
Clara memulai suatu perubahan dalam dirinya, sejak hari itu, ia kembali bangkit dan mencoba untuk menerima kekurangan yang ada pada dirinya, terlebih fisiknya, fisik bukan penghalang baginya ataupun semua orang untuk mencapai mimpi, fisiknya yang tak memenuhi standar kecantikan banyak orang tak luput menggugurkan mimpinya untuk menjadi seorang beauty vlogger, Clara terus berusaha meski ia sering di gunjing, di hina dan di bully banyak orang baik secara langsung maupun tidak langsung di luar sana.
Clara terus membuat konten tentang kecantikan meski banyak orang yang tidak menerimanya, namun tak sedikit pula yang mendukungnya, Clara lebih fokus kepada orang-orang yang mendukungnya.
Hari ini, Clara mengunjungi Riyant di rumah sakit, Riyant belum juga sadar, itu hal yang membuat Clara sedih, “Riyant, kau tak lelah terus menerus tidur? Aku ingin kau bangun lalu bermain dan pergi ke sekolah bersamaku,” Clara mendudukan dirinya di kursi samping ranjang Riyant.
“Ohya, tentang pentas seni, aku gagal. Namun, aku mendapat satu pelajaran berharga setelah aku menonton sebuah video, aku sudah menyimpannya, ku pikir itu untuk motivasi agar aku bisa menjadi seseorang yang menerima dan mencintai diriku sendiri, meski sulit, aku akan mencobanya,”
“Selain karena cuplikan video itu, kau juga seseorang yang berpengaruh bagiku, karena kau telah mendukungku, mendorongku untuk menerima dan mencintai diriku sendiri, Terimakasih Riyant.”
Clara tersenyum menatap Riyant yang masih berbaring di ranjang pasien, lalu pamit untuk pulang.
...----------------...
Hari ini Clara sedang berada di balkon kamarnya, ia sedang memandangi layar laptop dengan di temani cookies dan coklat panas di sebelahnya, ia baru saja meng-upload video make up terbarunya satu jam yang lalu, dan banyak sekali komentar buruk tentang fisiknya. Namun Clara tak memperdulikan itu dan ia fokus dengan komentar dari orang-orang yang mendukungnya, tak jarang banyak yang mengomentari dengan komentar yang membangun, itu membuat Clara bersemangat, lantas Clara mencatat beberapa hal yang kurang dari dalam videonya.
Hari ini Clara mengunjungi Riyant, namun Riyant masih tetap berbaring disana, “Riyant, berapa lama lagi kau tertidur? Apa kau tidak merindukan teman-teman sekolah? Kelas guru? Lapangan basket? Dan, aku?” Clara tersenyum merutuki kebodohan dirinya, mana mungkin Riyant merindukannya.
__ADS_1
“Aku merindukanmu.”
“Cepatlah bangun, aku ingin mengobrol denganmu lagi, jika seperti ini terus rasanya hampa, aku berbicara dengan angin.”
Clara terus menerus berbicara dengan Riyant hingga ia mendengar sesuatu
KRRRUUKKK
“Ah. Maaf, hehe. Aku belum makan,” ujarnya cengengesan. Untung saja Riyant tak sadarkan diri, kalau ia sadar mungkin Clara akan sangat malu karena bunyi perutnya, ia beranjak lalu pergi ke kantin rumah sakit.
“Aku pergi makan dulu Riyant.”
...----------------...
“Silahkan.” jawab Clara sambil tersenyum. “Perkenalkan, namaku Miki, kau?”
“Hai Miki, aku Clara, duduklah.” Miki duduk di hadapan Clara dengan terus tersenyum, di liat-liat Miki juga tampan, meski kulitnya tak seputih Riyant.
__ADS_1
“Siapa yang sakit?” Miki mulai berbasa-basi dengan Clara. “Sahabatku,”
“Ah begitu. Cepat sembuh.”
“Terimakasih, kau sendiri?”
“Aku hanya mengantar temanku, ibu dari temanku sedang di rawat, jadi aku mengantarkannya untuk menjenguk ibunya,”
“Begitu ya, cepat sembuh untuk ibu dari temanmu.”
“Terimakasih, Clara.”
Mereka berbincang satu sama lain, ‘masih banyak orang-orang baik seperti Riyant di dunia ini, hanya saja mereka langka. Aku bersyukur masih di pertemukan dengan orang yang baik seperti Riyant dan Miki’ pikir Clara.
Mereka menghabiskan makannya dan berpisah di perempatan lorong rumah sakit, Clara ke tempat Riyant sedangkan Miki berjalan keluar, temannya sudah menunggu di luar dan akan pulang.
Sebelum pulang, Miki meminta nomor ponsel Clara, meski awalnya ragu untuk memberikannya, namun Clara tetap memberi nomor ponselnya pada Miki.
__ADS_1
Sesampainya Clara di ruang rawat Riyant, Clara bercerita tentang pertemuannya dengan Miki, meski Clara tahu bahwa Riyant tak akan mendengarnya, tetapi Clara tetap bercerita, baginya hal yang rutin ia lakukan, ia akan menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya ke Riyant yang masih terbaring di ranjang pasien.