
Setelah cukup merasa tenang, Mama Rita langsung melajukan mobilnya ke rumah Rangga. di jalan pikirannya sudah kalut, mengetahui kalau anaknya sendiri bisa berani bertindak sejauh itu.
Sekitar setengah jam kemudian, Rangga mendengar suara bel berbunyi dan langsung bergegas membuka pintu. sambil meniupkan terompet, dengan santainya Rangga menyapa orang yang ada di depan pintu.
"Surprise ! selamat ulang...." Rangga kaget melihat yang datang bukan Tania.
"Mama !" kata Rangga.
Tanpa berbicara sepatah katapun, Mama Rita langsung menerobos masuk dan duduk di sofa dengan raut wajah yang sangat kecewa.
"Duduklah Rangga, ada hal penting yang ingin Mama tanyakan sama kamu. Mama harap kamu bisa menjelaskan semuanya dengan jujur pada Mama." kata Mama Rita dengan tegas.
"Ada apa Ma? katakan saja !" jawab Rangga.
"Apa benar yang dikatakan Tania, kalau pernikahan yang kalian jalani sekarang adalah pernikahan kontrak? katakan Rangga !" Mama Rita menatap tajam Rangga.
"Mana mungkin Tania mengatakan itu semua, mungkin Mama hanya salah dengar." bela Rangga berusaha menutupi kebohongannya.
Di depan mamanya, Rangga berusaha bersikap setenang mungkin. meski dalam hati pikirannya sudah kalang kabut antara marah, kecewa, emosi, sudah menyelimuti perasaannya.
"Apa kamu masih akan terus berbohong, setelah Mama berbicara begini? kamu anggap apa Mama ini Rangga?" ucap mama Rita berusaha menahan air matanya.
"Lihat Mama Rangga !" bentak Mama Rita.
Sementara Rangga sudah bingung, mau mengatakan apa lagi. Rangga hanya tertunduk, tidak berani menatap wajah Mamanya sendiri karena merasa sangat bersalah.
"Rangga ! apa kamu dengar Mama bicara? Mama tidak pernah menyangka, bisa melahirkan putra seperti kamu. Mama sangat kecewa sama kamu Rangga !" setelah membentak Rangga, Mama Rita merasa tidak sanggup lagi membendung air matanya.
"Maafkan Rangga Ma..." ucap Rangga datar.
"Mama sungguh tulus menyayangi Tania seperti putri Mama sendiri, kenapa kalian sampai tega mengecewakan Mama begini?" kata Mama Rita sambil mengusap air matanya sendiri.
Sementara di depan pintu, Tania baru saja kembali dari rumah Melly.
"Aku pulang ! Rangga apa mama juga datang ke sini?" teriak Tania di depan pintu.
__ADS_1
Setelah berada di ruang tamu, Tania merasa gugup melihat Mama Rita sudah berdiri di depan sofa dengan tatapan yang berbeda terhadapnya.
"Apa Mama masih marah karena kejadian di cafe kemarin? dari wajahnya Mama terlihat sangat membenciku sekarang !" batin Tania masih tidak menyadari keadaan.
"Kapan Mama datang? maaf tadi aku habis dari rumah sepupuku Ma." ucap Tania berusaha menyapa Mama Rita.
"Cukup Tania hentikan sandiwara kamu !" ucap Mama Rita dengan tegas.
Tania terperanjat mendengar apa yang dikatakan Mama Rita barusan. Tania tidak menyangka kalau masalah kemarin, sudah membuat Mama Rita semarah ini. sementara Rangga tanpa menghiraukan Tania sedikitpun, dia hanya menunduk diam di sofa.
"Rangga dengarkan Mama, akhirilah pernikahan kalian secepat mungkin. Mama tidak mau kebohongan ini terus berlanjut, di depan Papa dan Nenek kamu." ucap Mama Rita menatap Tania sebentar dan berlalu pergi begitu saja.
Setelah mendengar kata-kata itu, Tania panik dan langsung mengejar mama Rita keluar pintu.
"Ma jangan pergi, tolong dengarkan penjelasan Tania dulu Ma." Tania terisak menangis sambil menahan tangan Mama Rita membuka pintu mobilnya.
"Lepaskan tangan Mama Tania ! Mama tidak mau mendengar penjelasan apapun lagi dari kamu !" ucap Mama Rita menepis tangan Tania.
"Ma maafkan aku, apa yang Mama lihat tidak seperti yang Mama pikirkan. aku mohon maafkan aku Ma..." ucap Tania sambil terduduk bersimpuh di depan kaki Mama Rita.
"Maafkan Tania Ma, Tania mohon.." Tania masih terisak menangis di depan kaki Mama Rita.
Sementara Mama Rita hanya bisa terdiam dan ikut menangis melihat Tania masih terus menahan langkahnya.
"Berdirilah !" ucap mama Rita datar.
Tania langsung berdiri dan menghapus air matanya mendengar ucapan mama Rita.
"Mama tidak habis pikir, bagaimana bisa kalian memaknai pernikahan serendah itu? kamu bilang semuanya hanya pernikahan kontrak? Mama merasa sangat terpukul mendengar kata-kata itu Tania." kata Mama Rita tanpa menatap kearah Tania.
Mendengar kata pernikahan kontrak yang di ucapkan Mama Rita barusan semakin membuat Tania merasa tertampar, tubuhnya lemas dan kaku. karena merasa sangat terkejut, Tania bahkan bingung harus berbicara apa lagi.
"Sekarang biarkan Mama pergi ! kamu tidak perlu meminta maaf lagi, karena semuanya sudah terjadi." kata Mama Rita sambil melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Tania hanya bisa terdiam dan menangis sesenggukan di depan pagar rumah Rangga. sedangkan perasaan Rangga juga sama hancurnya dengan Tania. mereka tidak menyangka, kalau semuanya akan berakhir seburuk ini.
__ADS_1
Cukup lama Tania dan Rangga menyesali kesalahannya masing-masing. melihat hari semakin beranjak malam, Tania langsung masuk ke dalam rumah dengan langkah goyahnya.
"Rangga maaf..." belum selesai Tania menyelesaikan ucapannya, Rangga langsung memotong ucapannya.
"Berhentilah meminta maaf, aku muak mendengarnya !" Rangga menatap Tania dengan penuh kebencian.
Tania hanya terdiam, dia bisa memahami perasaan Rangga sekarang. meski dalam hati Tania masih bertanya-tanya, bagaimana Mama Rita bisa mengetahui semuanya.
Di kamarnya Rangga langsung menghempaskan semua barang dengan segenap emosinya. dia kesal dengan dirinya sendiri dan merasa tidak habis pikir dengan apa yang sudah Tania lakukan hari ini.
Saat hendak minum di dapur, tidak sengaja Tania melihat sepercik cahaya lampu di belakang taman.
"Apa dia mengerjakan semua ini sendiriran? dari mana dia tahu kalau hari ini ulang tahunku?" ucap Tania setelah melihat semuanya di belakang taman.
Dengan sepenuh hati Rangga menghiasnya, untuk membuat kejutan pada Tania. akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, justru dia yang diberi kejutan oleh Tania atas kejadian malam ini.
"Maafkan aku Rangga, maaf sudah melukai perasaan Mama kamu. aku tidak mengerti, bagaimana Mama kamu bisa mengetahui semuanya begitu saja." Tania kembali menangis di belakang taman.
Tania merasa sangat bersalah atas apa yang sudah terjadi hari ini, sambil menangkupkan kedua tangannya Tania menangis tanpa henti. hingga tanpa sadar kalau malam ini, Tania menangis sambil tertidur di bangku taman.
Saat pagi tiba, Rangga sengaja bangun lebih awal hari ini karena semalam Rangga tidak bisa tertidur dengan nyenyak. sambil minum Rangga menatap ke belakang taman dan langsung teringat hiasan di belakang taman yang dilakukannya kemarin.
"Apa dia bodoh, kenapa sampai tertidur di tempat ini?" umpat Rangga setelah melihat Tania tertidur dengan nyenyaknya di bangku taman.
Tanpa membangunkan Tania di sana, Rangga malah pergi keluar rumah untuk melakukan olahraga pagi. namun saat pulang, Rangga kaget melihat Tania masih belum bangun padahal hari sudah beranjak siang.
"Hei bangunlah !" Rangga menyenggol kaki Tania untuk membangunkannya.
Namun berapa kali Rangga menyenggol kaki Tania, yang di bangunkan malah tak kunjung sadar. merasa panik akhirnya Rangga memeriksa kening Tania.
"Panas sekali ! apa dia demam sekarang?" Rangga kaget setelah menyentuh wajah Tania yang tampak panas.
Melihat badan Tania sangat panas, Rangga langsung mengangkat Tania masuk ke dalam rumah. setelah merebahkan Tania di kamarnya, Rangga bergegas mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres kening Tania.
Hampir seharian Rangga merawat Tania dengan baik, meski kondisi Tania belum terlalu sadar namun demamnya sudah cukup menurun.
__ADS_1