
Clara berjalan sendirian sepulang sekolah, tak biasanya Riyant meninggalkannya, tumben. Sebenarnya Clara sangat kesal ketika ia mengetahuo bahwa Riyant meniggalkannya. Clara berjalan menuju halte, lalu tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya.
Tiinnn..
Orang itu menurunkan kaca mobil sehingga Clara dapat mengetahui wajahnya.
“Oh? Riyant? Sejak kapan kau membawa mobil?” Riyant tersenyum, “naiklah.” Clara pun naik ke dalam mobil Riyant.
“Sejak tadi pagi, hehe” ujar Riyant dengan cengirannya, “tumben sekali,” ucap Clara yang bingung karena biasanya Riyant membawa motor. “Sengaja, aku hanya ingin membawa mobil. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, boleh kah?” tanya Riyant, “boleh, kita mau kemana?” tanya Clara lagi, “rahasia.” Kemudian Riyant melajukan mobilnya ke arah yang ia tuju.
Sesampainya di tempat, tentu membuat Clara terkagum takjub, pasalnya Riyant membawanya ke sebuah taman yang sangat indah. Benar-benar indah.
“Woahhh. Tahu darimana kau tempat seperti ini Riyant?” ujar Clara dengan pandangan takjub ke hamparan bunga warna-warni di hadapannya, “kau suka?” tanya nya memandang Clara, yang di balas anggukan oleh Clara, meski pandangan Clara tak lepas dari pemandangan di hadapannya.
“Sebenarnya aku ingin mengajakmu kemari di akhir pekan, hanya saja aku tak sabar melihat reaksimu. Sudah kuduga, kau pasti akan menyukainya,” Riyant tersenyum menatap Clara yang juga menatapnya. “Terima kasih Riyant,” ucap Clara dengan tulus.
__ADS_1
Mereka pun bersenang-senang di taman itu hingga sore menjelang. “Riyant, ku pikir aku harus pulang sekarang, ibuku pasti sudah menanti, aku tak mau ia mengkhawatirkanku,” ujar Clara berdiri dari duduknya, “ah iya. Maaf aku mengajakmu tanpa izin dengan orangtuamu, nanti disana aku yang akan memberitahunya,” ucap Riyant sedikit menyesal, “tak apa Riyant,”
“tunggu dulu, boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Riyant, Clara menunggu. Namun Riyant tak kunjung berbicara, “ah nanti saja. Maaf, ayo kita pulang sekarang,” suara Ryant terdengar gugup namun Clara tak mengetahui atau menaruh curiga apapun pada Riyant. Sampai ia tiba di rumahnya, Riyant menyampaikan maaf pada ibunda Clara, dan ibundanya pun memaafkan. “Iya tak apa, ibu maafkan. Tapi lain kali, kalian harus izin terlebih dahulu.” ucap ibunda Clara. Kemudian Riyant pun pamit pulang.
Di dalam kamar, Riyant merutuki kebodohan dirinya saat itu, saat bersama Clara, seharusnya ia bisa mengatakan dengan lancar bahwa ia menyukai Clara, namun apa daya tak ada kata yang terucap dari bibir Riyant saat bergadapan dengan Clara, ia benar-benar gugup.
“Mungkin akhir pekan aku harus mengajaknya lagi.” Putus Riyant mengirim pesan pada Clara dan kemudian pergi tidur.
Disisi lain Clara mendapat telfon dari Mikki dan pesan dari Riyant secara bersamaan. “Clara, kau belum tidur?” tanya Mikki di sebrang sana, “belum. Aku baru saja pulang,” jawab Clara pada telfonnya. “Oh? Kau sehabis darimana?” tanya Mikki lagi, “dari taman dengan Riyant sepulang sekolah, ada apa menelfon?” hening sejenak sebelum akhirnya Clara mendengar dehaman dari Mikki di sebrang sana, “um.. sebenarnya aku ingin mengajakmu ke taman di akhir pekan, taman yang berada di pusat kota, sepertinya itu baru, jadi aku mau mengajakmu. Apa boleh?” tanya Mikki, “oh. Aku baru saja dari sana dengan Mikki, iya tentu saja boleh,” Jawab Clara, “ah begitu ya. Baiklah, aku akan menjemputmu,”
“tak usah, biar aku sendiri saja tak apa,” jawab Clara, “serius?” tanya Mikki, “tentu tak masalah bagiku,” Mikki tersenyum di sebrang sana tentu tak di ketahui oleh Clara, “baiklah, sampai nanti di akhir pekan Clara. Selamat istirahat,” sahut Mikki ramah dan ceria seperti biasa. “Ya Mikki. selamat malam dan sampai nanti, ku tutup ya, Bye.” Clara memutus sambungan setelah Mikki mengiya kan di sebrang sana.
...****************...
Akhir pekan tiba, Clara memilih untuk datang sendiri dengan kendaraan umum, menolak Riyant dan Mikki menjemputnya, kemudian Clara menentukan tempatnya sendiri.
__ADS_1
Clara menunggu di tempat yang ia tentukan, sembari menunggu Riyant, Mikki dan mungkin juga Putri, karena setahu Clara, Putri selalu ikut dengan Mikki kemanapun, jadi mungkin ini akan jadi libur akhir pekan yang seru baginya.
Di sisi lain, Riyant maupun Mikki mampir terlebih dahulu. Riyant ke toko bunga edangkan Mikki ke toko kue untuknya dan Clara makan. Sebenarnya dari kedua lelaki tersebut tak mengetahui bahwa mereka akan bertemu di tempat yang sama nantinya. Mereka fokus memilah milih dan kemudian membelinya. Sepanjang perjalanan mereka tentu sangat tak sabar, dan tak ingin membiarkan Clara menunggu terlalu lama. Sampai akhirnya mereka berdua sampai, dan membuka ponsel di mana Clara mengirimkan lokasi pada mereka berdua, dimana ia berada.
Riyant dan Mikki menghampiri dimana Clara saat ini, ketika mereka sudah samapai dan dekat dengan Clara mereka terkejut. Mereka datang di sisi yang berbeda, Riyant di sisi kiri Clara sedangkan Mikki di sisi kanan Clara, dengan masing-masing memegang bunga serta kue. Hal itu membuat keduanya terkejut kecuali Clara yang senang mereka datang juga aneh mengapa Putri tak bersama Mikki. Kedua lelaki itu saling bertatapan dengan pandangan bingung, mereka tak mengetahui situasi apa yang terjadi pada keduanya.
“Hey, mau sampai kapan kalian berdiri, duduklah,” ujar Clara, lalu Riyant dan Mikki duduk di samping Clara di meja yang berbentuk lingkaran. Hening, tak ada yang membuka suara dari kedua lelaki itu. “Mikki, dimana Putri?” tanya Clara tiba-tiba, membuat Mikki bingung, “aku kan memang tak mengajak Putri, Ra.” Jawab Mikki, membuat Clara sedikit bingung. “Oh, kau hanya ingin mengajak Clara? Maksudmu, kau mau kencan?” tanya Riyant seketika dengan nada sarkas. “Apa maksudmu Riyant?” tanya Clara, “dia ingin mengajakmu kencan,” jawab Riyant, “tak mungkin seperti itu, berhentilah berbicara aneh, Riyant” sergah Clara. “Memangnya kenapa jika aku ingin kencan dengan Clara? Apa kau akan marah?” tanya Mikki membuat Riyant kesal, ia mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.
“Karena kau menyukai Clara, jadi kau tak mengizinkan siapapun untuk menyukai Clara, termasuk aku? Bukankah itu egois? Lagi pula memangnya Clara menyukaimu?” Mikki berujar dengan nada geram, membuat Riyant terpancing emosi namun ia hanya diam saja, Clara yang tak mengerti situasi itu pun bertanya pada mereka, “apa yang kalian bicarakan? Ayolah, jangan seperti itu. Kita semua kan teman,” Clara mencoba membujuk mereka agar tak saling menatap dengan emosi.
Keduanya menatap Clara secara bersamaan membuat Clara menciut.
“Teman?” sahut mereka bersamaan, Clara mengangguk kikuk, ia masih tak megerti, mengapa mereka begitu murka padanya?
“Clara, aku menyukaimu.” Ucap mereka bersamaan, membuat Clara terkejut.
__ADS_1
“APA?”
Mereka menoleh serempak. “Oh?” Clara makin terkejut ketika seseorang mendatanginya.