The Real Beauty

The Real Beauty
Putri (Pt. 4)


__ADS_3

Gadis itu mematung menatap dirinya di cermin, wajah yang nyaris sempurna dengan tubuh ideal yang di impikan banyak orang, tapi tidak dengan dirinya. Gadis itu terdiam, seperti sedang berfikir. “katanya jika kita cantik kita bisa mendapatkan segalanya, mengapa kau tidak?” ia berujar di hadapan cermin dengan pantulannya sendiri.


“kau tak mendapatkan kebahagiaan dimanapun, di rumah, di sekolah bahkan kau tak bisa mendapatkan lelaki yang kau suka.” tanpa di sadari gadis itu meneteskan air mata, ia menangis menatap pantulannya di cermin.


Beberapa minggu yang lalu, Putri di kejutkan dengan berita bahwa ayahnya pergi meninggalkan ia dan ibunya, sehingga kondisi kesehatan sang ibu memburuk. Ibunya di larikan ke rumah sakit yang berada di singapura bersama dengan keluarganya yang lain, hal itu membuat Putri sedih sekaligus marah, ia marah pada ayahnya, tapi ia tak bisa melakukan apapun selain menangis.

__ADS_1


Sekarang, ia sendiri di rumah, tak ada teman lain selain Mikki yang menemaninya selalu, hubungannya dengan Cindy dan yang lain selesai, Putri hanya punya Mikki sebagai teman yang paling dekat dengannya. Siapa sangka, Putri malah menaruh hati pada Mikki, sedangkan ia tak mengetahui apakah Mikki juga mempunya perasaan yang sama?


Sejujurnya ia takut untuk mengungkapkan perasaannya, takut kalau Mikki akan meninggalkannya dan ia sendirian, ia tak ingin hal itu terjadi, lebih baik ia membunuh perasaan itu dengan perlahan.


...****************...

__ADS_1


“aku tak tahu, apakah ada yang bisa di makan disini?” ia berucap pada dirinya sendiri ketika ia membuka kulkas yang ternyata kosong. Putri mendesah, kemudian berbalik mencari apapun yang bisa ia makan, lalu pandangannya tertuju pada sebungkus mie instant, Putri memandang mie itu dengan pandangan berbinar, seperti sedang menemukan harta karun, ia mengambilnya kemudian memasaknya.


Selesai ia makan, gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya, mendengarkan lagu dan menonton youtube di ponselnya sambil berbaring. Putri terdiam ketika layar itu menampilkan seseorang yang ia kenali, itu Clara. Ia sedang membuat video make up hasil karyanya, Putri menelaah setiap gerakan Clara, bahkan Putri kagum dengan Clara, hasil make up nya sungguh luar biasa.


“Woahh hebat sekali Clara. Hasil *m*ake up nya sangat bagus, dan juga ia begitu sangat percaya diri,” komentar Putri sambil menatap layar ponselnya.

__ADS_1


“...lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan, dengan begitu kalian akan menemukan kepuasan sendiri dan membuat diri menjadi bahagia. Jangan menunda-nunda, tunjukkan kemampuanmu, lakukanlah. Semangat buat kalian...” ujar Clara di akhir video nya. Sejenak Putri berfikir, ‘apa aku punya kemampuan lebih? Entahlah, aku bahkan bukan murid yang pintar di sekolah,” pikirnya. Dengan cepat ia bangkit lalu menatap cermin, ia menatap dirinya secara mendetail, lalu menunduk.


“Sejujurnya aku malu pada Clara, aku selalu menghinanya padahal ia punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia pintar juga berbakat, sedangkan aku?” putri kembali menatap dirinya di cermin, “aku tak punya apapun. Selama ini aku hanya membanggakan wajahku, sekarang wajah ini bahkan tak berguna,” ia terus menatap pantulannya dengan sendu.


__ADS_2