The Real Beauty

The Real Beauty
Birthday


__ADS_3

TOK TOK TOK


“Sayang, ada Mikki di bawah,” sahut Mia di depan pintu kamar Clara yang masih tertutup, Clara langsung membuka pintu kamarnya. “Ada Mikki di bawah, ia ingin menemuimu katanya. Cepat temui, ibu akan kembali ke dapur.” ujar Mia, menepuk bahu Clara, ia pun melenggang pergi meninggalkan Clara terlebih dahulu. Clara masuk ke kamar sebentar, merapihkan bajunya lalu keluar menemui Mikki.


“Hai Mikki” sapa Clara ketika ia sampai di lantai bawah, Mikki tersenyum. “Ada apa?” tanya Clara, ia mendudukan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Mikki. “Aku hanya ingin memberimu ini,” jawab Mikki sambil menyerahkan kotak besar berwarna putih dengan pita berwarna merah terang.


Clara menaikan satu alisnya, ia terlihat bingung, “Minggu depan aku ulangtahun, di dalam kotak itu ada surat undangan, dan juga gaun untukmu. Kau harus memakainya di acara ulangtahunku,” Mikki menjelaskan, lalu Clara menerimanya dengan tersenyum. “Terimakasih Mikki.”


“Tak apa, baiklah. Aku akan pergi menemui temanku,” Mikki beranjak dari duduknya, dan kemudian pamit.


“Sampaikan salamku untuk ibumu, tak usah repot memberiku hadiah, aku hanya ingin kau datang,” ucap Mikki di ambang pintu rumah Clara, Clara mengangguk sambil tetap tersenyum.


“Sekali lagi terimakasih, Mikki”


“Sampai jumpa minggu depan.” Sahut Mikki lalu melenggang masuk ke mobil dan pergi meninggalkan rumah Clara,


Clara masuk dan menutup pintu, ia berbalik.


“Astaga, ibu.” Sahut Clara terkejut, mengapa ibunya tiba-tiba berdiri di sana, “Mikki kemana?” tanya Mia, “Baru saja pulang, ia hanya menyampaikan salam untuk ibu, dan memberiku ini” jawab Clara sambil menunjukkan kotak besar pemberian Mikki.


“Oh? Sebuah hadiah? Bukankah ulangtahunmu masih lama?” Mia menatap kotak itu dengan curiga, “Tidak, ia hanya memberikan aku sebuah gaun. Kotak ini berisi gaun dan undangan ulangtahun dari Mikki, minggu depan ia berulangtahun,” jelas Clara. “Kalau begitu, besok kita carikan ia kado,” putus Mia.


...----------------...


Keesokkan harinya, Mia dan Clara pergi ke sebuah mall membeli kado untuk Mikki, di tengah mereka mencari kado untuk Mikki, mereka di kejutkan oleh seseorang.


“Mia?” orang itu menepuk bahu Mia, Mia dan Clara menoleh. “Ternyata benar kau, haha... kebetulan sekali kita bertemu disini, oh? Siapa itu?” tanya orang itu pada Mia.


“Hai Dinda, oh? Ini anakku, namanya Clara” ujar Mia tersenyum, “Hallo tante, aku Clara” Clara memperkenalkan diri dengan sangat sopan, Dinda terjeran-heran.


“Ada apa Dinda?” tanya Mia, “Ah, tidak ada. Hanya saja, mengapa ia berbeda denganmu?” selidik Dinda. “Sama kok, hanya saja, kau tak bisa melihat persamaan diantara kami,” jelas Mia. “Begitukah?” Dinda masih tak percaya, “Mungkin itu anak pungut, benar kan?”


“Jaga ucapanmu Dinda.” Tegas Mia, “Aku hanya menebak, santai saja” balas Dinda, “lagi pula, jika ia anak kandungmu, pasti ia cantik sepertimu,”


“Maaf, aku sibuk. Aku tak punya banyak waktu untuk meladenin mulut kotormu Dinda, jika ada urusan kantor lebih baik selesaikan di kantor saja, permisi. Ayo sayang kita cari di tempat lain.” Mia menegaskan sekali lagi kemudian pamit meninggalkan Dinda disana dengan raut wajah kesal.


...----------------...


Ditempat lain, mereka mencari kado dan menemukan kado yang tepat untuk Mikki, sebuah jam tangan juga sepasang sepatu dengan warna senada, mereka kemudian membungkusnya lalu pergi untuk mencari restoran terdekat, sesampainya di sana, mereka memsan makanan dan memakannya, selama itu pula Clara hanya terdiam. Mia bertanya pada anaknya, “Clara, ada apa? Apa kau memikirkan perkataan teman ibu?”


“Ah, tidak bu, hanya saja...” Clara terdiam sejenak, sedang Mia terus menatap Clara dengan senyuman,


“Hanya saja aku takut ibu akan di ejek oleh teman kantor ibu karena mempunyai anak yang buruk rupa sepertiku,” Clara menunduk.

__ADS_1


Mia mengusap lembut surai Clara


“Ibu tidak takut, bahkan jika mereka mengeluarkan ibu dari kantor sekalipun dengan memfitnah ibu karena tidak menyukaimu pun ibu tak peduli, ibu akan terus menjagamu sayang, jangan pedulikan ucapan teman ibu tadi, sekarang makanlah, hidupmu terlalu berharga untuk meladeni omong kosong mereka,” ucap Clara tetap tersenyum menenangkan Clara.


Clara mendongkak membalas senyuman ibunya


“Terimakasih bu.” Mereka pun melanjutkan makan dan pulang ke rumah.


...****************...


Hari ini tepat di hari ulangtahunnya Mikki, malam ini Clara bersiap pergi ke pesta ulangtahun Mikki, Clara melihat pantulan dirinya di cermin, ia mengenakan gaun pressbody berwarna merah dengan lengan yang panjangnya hanya sampai siku, dan bahu yang terekspose, Clara mengenakan wig curly dan mengenakan kalung serta anting-anting kemudian mengenakan wedges berwarna hitam lalu meraih bungkusan kado yang ia letakan di atas ranjang kamarnya, ia menghela nafas sebelum keluar kamar, sebelum keluar ia meraih jaketnya lalu mengenakan jaket tersebut dan keluar dari kamarnya, kemudian pamit pada ibunya dan langsung pergi ke alamat rumah Mikki dengan menggunakan taksi.


Sesampainya di kediaman Mikki, Clara terpaku, rumah Mikki yang sangat megah, Clara melangkahkan kakinya dengan ragu, sejujurnya hatinya sangat takut jika ia akan mempermalukan Mikki di pestanya sendiri, ia menghela nafas sekali lagi, lalu melangkah dengan mantab memasuki kediaman Mikki.


Di dalam, ia melenggangkan penglihatan mencari dimana Mikki, dirasa ia sudah menemukan Mikki, ia melangkah ke arah Miki berada, ternyata ia sedang berkumpul dengan teman-temannya di meja panjang, Clara melangkah dengan perlahan, dari kejauhan Mikki menatap Clara lengat-lengat, ia sedikit tidak mengenali Clara, karena Clara menggunakan wig serta sedikit make up di wajahnya.


“Clara” sapa Mikki. Teman-teman yang berada di sekitar Mikki menoleh ke arah pandangan Mikki, Clara yang di panggil pun terpaku, sedikit terkejut. Ia tersenyum dan melambai ke arah Mikki, Mikki tersenyum dan menyuruh Clara menghampirinya dan duduk di samping Mikki, Clara mengangguk dan mendudukan diri di samping Mikki, semua orang di sana terdiam.


Sampai seseorang berbicara memecah keheningan beberapa saat lalu,


“Hey, Clara. Buka jaketmu, memangnya tak panas?” tanya orang tersebut yang berada di hadapan Mikki.


“Ah, iya. Aku lupa, terimakasih sudah mengingatkan.” Jawab Clara lalu beranjak dari duduk dan membuka jaketnya.


Orang-orang yang berada disana menahan tawa karena melihat tubuh gempal Clara yang di balut dress pressbody berwarna merawah, Clara hanya tersenyum kikuk, ia tahu hal ini akan terjadi, kemudian ia kembali duduk.


Tiba-tiba, datanglah Putri dengan gaun yang sama persis seperti Clara, lalu ia mendudukan dirinya di samping kanan Mikki sedang Clara di samping kiri Mikki, Putri yang menyadari bahwa itu adalah Clara ia langsung berdiri.


“Oh my god, siapa ini? Hahaha.. ya ampun, mengapa kau mengenakan gaun yang sama persis denganku?” hardiknya, “Putri, duduklah dengan tenang,” Mikki menengahi dan menarik Putri agar ia kembali duduk. “Lepas,” Putri menepis tangan Mikki.


Mikki berdiri dan berbisik di teling Putri, “Jika kau ingin berada di pestaku sampai selesai, jaga sopan santunmu terhadap tamuku, mengerti?” dan Putri pun menuruti ucapan Mikki, sedangkan Clara hanya menunduk malu, beberapa saat mereka berbincang seperti biasa, Clara pamit pada Mikki untuk pergi ke toilet.


Sesampainya di toilet, ia terduduk di dalam bilik toilet tersebut, ia ingin pulang, sesaat ia mendengar seseorang dari luar sedang berbincang, “Sejak kapan kau dekat dengan si gendut itu?” gadis itu membuka pertanyaan,


“Maksudmu Clara? Mengapa kau membicarakannya di toilet, bukankah Clara berada di toilet?” seorang lelaki membalikan pertanyaan kembali pada gadis itu, “toiletmu banyak Mikki, jangan mengalihkan pertanyaanku. Jawab!” bentak gadis itu pada seorang lelaki bernama Mikki.


“Aku mengenalnya di rumah sakit, ketika ibumu di rawat disana, kau mengenalnya?” tanya Mikki pada gadis yang di ketahui bernama Putri,


“Ia satu sekolah denganku, aku tak menyukainya, mengapa kau mendekatinya? Kau tampan, kau bisa mendekati gadis-gadis cantik di luar sana, lelaki bodoh kau Mikki,” ucap Putri


“Mengapa kau tak menyukainya?” tanya Mikki. “Karena ia jelek, tentu berbeda denganku, wajah serta tubuhnya sangat menjijikan bagiku!” bengis Putri,


“Kau tidak boleh seperti itu, Putri. Kau harus menghargai kekurangan yang orang lain milikki, kau pun pasti mempunya kekurangan, hanya saja kau terlalu senang dengan topengmu, tanpa menjadi dirimu sendiri. Berhentilah menjelek-jelekan orang lain,” putus Mikki. “Lebih baik kau pergi daripada menghancurkan pestaku.” Tegas Mikki lalu pergi meninggalkan Putri sendiri di toilet.

__ADS_1


“Menyebalkan!” teriak Putri pada Mikki, tanpa diketahui oleh Putri, Clara menahan tangis di dalam bilik itu selama percakapan mereka Clara menyimak dengan tangis, ia tidak mengerti, sebegitu menjijikannya kah dirinya di mata Putri atau orang lain?


Terdengar langkah kaki meninggalkan toilet, Clara keluar dari bilik toilet setelah dirasa tak ada siapapun di dalam toilet itu lalu ia melihat pantulan dirinya di cermin, membenahkan make up nya kemudian pergi meninggalkan pesta, tanpa berbicara sepatah katapun pada Mikki.


...****************...


Esok hari, sepulang sekolah, Clara menyempatkan diri menemani Riyant kembali di rumah sakit, Clara menceritakan semua yang terjadi semalam pada Riyant, Clara menjelaskan sambil menangis, seangkan Riyant tetap terdiam, tidur tenang di ranjang pasien. “Riyant, sampai kapan kau terus tertidur seperti ini?”


“Aku sangat kesepian?”


“Aku merindukanmu”


“Kumohon bangunlah”


“Apa kau merindukanku juga?”


Clara terus menangis disana, tanpa ia sadari, seseorang tengah memperhatikannya sedari tadi di depan pintu bangsal Riyant di rawat, orang itu adalah Mikki.


Mikki kemudian keluar dari bangsal Riyant, lalu pergi menuju bangsal dimana ibunda Putri di rawat, sebenarnya ia hanya ingin menemui Clara, sebab Clara pergi tanpa sepengetahuannya semalam, dan tadi ia sempat ke rumah Clara. Namun ibu Clara mengatakan bahwa Clara pergi ke rumah sakit, tentu Mikki tahu siapa yang ia temui di rumah sakit, ketika ia sampai, ia melihat Clara menangis seperti tadi, ia tak tega, jadi ia memilih untuk pergi ke bangsal ibunda Putri.


“Hey? Mengapa kau kemari setelah semalam mengomel padaku?” tanya Putri tiba-tiba pada Mikki, tanpa menjawab, Mikki beranjak lalu pergi meninggalkan Putri sendirian,


“Dasar tidak punya sopan santun!” bentaknya, tentu tidak di dengar oleh Mikki karena Mikki sudah pergi meninggalkan bangsal ibu Putri.


...----------------...


Mikki berjalan perlahan menuju taman rumah sakit, seketika ia melihat seorang gadis terduduk di bangku panjang taman itu, ia mengenalinya, kemudian ia menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya, “Hai” sapa Mikki, sukses membuat gadis itu terkejut. “Oh? Mikki”


“Sedang apa kau, Clara?” tanya Mikki


“Sedang duduk, haha..” Clara – gadis itu – mencoba untuk tertawa meski Mikki tahu bahwa ia habis menangis, dan terlihat jelas sisa-sisa air mata di pelupuk matanya. “Ah benar.” Sahut Mikki tersenyum,


“Mm.. Clara”


“Ya, Mikki?” Clara menoleh kepalanya ke arah Mikki. “Mengapa kau meninggalkan pestaku semalam?” tanya Mikki, ia menoleh menatap Clara, yang di tatap justru mengalihkan pandangannya pada rumput yang ia pijak. “Maaf, semalam aku sakit perut lalu aku buru-biri pergi, maafkan aku,”


“Apa kau sakit?” tanya Mikki, “tidak, hanya semalam perutku sakit, mungkin aku akan datang bulan, maklum, aku kan perempuan,” jawab Clara dengan malu. “Ah, begitu. Sekarang, kau tak apa?”


“Ya, tentu.”


“Mau pulang bersamaku? Ini sudah sore, sepertinya akan turun hujan juga” ajak Mikki pada Clara. Clara menatap langit kemudian beralih menatap Mikki, “Kau benar, baiklah. Ayo kita pulang,”


Mikki menggandeng tangan Clara tanpa sadar, membuat Clara terkejut dan melepaskan genggaman tangan Mikki.

__ADS_1


“Maaf,” ucap Mikki, “Tidak, aku hanya, tidak biasa.” ujar Clara, mereka berjalan beriringan dengan canggung, meninggalkan rumah sakit.


Sesampainya di rumah Clara, Mikki pamit pulang, Clara berterimakasih pada Mikki kemudian Mikki pergi meninggalkan rumah Clara.


__ADS_2