The Real Beauty

The Real Beauty
I Can't Believe This


__ADS_3

“Clara, aku menyukaimu.” Ucap mereka bersamaan, membuat Clara terkejut.


“APA?”


Mereka menoleh serempak. “Oh?” Clara makin terkejut ketika seseorang mendatanginya.


“Putri?” Clara berdiri menatap Putri yang berdiri di belakang Mikki, semua orang menoleh ke arah Putri kemudian Putri berlari pergi meninggalkan mereka berdua. Clara mengejarnya meninggalkan yang lain.


Ketika Clara berhasil meraih lengan Putri, dihempaskannya tanga Clara dengan kasar. Gadis itu menangis.


“Putri, kau tak apa?” tanya Clara, gadis itu memandang Clara dengan bengis, “apa aku terlihat baik-baik saja? Ha?”


“Putri, maksud mengapa kau terlihat marah padaku, apa aku melakukan suatu kesalahan?” tanya Clara dengan lembut.


“Menerutmu? Aku tak tahu siapa yang salah, aku kecewa padamu dan semuanya. Mengapa? Mengapa hanya kau yang beruntung? Ha? Mengapa? Bahkan secara fisik aku lebih cantik darimu, sedangkan kau?” Putri berbicara dengan nada tinggi, hingga membuat semua orang menatap mereka.


“Putri, apa yang kau bicarakan?” tanya Mikki menarik Putri, sedangkan Clara terdiam tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Putri padanya.

__ADS_1


“Jaga mulutmu!” sahut Riyant, “apa? Mengapa kau membelanya. Kau, kau mau membelanya juga ha?” putri menunjuk Riyant juga Mikki.


“Kita bisa selesaikan ini secara baik,” usul Mikki, “tak perlu.” Kemudian Putri pergi meninggalkan mereka berdua, dan Mikki pun menyusul.


Clara tertunduk, lalu ikut pergi.


“Clara, biar aku mengantarmu,” ucap Riyant. “Tak perlu Riyant, aku bisa sendiri. tolong berilah aku waktu sendirian,” pinta Clara dan pergi meninggalkan Riyant.


...****************...


Sejak saat itu hubungan ke empatnya merenggang. Baik Clara, Riyant, Mikki maupun Putri tak berbicara satu dengan yang lainnya, sikap Putri semakin dingin bukan hanya pada Clara saja, melainkan semuanya. Putri hanya tak percaya dengan kejadian 3 minggu yang lalu, ia kecewa pada Clara, terlebih pada Mikki. ia menyukai Mikki, bahkan Clara mengetahuinya, namun mengapa takdir seperti itu padanya.


Hingga suatu ketika, Mikki menghampiri Putri di halte sepulang sekolah, saat itu sedang hujan dan hanya Putri saja di sana menunggu bus untuk pulang ke rumah, “Put, ayo pulang. Kau bisa sakit,” ujar Mikki membawakan Putri payung, “pergilah,” usir Putri. Tetap saja, Mikki tak mau pergi, ia pun duduk di samping Putri. “Ada apa? Bicaralah. Apa aku membuat kesalahan?” tanya Mikki membuat Putri geram ingin marah padanya sekaligus ingin menangis.


Putri beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Mikki, menerobos deras nya hujan siang itu, tak menghiraukan teriakan Mikki yang memanggil namanya, Putri tetap melanjutkan perjalanannya.


Putri tak menyangka Mikki mengejarnya dan menarik tangannya hingga ia berhadapan dengannya, “ada apa? Aku tak mengerti, mengapa sikapmu begitu aneh. Jika aku salah, bicaralah. Juga marahlah hanya padaku, jangan pada yang lain, aku tak mengerti dimana letak kesalahanku jika kau terus diam,” ucap Mikki sedikit berteriak agar suaranya tak teredam derasnya hujan. Putri menangis dalam hujan, ia tak bisa menatap Mikki, ia menatap ke jalanan yang berada di sisi kanannya. “Jawab aku,” pinta Mikki, dengan keberaniannya, gadis itu menatap Mikki dengan masih menangis, ia merasakan hujan menghujami wajahnya dan membawa air mata bersama genangan air di tanah.

__ADS_1


“Maafkan aku, sebenarnya akulah yang salah. Seharusnya aku tak begini. Maksudku- aku, seharusnya aku tak punya perasaan padamu, Mikki. kau tahu, aku menyukaimu. Tapi kau menyukai Clara, aku sedikit terkejut. Aku menyalahkan Clara juga takdir, mengapa begitu tak adil. Aku menyombongkan fisikku, tanpa ku tahu, bahwa sikapku yang jelek. Aku tahu mengapa kau menyukai Clara, karena memang dialah yang cantik, dialah kecantikan yang sebenarnya, bukan aku.” Putri menangis menunduk.


“Lupakan saja, maafkan aku.” Lalu gadis itu pergi meninggalkan Mikki, tentu lelaki itu mengejarnya dan memeluk gadis itu dari belakang.


“Tidak, maafkan aku. Aku bahkan tak mengetahui bahwa kau menyukaiku,” Putri melepaskan pelukan itu. “Tak apa, kita bisa berteman seperti sebelumnya, lupakan saja.” Dan gadis itu benar-benar pergi meninggalkan Mikki sendiri.


...----------------...


Keesokan harinya, Putri mulai meminta maaf pada Clara tentang apa yang ia katakan waktu itu, dan Clara memafkannya dengan tulus. Putri heran, mengapa Clara sebaik itu padanya, kemudian ia pun bertekad untuk merelakan Mikki bersama Clara, yang gadis itu pikir, Clara lah yang terbaik untuk Mikki, bukan dirinya. Sedangkan Clara, gadis itu menolak memiliki hubungan lebih terhadap Mikki maupun Riyant. Sejak kejadian di taman, keesokkannya Clara menemui Mikki dan Riyant, gadis itu mengatakan bahwa ia tak menginginkan suatu hubungan, ia senang mereka berteman.


“Maaf membuat kalian tak nyaman, tapi ku fikir berteman lebih cocok untuk kita. Sejujurnya, aku tak menginginkan status hubungan yang lebih dari sahabat diantara kita, aku nyaman dengan kalian sebagai sahabatku, tak masalah bagiku. Maaf aku mengatakan ini, tapi ku pikir ini keputusanku. Ku mohon, tetaplah berteman. Aku mengatakan hal seperti ini bukan karena Putri, tapi karena diriku dan juga kalian. Ayo kita berteman seperti dulu.”


Baik Riyant maupun Mikki sebenarnya kecewa dengan peruntunan Clara saat itu, tapi apa boleh buat, mereka membenarkan ucapan Clara, bahwa seharusnya mereka tak memiliki hubungan khusus, mereka memang cocok berteman, dan mungkin akan selalu seperti itu selamanya. Lagi pula, jika salah satu dari circle pertemanan mereka ada yang memiliki hubungan lalu kemudian berpisah, tidak menutup kemungkinan suasananya pasti akan sangan canggung, dan mereka terlebih Clara menghindari hal itu. Itu sangat tidak nyaman.


Mempertahankan persahabatan memanglah sulit, tak jarang orang-orang menemukan orang yang tepat untuk di jadikan sahabat, bertahan selama bertahun-tahun meski perbedaan pendapat sering terjadi namun karena tujuan mereka sama, pasti mereka akan bertahan.


Sulit menemukan seseorang dengan tujuan yang sama, pandangan yang sama juga hati yang sama.

__ADS_1


Menurut Clara sahabat jauh lebih berharga tentunya, dan tak akan pernah berakhir sebagai mana pacar, tentu hubungan pacaran akan berakhir dan rasanya lebih singkat meski berpacaran bertahun-tahun, beda dengan kisah persahabatan. Tak akan pernah pudar seiring berjalannya waktu, semakin menyenangkan jika hidup bersama sahabatmu, dimanapun kau berada.


__ADS_2