
Clara menuruni satu persatu anak tangga dengan terburu-buru, ia baru mendapat kabar dari ayah Riyant bahwa hari ini Riyant sudah sadar, Clara pun menghubungi Mikki juga Putri, mereka sudah berada di depan beberapa menit yang lalu untuk menjemput Clara.
Gadis itu meminta izin pada ibunya dan langsung bergegas ke rumah sakit dengan kedua temannya.
Sesampainya mereka di RS, benar saja, Riyant sudah sadar, ia bahkan tersenyum saat Clara tiba di bangsalnya, Clara menangis haru melihat itu Riyant bingung, mengapa ia menangis, “Hey, mengapa kau menangis? Tak merindukanku, hm?”
Clara tersenyum haru, lantas menghampiri Riyant dan duduk di kursi biasa yang selalu ia duduki di samping ranjang pasien.
“Aku senang, sampai aku tak sadar air mataku turun begitu saja. Tentu aku merindukanmu, kau tidur lama sekali,”
Riyant tersenyum, “Maaf.” Ia menoleh ke arah belakang Clara, tepatnya dua orang yang sedang berdiri di depan pintu bangsal itu, lalu kembali menatap Clara dengan bingung.
Menyadari hal itu, Clara menoleh ke belakang lalu kembali menatap Riyant, “Mereka temanku, mereka juga sering menemaniku disini,” jawab Clara, lalu gadis itu memanggil Mikki dan Putri, mereka lantas menghampiri Riyant juga Clara.
__ADS_1
“Riyant, ini Mikki. aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu di kantin RS, saat itu ia sedang menemani ibundanya Putri yang kebetulan dirawat di RS yang sama, dan juga ia adalah sahabatnya Putri, dan...” ucapan Clara terhenti, ia menatap Putri yang menatap ke arah lain dengan canggung, lalu Clara kembali menatap Riyant sambil tersenyum, “... gadis itu teman kita, Putri.”
Riyant sedikit bingung, mengapa Putri dekat dengan Clara, setau ia, Putri tak pernah mau berteman dengan Clara karena alasan yang tak masuk akal bagi Riyant, “Ku rasa aku tertinggal banyak cerita, sampai Putri akrab denganmu saja aku tak tahu. Tidurku terlalu panjang ternyata,” racaunya.
“Putri tidak seperti yang kau pikirkan bro, ia memang sangat egois, tetapi ia juga manusia biasa, ada sisi jahat juga sisi buruk. Maafkan dia bila sisi jahatnya mengenai dirimu,” sahut Mikki tetiba, ia pun mendapat cubitan dari Putri, membuat sang empu meringgis.
“Tak apa, aku paham,” ucap Riyant, Mikki berbisik pada Putri untuknya meminta maaf pada Clara juga Riyant, terlihat gadis itu sangat enggan namun dengan dorongan Mikki ia pun mengungkapkannya.
“Ummm.. Riyant, dan Clara. Aku, maafkan aku. Jika di hari lalu aku sangat tak baik pada kalian,” ucapnya
“Aku belum,” cegah Riyant dengan cepat, Clara menoleh, lalu Riyant melanjutkan, “Entah, tapi aku mengingat bahwa perlakuanmu pada Clara sangat sangat keji,” Putri terlihat geram, dengan cepat Mikki mengusap bahunya, dan berbisik ‘kau harus sabar,’ Putri menghela, “Aku tahu, tapi, aku, aku minta maaf untuk itu, kau juga pasti pernah melakukan kesalahan kan, Riyant?”
“Memang, tapi tak seperti dirimu,” jawab Riyant.
__ADS_1
Suasana hari itu sangat tegang dan juga canggung. Riyant masih belum bisa memafkan Putri untuk beberapa alasan, namun ia aneh mengapa Clara terlalu baik pada Putri? Bisa saja hal itu dimanfaatkan oleh Putri, Riyant tak habis pikir dengan Clara.
Sedangkan Putri, ia terlihat geram dengan sikap Riyant padanya, tak habis pikir mengapa ada seorang seperti Riyant. Sungguh tertipu dengan wajah tampannya, ternyata ia tak bisa memafkan sesama makhluk.
Mengetahui hal itu, Mikki menenangkan Putri, dan terus membujuk Putri agar ia tak mengindahkan ucapan Riyant yang sering kali mengungkit kesalahan juga berbicara yang membuat Putri sakit hati.
...----------------...
Sejauh ini, semenjak Riyant keluar dari RS, mereka sering pergi hunting bersama, seperti anak remaja pada umumnya, menonton bioskop, makan, bermain dan yang lainnya, bahkan jika kita lihat mereka seperi remaja yang sedang double date.
Meski di luar tampak akrab, namun ketika di sekolah Riyant masih memantau gerak gerik Putri yang akan mencoba menyakiti Clara lagi, sedangkan Putri, ia malah menganggap mereka biasa-biasa saja, Putri yakin suatu saat nanti Riyant akan memafkannya, sulit memang menjadi baik ketika semua orang memandangnya jahat.
Semua manusia mempunyai sisi baik yang bahkan tidak di ketahui banyak orang, namun ketika mereka melakukan satu kesalahan, maka kesalahan tersebut akan selalu di ingat, membuat kebaikan yang pernah mereka lakukan terlupakan begitu saja. Seringkali manusia lain menganggap sedemikian, diantara mereka berlomba-lomba mencari kesalahan oranglain tanpa tahu seberapa banyak kesalahan yang telah ia perbuat.
__ADS_1
Sungguh, mengapa hal itu terjadi demikian? Mengapa banyak orang yang berlomba mencari kesalahan orang lain, namun abai dalam kesalahan sendiri? Bahkan, ketika seorang pendosa bertaubat sekalipun, kesalahan mereka akan selalu diingat, tanpa bisa menerima bahwa ia telah berubah, apa susahnya menerima keadaannya yang sudah menjadi lebih baik dari dirinya yang terdahulu?