
Sejak saat itu Clara mulai berlatih di rumah maupun di sekolah, di rumah ia mengatakan pada ibunya bahwa ia ikut berpartisipasi dalam pentas seni yang di adakan oleh pihak sekolah, tentu ibunya sangat senang, beliau juga membantu Clara berlatih.
Clara mengikuti lomba bernyanyi, di sekolah ia berlatih menyanyi di rooftop kadang ke ruang seni jika semua murid sudah pulang, ia terlalu malu jika harus menunjukkannya sebelum pentas seni.
Sudah lama ia tak mengunjungi Riyant, Clara memutuskan untuk bertemu Riyant di hari pentas seni nya, sebelum berangkat menuju sekolah, Clara menyempatkan waktu untuk ke rumah sakit, ia rasa Riyant harus tahu bahwa ia akan mengikuti pentas seni.
“Riyant, maaf aku baru kemari, jangan marah padaku,” ucapnya setelah ia sampai di ruangan,
“Riyant, kau tahu? Aku mengikuti pentas seni, dan hari ini perayaan pentas seni nya, maaf aku baru menyampaikannya padamu, aku jahat ya? haha.. maaf.”
“Kau benar Riyant, aku harus memulainya, aku harus percaya diri,” Clara tersenyum.
“Tapi jujur saja, saat ini hatiku berdebar, aku pasti bisa kan? aku benar-benar gugup sekarang,”
“Terimakasih. Karena kau aku bisa memulainya,”
“Doa kan aku, aku akan berjuang.” lalu ia pamit dan pergi meninggalkan rumah sakit.
...****************...
Clara terduduk di kursi menunggu dirinya di panggil giliran untuk pentas, dalam hati ia berdoa agar semua lancar, ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa ia bisa, meski Riyant tak hadir tak menjadi penghalang Clara untuk bersemangat mengikuti pentas ini.
“Clara Shinta!”
“Oh? Saya” Clara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju panggung disana, dengan microfon di tangannya, ia melihat keseluruh penjuru disana, banyak sekali murid serta guru yang tengah memperhatikannya, Clara gemetar, namun ia mencoba untuk rileks, kemudian ia mulai bernyanyi.
Selama penampilan, Clara tidak memandang ke arah audiance melainkan ke arah jendela serta dinding ruangan itu, setelah selesai Clara bernyanyi, semua hening beberapa detik dan akhirnya tepuk tangan dari para guru mengakhiri penampilannya, Clara membungkuk berterimakasih lalu kembali berdiri tegak menatap audiance, dan saat itu juga
PLANG
__ADS_1
“Oh?” Clara terkejut, ia refleks memegang dahi yang terkena lemparan botol.
Seseorang melemparkan botol padanya, lalu kemudian orang itu berteriak,
“TURUN DASAR MONSTER JELEK!”
Lalu ribuan botol kosong terlempar ke arahnya, Clara mundur perlahan, menghindari botol-botol itu mengenai wajah dan juga dirinya, para guru juga satpam dan sie keamanan acara tersebut menghentikan kericuhan.
“APA KAU TIDAK BERCERMIN SEBELUM PENTAS? DASAR JELEK!”
“MENGGANGGU KELANGSUNGAN PENTAS DASAR GENDUT”
“TIDAK TAHU MALU”
Dan ribuan komentar lain yang terlontar, membuat Clara shock dan terdiam, Clara di bawa ke ruangan dan di berikan air oleh para guru.
“Tak apa bu,” sahut Clara.
Setelah dirasa Bu Rani menghilang dari balik pintu, Clara mendesah ringan, ia menatap kosong lantai dan menunduk menahan tangis, kemudian beberapa menit ia disana Clara bangkit lalu pulang ke rumahnya.
...****************...
BRAK
Clara membanting pintu rumahnya dengan kasar lalu berlari ke lantai atas menuju kamarnya, ia tak tahu bahwa ibunya berada disana, melihatnya, lantas ibunya menghampiri Clara di kamar, di lihatnya Clara sedang menangis, lalu Mia – ibunda Clara – memeluk Clara dengan rasa khawatir.
“Ada apa sayang?” tanya Mia
Clara mencoba menjawab meski dengan air mata yang masih mengalir, “Mengapa mereka membedakkan fisikku? Bukankah merka mengatakan bahwa cantik itu relatif? Cantik tidak harus putih, ideal dan yang lainnya? Tapi mengapa mereka memperlakukan aku seperti itu, lagi-lagi karena fisikku. Apa aku salah hidup di bumi dan berbagi oksigen dengan mereka?”
__ADS_1
Clara tersengguk karena berteriak sambil menangis, “Mereka menyebutku monster, padahal aku tak melakukan sebuah kejahatan, aku hanya mencoba untuk menunjukkan diriku meski aku tidak cantik,”
Mia terdiam, ia membiarkan Clara menangis sambil mengusap surai lembut Clara, dalam hati ia pun ikut bersedih, bagaimana bisa anaknya di perlakukan seperti itu oleh oranglain, sungguh saat itu Mia sangat marah.
Di rasa Clara sudah mulai melunak, ia berbicara “Lihat ibu sayang” Clara mendongkak. “Kau cantik sayang, semua wanita yang lahir di bumi itu cantik, hanya saja, kita lahir di dalam masyarakat yang suka menuntut untuk terlihat sempurna,”
Mia mengecup kening Clara, “Tetaplah tunjukkan dirimu, dunia harus tahu bahwa disini ada Clara yang cerdas, baik, dan juga berbakat. Kau harus semangat, sayang.”
Clara menangis sambil memeluk ibunya
“Hidup memang keras untuk kita yang tidak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang, namun ini hidup kita, tentu saja kita berhak melakukan apapun yang kita suka selagi tidak merugikan banyak orang,” ibu berucap sambil tetap memeluk Clara.
...----------------...
Malam itu, usai Clara menangis dan tertidur Clara bangun lalu ia menonton youtube di depan laptopnya, ia belum makan, ia tidak berselera, meski ibu memanggilnya berkali-kali untuk makan, tapi Clara tetap tidak berselera memasukkan apapun untuk mengganjal perutnya.
Di youtube menampilkan seorang boygroup yang sedang berpidato, ‘mengapa aku menonton ini’ pikir Clara bingung, “My name is Kim NamJoon, also known as RM, the leader of the group BTS....”
Clara masih menyimak pidato yang di sampaikan oleh member group yang di sebut BTS dengan seksama, pikirannya menerawang entah ia tidak terlalu mendengarkan pidato dari pria di layar laptopnya,
“... no matter who your are, where you’re from, your skin colour, your gender identity: just speak yourself...”
Clara tertegun, lantas kembali memperhatikan pidato tersebut, kalimatnya sukses membuat Clara terdiam dan memperhatikannya, lebih tepatnya mendengarkan pidato yang disampaikannya.
“... I have many faults and I have many fears, but I’am going to embrace myself as hard as I can, and I’m starting to love myself, little by little. What is your name? Speak Yourself!”
Kalimat yang di sampaikan orang yang bernama Kim Namjoon tersebut masih terngiang di pikiran Clara, lantas ia mengambil sticky notes dan mulai menyalin pidato yang disampailan pria bernama Kim Namjoon, lalu ia tempel di dekat cermin, dan tersenyum.
Clara menatap pantulan dirinya di cermin, “Tak apa, meski aku gemuk, kulitku gelap, aku layak di cintai dan aku akan mencintai diriku sendiri. Aku akan berusaha,” ujarnya tersenyum masih dengan melihat pantulannya di cermin.
__ADS_1