The Real Beauty

The Real Beauty
Berubah


__ADS_3

Pagi ini Riyant sudah sampai di sekolah tetapi ia tidak melihat Clara, biasanya Clara melintas dari gerbang menuju kelas dan kami akan berjalan beriringan ke kelas bersama, tapi berbeda dengan hari ini, Clara belum menampakan batang hidungnya, ‘Apa ia terlambat? atau sudah datang?’ pikir Riyant.


Ia masih menunggu Clara disana, melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, sudah pukul 7 sebentar lagi kelas akan di mulai tetapi ia tak melihat Clara.


Sudah hampir setengah jam pula Riyant menunggu, namun tak ada tanda-tanda kehadiran Clara, Riyant pun memutuskan untuk beranjak dan masuk ke dalam kelas, ‘Mungkin sudah datang’ pikirnya.


Benar saja, Clara sudah berada di kelas duduk manis di bangkunya, Riyant menghampiri dan duduk di samping Clara, “Hey, aku menunggu mu, ternyata kau sudah di kelas. Jam berapa kau datang?” tanya Riyant melepas tas yang berada di punggunya lalu mengeluarkan buku.


“Jam 6,” jawab Clara singkat, “Pagi sekali, ada apa? Bahkan kau tidak piket,” Riyant kembali bertanya sambil tetap menatap lurus ke arah Clara, namun Clara tak membalasnya, hingga jam pelajaran di mulai.


...----------------...


Bel istirahat berbunyi tepat disaat itu Yoga menghampiri Riyant dengan membawa selembar kertas, “Riyant. Kau gabung di tim basket kita, sudah ku daftarkan disini. Kita kekurangan orang dan aku mendaftarkanmu,” kata Yoga sambil mengacungkan kertas yang ia bawa di hadapan Riyant.


Riyant menatap Clara, yang di tatap malah menghindar, lalu Riyant berpikir sejenak, dan ketika ia ingin mengatakan sesuatu, perkataannya di potong oleh Yoga, “Tidak ada penolakan, kau harus mulai latihan hari ini, bulan depan akan ada perlombaan antar sekolah,” lalu melenggang pergi meninggalkan Riyant dan Clara.


“Hei aku tak bawa baju olahraga,” Riyant berteriak, kemudian seseorang melempar baju olahraga ke wajah Riyant. “Pakai punyaku, aku ada dua.”


Riyant menyingkirkan baju yang berada di wajahnya dengan kesal. ‘Sangat tak sopan’ pikirnya lalu melihat siapa yang melemparnya.

__ADS_1


Ternyata Andi, Riyant bertanya pada Andi, “Kau ikut juga?”


“Tentu, ayo” Andi mengajak Riyant untuk latihan, tapi Riyant membalasnya dengan menaikan satu alisnya, “Si bodoh ini. Ayo latihan” Andi protes sambil menarik tangan Riyant.


Sebelum Riyant menghilang di balik pintu ia sempat mengatakan bahwa ia tak bisa menemani Clara makan siang, Clara menatap bingkai pintu dengan sendu, sedetik kemudian ia menggeleng 'tidak. Bukankah bagus jika Riyant punya kesibukan baru? Ia jadi tak melulu menempel denganku, dan hal itu membuat ia 'aman' bukan? Ayolah Clara, lagi pula kau sudah terbiasa sendiri, jadi nikmati saja kesendirianmu selama kau hidup' batinku dalam hati, lalu pergi untuk makan.


...----------------...


Riyant mulai berlatih dan akan sangat sibuk kedepannya, itu membuat Clara semakin cepat menjauhi Riyant.


Clara bersyukur, hari ini dan seterusnya tak akan ada Riyant yang menolongnya, membantunya serta menbelanya, biarlah orang-orang mengganggu Clara asal jangan Riyant.


Aku menghela napas menatap kepergian Riyant beberapa menit yang lalu, dan mulai mengeluarkan kotak bekal dan memakannya sambil melihat ke arah jendela kelas yang menampilkan bangunan-bangunan tinggi serta beberapa kendaraan melintas.


Hari berlalu, Riyant selalu menghampiri Clara namun Clara terus menghindarinya, Riyant menyadari bahwa Clara berubah dan ia pikir Clara marah karena sudah lama mereka tidak bermain dan belajar bersama, Riyant pun menegur Clara ketika ia akan pergi latihan siang itu di jam istirajat.


“Clara” sapa Riyant pada Clara lalu Clara menoleh tanpa senyum, biasanya Clara akan tersenyum. “Kau marah padaku?” Riyant berusaha to the point, namun hanya di balas dengan tatapan bingung Clara,


“Apa maksudmu?” tanyanya, “Yaa. Ku pikir kau marah padaku karena aku sibuk latihan dan kita tidak seperti dulu,” jelasku. “Tak apa, pergilah berlatih. Itu untuk sekolah, aku tidak marah sama sekali” jawab Clara.

__ADS_1


Mendengar hal itu Riyant tersenyum senang karena Clara tak marah padanya, lalu ia pamit untuk pergi berlatih.


...----------------...


Hari-hari berlalu merekapun semakin menjauh, sebenarnya baik Clara maupun Riyant merindukan monet kebersamaan mereka, tetapi mereka tak punya waktu untuk bersama.


Selepas makan di jam istirahat Clara berjalan-jalan sendiri mengitari sekolah, berdiam di kelas terus menerus membuatnya bosan, Clara lalu menghampiri ruang seni, disana ada piano, lantas Clara duduk dan mulai memainkan tuts piano ‘sudah lama sekali’ batinnya lalu mulai memainkan piano sembari bernyanyi.


Tanpa Clara sadari, Riyant melihat Clara yang sedang memunggunginya bermain piano, Riyant menatap punggung Clara dengan masih menggunakan stelan baju olahraga yang setengah basah oleh keringan dan menikmati musik serta suara Clara yang sedang bernyanyi, hingga di akhir lagu Riyant bertepuk tangan.


Clara terkejut dan menoleh, “Oh? Riyant? Sejak kapan disana?” tanya Clara. Riyant beranjak menghampiri Clara, “Woww, kau keren sekali Clara, aku bahkan baru tahu kau pantai bernyanyi dan memainkan piano” ucapan Riyant membuat Clara tersipu.


“Mm terimakasih Riyant, tapi bukankah kau masih berlatih?” tanya Clara. “Yaa memang, aku baru mau beli minum di kantin lalu aku sengaja lewat sini ketika aku mendengar suaramu,” jawab Riyant. “Aku pergi dulu” lalu ia pamit.


Clara menatap kepergian Riyant, lalu ia berbalik dan mulai bermain musik kembali menyanyikan beberapa lagu sampai belpelajaran berbunyi kembali,


Pulang sekolah Clara berjalan sendirian, sebenarnya Riyant mengajak pulang bersama tapi Clara menolak dan bergegas meninggalkan Riyant pulang terlebih dahulu, Clara sudah berjanji akan menjauhi Riyant, Clara senang melihat Riyant sudah mulai bermain bersama kawan-kawannya tidak seperti kemarin.


Clara ingin Riyant senang bukan menderita hanya karena berteman dengannya.

__ADS_1


__ADS_2