
BRENGSEK.
Nuansa durjana menyakiti prospek seseorang. Rasanya terhunus bilah pedang kelewat sembilu. Ragaku tak kunjung pindah, berontak diatur-atur. Sudah cukup mengiras-iras diri bak manekin, penjual pakaian bahkan takkan mau melirikku yang didera peluh muram. Barangkali tak seapik patung diriku menata sentimen rasa.
Di antara detik paling diam, tanganku mengepal hebat menularkan kelembaban telapak tangan pada sisi jaket yang kusemat.
Pria tidak terlalu tua, kisaran mencapai kepala empat usianya, melancarkan serangan seksual terhadap manusia asing yang tidak kukenal di sofa ruang tamu. Tidak elit.
Rambut dia agak cepak. Kulit bening kemerahan sedikit kebarat-baratan. Darah Eropa mengalir di pembuluh nadinya sebagaimana menjalar di milikku juga. Wajah tidak mirip ayah, namun DNA kami satu rupa. Maksudku dia lelaki yang kupanggil ayah sepanjang dua puluh dua tahun.
Udara ruangan diselangkup bau ragi tercampur sedikit aroma manis raspberry. Rumah Kim bagaikan klub malam tempat para pelacur celam-celum. Sesal membengis merutuki keputusanku pulang jam tujuh malam. Padahal aku bisa buang-buang waktu lebih lama di jembatan Eungbong sambil menangkap momen sejuk riak sungai dan pantulan redup bulannya yang saling cengkerama.
Akal sehat seakan tak mampu menggapai kesadaran, kepalaku terlanjur pening. Pemandangan ini begitu irasional. Dadaku terasa sesak. "Uhuk! Uhuk!"
Secara repetitif, rejang batuk menginterupsi perbuatan nista di poros ruang. Atensi mereka terenggut. Dua-duanya langsung menanggapi keberadaanku kalang kabut.
Batuk meradang parah sampai dadaku benar-benar di puncak perih, lemas raga memerosotkan bahu dan melempar pinggangku sendiri menubruk meja. Aku baru sadar di atas meja berjejer empat-lima botol anggur merah dan dua gelas campuran gin dan tonik. Sial, rumahku bukan bar. Momentum kami menyebabkan guncangan koktail hingga tumpah. Beberapa botol anggur hilang keseimbangan dan pecah membentur lantai. Serpihan kecil melukai punggung kaki, tapi mana peduli.
Sebagaimana yang ditunjukkan roman seorang lagi di sofa memasang kembali piyamanya, ayah mendekatiku takut-takut. "Taehyung, kau baik-baik saja? Batukmu parah."
Kutatap ayah tajam. "Jangan dekati aku."
Malah ayah menyeringai, ditutupi susah payah dengan mengerutkan dahi formalitas berlagak kuatir. Dia dipengaruhi minuman keras. "Hei, bersantailah. Ibumu belum pulang. Minum yang banyak, ayah tidak mau kau..."
"Berhenti memanggil dirimu ayah!"
Kernyit dahi pria tua ini kian tegas, kedua alis tebalnya berjarak tinggal satu senti. Tergantikan muka tanda tanya besar. Entah sampai kapan seringai itu terus bertahan.
"Kau bukan ayahku," gemamku sinis. Geleng-geleng tipis, aku tak habis pikir. Masih selurus ini sorot mataku padanya, dikoyak amarah. "Aku tidak pernah punya ayah penyuka sesama jenis!"
BUG!
Denyut hebat mematri di tulang pipi, kupejamkan mata menikmati rasa yang terjalin. Kepalan tinju itu buat pipiku terasa bengkak sebelah. Kepalan yang kini beringsut meremas bagian depan hoodie yang kukenakan. Emosi kami melanggar, bagai kecelakaan dua kendaraan dari arah berlawanan. Rusaknya teramat payah, ironis.
Dengus tipis yang mengganti gelak tawa buncah, nyeleneh. Tanpa berkawan dengan jemu, sudut netra membidik kerap tertuju ke pria di hadapanku. Lantaran ogah sekali lagi batuk menyusutkan sisi keren Kim Taehyung, aku menarik nafas dalam-dalam bertahan. Seolah banyak kerikil terjerat di celah tenggorokan, suara berat ini semakin parau kedengarannya.
"Jangan pernah menganggap dirimu ayah lagi, aku muak." Turun oktaf intonasi bariton ini kehilangan kekuatan. Mengempas cekau ayah sangar, aku beranjak. Sebentar kulirik orang asing di sofa. Pemuda tiga puluh tahun atau lebih tua, sepertinya imigran, menatapku cemas dari kejauhan. Dasar brengsek.
"Taehyung." Ayah menyeru, sebodo. Mungkin dia geram, sekali lagi namaku terhembus jauh lebih nyaring. Tepat ayah memungkang satu botol anggur merah ke pintu yang baru kubanting. Pria itu kesetanan, bisa jadi karena mabuk.
Kupacu langkah mengarah ke gerbang. Cepat-cepat dan terbakar murka. Gerbang rumah jadi dapat perlakuan serupa manakala pintu utama sebagai sasaran kebencian.
"Pergi kau, Taehyung! Minta bantuan pada temanmu si Jungkook itu! Aku adalah ayahmu! Suatu saat kau akan sadar kau itu sama sepertiku!"
Si tua bangka ternyata menjerit-jerit di depan pagar. Mengamuk dengan muka memerah, menjelma jadi iblis yang nyaris tak suah kutemui sejak rumah Kim punya makna sangkar paling mengerikan. Tidak ada iblis seseram wanita yang mengaku-aku ibu, mengurung anaknya sendiri, bertahun-tahun menutup mata anaknya mengenai kebebasan. Kini terkuak keduanya iblis. Mereka sama saja.
Aku berjanji takkan menggubris sumpah-serapah ayah. Peluh telah membangun markas dalam telungkup jemari yang masih mencengkeram kuat sisi hoodie. Dihias batuk yang kian memarah, tungkai melaju ke pancuran air jernih sekitar taman perumahan, mencuci bersih punggung kaki dan sebelah tangan yang kotor. Iya, ini kotor. Tampaknya darah yang mulai teroksidasi sebelas-dua belas seperti bekas kotoran burung.
Sebelum itu, Jungkook sempat menelepon. Maaf, Kook, mungkin adakalanya buku harian waktu menyediakan sehalaman saja khusus tentangku. Tanpa siapa pun menyelat masuk.
Badanku kepayahan, terus terbatuk-batuk. Ini melelahkan. Benar, melelahkan. Beda umpama sepantasnya Jungkook yang otot lengannya nampak maskulin, sebatas akulah sang mahasiswa biasa pengagum kamera. Tenagaku hanya untuk kamera.
Untuk sekarang, di mana lagi tempat peraduan yang paling layak kupercaya? Tanpa adanya kehadiran iblis.
Sejenak melepas letih, bersandar pada tembok di pinggir jalan sekitar distrik benar-benar nyaman. Manik milikku mengatup rapat. Di sana tiga lamunan menghantuiku bagai mimpi baik.
Lagak-lagu bunga mentari di musim panas, jajanan di Myeongdong, dan wajah kesal Yoon Sara.
🌻
TUNGKAI kaki meniti modus operandi tanpa maksud, limbung. Patron langit malam agaknya suram. Semburat kecil-kecil yang kadang merangkai rasi bintang tampak murung. Mungkin simpati terhadap laju langkahku yang buta tujuan.
Kalau saja malam ini berbuah hujan, barangkali ia berempati.
Dunia mahir sekali merayu penghuninya supaya lebih ranah. Dalam rentang waktu dua puluh empat jam di sela jutaan penduduk Seoul, dihadirkan olehnya satu figur bak renungan baik.
Selira wanita bercelana katun dan mengenakan kaos dilapisi outer kardigan tipis lengan panjang, menggondol dua kantung plastik asak akan subsidi dapur dari sang kasir muda yang tersenyum santun. Toko ritel ini seharusnya ramai pelanggan dilihat tabiat kasir yang hampir setara di supermarket. Setelah kasir membungkuk ramah, gadis itu menuju pintu keluar.
Yoon Sara, bahkan dari sisi sebelah kanannya saja sudah kukenal betul. Tidak tahu naluri yang saling terkait, tapi entah mengapa jiwaku serasa melulu dituntun ke arahnya. Dia yang menggelung surai hitam legam itu bagai punuk unta menyisakan segelintir helai rambut sisa menjuntai di depan telinga, terlalu cakap diabadikan.
Tahu-tahu kamera analog yang kerasan tinggal di saku jaket mulai menghirup udara malam. Potret gadis kesusahan dengan belanjaan penuh sukses menambah galeri film.
"Kau mengikutiku?" Dia bertanya was-was. Air mukanya kisut. Mungkin dia takut atau gelisah. Mana ada perempuan yang sebodo tiba-tiba dihantui jepret kamera terang-terangan.
Sesungguhnya bukan aku yang mengikuti Yoon Sara, namun semesta mengarak takdir agar kita bersua. Sesimpel itu. Tanpa kias maupun analogi, tetap saja sebutan ini ya takdir. Dialah kiriman terindah Tuhan untuk dilema jiwa yang tercabik-cabik.
"Sepertinya itu berat." Aku mengulurkan bantuan terhadap beban penyebab muka itu tergopoh-gopoh dan dia mengelak tangkas. Umpama epidermis kulit seorang Yoon Sara mumpuni dalam mendeteksi raksi manusia. Aku mengurungkan aksi dan tersenyum tipis. "Aku lupa kau tidak semudah itu."
Bagaimana, agar dirinya tetap tinggal dan menemani malam yang sepi. Sekadar waktu ini batinku rasanya dirundung kalut terdasar. Sampai ingin jadi egois saja.
Tidak bisakah kita berbagi pancaran netra pilu itu bersama?
"Tidak mau makan es krim bersamaku malam ini?" Tanpa sadar, jepit kuat jemariku gerenyau menggelimuni pucuk lengan kardigan Yoon Sara. Terlampau kelesah bilamana sosoknya lipur menjauh. Apaan sih aku? Persis bocah SD terlantar. "Apa pun, setelahnya akan kubalas budimu tentang ini."
Memohon-mohon, kenapa juga harus begini? Padahal baru tadi akulah yang mendesak sang waktu menyiapkan halaman kosong teruntukku seorang. Sekarang aku perlu sandingannya.
__ADS_1
Keluar dari toko ritel Sara memapah dua es krim batangan, rasa mint dan raspberry. Wangi raspberry agak memancing trauma, jadi aku pilih mint. Dan di kala yang serupa, aku mencatat hal baru bahwa Yoon Sara pecinta mint. Terbukti dari ekspresi murung semu saat es krim hijau kebiruan beralih empu, seakan tidak terima tapi akhirnya pasrah juga.
Duduk sebelah-menyebelah seraya mengecap es krim, kami di pinggiran toko ritel ibarat anak-anak jalanan. Berjarak setengah meter kira-kira, Yoon Sara rela melawan fobia sesuai rumor demi mendampingi bocah ini main bola salju. Asumsikan sesuka hati bahwa bocah itu aku dan salju adalah segala keegoisan Kim Taehyung.
Kupandang lama suntuknya langit malam. Mungkin dilematisnya sama, sampai redup pendar bintang yang mestinya bertabur semarak.
"Kau suka langit malam?"
Mendadak dia bertanya. Kebetulan mengangkat topik yang ingin kubahas, jauh dari isu temperamental namun begitu sentimental. "Begitulah, rasanya seperti melihat kebebasan. Melakukan apa pun bisa jadi suatu hakikat ketenteraman, tak ada kungkungan maupun konflik. Oh, maksudku, karena matahari tidak ada di waktu malam."
Aku berdalih. Hanya saja barusan terbawa arus. Tetiba bayang-bayang keparat keadaan keluarga Kim mengacaukan romantisme spektrum udara.
"Ayahku bilang," tutur Sara menjejaki arah pandangku dua detik lalu. Saat kudapati dongakan wajahnya menatap langit, di sana kerlingan berwarna terpantulkan. Netra yang baru-baru ini hilang terasa bernyawa di satu waktu. "Matahari terlalu baik, padahal yang dia sinari tidak tahu terima kasih dan menyumpah-serapahi panasnya. Tapi kau bisa lihat, malam ini kita bisa bercakap di luar dan lalu-lalang, semua karena pengaruh cahaya yang dia bagi buat benda-benda langit, bintang juga bulan."
Jujur saja, bisa dikatakan langka menyaksikan Yoon Sara mengoceh sebanyak ini. Komat-kamit bibir itu hampir memicu candu. Bagaimana mungkin perkara matahari jadi terdengar menarik untuk dibahas, dia ajaib.
"Kau dekat dengan ayah?"
Sara mengangguk. "Semuanya sama. Aku punya ayah yang gila memancing di danau Busan, biasanya kalau pulang dia akan memekikkan namaku dan membanggakan hasil tangkapannya yang banyak juga besar. Kadang kami menertawakan bersama mulut ikan yang masih megap-megap.
Lalu, ibuku adalah ibu-ibu eksentrik penggemar pachinko dan game center. Kadang aku benci, tapi tidak juga. Dia hanya mencari kesenangan ibu-ibu pada umumnya, hanya saja konteksnya beda. Bagaimana pun dia tetap ibuku. Keuntungannya juga berimbas ke adik perempuanku yang baru mulai SMP, punya ibu berjiwa muda itu bagai teman."
"Sepertinya menyenangkan. Aku ingin menemui mereka sekali-sekali."
Sara menoleh cepat, alisnya berkerut dan manik runcingnya mendelik keganjalan. Barangkali dia memendam spekulasi lain atas kalimat yang kusampaikan. "Jangan coba-coba."
Akhirnya aku menggelak tawa di tengah dia yang keheranan.
Kehidupan normal, layak, dan sebagaimana adanya. Memiliki keluarga idaman dan gaya hidup biasa saja. "Aku hanya bingung. Sebenarnya apa yang membuatmu kena fobia laki-laki?"
Sebenarnya apa yang membuat netra itu memancarkan pilu meradang?
"..."
Sara langsung mengunci bahasa. Segigit es krim partikel terakhir, dicecapnya. Melempar kemasan es krim beserta tangkainya tepat meloyor ke dalam bak sampah di sisi kiri. Baru dia menjawab lirih, "Tidak tahu."
"Kim Taehyung, ada tempat sekitar Seoul yang ingin kau tuju?" Tahu-tahu namaku disebut. Hobi Sara yang tidak terbantahkan, bertanya tiba-tiba. Aku tak paham asal-usul akar pikirannya.
Senyum lemah membasuh rupa. Lamunan baik akhir-akhir ini yang menjajah relung akal hingga mendesak dijadikan jawaban. "Belakangan aku sering membayangkan banyak jajanan di Myeongdong. Sepertinya aku akan ke sana secepatnya."
"Bersamaku bagaimana? Besok, hari Minggu." Kukira barusan aku berfantasi. Atau aroma raspberry campur gin dan tonik menciptakan euforia. Namun, tatapan serius Sara seolah menamparku keras-keras. Garuk-garuk leher dia, setelah itu. "Anggap saja permintaan maaf lalu-lalu. Aku agak merasa bersalah...tapi oh, bicara apa aku ini? Myeongdong jelas tempat yang ramai, aku mungkin sulit menghadapi..."
"Tidak masalah," celetukku cepat. Jangan sampai dia berubah pikiran, aku mohon. "Kebetulan aku juga bawa teman, kita bisa pergi bersama."
"Teman?"
Setelah agak ragu, lantas Sara sepakat. Meyakininya lumayan sulit. Tentu karena kami lawan jenis. Temanku juga. Tapi, kupegang erat untaian frasa ini bahwa kami akan menjaganya. Nampak tembok yang terbentang luas, sedikit-sedikit bisa kuhancurkan demi Sara. Aku hanya ingin lebih dekat, mencari solusi atas rasa penasaran yang memburu. Sebab Sara sang dara pertama yang teramat bikin nyaman dijahili dan diajak bicara.
Malam semakin larut. Sebagai rekor awal merangkai dialog bersama perempuan terlama, ini patut dihargai.
Kulirik arloji dan tak bisa lama-lama Sara kutawan di area toko ritel. "Lebih baik kau pulang, sudah larut. Tidak ada orang rumah yang kira-kira mencarimu?"
"Oh, benar juga. Dia bisa mati kelaparan." Menyadari belanjaan yang terlantar, Sara terkaget-kaget luar biasa. Aku tidak tahu siapa tepatnya 'dia', yang pasti malam ini cukup menyimpan baik-baik pelbagai ekspresi Sara yang bersembunyi selama di kampus. Sebelum fobia itu menyerang barangkali gadis ini punya sikap bawel alami, tukang marah-marah, dan aktif.
"Kuantar ya."
"Tidak," tolaknya melantas. Dia bangkit dan meregangkan tubuh sejenak. Dua kantung plastik di sisiku yang sejak tadi sebagai perantara bagi jarak yang melintang, diambilnya mandiri.
"Aku bisa bantu bawa barangnya."
"Tidak, Kim Taehyung." Tungkai Sara mulai melaju. "Aku duluan. Kau juga, cepat pulang ke rumah sana. Kameramu butuh istirahat."
Jelas aku menjejaki langkahnya. "Dia sudah nyenyak di saku jaketku."
"Astaga, Kim Taehyung, diam di sini, okay? Jangan mengikutiku...uh, maksudku kalau nanti kau antar aku bagaimana dengan anjing rumah? Anjingku sangat galak." Sara meneruskan perjalanan meninggalkanku.
Bagai robot hasil rekayasa profesor Yoon Sara yang diprogram agar aku tak berdaya. Tak bisa apa-apa kecuali sungguh-sungguh mematung di tempat. Dibalik tudung jaket, aku melirik punggung Sara yang beringsut mengecil. Kita akan bertemu lagi dan berbincang banyak, benar?
"Aku suka anjing, omong-omong!" Mana mungkin dengar. Sara terlanjur belok di pertigaan dekat sana, percuma saja teriak.
Kembali lagi sendirian menduduki pinggiran toko ritel. Begini rasanya sepi yang kulalui bertahun-tahun. Meski masih ada mondar-mandir pelanggan keluar masuk toko ritel, bising kendaraan melapisi jalan, khalayak menyusuri trotoar lalu-lalang, rasa hambar tetap gentayangan. Sesak ibarat dalam kerangkeng.
Waktu kian memberi kuasa terhadap malam. Riuh-rendah kendaraan mulai padam, jalan mulai lengang, kasir santun mulai membereskan kardus-kardus stok barang karena pelanggan yang mulai berkurang. Semakin larut semakin sunyi merongrong.
Sampai awan bergiliran menemani lewat tangis. Gerimis tiba, diikuti hujan. Rintik satu-satu hingga berkerumun memanah tanah Korea.
Gema hujan merampas hening. Kesepian lipur sesaat. Petrikor tercium menenangkan. Kurenggut udara sekitar dalam-dalam melalui indera penciuman, lalu menghelanya perlahan. Segala gundah rasanya terobati.
Tiba-tiba bayangan payung menetap di areaku, waktu mendongakkan kepala sibak payung menaungi bersama wajah seseorang. Dijulurkan sebuah payung lipat dan dia menawarkan teduh.
"Mau ke rumahku?"
Mencorat-coret sehalaman kosong dengan aksara sendiri, kurasa takkan sanggup. Aku butuh pelengkap. Di antara keyakinan yang memudar terhadap cara semesta bekerja, mungkin aku perlu penoreh gelora biar goresan tinta terselesaikan sampai akhir halaman.
"Ja, jangan berasumsi yang aneh-aneh. Kau tadi bilang suka anjing...uhm, jadi mungkin tak masalah meneduh dulu di rumahku. Hanya itu, ingat. Cepat ambil ini."
__ADS_1
Iya, iya. Aku percaya. Senyumku tersurih tanpa pamrih.
Kurentangkan jarak payung lipat dari empunya, berdiri, dan menyibak payung agar berdamping dengan milik Sara. Ternyata saat kami berhadapan, Yoon Sara harus mendongak dan aku mesti agak menundukkan kepala. Diterka-terka beda ukuran tinggi kami kisaran belasan senti barangkali.
"Katanya kau benci laki-laki," candaku, meledek.
Sara mendengus. "Ya, dan aku sangat membencimu."
🌻
LAKI-LAKI dewasa muda, lengkap dengan rahang bulat; mata pemalas; dan kulit sebening artis papan atas, terpaku setelah membuka pintu apartemen. Entah perawatan atau tidak, tapi wajah mulus itu sangat kontradiksi dengan kaos tidur seadanya yang dia pakai. Ditambah apron masih menghinggapi leher dan terikat di pinggangnya.
Mimik tak menyangka-nyangka terlukis dari kedua alis yang mengikis jarak sampai timbul kerutan dahi. Sebagaimana aku pun begitu. Mungkin masing-masing kami dibuat terperangah pada momok yang berkaitan erat tentang Yoon Sara, sehubungan dengan paparan realita.
Pria? Di rumah Yoon Sara?
Atau menurut perspektifnya, pria yang dibawa Yoon Sara ke rumah?
"Namaku Kim Taehyung, 22 tahun, jurusan seni rupa." Aku membungkukkan badan, inisiatif memperkenalkan diri di saat angin sunyi membekali kecanggungan luar biasa.
Orang ini diam saja, cuma arah pandangnya menelanjangiku dari pangkal rambut sampai kaki. Menilik baik-baik. "Dia laki-laki?"
Sepatah kata terbesit penuh curiga. Rasanya aku paham sorot bengis nan sarkas yang diproyeksikan melalui netra pilu Sara, barangkali punya sumber. Kendati premis yang mengatakan Sara dan orang ini cikal bakal satu pabrik belum tentu benar. Hanya asumsi saja.
"Terserah, Kak. Minggirlah, kau menghalangi pintu masuk," celetuk Sara tajam. Sejenak delikan seram tertodong ke arahku yang berupaya di pihak protagonis. "Kau juga, jangan salah sangka. Dia kakak sepupuku, bukan simpanan atau apa pun itulah."
"Aku tak pernah mengira begitu," ralatku, polos. Setidaknya spekulasi yang sejak tadi tertuai dapat konfirmasi jelas. Dan teoriku tidak salah.
Yoon Sara menerobos lengan tangguh kakak sepupunya yang belum kukenal, meninggalkan kami berdua. Sial, auranya seperti sang terdakwa hendak ditangani polisi saat interogasi. Apalagi sorot yang lebih menusuk berhasil mengecutkan hatiku barang sekejab.
"Min Yoongi. Aku hanya terkejut Sara bawa pria setelah sekian lama. Masuklah." Kakak sepupu Sara, Yoongi, masuk lebih dulu. Pintu dibiarkan terbuka menunggu tamu satu lagi mengikuti. Dan di sana udara yang seakan menyempit tetiba agak longgar dan melegakan.
Untungnya sambutan hangat disuguhkan oleh seekor anjing puddle cokelat yang gemas menyalak minta perhatian, peran pemilik rumah terbaik malam ini.
Ternyata mereka benar-benar pelihara anjing, tapi rasanya tidak galak. Sungguh dikotomi, dia anjing manja belaka yang haus belaian. Buktinya bulat hitam mata sang anjing, yang rimbun dikelilingi bulu keriting, terpejam hanyut mereguk kenyaman elusan ujung-ujung jari di sekujur lehernya.
"Kau benar-benar suka anjing ya? Holly kami sepertinya betah." Yoon Sara menyelinap dalam interaksi seorang Kim Taehyung bersama Hollyーbaru saja kucatat namanya.
Aku tertawa saja. "Yah, begitulah."
"Aku baru selesai masak. Temanmu bisa makan di sini juga sekalian." Kakak sepupu Sara sedikit meninggikan volume suara, melepas apronnya, dan beres-beres dapur sebentar. Usai benah-benah, dari sudut dapur kakak sepupu Sara melirikku. Aku tahu dia sama sekali tak bermaksud galak, tapi tatapannya itu sangat mendiskriminasi. "Kau, teman Sara, ganti baju dulu di kamarku."
Memang kurang sopan bertamu dalam keadaan basah kuyup. Yoongi menyampaikan kode melalui kepala mungilnya agar aku menjejakinya. Langkah terburai sembari meniti interior apartemen Min atau Yoon, siapa pun lah. Sepertinya mereka hanya tinggal berdua, dan Sara benar-benar betah? Tidakkah ini agak sakral?
Di kamar, Kak Yoongi menelanjangi lemari. Dia geledah isinya, mencari-cari kaos yang ukurannya pas barangkali. Lagi-lagi edaran pandang tak tahan kusebar ke seluruh ruang. Terlalu tipikal kamar apartemen, hanya saja dindingnya dirajah poster-poster musisi dan band-band lawas. The Beatles, Eminem, Imagine Dragons, Post Malone, dan banyak lagi yang belum kutahui. Hingga kerling seolah menginjak rem tepat pada sebingkai potret lama. Dahiku mengernyit spontan.
Kupikir memang potret lama, karena di sana ada Yoon Sara yang pesona durjanya masih kekanakan. Detail sang foto mendeskripsi tiga remaja dimana pusatnya sosok yang kunilai sebagai Yoon Sara, tersenyum lebar dan lepas. Sepertinya habis saja menertawakan sesuatu, pemanis jepret foto yang hasilnya bagai menyanjungi harga estetika. Di lehernya terlingkar lengan pria bermata sipit dan muka garang yang langsung kukenali sebagai kakak sepupu Yoon Sara. Kesal kentara merundungi pupil mata yang mengarak ke sebelah kanan adiknya.
Di sisi kanan Sara yang kumaksud, ada figur asing yang menarik perhatian. Lantaran ditilik-tilik tak ada kepersisan yang bisa kusandingkan antara sosoknya dengan Sara maupun Min Yoongi. Dia menarik tangan Sara tanpa digubris pemiliknya, tapi yang senewen sepertinya si kakak sepupu. Wajar sosok asing ini terlihat protes ke arah Min Yoongi, mungkin karena terkesan terlalu protektif. Saat itu jepret kamera berharmoni dan satu potret terabadikan.
"Baju ini saja. Nihー" Vokal sayup Kak Yoongi samar-samar tak cukup merenggut titik tuju arah mataku merenung. Hingga bingkai ditelungkup oleh tangannya dan hentakan nyaring langsung menggugah kesadaran. Dia sodorkan sekali lagi pakaiannya. "Nih pakai. Mandi dulu jangan lupa."
"O, oh...iya." Kuterima kaos katun hitam milik Kak Yoongi, lalu beranjak dari kamar tanpa mencungkil rincian adegan masa-masa potret itu diambil.
Alangkah baik diam sebelum memang saatnya aku merasuk lebih jauh ke pelosok latar belakang Yoon Sara. Meskipun penasaran sudah merongrong ganas.
"Punya maksud tertentu mendekati adikku?" Kak Yoongi tiba-tiba bertanya dan aku berbalik cepat. Di sana kakak sepupu Sara memperbaiki bingkai kembali sedia kala, kemudian menatapku penuh selidik. Firasat interogasi sungguh-sungguh terjadi sekarang.
Aku garuk-garuk leher salah tingkah. "Maksud tertentu...yah, mungkin bisa dibilang begitu. Aku suka Sara jadi objek tangkapan kameraku."
"Aku takkan melarang itu, tapi kau tahu Sara..."
"Androphobia?"
Kakak sepupu Sara mengerling lagi ke arah bingkai. Agak sendu di balik katup bibirnya yang menyimpan banyak misteri.
"Fotonya seperti mengandung nostalgia yang hangat betul," celetukku benar-benar payah dalam mengekang rasa ingin tahu. Takkan berkesudahan jiwa ini merongrong pemahaman berbagai perihal Yoon Sara.
Min Yoongi menarik diri memutuskan merapikan lemari yang telah dibongkarnya tadi. Hening melanda, namun ragaku terasa berat melangkah. Naluri meraba suasana yang teramat tanggung. Seakan masih ada kalimat yang belum usai.
"Kalau Sara tahu aku masih pajang fotonya, bisa kambuh berminggu-minggu."
Hah? Terlalu mendadak dan sekelebat. Diksi Kak Yoongi laksana hembusan angin di pulau Jeju, mendengarnya saja raga seolah membeku. "Ada hubungannya dengan laki-laki di foto?"
"Dia temanku, temannya."
Astaga, lidahku umpama terpelintir sejenak. Dirundung pilihan antara meneruskan kemelitan atau berhenti mencampuri. Maaf, Kak, tampaknya kuriositasku menang.
"Penye..."
"Iya, penyebab Sara kena fobia. Namanya Park Jimin."
Lemari pakaian yang telah apik ditutup Kak Yoongi, dia paripurnakan keraguan analisa yang nyaris melintas.
🌻
__ADS_1
To Be Continued.