
Tidak lama setelah Tania di rumah, Rangga pun pulang. melihat Tania bersandar di sofa Rangga hanya menatapnya acuh sembari melangkah ke dapur.
"Rangga kamu habis dari mana?" tanya Tania iseng menghampiri Rangga ke dapur.
"Pulang dari tempat kerjalah, memang dari mana lagi." jawab Rangga seadanya
"Kenapa kamu harus berbohong." batin Tania
"Untunglah kamu tidak memasak malam ini, aku sudah makan malam di luar tadi." ujar Rangga menatap meja makan kosong
Tania hanya terpaku melihat Rangga langsung berlalu pergi naik ke lantai atas. di kamarnya Rangga dan Tania merasa gundah gulana dengan pikiran mereka masing-masing. Rangga bingung dengan jalan hidup yang di laluinya sekarang, sedangkan Tania merasa galau mengetahui Rangga kembali dekat Anisa.
Pagi ini suara telepon membangunkan tidur Tania yang masih terlelap dalam alam mimpinya. Mama Rita sengaja menelepon, untuk mengajak Tania makan malam di rumah nanti bersama Rangga. mengingat mereka sekarang sudah pulang ke rumah nenek Amirah.
"Rangga, Rangga." ucap Tania menggedor pintu kamar Rangga
"Ada apa? berisik sekali pagi-pagi begini." ucap Rangga membuka pintu kamarnya
"Mama dan Papa kamu pulang ke rumah Nenek hari ini." jawab Tania
"Terus?" ucap Rangga merasa tidak kaget
"Masalahnya malam ini mereka mengundang kita untuk makan malam di sana." ucap Tania menjelaskan
"Apa? malas sekali, ya sudah jam berapa kamu pulang bekerja?" tanya Rangga
"jam lima sore, memangnya kenapa?" jawab Tania
"Tunggulah di rumah, nanti malam akan aku jemput." ucap Rangga
Tania mengiyakan ucapan Rangga dan bergegas turun ke dapur untuk membuat sarapan pagi. selesai sarapan Rangga dan Tania bergegas melanjutkan aktifitas mereka masing-masing di tempat bekerja.
Saat malam tiba Tania merasa sangat tidak tenang, lantaran harus bertemu dengan orang tua Rangga lagi. tidak lama Tania menunggu di rumah, tiba-tiba suara klakson mobil di depan rumah menyadarkan lamunan Tania.
Tania bergegas melangkah keluar dan menghampiri mobil Rangga.
"Rangga bagaimana penampilanku?" tanya Tania di depan pintu mobil
"Sudahlah cepat masuk, ini hanya makan malam. tidak perlu memikirkan soal penampilan." jawab Rangga
"Dia ini apa susahnya memberikan pendapat." Tania mengumpat sambil membuka pintu mobil
"Apa kamu merasa gugup?" tanya Rangga sambil tersenyum mengejek
"Aku hanya takut saat harus menghadapi Papa kamu. kamu tahu sendiri, aku jarang bertemu dengannya. terakhir di acara pernikahan kita kemarin." ujar Tania
"Santailah Papaku memang jarang tersenyum, tapi sebenarnya dia orang yang ramah." ucap Rangga.
Tidak lama kemudian mobil mereka sampai di depan rumah Nenek Amirah. Mama Rita menyambut mereka dengan senyuman hangatnya. tidak terasa suasana makan malam berjalan lancar dan menyenangkan. orang tua Rangga memperlakukan Tania layaknya seperti putri mereka sendiri.
Selesai makan Tania dan keluarga Rangga, menghabiskan waktu dengan bermain Gap di ruang keluarga. sementara Rangga sudah memisahkan diri, karena mendapat telepon dari Anisa.
Karena permainan Gap, Tania dan Nenek Amirah pun menjadi semakin dekat. melihat keakraban Mertuanya dan Tania, Mama Amirah merasa terharu. ia tidak menyangka kalau pada akhirnya Nenek Amirah jadi menyukai kehadiran Tania.
"Ma, aku dan Tania pamit pulang dulu. lain kali kami akan mampir ke sini lagi." ucap Rangga menghentikan tawa mereka di sudut ruangan.
"Apa tidak sekalian menginap saja Rangga, sudah lama kalian tidak tidur di rumah ini semenjak menikah." ujar Mama Rita
"Lain kali kami akan menginap Ma." ucap Rangga menolak permintaan Mamanya
__ADS_1
"Baiklah hati-hati di jalan. bawalah makanan ini, Mama sengaja memasak ini agar kalian bisa memakannya di rumah nanti." ujar Mama Rita sambil memberikan makanannya pada Tania
"Ah iya, terima kasih Ma." ucap Tania sambil berpamitan dengan Nenek dan Papa Rangga.
"Pegawai besok kamu temani nenek ke pameran galeri seni ya?" ucap Nenek Amirah
Mendengar ucapan Nenek Amirah, Tania kaget lantaran besok ia juga akan bekerja. merasa tidak enak menolak ajakan Nenek Amirah, Tania terpaksa mengiyakan permintaan nenek Amirah.
Saat sudah di jalan pulang dari rumah nenek Amirah, tiba-tiba Rangga menepikan mobilnya di sebuah halte.
"Maaf bisakah kamu pulangnya naik saja malam ini?" tanya Rangga
"Memangnya kenapa?" Tania merasa bingung
"Anisa meminta aku untuk menjemputnya di hotel Horison." jawab Rangga datar
"Apa? jadi hanya karena Anisa kamu sampai memberhentikan aku di halte." ucap Tania merasa kecewa
"Keluarlah, aku buru-buru." Rangga tidak menghiraukan ucapan Tania
Mendengar ucapan Rangga, Tania langsung keluar dan membanting pintu mobil Rangga begitu saja. bukannya menunggu taksi di halte, Tania malah berjalan kaki dengan perasaan kesal dan marah melihat perlakuan Rangga yang kadang tidak menghargai dirinya sama sekali.
Saat sudah berjalan jauh memutar arah ke hotel horison, tiba-tiba Rangga langsung kepikiran Tania. karena merasa bersalah dengan sikapnya barusan, Rangga pun langsung memutar mobilnya ke halte lagi.
"Apa dia sudah naik taksi?" ucap Rangga berbicara sendiri sambil melihat ke arah halte.
"Dasar Rangga brengsek, mengapa dalam hidup ini aku harus bertemu orang seperti dia." ucap Tania menangis sambil berjalan menyeberangi lampu merah.
Melihat Tania sudah tidak ada di halte, Rangga langsung bergegas memutar mobilnya ke hotel horison. sampai di depan hotel, Anisa langsung menghampiri mobil Rangga.
"Maaf membuatmu lama menunggu." ucap Rangga
"Hah? kenapa memangnya?" tanya Rangga
"Kamu tidak bisa berbohong, aku bisa melihatnya dari wajah kamu." ujar Anisa
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada di hotel ini?" tanya Rangga mengalihkan pembicaraan
"Aku di undang ke acara makan malam sahabatku di sana." jawab Anisa datar
Tidak lama mobil Rangga pun sampai di depan apartement Anisa. sebelum keluar Anisa mengucapkan terima kasih pada Rangga karena sudah mengantarnya pulang.
Rangga pun melajukan mobilnya dan segera pulang ke rumah. sampai di rumah Rangga kaget, melihat Tania belum juga pulang sedari tadi. merasa khawatir Rangga langsung menelepon Tania, namun sayangnya nomor yang di hubungi juga sedang tidak aktif.
Di sebuah cafe Tania meluapkan semua rasa kesalnya seorang diri. sambil makan Tania baru menyadari kalau baterai ponselnya sudah kosong. melihat jam di tangannya sudah larut malam, Tania bergegas menghabiskan sisa makanannya dan pulang ke rumah.
Di rumahnya, Rangga mondar mandir di depan teras sembari menunggu kepulangan Tania. sambil menatap jam di tangannya, Rangga semakin khawatir melihat Tania yang tak kunjung pulang.
Lama menunggu akhirnya sebuah taksi berhenti di depan rumahnya. melihat Tania keluar dari mobil Rangga merasa tenang.
"Hei otak udang, dari mana kamu malam begini baru pulang ke rumah?" tanya Rangga
Tania langsung pergi mengabaikan ucapan Rangga dan berlalu naik ke lantai atas. melihat Tania tidak menjawab pertanyaannya, Rangga pun berjalan mengikuti Tania.
"Pergilah, aku lelah." ucap Tania berbicara tanpa melihat wajah Rangga.
Melihat raut wajah Tania sedang tidak baik, Rangga pergi menuju kamarnya. sementara di dalam kamar Tania sudah menangis sesenggukan. dia tidak mengerti mengapa perasaannya begitu kacau malam ini.
Sementara Rangga di dalam kamarnya juga menyadari kesalahannya, karena sudah meninggalkan Tania begitu saja di jalan. tanpa berfikir untuk mengantarnya pulang, ia justru menyuruhnya naik taksi. namun perasaan bersalah itu di tutupinya di depan Tania karena sebuah ego dan gengsi menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Paginya Tania sudah duduk di meja makan, tanpa menunggu Rangga untuk sarapan bersama. saat Rangga turun, Tania sudah menyelesaikan sarapannya, sebelum melangkah pergi Tania langsung mengucapkan sesuatu yang membuat Rangga kaget.
"Rangga mulai sekarang kita tidak perlu sarapan bersama lagi." ucap Tania
"Kenapa tiba-tiba begitu?" ucap Rangga sambil memakan sarapannya
"Satu lagi kalau ada hal yang ingin kamu bicarakan padaku selama di rumah, tidak perlu menemuiku langsung kirim pesan saja dari ponsel." Tania melanjutkan ucapannya
"Apa? peraturan macam apa itu?" ucap Rangga tidak terima.
"Kamu tahu kan selama tinggal bersama kita sering bertengkar, perlunya ada peraturan seperti ini untuk menghindari hal semacam itu." Tania mencoba memberikan alasan.
"Baiklah, tidak masalah." jawab Rangga walau dalam hati sebenarnya merasa keberatan dengan aturan tersebut.
Setelah menjelaskan aturan barunya, Tania langsung bergegas pergi meninggalkan Rangga di meja makan. hari ini Tania terpaksa melibur bekerja untuk menemani Nenek Amirah ke acara pameran galeri seni.
Tidak lama Tania dan Nenek Amirah sampai di gedung kesenian. mereka pun masuk ke dalam ruangan pameran yang di adakan,Tania hanya terpaku menatap semua lukisan karena tidak terlalu mengerti tentang seni.
Selama di tempat acara, Tania hanya tersenyum ramah menyapa semua sahabatnya nenek Amirah. tiba-tiba dari kejauhan Anisa datang memanggil nenek Amirah.
"Anisa kamu ada di sini juga?" tanya nenek Amirah kaget
"Iya, nenek bersama siapa ke sini?" tanya Anisa
"Ini bersama Tania, kenalkan dia Tania istrinya Rangga sekarang." ucap nenek mengenalkan Tania pada Anisa.
Tania berusaha menyapa Anisa dengan ramah, meski dalam hati ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Anisa sekarang. akhirnya mereka berjalan bersama melihat semua lukisan yang ada di galeri.
"Tunggulah di sini sebentar, aku mau ke toilet." ucap nenek Amirah
Melihat nenek Amirah pergi, Tania dan Anisa pun saling beradu pandang dengan pikiran mereka masing-masing.
"Apa kamu masih sangat mencintai Rangga?" tanya Tania iseng
"Tentu saja, itulah alasan kenapa aku berada di sini sekarang." ucap Anisa sinis
"Maksud kamu?" tanya Tania
"Sebelum aku menikah dengan Rangga nanti, aku ingin neneknya juga tetap menyukaiku seperti dulu." jawab Anisa dengan tegas
"Aku salut dengan semua perjuangan cintamu untuknya." ucap Tania
"Aku berjuang sejauh ini karena aku tahu, hati Rangga masih tetap untukku sampai sekarang dan pernikahan kalian terjadi hanya karena sebuah kesalahan bukan?" sindir Anisa
"Bagaimana kalau suatu hari nanti, perasaan Rangga berubah terhadapmu? kamu tahu sendiri, aku dan Rangga sekarang tinggal satu rumah. dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersamaku di banding kamu." sindir balik Tania
"Jangan mencoba melewati batas Tania !" Anisa merasa marah mendengar ucapan Tania
" Santailah Anisa, aku hanya bercanda. percayalah kalau cinta akan selalu berpulang kepada pemilik hatinya." ucap Tania dengan tenang, meski di dalam hati ia merasa tersakiti dengan perkataannya sendiri.
Tidak lama kemudian nenek Amirah datang dan menghentikan obrolan mereka. melihat acara sudah hampir selesai, nenek Amirah bergegas mengajak Tania pulang.
"Jaga kesehatan kamu Anisa, lain waktu mampirlah ke rumah nenek." ucap nenek Amirah sambil berpamitan pulang dengan Anisa.
Anisa hanya mengiyakan ajakan nenek Amirah, mendengar ucapan Tania barusan entah kenapa Anisa merasa tidak tenang.
Lain halnya dengan Tania, akhirnya ia pun mengerti apa maksud ucapan Anisa di toilet sehari yang lalu di sebuah cafe. Tania menyadari mungkin Rangga sudah memberitahu semua tentang pernikahannya dengan Anisa.
"Dia yang membuat peraturan, dia sendiri yang melanggarnya." ucap Tania berbicara sendiri saat di depan pintu rumah Rangga.
__ADS_1