
SERANGKAI cerita tergoreskan oleh pena sang waktu. Dalam uraian alkisah yang dinarasikan tinta-tinta nostalgia, teramat dilematis larung dari lembar kehidupan. Cukup rumit.
Ya, cukup rumit.
Ketika dirinya hendak untuk menyalahkan waktu, dan membuat keputusan yang sangat tidak bijak.
"Aku benci laki-laki, jadi menjauhlah."
Dengan tegas, bak prinsip yang terpatri di keningnya.
Barangkali di kala yang tepat, mereka datang. Menyesap tinta, dipulas habis dalam buku harian waktu. Bahkan menjadi alasan tuk mendesak detik menyisakan lebih banyak halaman kosong.
Tolong izinkan mereka bersama lebih lama lagi.
🌻
CKREK!
Bunyi jepret kamera merenggut lamunanku. Shutter dari benda penangkap momen adalah penyebabnya. Kamera seseorang menyadarkan bahwa ternyata aku sedang tidak sendiri.
Kupikir menghabiskan detik yang terbuang di bangku taman sekitar kampus sembari menikmati es krim rasa mint, merupakan adimarga terbaik pelipur jemu. Sedikit jajanan favorit saat musim panas.
Hari-hari terik menusuk tulang seperti ini, lumrah menyaksikan truk penjual es krim keliling punya singgasana di depan kampusku. Sebab taman yang jadi alasan si penjual betah, adalah tempat terelok digandrungi anak-anak kecil. Sangat lucu dan aku suka.
Hei, jangan seenaknya memanggilku bocah. Usiaku menjejaki dua puluh tahun sudah. Tapi, senang sekali menjumpai riang anak-anak kecil tanpa meratapi nelangsa takdir di wajah naifnya yang begitu menikmati waktu.
"Kau fotogenik." Dia bilang. Dia, si pemilik kamera yang tiba-tiba saja menangkap lancang jepretan foto tentangku.
Aku terpaku sejenak beberapa saat sebelum bunyi shutter kembali terdengar. Ini alasanku berhenti mengenyami es krim yang baru saja memberikan ekspektasi begitu besar soal rasa.
Manusia kamera yang tidak kukenal, ia duduk di bangku taman yang sama denganku. Kukatakan dia manusia kamera, sejak kupirsa benda itu yang kerap digenggamnya seakan-akan dia sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Jarak kami di jajaran bangku tidaklah dekat, namun tidak jauh pula. Wajahnya terhalangi kamera, karena itu aku sulit memastikan. Aku hanya bisa menontoni bibir yang merona segar di sana terjilati oleh lidahnya sesekali.
Aku menatapnya tajam. "Kau siapa?"
Tanpa membalas tatapanku, dia mengutak-atik kamera sederhananya. Okay, itu semacam kamera saku kukira. Dan di menit yang sama, misteri wajahnya terkuak. Dari samping kudeskripsikan cukup baik. Hidungnya mancung. Rahang kokohnya terukir tegas. Bulu mata yang kelewat lentik untuk seorang pria muda. Dan singkatnya, dia tampan.
Oh, tidak, sensasi ini lagi. Pundakku terasa bergidik tanpa aku minta. Pasti karena aku pernah kenal roman itu. Atau hal lain, semacam tentang phobia ku mungkin.
Sudah jadi rahasia umum, orang-orang mengenalku sebagai pengidap androphobia. Fobia ini menyiksaku untuk menyempitkan jarak pada kaum Adam ciptaan Tuhan. Sebatas lima puluh senti, sekurangnya aku benar-benar benci dekat-dekat pria. Perlu disinfektan menampi segala perihal mereka. Bahkan aroma mereka tercium sungguh menyesakkan dada.
Hitungan beberapa detik menyeretku pada realita bahwa sejak tadi kami cukup lama berpaut pandang. Dia menatapku dalam, melalui sorot mata eksplisit miliknya. Lalu aku, tertangkap basah olehnya mengawasi cara netra itu memerhatikan. Meremang lagi bagian tengkukku.
"Namaku Kim Taehyung, dari jurusan seni rupa. Kau?" Pemuda ini inisiatif memperkenalkan diri. Saat itu aku tergugah.
Jurusan yang sama denganku.
Ya Tuhan, segitu kurangnya sensitivitasku terhadap sekitar. Wajar formasi mukanya seolah tak lagi asing.
"Yoon Sara, jurusan seni rupa," jawabku ringkas.
Binar dari kilau mata yang meniti foto-foto hasil tangkapannya membuatku benci. Jiwa positif berkoar-koar dari caranya menata senyum dan menghidupkan angin musim panas. Secara paradoks mematikan seleraku yang menyelimuti es krim beberapa waktu lalu, sial. "Pergilah, kau menghancurkan moodku."
Mengapa aku begitu haus melunturkan evaluasi yang bagus-bagus mengenai pancaran auranya itu? Aku ingin dia menyerah. Enyahlah dan tinggalkan aku.
"Sebelum aku pergi, kau tidak ingin berteman denganku?" Kembali diarahkannya atensi lugas itu padaku, sekaligus rentangan kelima jari berharap dijawat. Heran, bersikeras sekali. Seharusnya dia tahu juluran tangannya mustahil disambut bahkan demi sepersekian detik pun.
"Kau mengganggu, pergilah. Dan hapus fotoku yang kau ambil di kamera itu," pintaku sengaja dengan trik sarkasme. Anggap saja mengusirnya dogmatis.
Dia justru tertawa. Semakin kebingungan aku. Apa, sih? Ada yang salah dengan caraku mengetus, atau memang dia idiot? Terlalu bebal menanggapi perintah orang.
"Ternyata benar, di keningmu itu bertuliskan 'awas aku galak, jangan mencoba-coba mengajakku bicara'," guraunya menunjuk-nunjuk kening sendiri yang terpagari poni kecokelatan. Cengirannya melebar setelah mencibir sekilas. Ukiran senyum yang khas, aku sampai hafal dan mungkin akan terus teringat.
__ADS_1
Tak kusangka cempala mulut berbicara bukan penanding hebat untuk menusuknya. Yang kutahu dari banyak laki-laki, mereka seringkali murka dan langsung saja beranjak setelah mencelaku habis-habisan.
"Ah, aku tahu kau seperti ini untuk mendapat perhatian lelaki, 'kan? Aku tahu itu, dan jangan harap ada laki-laki yang mau dengan wanita sepertimu."
Itu salah satu contoh.
Delikan runcing lebih kuharapkan bisa menakutinya. Netra kami berjumpa. Kucermati dirinya dari mata hingga kamera yang masih digenggamnya. "Kubilang pergi atau..."
"Ah!"
Nah, 'kan, lagi-lagi karena pemuda yang mengaku-aku bernama Kim Taehyung di sebelahku. Dia mematahkan ekspektasiku menikmati es krim mint di musim panas dengan tenang. Kalau saja dia tak menyusun dialog bersamaku, es krim mint yang kupegang tidak mungkin harus mencapai titik rapuhnya sekarang. Esnya mencair dan nodanya semena-mena bertengger di permukaan rok lipat kelabu yang kukenakan bersama kemeja putih berlengan sampai siku.
Perasaanku membumi hingga dasar dari yang pernah ada, serius. Ini buruk. Sangat buruk. Setelah ini, aku bersumpah merutuki pertemuan kami dan mengibaratkannya angin laluーtakkan pernah ada. Tolong ingatkan aku.
Bayangkan saja dengan begitu mencoloknya noda es krim mewarnai bagian depan rok dan jadi sedikit lembab. Kalau begini, tiap orang bisa-bisa salah sangka. "Kau...!"
Geramlah aku, tapi satu tindakan membuatku bisu.
Mau jadi sok pahlawan rupanya ia. Kardigan panjang berbahan wol tipis yang dipakainya lepas. Dengan itu, mudahnya dia menutupi noda kentara yang melapisi rok lipatku. Sial, tengkukku bergidik lagi. Gemetaran rasanya. Bagaimana ini? Bahkan aku tak berani menggerakkan tubuh barang seinci pun. Beku saja sudah, mematung bak orang dungu.
"Kalau kau kembali ke kampus, atur rokmu agar noda itu terletak di belakang, lalu pakailah kardiganku. Sepertinya ukuran itu cukup besar bila kau yang memakainya."
Usai mengatakannya, pria muda pengampu nama Kim Taehyung bangkit dari bangku taman serupa yang kududuki. Sebelum beringsut pergi, dia menyempatkan diri menoleh ke arahku melempar senyum yang kerap tersungging di bibirnya laksana tato. "Mari kita makan es krim bersama lain waktu."
Lantas sosoknya seakan termakan angin musim panas, raib setelah mengecil bentuknya yang semakin jauh memasuki kampus. Tatapanku beralih ke arah kardigan karamel yang kini terkapar di pangkuan seorang pengidap androphobia. Aku bisa mencium aroma parfum menyengat tipikal arjuna, dan itu benar-benar memuakkan.
"Tenang, Sara. Kau bisa mencuci rokmu dan menyemprot kulitmu dengan disinfektan. Tenang, ini bisa di atasi," gumamku bersama pretensi untuk dapat kembali menenangkan diri. Nafasku terengah-engah, mencoba memperbaiki respirasi agar bekerja sesuai tugasnya. Aneh, padahal aku tidak sedang berletih-letih. Hanya saja terlalu lelah menyimpan fobia ini lama-lama.
Jantungku berdegup tidak teratur saking takutnya. Dahsyatnya afeksi yang menikam lantaran serpihan-serpihan alasan fobiaku terjangkit sejak beberapa tahun silam, kembali menyerangku tanpa ampun. Aku benci.
Terlepas dari itu semua, sepertinya aku harus mencatat di jurnal harianku malam ini dan meralat rutukan demi rutukan. Tentang hadirnya sosok pemuda aneh pagi ini yang meminjamkan kardigannya dan mengajakku menikmati es krim bersama suatu hari. Walau aku tahu, mana mungkin terjadi.
__ADS_1
🌻
To Be Continued.