The Real Beauty

The Real Beauty
Cantik?


__ADS_3

Cantik?


Seseorang berkata ‘cantik itu relatif’ munafik! Memang benar cantik itu relatif, namun pada akhirnya kau lebih memilih standar kecantikan itu sendiri, menyematkannya dalam dirimu dan memaksa diri sendiri untuk memenuhi semua itu agar kau terlihat cantik.


Pada dasarnya, semua wanita cantik, banyak kecantikan dari dalam diri seorang wanita yang bisa kita pandang, selain dari fisiknya. “Tidak ada orang yang terlahir jelek, hanya saja kita hidup di dalam masyarakat yang menghakimi” – Namjoon Kim, benar sekali. Semakin banyak orang-orang yang menghakimi fisik orang lain, bahkan di jadikan sebagai sebuah candaan, apa itu lucu?


Mungkin bagimu iya, tapi bagi orang yang kau hakimi, tidak. Apa salahnya saling menghargai tanpa menghakimi? Jika begitu, akan banyak orang-orang yang bersyukur, bukan lagi terjebak dalam rasa insecure. Jika bisa memilih, mungkin semua orang menginginkan fisik yang sempurna, namun Tuhan begitu adil.


Tuhan menciptakan semua manusia tak sempurna, tetapi dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Jika kau menilai fisik seseorng sebagai kekurangan pada dirinya, apa kau tak berfikir bahwa kekuranganmu pun ada pada dirimu, yang kemungkinan akan di nilai oleh orang lain pula. Kehidupan itu adil, jika kau menghakimi, kau juga akan di hakimi.


...****************...


“Putri, kau tidak berminat ikut kelas seni?” tanya Clara ketika mereka berdua berada di kantin. Ya, sudah sebulan mereka dekat secara terang-terangan, awalnya terasa aneh bagi kalangan sekolah, namun keduanya sepakat untuk tidak memperdulikan orang lain.

__ADS_1


“Entahlah. Aku ragu,” jawab Putri yang sesekali menyesap jus jeruk yang berada di tangannya. “Ayolah, mengapa harus ragu. Bakatmu harus di apresiasi, kau tahu?” bujuk Clara, Putri terdiam berfikir, kemudian memutuskan untuk mengikutinya.


Putri menyetujui kelas seni, sedang Clara berada di kelas Beauty, mereka menyukai hal yang sama, yaitu melukis namun dalam konteks yang berbeda. Itu semua membuat mereka semakin dekat, dan menurut Clara, Putri tak seburuk yang ia duga, begitupun sebaliknya.


...****************...


“Putri, kau mau pulang bersamaku dan Riyant?” tanya Clara, usai jam pelajaran selesai hari itu. “Duluan saja, aku menunggu Mikki,” jawab Putri sembari memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalam tasnya. Clara mengangguk dan pergi, namun sebelum itu ia bertanya pada Putri, “kau akan memulai kelas seni di hari apa?”


Putri menatap Clara lalu menjawab, “seminggu dua kali, sekitar hari Rabu dan Sabtu,” jawabnya. “Sama, nanti kita pergi bersama saja!” ajak Clara bersemangat. “Tentu. Itu ide yang bagus,” sahut Putri, “yasudah, aku pulang duluan ya Putri.” Clara berpamitan yang di jawab dengan simbol “oke” oleh Putri, yang kemudian ia pun melangkah menuju halte, menunggu Mikki menjemputnya.


Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di hadapannya, Putri tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobil tersebut. Di perjalanan, mereka bertukar cerita tentang apa yang mereka lalui seharian ini di sekolah, dan Putri mengatakan bahwa ia saat ini mengikuti kelas seni. Hal itu membuat Mikki sedikit terkejut, juga bangga. Rupanya, Putri sudah mulai percaya diri.


“Waahh.. anak-anak di kelas seni pasti akan iri padamu, kau kan master,” Mikki bergurau, “yang benar saja!”

__ADS_1


“hahaha.. memang iya, kan?” tanya Mikki, “sudahlah, kau membuatku malu.” Sahut Putri, menoleh ke jendela, menyembunyikan semburat kemerahan pada pipinya. Mikki menoleh sedikit ke arah Putri dan tersenyum, dalam hati ia begitu senang, Putri yang selama ini arogant telah kembali menjadi sosok yang lucu dan menggemaskan.


“Kau mau makan?” tanya Mikki setelah keheningan beberapa saat yang lalu, “boleh,” jawab Putri yang kebetulan merasa lapar. “Mau makan dimana?” tanya Mikki lagi, tatapannya terfokus pada jalan raya di hadapannya, “di tempat biasa saja,” jawab Putri, “okey. Kita meluncur.” Mikki melajukan mobilnya ke tempat makan dimana mereka biasa pergi untuk memberi makan cacing-cacingnya.


Di lain sisi, Riyant dan Clara pulang bersama dengan berjalan kaki, tentu setelah turun dari bus yang ia naiki di halte sekolah sampai halte dekat dengan rumahnya. “Kau mengantarku? Bukankah rumahmu masih jauh?” tanya Clara ketika menyadari bahwa Riyant mengikutinya, “ya tentu. Tak apa bagiku, yang penting kau selamat,” jawabnya. “hey. Aku sudah terbiasa, sebelum ada kau pun aku sudah terbiasa jalan sendiri,”


“nah, maka dari itu, aku tak akan membuatmu sendirian,” perkataaan Riyant sontak membuat Clara tersipu, namun ia menolaknya. Itu akan sangat memalukan baginya.


“Lagi pula, tumben sekali kau tak membawa motormu?” tanya Clara, mereka tetap melanjutkan langkah menuju rumah Clara, “sengaja. Aku ingin pulang berjalan kaki seperti ini bersamamu. Tak apa?”


“Tentu. Ah. Sudah sampai, kau mau mampir?” tanya Clara


“ah iya. Cepat sekali ya, haha... ah tidak, aku langsung pulang saja. Salam pada ibumu,” kata Riyant lalu berbalik pergi meninggalkan rumah Clara.

__ADS_1


“hati-hati!” Clara berucap sedikit berteriak, agar Riyant bisa mendengarnya, lelaki itu pun berbalik dan mengacungkan jempol nya, pertanda ia akan hati-hati seperti ucapan Clara.


Gadis itu memandang kepergian Riyant, hingga tubuhnya menghilang di persimpangan jalan, Clara pun masuk ke dalam rumah untuk pergi makan dan mengerjalan beberapa pekerjaan sekolah yang di berikan oleh para guru. Tak terasa setahun lagi ia akan lulus sekolah, tentu ia harus memikirkan masa depannya, dan akan jadi apa ia kedepannya.


__ADS_2