
“Mikki, antar aku ke rumah sakit, ibuku di rawat,” ucap seseorang di sebrang telfon. “Baiklah, aku akan menjemputmu, tunggu sebentar, aku akan bersiap, ku tutup.” Mikki mengakhiri panggilan tersebut lalu bergegas mengambil jaket yang ia sampirkan di sofa dekat tempat tidurnya lalu meraih kunci mobil di nakas dan melenggang pergi ke rumah temannya.
Sesampainya Mikki di rumah temannya, mereka langsung pergi ke rumah sakit, sebelum itu mereka mampir membeli beberapa kebutuhan barang untuk temannya menjaga ibunya di rumah sakit, “Aku mungkin akan izin sekolah, karena ayahku pergi bekerja,” ucapnya memandang jalan di hadapannya.
“Baiklah, aku akan menemanimu sesering mungkin, apa kau sudah makan, Putri?” tanya Mikki kemudian
Ya benar, teman Mikki bernama Putri.
Putri adalah salah satu orang yang senang membully Clara di sekolahnya, Mikki mengetahui sikap buruk Putri namun ia tak tahu bahwa orang yang sering ia kerjai di sekolah adalah Clara.
“Aku sudah makan.” jawab putri singkat
Mereka sampai di rumah sakit lalu menuju bangsal dimana ibu putri di rawat, beberapa menit kemudian, Mikki pamit untuk ke kantin rumah sakit karena ia belum sempat makan.
“Putri, aku akan ke ke kantin sebentar, kau ingin ikut atau menitip sesuatu?” tanya Mikki, Putri menggeleng.
“Tidak, kau saja.”
“Baiklah.” Kemudian Mikki melenggang pergi menuju kantin.
Di kantin, ia memesan beberapa menu makanan, lalu mencari tempat duduk yang kosong, ‘tumben sekali, kantin rumah sakit seperti kantin sekolah, sangat ramai’ ujarnya dalam hati.
Kemudian ia melihat seorang gadis sedang memakan makanannya sendirian sambil sesekali memainkan ponselnya, Mikki pun memberanikan diri untuk menghampirinya.
“Permisi, apa aku boleh bergabung disini?” tanya Mikki. “Silahkan,” jawab gadis itu sambil terseyum.
“Perkenalkan, namaku Miki, kau?”
“Hai Miki, aku Clara, duduklah.”
Miki duduk di hadapan Clara dengan terus tersenyum, lalu ia mulai memakan makannya.
“Siapa yang sakit?” Miki mulai berbasa-basi dengan Clara, “Sahabatku,” jawabnya. “Ah begitu. Cepat sembuh,”
“Terimakasih, kau sendiri?” ia berbalik menanyai Mikki. “Aku hanya mengantar temanku, ibu dari temanku sedang di rawat, jadi aku mengantarkannya untuk menjenguk ibunya,” jawab Mikki menjelaskan. “Begitu ya, cepat sembuh untuk ibu dari temanmu,”
__ADS_1
“Terimakasih, Clara.”
Mereka berbincang satu sama lain, kemudian selesai makan, mereka pergi ke ruang bangsal masing-masing.
...----------------...
Sesampainya Mikki di bangsal tempat ibu Putri di rawat ia langsung mendudukan dirinya di kursi tempat keluarga pasien besuk, “Kau tak pulang?” tanya Putri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kau mengusirku?” Mikki menaikan satu alisnya, “Tidak” jawab Putri
“Aku akan pulang nanti,”
“Baiklah, terserah kau.”
Hening, tak ada percakapan. Putri menonton TV sedangkan Mikki sedang asyik memainkan game yang ada ponselnya, “Minggu depan ulangtahunku,” ucap Mikki memecah keheningan dengan masih memainkan game di ponselnya.
Putri menoleh sebentar ke arah Mikki,
“Aku tahu” kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke TV di hadapannya.
“Aku akan mengirimkan gaun untukmu, alamatnya menggunakan alamat rumh sakit atau rumahmu?” tanya Mikki, Putri menggeleng, “Tentu rumahku, bodoh. Untuk apa kau mengirim ke alamat rumah sakit,”
Putri mengangguk, “Hati-hati.”
“Jika kau ingin pulang, telfon saja. Aku akan menjemputmu, salam untuk ibumu jika beliau sudah bangun,” ujar Mikki sebelum meninggalkan ruangan. “Ya, terimakasih.” Sahut Putri, lalu Mikki pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.
...----------------...
Mikki dan Putri memang sudah bersahabat sejak kecil dulu, sikap Putri berbeda dengan Mikki, ia senang sekali membully orang yang berada di bawahnya, Mikki sudah memperingatinya berkali-kali tetapi Putri tidak pernah mengindahkannya, perbuatan Putri semakin menjadi ketika ia menginjak remaja.
Putri tumbuh menjadi seorang gadis yang angkuh dan sombong, meski ia terlahir dengan wajah yang sangat cantik, ia bahkan selalu memilih siapa saja yang pantas menjadi teman atau bahkan kekasihnya, ia tak segan-segan menolak dengan kasar lelaki yang ingin menjadi kekasihnya.
Padahal Mikki berkali-kali menasihati Putri untuk tidak berbuat semena-mena kepada orang lain, dan lagi-lagi ucapan Mikki dianggap angin lalu oleh Putri.
Putri memilih untuk tidak satu sekolah lagi dengan Mikki, bagi Putri Mikki itu kolot dan terlalu baik, ia malas dengan ucapan-ucapan Mikki yang sok mengguruinya, bagi Putri, ia bebas melakukan apapun pada orang lain, ia tak takut pada hukum, selagi ayahnya masih berkuasa.
__ADS_1
“Tumben kau tak satu sekolah lagi denganku?” tanya Mikki sewaktu mereka akan memasuki SMA, “Tentu karena aku muak denganmu,” jawab Putri. “Kau harus merubah sikapmu Putri. Hidup ini berputar, mungkin sekarang kau berbahagia dengan apa yang kau punya, dan seenaknya menginjak-injak orang lain, siapa tahu dimasa yang akan datang orang yang kau injak akan berada di atasmu kemudian membalas perbuatanmu?”
“Kau? Kau menyumpahiku ya?” tanya Putri murka, “Tidak, aku hanya mengingatkanmu,” jawab Mikki, “Sudahlah, aku malas berdebat denganmu, sana pergi. Nasib baik aku tak satu sekolah denganmu.” Ucap Putri, Mikki pun pergi meninggalkan Putri sendirian.
...----------------...
Saat itu, hujan lebat mengguyur perkotaan, Mikki yang berada di bawah selimut mencari posisi yang aman untuk terlelap menuju alam mimpi, sesaat kemudian ponselnya berdering, Mikki mendengus.
Di raihnya ponsel yang ia letakkan di nakas tempat tidur, lalu melihat ID penelfon – itu Putri – dirasa kenal ia pun mengangkatnya, belum sempat mengucapkan sepatah katapun, si penelfon langsung menyerbu telinga Mikki dengan suara paniknya.
“Mikki, tolong ke rumahku segera, ibuku pinsan, aku tunggu. CEPAT.” Ucapnya, lalu telfonpun terputus sepihak tanpa Mikki mengucap sepatah katapun.
Mikki menyibakkan selimutnya lalu meraih jaket dan kunci mobil dan melenggang ke luar, Mikki memang sudah ahli mengemudi sejak ia SMP kelas 3, meski masih di bawah umur tetapi tidak bagi tubuh Mikki, tubuhnya seperti anak berumur 20 tahun.
...----------------...
Sesampainya ia di rumah Putri, ia langsung membopong tubuh ibu nya lalu segera di larikan ke rumah sakit, untung saja mereka cepat membawa ibunda kerumah sakit, karena ternyata ibunda mengalami serangan jantung dan bersyukur masih dapat di selamatkan.
Putri merasa cemas di depan ruang IGD, besok pagi ibunya akan di pindah ruangan, dan sementara akan di rawat di rumah sakit, Mikki menghampiri Putri dengan sebotol air mineral di tangannya lalu menyerahkannya pada Putri. “Minumlah,” lalu Putri meraihnya,
“Terimakasih, Mikki.”
Mikki dudukk di sebelah Putri, “kau mau makan?” tanyanya, Putri menggeleng
“apa kau sudah makan?” tanyanya sekali lagi, dan lagi Putri menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Ayo makan terlebih dahulu, setidaknya kau harus tetap sehat,” Mikki menarik tangan Putri lalu mengajaknya makan
“Karena kau tidak mau makan di lesehan, jadi kita cari MCD saja.” ujar Mikki, Putri hanya terdiam.
Sesampainya di MCD, mereka langsung memesan dan memakan makanannya, “Apa kau sudah mengabari ayahmu?” tanya Mikki, “Ya, ayah akan pulang besok pagi,” jawab Putri, “Aku akan menginap, menemani ibuku,” lanjutnya, “Aku akan menemanimu,” sahut Mikki. “Terimakasih.”
Mereka menghabiskan makanan, lalu kembali ke rumah sakit, Putri tidur di samping ibunya dengan posisi duduk di kursi, sedangkan Mikki di luar, tertidur di kursi panjang, tempat pengunjung mendaftarkan pasien untuk di rawat.
Semua administrasi sudah diselesaikan Putri, tentu karena Putri adalah anak orang kaya, tidak terlalu sulit untuk membayar administrasi bagi dirinya.
__ADS_1
Mikki sendiri sangat menyayangkan sikap Putri yang seperti itu, ia terlalu dimanjakan oleh kedua orangtuanya jadi ia berlaku seperti ratu, tidak hanya di lingkungan luar saja, ia pun begitu di rumahnya terhadap asisten rumah tangga sekalipun.
Meski begitu, Mikki tetap menemani Putri, bagaimanapun sikapnya bagi Mikki, Putri hanyalah gadis kesepian, karena terlalu sering di tinggal bekerja oleh kedua orangtuanya sejak kecil dan ia kesulitan untuk mencari teman yang tulus.