The Reason

The Reason
Part 19


__ADS_3

Dengan perasaan malas pagi ini Tania terpaksa pulang ke rumah Rangga. sedangkan Rangga di rumahnya malah tidak tahu sama sekali kalau Mama dan neneknya akan datang siang ini.


Pagi ini Rangga terpaksa membersihkan seluruh ruangan di rumahnya dan memasak lantaran Tania sudah pergi. selesai membereskan semunya, Rangga merasa kelelahan dan langsung duduk di sofa. sambil bersandar di sofa, pikiran Rangga masih teringat dengan Tania atas kejadian kemarin.


Sementara Tania melihat pintu rumah Rangga tidak di kunci, Tania langsung memutuskan masuk ke dalam tanpa membunyikan bel rumah terlebih dahulu. dengan wajah yang cuek Tania melangkah ke dapur melewati Rangga yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Sambil minum Tania menggerutu di dalam hati karena merasa kesal dengan tindakannya sendiri, pulang ke rumah Rangga pagi ini. melihat Tania pulang ke rumahnya, Rangga langsung kaget.


"Hei kenapa kamu pulang lagi ke rumah ini?" tanya Rangga mengikuti Tania ke dapur


"Sudahlah Rangga itu tidak penting sekarang." ucap Tania sambil meletakkan gelasnya di meja


"Maksud kamu?" ucap Rangga


"Mama dan nenek kamu akan ke rumah siang ini." jelas Tania


"Apa?" Rangga kaget


"Harusnya kamu bersyukur aku masih mau pulang dan peduli dengan keluarga kamu." ucap Tania


Mendengar yang Tania katakan, Rangga langsung terdiam.


"Apa kamu yang memasak makanan ini? baunya harum sekali." puji Tania melihat makanan yang ada di meja


"Baiklah karena Mama dan nenekku akan ke rumah siang ini, tolong kamu bersihkan seluruh ruangan rumah dengan rapi. jangan lupa kaca-kaca di rumah ini harus di lap dengan bersih." perintah Rangga


Rangga sengaja menyuruh Tania membersihkan ulang rumahnya karena ingin mengerjai Tania. mengingat kejadian kemarin, Rangga masih kesal dengan ulah Tania yang menggigit tangannya.


"Iya baiklah." ucap Tania


"Makanan ini punyaku, kalau mau makan masak sendiri." ucap Rangga langsung naik ke lantai atas


Mendengar ucapan itu Tania kesal, padahal baru saja Tania mau mengambil nasi untuk makan. akhirnya Tania memutuskan untuk masak sendiri dan buru-buru membersihkan rumahnya.


Di kamarnya Rangga tersenyum bangga karena Tania pulang lagi. berhubung pekerjaan di Restonya sudah menumpuk sekarang, akhirnya Rangga bergegas mandi karena akan segera pergi ke Restonya pagi ini. selesai mandi Rangga langsung turun dan memeriksa pekerjaan Tania.


"Hei Tania tolong bersihkan semuanya dengan benar ya, lihat di tangga ini masih ada debu." ucap Rangga


"Mana? perasaan sudah aku lap dengan bersih tadi." Tania mendekat ke arah tangga


"Kamu tidak lihat ini?" Rangga sambil mengusap debunya di tangga


"Ya ampun debu sedikit begitu saja sudah ribut, iya akan ku bersihkan. minggir !" ucap Tania langsung membersihkan ulang tangganya.


Diam-diam Rangga tersenyum dan merasa seru juga bisa mengerjai Tania hari ini.


"Tania kalau menyapu, karpet ini di sofa harus di angkat. pasti banyak debu di bawahnya." teriak Rangga di ruang tamu


"Apalagi sih? cerewet sekali" batin Tania merasa terganggu memdengar suara Rangga


Tania menghentikan aktifitasnya dan langsung pergi ke arah suara yang tidak berhenti memanggilnya sedari tadi.


"Ada apa lagi Rangga?" ucap Tania


"Lihat di bawah karpet ini banyak debunya Tania, cepat kamu bersihkan !" perintah Rangga


"Apa? kamu gila ya Rangga, kalaupun Mama kamu datang ke sini, dia tidak akan memeriksa debunya di bawah karpet itu." ucap Tania


"Aku tidak mau tahu, pokoknya seluruh ruangan ini harus di bersihkan dengan detail. cepat angkat karpetnya, kamu harus menghilangkan semua debu itu." ucap Rangga.


Dengan perasaan jengkel, akhirnya Tania menuruti perintah Rangga untuk membersihkan semua debu di bawah karpet itu.


"Bersihkan dengan benar, aku mau pergi dulu." ucap Rangga sambil tersenyum penuh kemenangan


"Mama kamu akan datang, kenapa kamu malah mau pergi?" tanya Tania


"Aku banyak kerjaan di toko, saat Mama dan nenekku datang nanti bilang saja aku sedang sibuk." ucap Rangga


"Bagus juga kalau dia pergi, aku tidak perlu mendengar omelannya lagi" batin Tania


"Iya baiklah, akan ku sampaikan nanti" ucap Tania sambil tersenyum melihat Rangga sudah melangkah keluar pintu.

__ADS_1


Ketika Rangga sudah benar-benar pergi, Tania langsung menghentikan kegiatannya untuk beristirahat sejenak. betapa tidak, membersihkan rumah sebesar itu memang cukup menguras tenaga kalau di lakukan sendirian.


Saat di jalan Rangga tidak sengaja melewati rumah sakit di mana Anisa di rawat kemarin, karena penasaran akhirnya Rangga memutuskan untuk memeriksanya di sana. sampai di rumah sakit Rangga termenung di dekat kaca ruangan kamar, di mana Anisa di rawat. akhirnya lama berfikir, Rangga memutuskan untuk masuk menemui Anisa.


"Hai, maaf baru bisa datang" ucap Rangga datar


"Rangga, akhirnya kamu datang juga." Anisa tersenyum


"Apa selama di rumah sakit keluarga kamu tidak datang?" tanya Rangga melihat ruangannya sepi


"Aku sengaja tidak mau memberitahu mereka, tidak perlu khawatir ada asistenku yang menemaniku. hanya saja sekarang dia sedang keluar membeli makan" ucap Anisa


"Oh syukurlah." jawab Rangga


"Lagian aku juga hanya sakit biasa Rangga, darah rendah seperti dulu." ujar Anisa


"Jaga kesehatan, jangan sering sakit." ucap Rangga


"Iya terima kasih Rangga, Tania mana? kamu tidak mengundangku di acara pernikahan kalian kemarin." ucap Anisa berpura-pura tersenyum


"Oh Maaf tidak sempat mengundang kamu kemarin. boleh aku bertanya?" ucap Rangga


"Katakanlah." jawab Anisa


"Apa pria yang bersama kamu, di acara pernikahan Tama kemarin adalah pacarmu?" tanya Rangga ragu


"Oh Dody, dia rekan kerjaku. apa kamu cemburu?" tanya Anisa santai


"Iya aku cemburu." ucap Rangga menatap tajam Anisa


Anisa tertegun mendengar Rangga mengucapkannya dengan serius, padahal Anisa hanya bergurau.


"Sudahlah lupakan, tidak penting juga toh sekarang kamu sudah menikah Rangga." ucap sambil menatap ke arah jendela


Akhirnya mereka mengobrol tanpa ada perasaan canggung sama sekali, ketika mengenang masa-masa sekolah dulu. hingga saling menceritakan kejadian yang lucu di masa itu. mereka pun sama-sama tertawa.


Dalam hati Rangga tidak menyangka melihat dirinya sekarang bisa kembali menyapa Anisa dengan senyaman itu. tidak lama kemudian Rangga pamit pulang mengingat banyak sekali pekerjaannya yang sudah menumpuk di Resto. di jalan Rangga masih memikirkan Anisa, Mendengar penjelasannya tadi entah kenapa Rangga merasa menyesal dulu tidak memberi Anisa kesempatan untuk memperbaiki kesalahan hanya karena egonya sendiri.


Siangnya bel rumah berbunyi, Tania langsung bergegas membuka pintu dan tersenyum seramah mungkin. Mama dan Nenek Rangga langsung masuk dan duduk di sofa.


"Ke mana Rangga?" tanya Mama Rita melihat hanya ada Tania sendiri di hadapannya


"Rangga sedang banyak kerjaan di Resto katanya Ma, jadi tidak bisa pulang siang ini." jawab Tania


"Anak itu setelah menikah, jadi semakin jarang menemui Mamanya." keluh Mama Rita kecewa melihat Rangga tidak ada di rumah


"Kalian ini setelah pulang jalan-jalan kemarin, tidak mampir ke rumah lagi." ucap Mama Rita


"Apa harus kami terus yang menemui kalian?" Celetuk Nenek Amirah sambil berkipas


"Bukan begitu Nek, kami belum sempat datang karena Rangga sedang sibuk dengan pekerjaannya sekarang." jawab Tania terpaksa membawa nama Rangga sebagai alasannya.


"Mana cincin kamu, kenapa tidak di pakai?" tanya Mama Rita melihat Tania tidak memakai cincin pernikahannya.


"Kamu ini sudah menikah, harusnya cincin pernikahan itu tetap di pakai." ucap Nenek Amirah


"Maaf Nek, cincinnya ada di kamar nanti akan aku pakai." jawab Tania merasa tidak enak


"Iya seharusnya cincin pernikahan tetap di pakai Tania, jangan hanya di simpan di laci." ucap Mama Rita


Melihat Tania sekarang hanya terdiam, akhirnya Mama Rita langsung menjelaskan alasannya datang ke rumah siang ini.


"Begini sebenarnya Mama datang ke rumah hari ini untuk memberitahu kalian, kalau lusa Mama dan Papanya Rangga akan berangkat keluar kota lagi. mengingat banyak pekerjaan kami yang sudah menumpuk di sana, karena pernikahan kalian kemarin." ujar Mama Rita


"Oh iya Ma." jawab Tania


"Jadi selama kami pergi Mama mau mintak tolong, untuk sering berkunjung ke rumah nenek kamu ya." ucap Mama Rita sambil melihat ke arah nenek Amirah


"Iya kamu kan tidak ada kerjaan di rumah, apa kamu bisa memasak?" tanya Nenek Amirah


"Bisa sedikit Nek." jawab Tania ragu

__ADS_1


"Nanti kamu harus sering datang ke rumah untuk belajar memasak, wanita harus pintar masak. percuma paras cantik kalau tidak bisa memasak." Nenek Amirah menyindir Tania


"Ya sudah, ayo Rita kita pulang." ucap nenek Amirah melihat ke arah Mama Rita


"Ya sudah Tania, nanti tolong kasih tahu sama Rangga, kalau Mama dan Papanya akan berangkat ke luar kota lusa nanti." ucap Mama Rita sembari pamit pulang.


Akhirnya Mama dan Neneknya Rangga bergegas pulang, sementara Tania merasa lega melihat kepergian mereka. setelah mengantar mereka ke depan pintu, Tania langsung naik lantai atas untuk memeriksa cincin pernikahannya.


"Untung masih ada di laci." batin Tania merasa tenang karena cincinnya tidak hilang


Mendengar ucapan Mama Rita tadi, mulai sekarang Tania berfikir untuk memakai cincinnya selama menikah dengan Rangga.


Malamnya Rangga pulang, melihat Tania melamun di meja makan akhirnya Rangga memutuskan untuk menghampiri Tania di dapur.


"Apa nenek mengomeli kamu lagi?" tanya Rangga melihat wajah Tania yang muram


"Tidak juga, dia hanya mengomel karena aku tidak memakai cincin pernikahannya siang tadi." ucap Tania datar


"Oh, Mama bicara apa?" tanya Rangga sambil mengambil nasi untuk makan


"Orang tua kamu akan keluar kota lusa nanti, jadi aku di suruh untuk sering datang menemui nenek kamu selama mereka pergi." jelas Tania


"Baguslah." ucap Rangga sambil tersenyum


"Bagus kata kamu, aku tidak suka bertemu nenek kamu Rangga. apalagi nanti di suruhnya belajar memasak di sana, membayangkannya saja sudah malas." keluh Tania


"Itu derita kamu sendiri, memangnya aku peduli." ucap Rangga


"Rangga mulai sekarang pakailah cincinnya selagi masih menikah, tidak enak kalau sampai ketahuan Mama kamu lagi." ucap Tania menatap tangan Rangga, tidak memakai cincin juga.


"Baiklah nanti akan kupakai." jawab sembari menatap tangannya sendiri.


Lama mereka mengobrol di dapur, setelah selesai makan akhirnya Rangga dan Tania langsung naik ke lantai atas dan pergi ke kamar masing-masing. di kamarnya Tania melamun lantaran tidak menyangka kalau malam ini akan tidur di rumah ini lagi.


Sementara Rangga sibuk memperhatikan ponselnya, karena merasa ragu untuk menelpon Anisa. sebenarnya Rangga masih khawatir dengan Anisa, melihat yang menjaganya di rumah sakit tadi hanya asistennya saja


"Sudahlah Rangga, kamu akan mengganggunya kalau menelponnya malam-malam begini" ucap Rangga mengurungkan niatnya untuk menelpon Anisa.


Pagi ini Tania sengaja berberes rumah lebih awal dari biasanya, karena mendapat telepon dari Melly mengenai lowongan bekerja lagi di sebuah Mall. melihat Rangga belum turun akhirnya Tania menulis pesan di kertas dan menempelkannya di pintu kulkas dapur sebelum pergi.


Selang beberapa menit Tania keluar rumah, Rangga turun dan langsung memeriksa makanan di meja makan. melihat Tania tidak ada, Rangga memutuskan untuk langsung makan sendiri di meja makan.


"Ke mana anak itu? apa dia tidak sarapan pagi?" Rangga berbicara sendiri melihat Tania tidak ada di dapur


"Apa ini?" ucap Rangga saat mau mengambil minum di kulkas


"Rangga aku pergi dulu karena ada urusan mendadak di luar, rumah sudah kubersihkan dan sarapan pagi ada di meja" isi pesan Tania di kertas


Setelah membaca tulisan di kertas itu, Rangga baru sadar kalau Tania sudah pergi dari tadi. Rangga pun memeriksa seluruh ruangan, karena penasaran apakah Tania benar-benar membersihkannya atau tidak.


Setelah selesai sarapan dan mandi, tak lama kemudian Rangga pun juga langsung pergi ke Resto. di dalam mobil tiba-tiba ponsel Rangga berbunyi, ternyata Anisa yang mengirim pesan. Anisa mengabari Rangga untuk tidak perlu datang ke rumah sakit lagi karena pagi ini dirinya sudah boleh keluar dari rumah sakit, mendengar kabar itu Rangga memutuskan untuk menelpon Anisa.


"Halo, ada apa Rangga?" tanya Anisa di seberang sana


"Apa kamu sudah benar-benar sehat Anisa?" tanya Rangga ragu


"Iya Rangga, kebenaran sekali kamu menelpon sekalian aku mau pamit. sore nanti aku mau berangkat ke kota x." ucap Anisa


"Apa? cepat sekali, memangnya ada urusan apa tiba-tiba langsung pergi?" tanya Rangga merasa kecewa mendengar kabar tersebut


"Tidak ada Rangga, aku hanya merindukan keluargaku di sana." ucap Anisa membuat alasan


"Kapan pulang?" tanya Rangga


"Entahlah Rangga belum kepikiran, kapan akan pulangnya nanti." jawab Anisa


"Oh apa kita bisa bertemu sebentar, di Cafe tempat biasa kita bertemu dulu?" tanya Rangga


"Baiklah Rangga, siang nanti saja ya?" ucap Anisa


Setelah mengiyakan ucapan Anisa, Rangga langsung mematikan teleponnya. mendengar Anisa akan pergi entah kenapa Rangga ingin sekali menahannya namun Rangga sadar tidak punya hak untuk mengatakan itu.

__ADS_1


__ADS_2