, melihat itu membuat Clara kesal. Namun ia tak mengerti mengapa sikap Riyant menjadi aneh, ia kemudian menelfon Mikki memberitahu kabar buruk yang menimpa Putri. Mikki langsung menjemput Clara dan mereka pun pergi ke rumah sakit.


...----------------...


Sampai di bangsal rawat Putri, mereka nbergegas mengampirinya, mereka sangat khawatir, terlenih Mikki. “Kau tak apa?” tanya Mikki, Putri menggeleng pelan, “Bagaimana bisa?” tanya Mikki, Putri tersenyum “Aku ceroboh,” ucap Putri dengan pelan. “Dimana Riyant?” tanya Putri mencari sosok Riyant, “Ia akan menyusul,” jawab Clara menenangkan, Putri kecewa, rupanya Riyant membencinya.


Hari-hari berlalu, sampai saat ini Riyant tak pernah menemui Putri di rumahsakit, Clara bertanya pada Riyant namun Riyant enggan menjawab, ia bahkan terlihat menjauhi Clara, membuat Clara semakin bingung. Clara bercerita pada Mikki, dan tentu Mikki juga semakin bingung dengan sikap Riyant yang semenjak ia sadar ia tidak welcome dengan Putri.

__ADS_1


“Memang, Putri membuat kesalahan pada Riyant?” tanya Mikki pada Clara di kantin RS, Clara menggeleng, “Putri hanya merundungku, namun itu semua membuat Riyant geram padanya. Mungkin Riyant belum percaya Putri sudah tidak begitu padaku?” jawab Clara sembari menyeruput minumannya. Mereka terdiam berkelut dengan pikirannya masing-masing.


...----------------...


“Riyant!” Clara berteriak memanggil nama Riyant ketika ia baru saja sampai di sekolah, Riyant menoleh, melepas satu headset pada telinganya dan menyapa Clara seperti biasa, “Riyant, apa kau ingin ikut bersamaku dan Mikki ke RS? Kemungkinan Putri akan pulang lusa,” sahut Clara dan berjalan beriringan.


Riyant terdiam, “Maaf, tapi aku tak bisa.” Putusnya, Clara ingin bertanya namun dengan cepat Riyant menyanggah, “ayo cepat ke kelas, sebentar lagi bel berbunyi." kemudian pergi mendahului Clara. Gadis itu terdiam, menatap punggung yang semakin menjauh dengan bingung. Ia akan bertanya jika waktunya sudah tepat. Kemudian ia melangkahkan kaki menuju kelasnya.


Seperti biasa, Clara ke rumah sakit dengan Mikki tanpa Riyant, remaja lelaki itu sering menghindar jika Clara mengajaknya menjenguk Putri, membuat Putri semakin lama semakin kecewa dengan sikap Riyant, sungguh.


Padahal, jika tak ada Putri saat itu, Riyant akan masuk RS lagi. Berkat Putrilah, ia selamat. Tak ada ucapan terimakasih bahkan untuk menjengukpun ia tak mau.

__ADS_1


Begitu kah pandangan seseorang pada orang lain yang dahulu melakukan kesalahan, dengan keji mengklaim bahwa orang itu bersalah dan akan selalu salah, meski ia berbuat baik. Seberapa banyak pun perbuatan baik kita akan hancur hanya karena satu kesalahan, manusia di tuntut untuk menjadi sempurna, bukan hanya perkara fisik, sikap juga demikian.


Bukankah mereka sadar, bahwa diri adalah manusia biasa yang sewaktu-waktu pernah melakukan salah dan dosa? Manusia memang diharuskan untuk bersikap baik, namun sadar atau tidak merekapun pernah melakukan kesalahan, karena mereka hanya manusia bukan malaikat. Apa salahnya jika saling memaafkan dan hidup dengan damai?


__ADS_2