
Sejak saat itu, hubungan mereka merenggang, Putri jadi lebih banyak sendiri, ia belum bisa mendekati Clara, jadi ia memutuskan untuk sendiri terlebih dahulu. Mereka (Arin dan Cindy) masih gemar merundung orang-orang, termasuk Clara, namun Putri selalu menggagalkan usaha mereka untuk mencelakai Clara, membuat Cindy dan Arin geram dengan sikap Putri.
“Kau mau menjadi pahlawan hah?” pekik Cindy saat Putri memotong tali yang mengait pada ember berisi air kotor bekas pelan di atas pintu yang akan Clara lewati, hingga air itu tumpah dengan sia-sia membuat lantai sekolah menjadi basah, lalu Putri pergi begitu saja. Tiba-tiba datang seorang guru yang melihat genangan air di lantai sekolah, ia pun di hukum untuk membersihkan lantai.
Putri selalu menggagalkan rencana mereka hingga mereka mencelakai Putri, hari itu sepulang sekolah mereka berdua menyekap Putri di gudang, mereka menghajar Putri dengan menutup mata Putri, tentu Putri mengetahui ini ulah siapa, Putri tetap diam ketika kedua temannya memukulinya, saat dirasa Putri tidak bergerak sejak tadi, mereka mengecek kondisi Putri, ternyata Putri pinsan, walau sebenarnya Putri hanya berpura-pura pinsan agar mereka segera pergi meninggalkannya sendiri, benar saja, mereka berdua pergi meninggalkan Putri sendirian.
__ADS_1
Dengan susah payah ia melepaskan ikatan pada tangannya, lalu membuka kain yang menutupi matanya, dan melepaskan ikatan lain yang melilit kakinya, Putri terdiam menahan rasa sakit nan perih di seluruh wajahnya, ia meringis dan meludahkan darah yang berada di dalam mulutnya ke sembarang arah, ia terdiam sampai energinya pulih, lalu ia bangkit berdiri dan pergi ke toilet, ia membasuh wajah dengan perlahan, “Awhh” rintih Putri sesaat ketika tak sengaja jarinya mengenai luka di sudut bibirnya, ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia menghela napas dalam, ‘Begini kah rasanya menjadi korban? Ini balasan untukku, karena aku selalu mencelakai orang lain’ batinnya.
“Angap ini teguran, aku harus bersabar,” gumamnya, ia pun pergi meninggalkan toilet dan mengetik pesan pada Mikki untuk tidak menjemputnya, ia ingin mengenakan bus, Mikki pun mengiyakan.
Sesampainya di rumah, ia mandi dan merebahkan diri di kasur, ia menerawang ke langit-langit kamar dan berfikir untuk tidak bertemu dengan Mikki ataupun Clara sebelum luka nya sembuh. Setiap hari, ia menghindari Mikki dan Clara agar mereka berdua tak melihatnya, selalu seperti itu sampai lukanya mengering meski meninggalkan bekas, Putri hanya ingin mereka tak mengkhawatirkannya, karena luka itu sungguh tidak penting.
__ADS_1
Bukankah apapun yang kita lakukan akan selalu mendapat balasan? Jika kita melukai orang lain, dan membuatnya sakit. Maka di depan sana, kita akan mendapat balasannya.
Siapapun orang yang kita lukai, pasti akan selalu diingatnya, kita bahkan tidak tahu apa isi hati orang. Bisa jadi, ia terlihat baik-baik saja, tetapi jauh di dalam hatinya ia nenyimpan luka.
Kejahatan verbal memanglah sadis, hal itu mampu melumpuhkan kewarasan, membuat mental terguncang lalu berada diambang batas kenormalan, hingga memilih untuk menyakiti diri atau berakhir dengan perihnya luka.
__ADS_1
Seseorang tak pernah menyadari bahwa ucapannya melukai perasaan oranglain, jika memang tak ada ucapan positif yang akan kau bicarakan, lebih baik diam. Itu jauh lebih baik di banding menyakiti perasaan orang lain.