The Real Beauty

The Real Beauty
With u


__ADS_3

Clara berjalan menelusuri beberapa toko hingga ia berhenti di salah satu toko kue, ia ingin membeli kue untuk Riyant, karena hari ini Riyant berulangtahun. Meskipun Riyant masih belum sadar, namun Clara tak lupa bahwa hari ini ia berulangtahun.


Clara memasuki toko itu kemudian ia memilih kue yang menurutnya design kue itu cocok untuk Riyant, tiba-tiba ada seseorang menepuk bahu Clara, tentu itu membuatnya terkejut lalu ia menoleh kebelakang, “Oh? Kau.” ternyata itu Mikki.


“Kupikir aku salah orang,” kata Mikki, sambil menggaruk rambut belakangnya, “Sedang apa?” tanyanya kemudian, “Tentu membeli kue, untuk sahabatku.” jawab Clara, Mikki mengangguk, tanda paham.


“Kau sendiri?” tanya balik Clara, “Oh? Aku hanya berjalan, lalu aku melihatmu memasuki toko ini, kemudian aku mengikutimu, entahlah. Maaf membuatmu tak nyaman,”


Clara menatap orang tersebut dengan intens, “Apa kau mau ikut denganku mengunjungi sahabatku?” ajak Clara, membuat Mikki terkejut sesaat. “Bolehkah?”


“tentu, Mikki.” jawab Clara sambil tersenyum. Mikki kemudian membantu Clara membawakan kue yang sudah di beli, kemudian membeli beberapa makanan lalu pergi ke rumah sakit.


......................


Sesampainya di rumah sakit, tepatnya di ruangan Riyant berada, Clara menyalakan lilin pada kue tersebut sambil menyanyikan lagu ulangtahun pada Riyant, Mikki menatap Clara.


“Riyant selamat ulang tahun. Ohya, perkenalkan ini Mikki, aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu di kantin rumah sakit,” Clara tersenyum.


Tatapannya tak lepas dari sosok pria yang terbaring di ranjang pasien, lalu beralih menatap Mikki di sampingnya.


“Mikki, ini Riyant, sahabatku,”


“Ah. Hai Riyant, aku Mikki, semoga kau cepat sembuh.” Sahut Mikki canggung.


“Baik, kalau begitu, kita potong kuenya!” seru Clara dengan semangat, ia memotong beberapa kue dan memisahkannya untuk Ayah Riyant, Riyant, juga untuknya dan Mikki.


Mikki menerima kue itu dengan senyum kikuk, Clara menyuruhnya untuk duduk di sofa ruangan tempat Riyant di rawat. “Sudah berapa lama ia di rawat?” tanya Mikki, memecah keheningan beberapa saat lalu


Clara terdiam. Ia menatap langit-langin ruangan itu dan menerawang “Sudah lama sekali, bahkan aku tak tahu berapa lama ia tertidur, aku selalu menemaninya, karena ia sudah menolongku dan melindungiku dari orang-orang yang membully ku,” Mikki terkejut, “kau di bully?”


Clara menoleh ke arah Mikki, ia hanya tersenyum. Mikki tak tahu arti dari senyum Clara, ia hanya diam menatap wajah Clara. “Sepertinya, Riyant berarti bagimu ” tebak Mikki, “Sangat.” Clara menjawab dengan mantab, ia menatap ke arah Riyant yang sedang berbaring.


......................


“Sudah sore, ayo ku antar kau pulang,” sahut Mikki lalu beranjak dari duduknya, Clara mengikuti Mikki. “Riyant, aku pulang. Cepat sembuh,” pamit Clara pada Riyant. “Bro, maaf. Aku izin mengantar Clara pulang,” ucap Mikki, Clara menoleh ke arah Mikki dengan bingung. “Ayo.” Ajak Mikki, mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan tentu mereka saling bertukar cerita, ternyata Mikki bersekolah di sekolah yang menjadi lawan Riyant waktu pertandingan basket kemarin, hanya saja Mikki tidak ikut bermain bahkan ia pun tak hadir dalam pertandingan tersebut, tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Clara.

__ADS_1


“Ini rumahku, kau mau mampir sebentar?” tanya Clara, Mikki menengok ke arah belakang Clara, tepatnya rumah Clara yang sederhana namun elegant, ia kemudian menatap Clara. “Mungkin lain kali karena ini sudah malam, lebih baik kau istirahat,” ucap Mikki menolak ajakan Clara dengan halus.


“Baiklah, hati-jati di jalan Mikki, selamat malam.” Ujar Clara berbalik


“Ah. Clara.”


Clara menoleh, “Ya?”


Mikki mengusap tengkuknya canggung, “Kau, ada waktu weekend ini?” Clara menaikan satu alisnya, “kurasa, aku lenggang weekend ini. Ada apa?”


“Kau mau menemaniku menonton film? Apa kau, suka nonton film?” ajak Mikki, “tentu.” Jawab Clara sambil tersenyum.


“Terimakasih, aku akan menjemputmu weekend ini, selamat malam Clara,” Mikki tersenyum.


“Ya, selamat malam juga Mikki, aku masuk ya, bye.” Clara, melambaikan tangan pada Mikki lalu masuk ke dalam rumahnya, Mikki tersenyum dan melambai tangan pada Clara lalu berbalik meninggalkan rumah Clara.


...****************...


Wekeend pun tiba, Clara terlihat memilah milih pakaian apa yang akan ia kenakan, ia tak ingin mengecewakan Mikki atau membuat Mikki malu, Clara menatap pantulan dirinya di cermin yang hanya memakai baju dan celana pendek, wajahnya terlihat sedih menatap pantulan dirinya di depan cermin, kemudian ia menggeleng.


Ia turun dari kamar ke lantai bawah, tepat di tangga terakhir bel pintu berbunyi, ia menghampiri pintu tersebut dan membukanya.


“Hai,” sapa Mikki, ia terlihat tampan dengan jaket jeans, dan celana jeans yang senada dengan jaketnya.


“Hai Mikki,” sapa ku padanya, “Ayo, aku membawa mobil,” ajak Mikki, Clara terdiam. “Kenapa diam, Clara?”


“Kita masih SMA, apa boleh?” tanya Clara dengan polosnya, membuat Mikki tertawa. “Tenang saja, aku punya SIM, tak apa,” Mikki menjawab dengan senyum. “Baiklah, ayo izin dahulu pada ibuku.”


Setelah mendapat izin pada ibunda dari Clara, mereka pun melenggang pergi ke bioskop.


......................


Mereka menghabiskan waktu dengan menonton, bermain di timezone, memilah milih aksesoris dan tiba ia di foodcourt, untuk membeli makanan setelah selesai menghabiskan waktu hampir seharian, “Kau tak apa?” tanya Mikki, Clara tersenyum. “Tak apa, aku sudah terbiasa,”


Memang sedari mereka menonton banyak sekali pasang mata yang memperhatikan mereka, lebih tepatnya ke arah Clara, tak banyak dari mereka berbisik mengomentari penampilan dan fisik Clara, tapi Clara mencoba untuk tidak mempedulikannya, ia berusaha untuk tetap menjadi dirinya sendiri.


“Kau, tidak mencoba untuk.... diet?” tanya Mikki hati-hati, tentu Mikki tak ingin menyakiti hati Clara, “Sudah, tapi aku malah jatuh sakit,”

__ADS_1


“Begitu.” Mereka berbincang sambil memakan makanan yang sudah mereka pesan.


“Apa kau ingin melihat kembang api?” tanya Mikki ketika mereka selesai makan. “Oh? Bukankah tahun baru masih lama?” Clara berucap dengan bingung, tentu, yang ia tahu kembang api ada ketika menjelang tahun baru saja.


“Tentu ada, ayo aku akan menunjukkannya padamu,” ujar Mikki kemudian menarik tangan Clara, mereka pun melenggang pergi ke tempat kembang api.


......................


“Waaahhhh” Clara terkagum-kagum ketika mereka menginjakan kaki di tempat ini, padang rumput dengan danau di bawah sana dan ada jembatan kecil untuk menyebrangi danau tersebut. Clara dan Mikki berada di tengah-tengah jembatan, ada banyak orang yang berlalu lalang disana, tempatnya tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi.


Clara memandang takjub ke arah langit, dimana kembang api itu meletup-letup dengan indahnya, pemandangan bintang dan bulan diatas sana semakin indah ketika kembang api itu meletup, “Kau suka?” tanya Mikki menoleh ke arah Clara. “Sangat!” senyum Clara semakin mengembang, pandangannya tetap fokus pada langit-langit malam yang menyajikan pandangan yang luar biasa indah.


Clara menoleh ke arah Mikki yang memang sejak tadi memandangnya, “Kau tau darimana tempat indah ini, Mikki?” Mikki tersenyum. Lalu kembali menatap langit, “Sejak aku sekolah dasar, aku selalu di ajak ke tempat ini oleh ayah dan ibuku, sebelum mereka pergi meninggalkanku selamanya,”


Clara terdiam, “Maksudmu...”


“Ya, kedua orangtuaku meninggal dunia ketika aku baru saja lulus SMP, aku di besarkan oleh nenekku dan tinggal berdua bersama nenekku,” sahut Mikki memotong pembicaraan Clara.


Clara mengusap bahu Mikki, membuat Mikki terkejut. “Kau yang tabah ya, kau harus yakin dan percaya, bahwa di depan sana pasti akan ada hal baik serta kebahagiaan yang menunggumu,”


“Ya, Clara. Terimakasih.”


Mereka menghabiskan waktu disana menikmati indahnya langit malam yang berisi taburan bintang, cahaya rembulan serta letupan kembang api yang berbaur menjadi satu keindahan yang luar biasa, mereka juga beberapa kali membeli makanan pinggir jalan untuk menemani malam dan berbincang-bincang sampai larut malam.


“Oh? Sudah malam, Clara. Ayo, ku antar kau pulang. Maaf, aku malah mengajakmu sampai tengah malam begini” ujar Mikki, bangkit dari duduknya,


“Ah tak apa, ha ha .. mungkin kita terlalu terbawa suasana sampai tak kenal waktu” Clara pun bangkit, membereskan sisa kemasan makanan dan membuangnya ke tempat sampah, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah Clara.


......................


Sesampainya di rumah Clara, Mikki meminta maaf pada ibunda Clara lalu pamit pulang. Clara memandang mobil Mikki yang menghilang di telan malam selaku ia melaju menjauh dari rumahnya dengan senyum, lalu masuk ke dalam rumah menyusul ibunya yang lebih dulu masuk.


“Bagaimana harimu, sepertinya menyenangkan?” tanya Mia, Clara tersnyum, lalu memeluk ibunya, “aku sangat bahagia.” Mia ikut terseyum, lalu membalas pelukan Clara, “semoga selalu seperti ini, ya sayang” batin Mia.


Clara melepaskan pelukannya lalu pamit untuk membersihkan diri dan langsung tidur, Clara terbaring diam memandang plafon rumah di tempat tidurnya, ia menerawang jauh dan tersenyum, menautkan tangan seraya merapalkan doa,


“Tuhan, aku sangat bahagia. Terimakasih untuk kebahagiaan yang telah kau berikan padaku melalui orang-orang yang baik. Aku berharap, akan selalu seperti ini selamanya, dan aku juga berharap, semoga Riyant kembali sehat agar ia kembali bersekolah bersamaku.” Clara memejamkan mata tak lupa ia mematikan lampu tidurnya sambil bergumam "Selamat tidur Riyant dan Mikki." lalu tertidur dalam keadaan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2