The Reason

The Reason
Part 26


__ADS_3

Siang ini Tania menjalani aktifitasnya seperti biasa di tempat bekerja, karena sibuk bercerita bersama teman kerjanya Tania sampai tidak memperhatikan pelanggan yang sudah ada di depan tokonya.


Sementara Nenek Amirah dan Mama Rita sudah curiga dari kejauhan, melihat pekerja di toko tersebut sangat mirip dengan Tania menantunya. karena merasa penasaran, akhirnya mereka pun bergegas mendekat ke arah toko.


"Benar dia pegawai kan? kenapa dia bisa ada di sini?" ucap Nenek Amirah merasa heran.


"Iya Ma, benar dia Tania keluarga kita." Mama Rita kaget.


Tania sangat kaget melihat pelanggan yang datang adalah Mama Rita dan Nenek Amirah. dengan tersenyum ramah Tania berusaha bersikap setenang mungkin.


"Apa kamu bekerja di sini?" tanya Mama Rita.


"Memangnya Rangga tidak cukup mampu untuk memenuhi semua kebutuhan kamu, sampai kamu harus bekerja di toko seperti ini?" ujar Mama Rita merasa kecewa.


"Kamu ini bikin malu saja pegawai, bagaimana kalau keluarganya Rangga ada yang mengetahui kamu bekerja di sini? apa kata mereka nanti?" sahut nenek Amirah.


"Sudah Ma, tidak enak jangan mengomelinya di sini. Tania sedang bekerja sekarang." ucap Mama Rita menghentikan nenek Amirah mengomeli Tania


"Dan kamu Tania, pulang bekerja nanti mampirlah ke rumah Mama sebentar." ucap Mama Rita.


Tania hanya bisa tertunduk diam sedari tadi karena sudah kebingungan harus berbicara apa lagi.


"Ya sudah Mama sama Nenek kamu mau pulang dulu." ucap Mama Rita mengakhiri percakapannya.


"Iya Ma, nenek, hati-hati di jalan." ucap Tania melihat mereka beranjak pergi.


Semenjak sudah ketahuan siang tadi, Tania merasa tidak tenang lagi di tempat bekerja. Tania bingung apa alasan yang tepat nanti agar keluarga Rangga bisa memahami kalau ia bekerja sekarang.


"Cobalah untuk tetap berfikir tenang Tania, jangan panik." ucap Tania berbicara sendiri sepulang bekerja.


Tidak lama kemudian, Tania sudah sampai di depan rumah nenek Amirah. saat di dalam rumah Tania kaget melihat Rangga sudah ada di sana.


"Duduklah Tania, Mama yang menyuruh Rangga untuk datang ke sini juga." ucap Mama Rita menjelaskan


"Begini Mama mau tanya Tania, apa Rangga tahu kamu bekerja di sana?" tanya Mama Rita.


"Tahu Ma, aku sudah berbicara dengannya kemarin dan Rangga bilang tidak masalah asal aku bisa membagi waktu dengan baik. iya kan Rangga?" ucap Tania sambil menyenggol tangan Rangga.


"Iya Ma, Rangga tidak ada masalah kalau Tania mau bekerja." sambung Rangga melanjuti ucapan Tania.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita sama Mama Tania? Mama sampai kaget sendiri melihat kamu ada di Mall siang tadi." ujar Mama Rita.


"Maaf Ma, Tania kelupaan terus memberitahu Mama. Tania juga baru beberapa hari bekerja di sana Ma." ucap Tania


"Tania kami bukan bermaksud untuk mengatur urusan rumah tangga kamu sama Rangga, hanya saja nenek kamu di rumah sering merasa kesepian karena kami kadang jarang ada waktu untuknya. maksud Papa alangkah lebih baiknya kalau kamu lebih rajin menemaninya selama kami tidak ada di rumah." ucap Papa Hermawan yang baru keluar dari ruang kerjanya.


"Iya Pa." jawab Tania sambil menunduk


"Jadi menurut Papa lebih baik kamu tidak perlu bekerja lagi di luar, tidak masalah kan? Papa harap kamu bisa mengerti maksud Papa sekarang." ucap Papa Hermawan.


"Iya Tania, kami harap kamu bisa memahami semuanya dengan baik." ujar Mama Rita menimpali.


Mendengar penjelasan dari orang tua Rangga, Tania merasa tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan pekerjaannya. apa lagi itu menyangkut nenek Amirah, pernikahannya saja terjadi karena nenek Amirah. apa yang bisa Tania katakan lagi bila semua berkaitan dengan nenek Amirah.


Akhirnya selesai dari masalah itu, Tania dan Rangga pun langsung pamit pulang. di jalan Rangga bisa melihat raut sedih dan kecewa yang terpancar di wajah Tania selesai pulang dari rumah Orang tuanya barusan.


"Hei apa kamu merasa marah dengan ucapan Mama dan Papaku barusan?" tanya Rangga sambil menyetir mobil.


"Tidak, ucapan mereka juga ada benarnya." jawab Tania seadanya.


"Apa kamu mau ice cream?" tanya Rangga berusaha menghibur Tania.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Tania, tak lama kemudian Rangga memberhentikan mobilnya di sebuah toko. selesai berbelanja, Rangga mengajak Tania duduk di taman dekat rumah mereka. sambil memakan ice cream, mereka duduk di sebuah ayunan. malam ini Rangga dan Tania terlihat akur satu sama lain.


"Rangga apa kamu tahu? melihat perlakuan keluarga kamu, membuatku semakin berat untuk mengakhiri perpisahan kita nanti." ucap Tania


"Cepat atau lambat semua pasti akan terjadi." jawab Rangga.


"Hem benar juga, kuharap kedepannya aku bisa menjalani hidup lebih baik lagi dari sekarang." ucap Tania sambil tersenyum.


"Iya semoga kamu bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dariku." jawab Rangga


Tania merasa sedih mendengar ucapan Rangga, namun untuk sekarang Tania tidak ingin lagi terbawa perasaan terhadap Rangga.


"Hahah jelas dong, aku ingin pasanganku nanti rajin memberiku bunga dan tidak pernah meneriaki aku otak udang lagi." Tania berusaha membuat lelucon meski dalam ia merasa sedih dengan ucapannya sendiri.


"Benar, fighting ! " ucap Rangga memberi semangat pada Tania.


"Wah sejak kapan kamu menjadi care begini? Oke fighting ! " jawab Tania sambil membalas senyuman Rangga.


Cukup lama mereka menghabiskan malam dengan bermain di taman, setelah ice creamnya habis Rangga dan Tania bergegas pulang. sampai di rumah ketika di dapur, Tania kaget melihat cincin Rangga tidak ada lagi di tangannya.


"Rangga cincinmu ada di mana?" tanya Tania.


"Hah? oh iya cincinnya tertinggal di toko siang tadi." jawab Rangga berbohong


"Oh aku fikir kamu tidak akan memakainya lagi." ucap Tania sambil pergi meninggalkan Rangga di dapur sendirian.


Setelah Tania pergi, Rangga merasa bersalah karena sudah membohonginya. sebenarnya cincin itu tidak sengaja tertinggal di rumah Anisa siang tadi. entah kenapa Rangga merasa tidak enak hati untuk mengatakan yang sebenarnya pada Tania.


Paginya Tania dan Rangga mengawali hari dengan sarapan bersama seperti biasa. namun bedanya pagi ini, Tania merasa tidak semangat lantaran harus mengundurkan diri dari tempatnya bekerja hari ini.


"Otak udang semangat, jangan banyak melamun pagi-pagi begini." hibur Rangga


"Diamlah Rangga, fokus makan saja." jawab Tania


"Dasar idiot ! " Tania membalas ucapan Rangga.


"Oh ya hari ini aku pulang malam, jadi tidak perlu memasak malam nanti." ucap Rangga


"Apa kamu akan makan malam di luar?" tanya Tania.


"Iya." jawab Rangga datar.


"Pasti bersama Anisa." batin Tania


"Aku pergi dulu." ucap Rangga setelah menyelesaikan sarapannya.


Tania menatap langkah Rangga keluar dari pintu, tanpa sadar pikiran buruknya terbayang begitu saja. Tania berhalusinasi kalau suatu saat nanti Rangga akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah bersama Anisa lalu dirinya datang ke pesta pernikahan mereka, dengan wajah yang tampak menyedihkan.


"Tidak, tidak Tania. sadar, apa yang yang kamu pikirkan?" ucap Tania sambil memukul kepalanya sendiri.


Tak lama kemudian suara bel berbunyi menyadarkan lamunan Tania pagi ini.


"Iya tunggu sebentar, siapa?" teriak Tania


Saat membuka pintu betapa kagetnya Tania, melihat yang datang sekarang adalah Kevin. dalam hati Tania merasa tenang karena Rangga barusan sudah keluar.


"Apa tamu tidak di izinkan masuk?" sindir Kevin sambil tersenyum ramah.


"Hah? eh iya masuk kak." jawab Tania merasa gugup.


"Kenapa kamu tampak tegang begitu, di mana yang lain?" tanya Kevin menatap seluruh ruangan hening

__ADS_1


"Sudah berangkat bekerja kak, hanya tersisa aku sendiri di rumah." jawab Tania sekenanya.


"Syukurlah kamu belum berangkat bekerja, tadi kebetulan aku melewati jalan ini. jadi iseng mampir saja. maaf datang ke sini tanpa menghubungi kamu terlebih dahulu." ujar Kevin.


"Hhehh gpp kak, santai." jawab Tania


"Jam berapa kamu akan berangkat bekerja nanti?" tanya Kevin sambil meminum es jeruk yang di berikan Tania.


"Rencananya aku mau berhenti bekerja kak, siang nanti mungkin akan mengantarkan surat pengunduran dirinya." ucap Tania sambil menunduk.


"Kenapa? apa suami kamu tidak mengizinkan kamu bekerja lagi?" sindir Kevin


Tania terperanjat mendengar pertanyaan Kevin, ia tidak menyangka kalau Kevin sudah tahu tentang pernikahannya.


"Tenanglah jangan kaget, aku baru mengetahuinya akhir-akhir ini. sebenarnya aku merasa kecewa dengan kamu kemarin, mengapa tidak memberitahuku kalau kamu sudah menikah." ucap Kevin berusaha tersenyum santai.


"Maafkan aku Kak, aku tidak bermaksud untuk membohongi kakak selama ini." ucap Tania merasa bersalah.


"Sudahlah tidak masalah, lupakan saja. lain waktu tolong kenalkan aku padanya." jawab Kevin.


"Iya kak, nanti akan aku kenalkan." jawab Tania berusaha menutupi kesedihan di matanya.


"Ada apa? kenapa raut wajah kamu sesedih itu. santailah tidak perlu merasa bersalah pada Kakak." ucap Kevin


Melihat Tania hanya diam saja, tiba-tiba Kevin melontarkan pertanyaan yang terpikir sekilas di benaknya.


"Apa kamu merasa bahagia dengan pernikahanmu sekarang?" tanya Kevin


"Kak kevin?" ingin sekali Tania mengatakan yang sebenarnya mendengar pertanyaan itu.


"Aku hanya bercanda, pastilah semua orang bahagia menjalani pernikahannya." ucap Kevin sambil tersenyum.


"Bagaiamana kalau ini hanya pernikahan sementara, apa mungkin akan berakhir bahagia kak?" batin Tania


"Ya sudah Tan, aku pulang dulu ya. kapan-kapan undang aku makan malam bersama suami kamu ya?" ucap Kevin dengan guratan senyumnya yang khas.


"Iya kak, nanti Tania kabari. hati-hati di jalan." ucap Tania sambil melambaikan tangannya.


Setelah jauh dari tempat rumah Tania, mobil Kevin berhenti sejenak di pinggir jalan. Kevin berusaha menenangkan perasaannya. sebenarnya sejak mengetahui Tania sudah menikah Kevin merasa sangat kecewa, di sisi lain Kevin lebih tidak mengerti lagi mengapa Tania tidak mau memberitahunya sejak awal pertemuan mereka kemarin. seperti ada sesuatu yang di sembunyikan Tania, namun Kevin berusaha menepis perasaan itu.


Di rumahnya perasaan Tania juga sama sedihnya, tidak seharusnya semua berakhir seperti sekarang. semestinya dari kemarin Tania tidak menutupi kebenaran ini pada Kevin.


Siang ini selesai mengantarkan surat pengunduran diri, Tania mampir ke rumah nenek Amirah. sampai di sana mereka makan siang bersama dengan perasaan bahagia, namun tidak dengan Tania. pikirannya sudah berkelana jauh entah ke mana.


"Apa kamu sakit Tania?" tanya Mama Rita melihat wajah Tania tampak tidak muram.


"Tidak Ma, Tania lagi tidak nafsu makan saja." jawab Tania sambil tersenyum.


Mendengar jawaban Tania, dalam hati nenek Amirah berfikir kalau Tania mungkin akan segera hamil.


"Ayo kita ke rumah sakit, sesudah makan nanti." perintah Nenek Amirah.


"Nek aku baik-baik saja, tidak perlu ke rumah sakit." tolak Tania.


"Sudah diam saja pegawai, turuti apa kata Nenek." ucap nenek Amirah tegas.


Sementara Mama Rita hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan mertuanya sendiri. terlebih dia terus memanggil Tania dengan sebutan pegawai, padahal Tania sudah menjadi keluarganya sekarang.


Sampai di rumah sakit Tania merasa heran kenapa nenek Amirah memaksanya harus berobat ke rumah sakit, padahal dirinya sehat-sehat saja sekarang.


"Apa aku tidak salah baca, kenapa nenek membawaku ke dokter kandungan?" ucap Tania menggosok matanya sendiri.

__ADS_1


Mengetahui kalau dirinya sekarang akan di periksa di dokter kandungan, Tania sudah kepanikan. ia tidak menyangka kalau nenek Amirah akan berfikir sejauh itu.


__ADS_2