The Real Beauty

The Real Beauty
Putri (Pt. 3)


__ADS_3

“Putri?” Clara menghampiri Putri yang duduk di taman belakang sekolah sendirian, Clara menoleh ke kiri dan ke kanan dengan bingung. Tentu Clara tak tahu bahwa akhir-akhir ini Putri sudah tidak dekat dengan teman-temannya, seakan tahu apa yang akan Clara tanyakan, dengan cepat Putri menyela, “Aku hanya ingin sendiri,”


Putri memandang lurus ke arah taman dan murid-murid yang berlalu lalang kesana kemari mengitari sekolah. Begitu ramai, sebab ini adalah jam istirahat.


Clara duduk di samping Putri memandang ke arah yang sama, “menyenangkan jika kita punya waktu untuk diri kita sendiri, terkadang terlalu ramai malah membuat sesak,” Putri menoleh sembari memikirkan kalimat Clara, dalam hati ia membenarkan.


‘mungkin aku butuh waktu sendiri,’ yakinnya dalam hati. Mereka berdua menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol di taman belakang sekolah.


Sejak saat itu, Putri seakan menjauh dari Clara dan teman-temannya yang lain, terlebih Mikki. lelaki itu mulai khawatir, pasalnya Putri adalah orang yang manja dan tidak bisa pergi sendiri. namun siapa sangka, saat ini ia bahkan menghabiskan waktunya sendirian mengelilingi mall, bermain di time zone, memilah milih novel, membaca di taman bermain dan makan sendiri. terlintas di pikirannya bahwa hari ini ia sangat senang, mungkin ia akan meluangkan waktu untuk dirinya sendiri.


Tentu itu sangat penting, terkadang kita memikirkan orang lain dan melakukan yang terbaik demi orang lain, mengabaikan diri kita yang bahkan tak di ketahui bahwa diri sedang lelah. Ketika semua orang pergi, bukankah yang menemani hanya diri sendiri? lalu, mengapa kita masih mengabaikan diri sendiri? bahkan cenderung menyalahkan diri untuk berbagai alasan.

__ADS_1


...****************...


DINGDONG


*ceklek* ???


Putri membuka pintu rumahnya ketika ia mendengar bel rumah berbunyi, lantas pintu itu memperlihatkan seorang lelaki dengan kaus berwarna merah, celana jeans hitam dan sepatu merah-hitam yang senada, lelaki itu membawa makanan dengan tersenyum. Putri memandang lelaki itu dengan aneh.


“apa aku boleh masuk? Pizza nya keburu dingin,” ujar lelaki itu mengangkat box pizza ke udara, kemudian Putri menyingkir sedikit agar ia bisa masuk ke dalam rumah, Putri menutup pintu dan mengekori lelaki itu untuk duduk di ruang tamu. Putri bahkan belum mempersilahkan ia duduk, namun ia terlebih dulu menempelkan bokongnya pada sofa ruang tamu milik Putri.


“mengapa kau tak bilang jika kau ingin kemari, Mikki,” sahut Putri mengambil bagiannya pada pizza itu, Mikki tak menjawab, ia sibuk dengan pizza di mulutnya. “bisakah kau ambilkan aku air?” pinta Mikki, lalu Putri beranjak dan mengambil sebotol air dan dua gelas lalu menuangkannya untuk Mikki.

__ADS_1


“terima kasih.” Ucap Mikki dengan lega setelah meneguk air itu sampai kandas.


“ada apa kau kemari?” tanya Putri sekali lagi, “memangnya kenapa? Aku kan memang sudah terbiasa kemari,” jawabnya acuh, dan mengusap-usap perutnya yang membuncit karena menghabiskan pizza beberapa menit yang lalu.


“kau menghindariku ya?” tanya Mikki menoleh pada Putri, gadis itu membuang pandangannya, “aku tak menghindarimu,”


“jangan berbohong!” bantah Mikki, “aku tak berb-“


“aku akan marah jika kau berbohong,” Mikki berbicara dengan nada dan raut wajah yang serius, membuat Putri bungkam. Sebenarnya Mikki tak benar-benar marah, ia hanya ingin gadis itu menceritakan yang terjadi, ia benar-benar memngkhawatirkan Putri.


Putri menatap Mikki sekilas, kemudian menatap lurus ke depan, “aku hanya membutuhkan waktu untuk diriku sendiri, yaahh me time. Sudah lama sekali, hanya itu. Tak ada masalah apapun,” jawabnya, mencoba untuk tidak memberitahu bahwa ia oun di rundung oleh teman-temannya sendiri.

__ADS_1


Mikki mengkerutkan dahi, lelaki itu sedikit curiga. “aku juga tak melihatmu bermain dengan kawanmu itu?” Putri menoleh dengan cepat, ia gugup namun mencoba untuk rileks, “emmm.. aku bermain dengan mereka, hanya saja tak sesering dulu. Kan aku sudah mengatakannya padamu, aku ingin me time, kau mengerti kan?” Putri berusaha meyakinkan Mikki yang masih menatapnya dengan curiga, tanpa disadari Putri menahan nafas ketika Mikki menataapnya.


“baiklah,” Mikki beranjak dari duduknya kemudian melanjutkan “bicaralah apapun padaku, jangan ada yang di tutupi. Aku sungguh mengkhawatirkanmu, aku akan menjagamu. Sampai nanti, aku pulang dulu,” Mikki pamit dan pergi meninggalkan Putri yang terdiam memandang datar ke arah punggung Mikki dan berbisik, “maaf aku membohongimu.”


__ADS_2