
Ketika sudah masuk ke dalam rumah Tania, mereka pun duduk saling berhadapan di kursi tamu. Tania hanya menunduk diam lantaran sudah merasa was-was mendengar apa yang akan di katakan Mama Rita nanti.
Sambil menatap Tania, Mama Rita memulai percakapan basa basinya.
"Apa kamu sudah lama bekerja di tempat Rangga?" tanya Mama Rita
"Belum terlalu lama bu" jawab Tania
"Oh Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Rangga?" tanya Mama Rita
"Hah? aku dan Rangga tidak ada hubungan apapun bu serius. aku hanya pegawai di tokonya tidak lebih dari itu" jawab Tania
"Sampai kapan kalian akan terus berbohong, sementara nenek Rangga sudah dua kali memergoki kalian berdua di kamar Rangga" ucap Mama Rita dengan suara yang lembut
"Sungguh bu, kebenarannya tidak seperti yang nenek lihat kemarin" Tania berusaha meyakinkan Mama Rita
"Kamu dan Rangga ini sama saja. terlepas dari itu, walau bagaimanapun kalian sudah melakukan perbuatan yang salah" tegas Mama Rita
Tania tidak bisa menyangkal, yang di katakan Mama Rita juga ada benarnya.
"Masalah kalian mau mengakuinya atau tidak itu terserah, tapi Ibu minta kamu dan Rangga bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah kalian perbuat. akibat kecerobohan kalian, neneknya Rangga sampai di rawat di rumah sakit sekarang" ucap Mama Rita
"Aku minta maaf bu mengenai itu" ucap Tania merasa bersalah
"Sudahlah yang terpenting sekarang adalah kesehatan nenek Rangga, apa Rangga sudah bicara tentang pernikahan dengan kamu?" tanya Mama Rita
Tania terperanjat ketika Mama Rita mengucapkan kata pernikahan. Tania jadi ingat masalah pertengkarannya kemarin dengan Rangga.
"Nenek Rangga meminta kalian untuk segera menikah, entah kalian menyetujuinya atau tidak. kalau kalian menolak, Ibu takut terjadi apa-apa dengan nenek Rangga" jelas Mama Rita mengatakan yang seadanya
"Kondisi nenek Rangga sekarang semakin buruk, ibu berharap kamu bisa memahami itu Tania" ucap Mama Rita
"Maaf ibu tapi Tania tidak bisa" jawab Tania
"Maksud kamu? bersikaplah dewasa, tolong pikirkan keadaan nenek Rangga. kalau bukan karena ulah kalian tidak mungkin semuanya akan berakhir begini Tania" ucap Mama Rangga mendengar penolakan Tania
"Kalian ini kan sudah dewasa, lain kali berfikir dulu sebelum bertindak. kalau Orang tua kamu tahu masalah ini, mungkin mereka juga akan bertindak sama seperti yang kami lakukan sekarang" Mama Rita mengungkit kejadian kemarin
Melihat Mama Rita sudah berbicara sejauh itu, membuat Tania merasa sangat bersalah. tapi harus terjebak pada pernikahan yang konyol ini juga tidak mungkin.
"Bersiaplah, Ibu tunggu di mobil. Papa Rangga ingin bertemu dengan kamu" ucap Mama Rita sembari berdiri dari tempat duduknya
"Hah? tapi bu..." belum selesai Tania bicara Mama Rita sudah melangkah ke arah pintu
Tania merasa sangat panik dan bingung karena tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak ucapan Mama Rita. Akhirnya Tania buru-buru berganti pakaian dan merapikan penampilannya.
Sementara di rumah, Papa Hermawan juga menyuruh Rangga pulang. mendengar nama Tania di sebut, akhirnya Rangga terpaksa menuruti perintah Papanya.
Tidak lama kemudian, mereka sudah berkumpul di ruang tamu. termasuk Rangga dan Tania juga sudah ada di sana.
"Baguslah sekarang kalian sudah ada di sini" ucap Papa Hermawan sambil menatap Tania
"Kurasa kalian sudah mengerti, kenapa aku memanggil kalian ke sini?" tanya Papa Hermawan
__ADS_1
Cukup lama mereka mengobrol, karena waktu sudah beranjak siang akhirnya Mama Rita mengajak Tania untuk makan bersama.
"Setelah ini ayo kita pergi ke rumah sakit untuk menjemput nenek kamu Rangga, sekalian ajak Tania" perintah Papa Hermawan di meja makan
Rangga dan Tania hanya diam saat Papa Hermawan berbicara. mereka sedang berkelut dengan pikirannya masing-masing.
"Apa nenek Rangga sudah boleh pulang Pa?" tanya Mama Rita menanggapi ucapan Papa Hermawan
"Pagi tadi Dokter Gunawan kasih kabar, saat Mama sedang keluar. katanya kondisi nenek Rangga sekarang sudah cukup membaik" jawab Papa Hermawan
"Syukurlah Pa, mendengar Rangga akan menikah mungkin itu juga membawa pengaruh pada kesehatannya" ujar Mama Rita
Tania tiba-tiba tersendat saat makan karena mendengar ucapan Mama Rita barusan. Mama Rita langsung sigap memberikan minum untuk Tania.
"Makanlah pelan-pelan, Apa kamu menyukai makanan ini? makanlah yang banyak jangan sungkan" Mama Rita sambil meletakkan makanan di piring Tania
"Iya bu biar Tania ambil sendiri, makanannya enak" Tania berusaha memaksakan senyum walaupun pikirannya sekarang sudah mengambang entah di mana
Selesai makan siang, mereka bergegas berangkat menjemput nenek Amirah. dan hal yang paling menyebalkan bagi Tania sekarang adalah terpaksa satu mobil dengan Rangga.
"Selesai menjemput nenek nanti, ikut aku sebentar ada yang ingin aku bicarakan" ucap Rangga sambil menyetir mobil
Tania hanya mengabaikan ucapan Rangga, lantaran masih kesal dengan sikap Rangga kemarin.
Sampai di rumah sakit, mereka langsung berkemas merapikan semua barang yang akan di bawah pulang. nenek Amirah kaget ternyata Tania juga ikut menjemputnya. ketika bik siti sudah bersiap membawa barang nenek Amirah, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Suruh sih pegawai saja yang membawa barang itu ke mobil" perintah nenek Amirah
"Hei pegawai apa kamu tidak dengar, aku menyuruh kamu membawa barang-barangku?" nenek Amirah kesal melihat Tania hanya diam saja tanpa menjawab ucapannya
Mama Rita hanya geleng-geleng kepala melihat sikap mertuanya, yang menurutnya kadang sedikit kasar.
"Hah? iya nek akan Tania bawakan" jawab Tania bergegas membawa barangnya
"Padahal habis sakit, tapi sikap menyebalkan nenek ini masih tidak berubah" Tania menggerutu sepanjang keluar dari rumah sakit
Sementara Rangga hanya tersenyum melihat Tania yang merasa keberatan membawa barang neneknya.
"Hei pembuat masalah, apa kamu perlu bantuan?" ejek Rangga sambil berbicara pelan takut di dengar orang tuanya
"Tidak perlu, minggir sana ! " Tania jengkel melihat Rangga masih terus mengatainya pembuat masalah
Setelah sampai di rumah, nenek Amirah menyuruh Tania meletakkan pakaiannya di kamar. sepanjang menaiki anak tangga lantai atas, Tania sibuk menggerutu karena sikap nenek Rangga.
"Ma kami sudah bicara masalah pernikahan mereka pagi tadi, mungkin dalam minggu ini akan segera di laksanakan" ucap Mama Rita di kursi tamu
"Baguslah, urus segera pernikahan mereka. aku tidak mau lagi melihat mereka terus melakukan hal buruk seperti waktu itu" tegas nenek Amirah
"Eh Tania duduklah di sini, ada yang ingin kami tanyakan sama kamu" ucap Mama Rita melihat Tania yang baru turun dari lantai atas
"Sudahlah Ma, nanti saja. aku dan Tania langsung pulang karena ada urusan penting yang harus kami lakukan" jawab Rangga sembari keluar dari ruangan kerja Papanya.
"Syukurlah aku bisa segera pergi dari sini" batin Tania mendengar ucapan Rangga
__ADS_1
"Ibu, nenek, Tania pamit pulang dulu" ucap Tania langsung berdiri dari tempat duduknya
"Ya sudah, hati-hati di jalan. terima kasih untuk hari ini, maaf kalau ucapan ibu pagi tadi sudah membuat kamu tersinggung" ucap Mama Rita sembari mengantar Tania di depan pintu
"Iya bu tidak apa-apa" Tania tersenyum ramah melihat perlakuan Mama Rita yang begitu sopan
Rangga membunyikan klakson mobilnya, karena kesal melihat Tania lama sekali masuk ke dalam mobil. sementara Mama Rita terperanjat melihat kelakuan anaknya sendiri.
"Sikap kamu itu benar-benar beda sekali dengan Mama kamu Rangga" Tania menyindir Rangga setelah masuk ke dalam mobil
"Jangan suka membandingkan hidup orang" jawab Rangga
"Aku hanya berbicara kenyataan" ucap Tania
"Berhentilah bicara, aku tidak mau berdebat dengan kamu hari ini. urusanku masih banyak" ucap Rangga yang mulai kesal dengan sikap Tania
Tidak lama kemudian mobil berhenti di sebuah Cafe, tempat di mana mereka pernah bertemu kemarin.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Tania setelah ada di dalam Cafe
"Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengan menikahimu" ucap Rangga
"Kamu pikir aku mau, membayangkannya saja sudah membuatku merasa sesak" balas Tania
"Baguslah, ayo kita buat surat perjanjian" saran Rangga
"Maksud kamu?" Tania tidak mengerti
"Kita akan tetap menikah tapi hanya satu tahun, selama itu juga aku akan berusaha meyakinkan nenekku untuk bercerai dengan kamu" ucap Rangga datar
"Apa? dengar ya, kamu pikir aku ini barang yang bisa kamu perlakukan seenaknya. kamu terlalu egois Rangga, aku menikah juga membawa nama baik keluargaku. tidak bisa asal nikah dan langsung cerai begitu saja" Mendengar ucapan Rangga, Tania langsung emosi
"Karena itu kamu tidak perlu melibatkan keluarga kamu dalam pernikahan ini" jawab Rangga santai
"Apa kamu sudah tidak waras?" ucap Tania
"Aku serius, aku akan menyewa orang tua palsu untuk kamu di acara pernikahan kita nanti. kamu hanya perlu melakukan sandiwara itu sebaik mungkin.." tegas Rangga
"Apa kamu tidak berfikir, dalam hal ini aku adalah orang yang paling di rugikan atas semua rencana kamu" sambung Tania
"Aku punya rumah di RESORT GARDEN, sebagai jaminannya ambillah rumah itu setelah kita berpisah nanti" ucap Rangga ragu
Tania terperangah ketika Rangga mengucapkan kata-kata itu. apalagi mendengar kata rumah, Tania selalu bermimpi bisa punya rumah sendiri setelah dewasa.
"Ya tuhan RESORT GARDEN itukan salah satu perumahan elit di kota ini, tidak bisa kubayangkan kalau aku punya rumah atas namaku sendiri di sana" batin Tania yang mulai berkhayal
"Cepatlah, apa keputusan kamu?" ucap Rangga melihat Tania melamun
"Haruskah aku terima tawaran Rangga? tapi ini menyangkut pernikahan. sadar Tania, sadar...tapi... rumah impianku...." batin Tania merasa ragu
"Pikirkanlah baik-baik, satu tahun bukanlah waktu yang lama. di samping itu juga kamu bisa memiliki rumah sendiri dengan cuma-cuma. perlu kamu tahu, aku menghabiskan biaya milyaran rupiah untuk membangun rumah itu Tania. anggap saja itu ganti rugiku karena sudah melibatkan kamu sejauh ini" ucap Rangga berterus terang
Tidak bisa di pungkiri karena mendengar kata rumah, hampir membuat Tania tergoda dengan tawaran Rangga . pikirnya apa yang di katakan Rangga juga ada benarnya. cukup lama Tania terdiam untuk memikirkan keputusannya. sementara untuk menghindari pernikahan ini, Tania jadi teringat apa yang di katakan Mama Rita di rumahnya pagi tadi mengenai nenek Amirah.
__ADS_1