The Reason

The Reason
Jungkook : 03. Bukan dia


__ADS_3

AMBIGUITAS dari beragam warna yang menjamah hidup seorang Jeon Jungkook, bisa dikatakan pernik. Pernik akan pelik. Terlalu saru memadukan seluruh corak agar terpirsa artistik. Terlalu samar meniti bagian yang cantik.


Aku sempat lupa, akulah Jeon Jungkook. Pejudo kritis yang tamak perihal kenyataan terselubung, pengorek isu dunia yang di ujung tanduk.


Pelarian efektif dari bilur-bilur hidup terletak saat kamera menghadap kebenaran. Fakta dibalik bualan diksi-diksi ciptaan tangan manusia. Itu mengapa jurnalistik merupakan jalan lain dari lanjutan medali judo keparat yang cuma mengembangkan otot-ototku dan melahirkan jutaan pasang mata kecut.


Lalu, menjadi alasan lain mengapa aku suka segala potret tangkapan Taehyung dengan kamera saku sederhananya.


Jujur dan hangat. Dua kata mampu mendeskripsi makna hasil jepretan Taehyung, temanku sejak dua belas tahun silam yang kupercik kagum. Sudah lama kutaksir vinyet alam dari sudut pandang lensanya, jatuh cinta aku. Perkara curahan ketulusan yang dipancarkan Taehyung melalui karya fotografi, mustahil sanggup ditandingi siapa pun.


Hingga kutemukan fotonya menyisip di antara kejujuran Taehyung yang lain.


Saat ini Taehyung menyeruput secangkir latte takut-takut. Kopi memang bukan kawan yang baik untuknya. Namun, lidah keras kepala itu bersikeras mencoba. Tak mau kalah pada yang lebih muda dua tahun darinya, Taehyung sangat kompetitif bersamaku agar terkesan lebih dewasa. Padahal hasrat bersaingnya ini justru seakan melabeli dirinya masih naif dan lugu.


Kamera Taehyung menganggur dan sudah tabiatku menculiknya iseng. Mencalang berbagai fotograf di film kamera sakunya memberiku impresi seperti menikmati pameran. Mengundang pelbagai kontemplasi dan patut dihujani decak apresiatif. Seperti salah satu potret sebelah sandal yang tersangkut pasir laut kala senja, ombak kecil membasahi sandal dan alhasil ini lebih dari menakjubkan. Fokusnya tepat sasaran dan angle nya cocok, bahkan kontras cahaya yang dipakai benar-benar menampilkan kesan hangat senja kepada sandal. Ada pun bentuk panorama jalan raya sekitar sungai Han yang diambilnya bersamaku bulan lalu. Kilat lampu mobil sungguh mengintegrasi kesan aestetik yang bikin sedap mata.


Hei, yang sejak tadi kubicarakan selalu topik alam, layung senja dan kondisi pusat kota. Kupikir seorang Kim Taehyung adalah pengagum zona semesta, tapi rasanya tidak begitu. Apa aku keliru selama di sisinya dua belas tahun?


Buktinya potret gadis kemeja putih dan rok lipat kelabunya yang terpadu sengat mentari, bawa-bawa es krim mint penawar terik yang terasa nyata, tiba-tiba menyisip menambah muatan film. Pendingin kafe seharusnya cukup melipur gerah. Tapi sejak kudapati gadis ini mengalihkan tahta galeri Taehyung, peluh tipis sekonyong-konyong meraba pelipisku.


Ketika menyinggung perkara wanita ini pada Taehyung, dia salah tingkah. Jerih payah dia mengemukakan alasan diplomatis. Padahal yang paling ingin kubongkar dari pertemuan mereka hanyalah nama gadis itu. Tapi agak aneh kalau dengan gamblang mencari tahu, bisa-bisa Taehyung menganggapku saingan baru dan mulai bertanya, "mengapa kau tertarik?"


Habisnya binar yang mengilap melalui bola mata hazel Taehyung, diam-diam menyiratkan ketertarikan dahsyat. Aku bisa memastikannya.


"Kudengar, gadis itu benci laki-laki." Taehyung memulai dialog baru setelah beberapa detik sunyi memihak kami. Itu karena aku yang kembali sibuk dengan kamera saku, mengamati lebih jelas si wanita pertama pemicu galeri Taehyung diisi objek manusia, akhirnya.


"Siapa yang kau maksud?"


"Gadis yang kau lihat di foto itu."


Sedikit petunjuk mengujiku. Mungkin Taehyung menyaksikan betul kernyit di dahiku menegas. Pikiranku kian semrawut. Sambutan ramah pelayan kafe, hiruk pikuk pelanggan di sisi kiri, diskusi pasangan muda tentang kecemburuan buta di sebelah kanan, musik jazz lembut yang mendominasi, semua sepantasnya teredam air. Senyap.


Benci laki-laki? Gadis ini bukan Yoon Sara. Tidak mungkin. Aku pasti salah orang.


Aku mengangkat kepala dan menatap Taehyung lurus. "Kenalkan aku padanya."


🌻


TIAP minggu menjadi jadwal rutinku berkunjung ke makam ayah di daerah Gwangjin. Seharusnya, sih. Kadang aku bengal. Jam kosong jadwalku dipakai untuk jenguk ayah, selepas buang-buang waktu dengan Taehyung yang intinya cuma tukar pikiran soal berita kecelakaan maskapai; bencana gempa di negeri seberang; dan sisanya tentang fotografi. Coba lihat, mana sempat isu menyelimpang seliweran atau yah, seindah-indahnya asmara mungkin yang lebih personal? Bak dua pria umum saling lempar lelucon terkait lekukan tubuh primadona kampus atau diskusi bahwa mereka baru saja kompetisi menyatakan perasaan pada si wanita A. Yah, begitulah. Kami jauh dari topik itu.


Sudah lama sejak ayah mengemas diri dan berangkat ke tempat yang sulit kami jangkau, tidur terlalu nyenyak sampai aku ragu kapan dia akan bangun lagi. Kira-kira sepuluh tahun lampau nasibku berubah. Seorang diri sebagai putra teramung Jeon, tugasku menjaga ibu baik-baik. Hingga sekarang.


Penyebab kematian ayah merupakan penyakit Meningitis tuberculosis yang dideritanya cukup lama. Kemungkinan sembuhnya kecil, minim sekali. Nyaris tidak ada, mungkin. Ayah jadi pesimis karena berita ini, begitu pun aku pada kalanya.


Caraku menenangkan hati rapuh ayah, dengan menceritakan hal-hal baik yang kuderma di sekolah. Aku tidak bilang ayah kalau aku menghantam teman-teman sekelas yang memukul kepalaku sembarangan. Aku tak sampaikan omelan guru yang mengira pertengkaran kami berawal dariku. Aku juga enggan cerita kalau nilaiku jatuh drastis karena banyak kasus. Aku berbohong dan itu sangat nyaman, terlebih tatkala bibir ayah menciptakan kurva luar biasa hangat saat aku cerita kejuaraan judo yang kuraih. Aku mulai menekuni judo sejak ayah divonis sakit keras. Kejujuranku sebatas terletak di bagian itu.


Arkian di tempat yang tidak diketahui ayah, aku menangis keras tanpa didengar siapa pun. Kecuali bocah polos bernama Kim Taehyung yang jadi pemirsa atas cengengnya sosok Jeon Jungkook dan sekonyong-konyongnya mengajakku main bola.


Sepulang dari makam, detikku terhempas menikmati hembusan sangar dari semilir angin musim panas di jembatan Jungnangcheon. Banyak kenangan yang masih terukir di jembatan ini. Salah satunya tentang dua anak kecil menduduki pagar pembatas jembatan, lalu mencicipi es krim sama-sama. Menentang aturan orang dewasa, kami bak bocah bebas yang bersahabat dengan alam.


Nostalgia luruh sejenak ketika sosok perempuan dengan postur familiar yang seakan mengulang reka adegan masa laluku menduduki pagar pembatas di jembatan Eungbong daerah aliran sungai Jungnangcheon. Kedua telapak tangannya terentang ke belakang mendorong permukaan pagar. Pandangan kosong terlempar sendu ke pelosok arus sungai yang lumayan deras. Sesekali kepala mencondong ke depan dan sepasang alis mengerut di keningnya seperti menerka-nerka ketinggian jembatan sampai bawah yang bisa mencapai belasan meter.


Duduk di pembatas pagar jembatan, apa itu hobi yang lagi trend ? Mukanya tidak terlihat senang ataupun terlalu depresi. Namun, aksi selanjutnya cukup mengejutkan. Dia memejamkan mata dan nyaris mengangkat bokong. Hei, berani bersumpah aku ogah dijadikan saksi bunuh dirinya gadis remaja.


Takut-takut kudatangi dia, pelan-pelan menyapa. Tidak boleh sampai mengejutkannya, bukan? Ini cukup riskan. "He, hei, Nona. Bisa kau hentikan itu? Lebih baik kau turun sekarang."


Gadis yang kumaksud menoleh sebentar, mencermati air muka gelagapan seorang pemuda yang mewakili kecemasan. Balasannya sebatas kerutan alis belaka. Sialan, dia tampak sebodo. Malah berbalik lagi kepalanya melanjutkan aktivitas berisiko, mengacuhkan kepanikanku.


Spontan cengkeram kuatku memenjarakan lengannya, angguran sebelah tangan lain kugunakan untuk merengkuh pinggangnya. Niatnya membopong tubuh perempuan tanpa nama ini agar menjauhi pagar. Aku masih panik, terus terang saja. "Nona, kau tidak boleh begini. Bukan seperti ini caramu menyelesaikan ma..."


Alhasil dia malah mengamuk keras kepala. Rontaannya sangat kuat. Aku kalah. "Apa, sih? Lepaskan aku, keparat! Aku sedang tidak bawa obatnya!"


"Kau tidak berhasil minum obat, makanya kau pilih lompat dari jembatan? Berhentilah."


"Siapa yang seharusnya berhenti? Hei! Sialan, aku merinding!"

__ADS_1


Kami berargumen karena amukannya semakin luar biasa, tungkainya bergantian menghajar udara, tangannya memukul-mukul dan susah payah menyingkirkan pertolonganku. Kurang lebih belasan detik adu mulut, semua berujung pada tendangan kuat gadis itu di pagar sampai melempar tubuhnya sendiri menyelami sungai.


Celaka, lantas gebyur air merajai suasana musim panas. Masih tak seorang pun yang lalu lalang menggubris insiden kami. Aku tidak mau setelah ini jembatan Eungbong punya tambahan riwayat kriminal sebagai tempat perkara pembantaian wanita oleh seorang pejudo muda.


Akhirnya tindakan spontan lagi yang nekad kurenggut dari ketenangan senandung gagak musim panas. Turut menceburkan diri, sore itu dua kali gebyur air mengiringi aliran sungai Jungnangcheon. Suaranya seperti dua beban besar yang menggelabu terbenam sungai.


Kemampuan renangku lumayan handal untuk menyelamatkan seseorang. Dengan lengan melingkari leher si wanita sebaya yang baru saja tenggelam dua detik lebih dulu, kupapah badannya ke tepi. Dia tidak sepenuhnya tersedak air sungai sampai sulit bernafas. Kesadarannya masih terjaga saat kami mencapai daratan, tapi tenaganya benar-benar menipis.


Kenapa, sih? Kondisi genting begini pun, dia terus saja merajam lirikan sengit. Sial, harusnya dia sedikit berterima kasih.


Bayangkan sepasang lawan jenis basah kuyup duduk berhadapan di hamparan rumput liar. Orang-orang pasti berasumsi kami orang sinting.


Kala itu sempat bibir si wanita terangkat hendak mengucapkan sesuatu, tapi kusela tidak sabaran. "Apa yang kau lakukan, huh? Alur sungai ini lumayan deras! Kita hampir saja mati kalau tidak cepat menyelamatkan diri! Kau tahu, nyawa itu sangat penting! Kau...!"


Hei, sensasi apa ini?


Untaian kata terjeda, aku diserang duplikasi rasa yang terlalu abstrak diuraikan.


Alih-alih sensasi, apa yang kusapa melalui kerling ini sangat jelas menyaksikan sebuah kaidah milik netranya memandang sesuatu. Lurus dan tegas. Penuh kecam, namun terasa pilu. Lara macam apa yang pernah ia simpan?


Tatapan seperti ini beraroma intim dalam benakku. Menumbuk deja vu.


"Kenapa berhenti? Lagi, teruskan ocehanmu. Aku pasang telinga lebar-lebar," gemamnya terdengar sarkas. Ia miringkan kepala sekilas, tanpa pupil mata itu berpaling ke entitas lain. Intonasinya seakan diredam emosi berkecamuk. "Sudah selesai? Mari giliranku bicara. Kau pikir ini karena siapa, huh?"


"Tidak ada yang berniat bunuh diri di sini! Tolong jangan sentuh aku tanpa tahu apa pun! Aku tidak bawa disinfektan atau obat penenang! Kau seenaknya mengiyakan kesimpulan sepihak kalau aku bunuh diri! Apaan, sih, kau ini?" Alisnya berkerut jelas seiring imbuhan seru. Dia menghardikku, bibirnya terbuka. Ekspresi heran dan kesal tercampur. "Ayolah. Kita tenggelam, semua karena kebodohanmu! Aku pergi!"


Usai telunjuknya menodong-nodong marah, perempuan yang belum juga kuketahui namanya tangkas menyambar tas dan beranjak terhuyung. Tetes-tetes air masih senantiasa jatuh bergantian dari ujung rambut yang basah kuyup serta lengan kemeja sederhananya dan mengalir pula dari celana jengki hitam sebawah lutut yang dia kenakan.


Sementara aku terpaku saja di tempat. Komat-kamit bibirnya merapalkan amarah, netra yang membulat seram ketika dia berceracau, mengapa semua separah ini kuhubung-hubungkan dengan kebiasaan orang itu? Apa ini akibat dari pretensi yang memuncak tak tahu diri?


Keberadaan benda persegi panjang tergeletak di antara rumput liar, menggugah atensiku setelah beberapa saat. Dompet warna tikus satu lipatan, muatannya diisi beberapa won basah dan banyak kartu. Kartu kredit, kartu asuransi kesehatan, kartu nama restoran dan voucher makan, kartu nama seorang musisi, laluーoh, kartu pelajar.


Ternyata kami berbagi kampus yang sama. Jurusan seni rupa. Namanya...


Langsung bangkit diriku dan mencari jejaknya sekali lagi.


🌻


SEMBURAN air pancuran mandi, seketika menyegarkan kembali kusutnya otakku yang bekerja. Akal sehat bagai sulit menggali titik terang. Pertemuan singkat antara aku dan Sara laksana menuju jalan tanpa ujung. Tadi sore tatkala rindu meradang dan perlu remedi, Sara justru menampik ingatannya. Mungkin Yoon Sara yang kukenal, telah dirubah waktu dan enigma dari pancaran netra menyedihkan.


Puas mengusap-usap sangar wajah dengan guyuran air, kumatikan aliran pancuran sengaja karena rasanya semakin menyerang ganas. Kini handuk kecil yang kuambil guna menggantikan posisi air, menenangkan muka kemerahan yang lembab. Rambut kuyup digusak alat yang sama. Tujuannya satu rupa, semua kering lalu aku tak perlu pakai baju dalam kondisi lengket.


Wangi sabun dan shampo menyeruak di penjuru kamar selepas dari kamar mandi. Arah tujuku langsung ke laci mejaーdengan handuk kecil yang masih bertengger setia di leher. Di dalam kotak tingkatan kedua laci, kujumpai sehelai potret masa kanak-kanak. Lembar foto paling distingtif, punya dermaga khusus di antara lembar kenangan lain yang usang di penjara album.


Potret bentuk polaroid klasik melukiskan pasangan bocah yang tidak sadar mereka dijepret oleh shutter kamera. Si perempuan mencubit sebelah pipi lelakinya gemas. Ekspresi wajahnya tangguh, berdikotomi terhadap muka kecut bocah laki-laki yang dwimaniknya berkaca-kaca dan sedikit cairan bening keluar dari pelupuk mata.


Ini Jeon Jungkook tiga belas tahun lalu bersama kawan satu jiwanya, Yoon Sara. Dengus dan senyum tipis menyusul, aku terhanyut. "Dulu aku benar-benar cengeng, huh?"


Sangat berterima kasih kepada yang mengabadikan ini dulu, ialah ibunda Sara. Ibu-ibu muda paling eksentrik yang pernah ada.


Entah menyembunyikan kenyataan ini dari Taehyung adalah keputusan baik atau tidak. Yang pasti sejak kami dekat, terlalu problematis menambahkan Sara ke dalam percakapan. Barangkali tak pernah ada luang. Jarang memang topik asmara menyangkut sembarangan ke diskusi penting dua remaja lelaki tentang mimpi dan hari-hari. Yoon Sara juga tema pribadi, agak egois tiba-tiba berkisah bagaimana perasaanku dahulu.


"Jungkook."


Panggilan lembut diikuti ketukan pelan pintu kamar menyeret aku yang ditarik jauh oleh delusi sejarah, kembali ke masa kini. Ibu di luar sana menanti sambutan. Tidak lama, kugapai kenop pintu dan membukanya. Perawakan separuh baya nan keibuan melekat kuat pada sosok yang berdiri sejak awal dibalik pintu. Senyumnya lembut dan menghangatkan sanubari. "Boleh minta waktu sebentar?"


Kuanggukan kepala sambil meniti senyum persis dan agak menggeser dari ambang pintu, menyajikan jalan agar ibu masuk. Sempat mata ibu mendelik ke arah polaroid kuno yang masih betah dijepit jemariku. Mungkin ibu pikir sepenuhnya aku sudah merelakan kepindahan Sara, namun keliru. Kubaca lewat sorot mata ibu yang terpegun, tampaknya aku cukup ahli di bidang psikoanalisis dadakan. Bukan begitu?


"Aku tak sengaja menemukan ini lagi. Jadi, bernostalgia sebentar." Berdalih. Aku menggedikkan bahu setelah mengangkat lembar foto. Akhirnya aku paham perasaan Taehyung yang ditatap bidikan pandang menelusuri. Dia pasti salah tingkah dan mencari-cari alasan masuk akal. Sama.


Ibu tertawa lembut, tipikalnya. "Siapa pun tidak bisa menyangkal rona wajahmu, Nak. Pasti ada rasa kangen, 'kan?"


Cukup, angkat tangan aku. Menyerah sudah. Senyum lugu dan merah semu sulit ditahan. Kutundukkan kepala, kebiasaan seorang pejudo yang ditakuti ini bila didera malu. Kontradiksi, huh.


Ibu menepuk lengan atasku dua kali, bangga. "Yang begini lebih menyenangkan daripada lihat anak ibu selalu pura-pura dewasa."

__ADS_1


"Oh, kau pulang basah kuyup tadi, terjadi sesuatu?" tambah ibu yang tiba-tiba tertegun. Sejatinya beliau nyaris lupa maksud utama mengetuk kamarku.


Pintu kamar kututup dan membiarkan ibu duduk di tepi ranjang. Kususul dirinya mengambil kursi belajar sebagai tempat yang tepat dihinggapi dan menghadap ibu. "Sepulang dari makam ayah tadi sore, aku menyelamatkan wanita yang tenggelam di sungai Jungnangcheon."


Ibu tampak terkejut. "Benarkah? Bagaimana dengan kalian? Baik-baik saja?"


"Ibu bisa lihat aku sekarang. Kami baik-baik saja. Kecelakaan itu juga sebagian besar dari kesalahanku."


Sepertinya ibu kurang puas oleh jawaban bertele-tele. Pancaran biji mata renta di sana masih menyelubung penuh tanya, masih ada yang ingin ibu korek. Semburat tipis kekecewaan juga mampir menerpa roman beliau. "Wanita itu...kekasihmu? Kalian bertengkar?"


"Aish..." Sekonyong-konyong desis itu yang hadir menukas. "Kalau aku pacaran, mana mungkin ibu tidak tahu. Tapi, ini agak berbeda, Bu."


Tungkai menyeret kursi berkaki roda mendekati ibu, kucondongkan kepala antusias. "Begini, kalau ibu ingin tahu siapa gadis yang ternyata kuselamatkan, itu adalah..."


PRANG!


Bunyi pekak pecahan kaca lantang memangkas diksi. Kerja jantungku oleng beberapa detik, degupnya tak beraturan terkaget-kaget. Ibu juga sudah berjengit, bahunya terangkat sepintas tadi.


Penasaran mendorong tanganku membuka kerai jendela kamar. Pemandangan yang kusaksikan setelahnya pasti kondisi rumah tipe tiga ratus meter persegi milik Kim. Rumah megah masa kini yang buat iri tetangga, termasuk aku.


Derap langkah tergesa-gesa keluar dari rumah yang kumaksud. Pemuda empunya langkah berjalan cepat setelah berhasil membanting pagar tinggi rumahnya, beringas. Walau kepala itu terpagari tudung jaket abu-abu kebesaran, bukan berarti posturnya bikin pangling. Sekali lihat, mulutku langsung pandai mengucap satu nama.


"Taehyung?"


Pria lain dengan perkiraan usia empat puluh tahun kurang atau lebih, berjubah piyama dengan kepala setengah botak, menyusul beberapa saat setelahnya. Ia kembali menarik pagar berang dan berhenti di sana. Lalu, amarahnya meledak.


"Pergi kau, Taehyung! Minta bantuan pada temanmu si Jungkook itu! Aku adalah ayahmu! Suatu saat kau akan sadar kau itu sama sepertiku!"


Taehyung acuh. Lanjut berjalan terburu-buru sambil tangannya mengepal hebat, mencengkeram kuat ujung jaket sampai unsur gemetar singgah. Tiada yang tahu-menahu raut macam apa yang ditunjukkan Taehyung di bawah naungan tudungnya. Boleh jadi kesal, benci, dendam, atau nelangsa.


Dari dulu memang tak pernah kata rukun mengharmonisasi keluarga Kim. Ada saja lempar beling sana-sini, dentuman benda keras menjajah, dan kaburnya sang anak sematawayang. Namun, ini kali pertama ayah Taehyung melolong berang. Ayah yang kutahu satu-satunya sosok paling dibanggakan Taehyung.


"Taehyung bertengkar lagi dengan orangtuanya?"


Pertanyaan ibu kuabaikan. Secara impulsif kuraih gagang telepon dan memijit rupa-rupa rangkaian nomor telepon kawanku. Cukup buang durasi sampai nada tunggu mencapai suara Taehyung. Bocah itu mengangkat panggilan setelah beberapa detik, tanpa memulai kata.


"Kau kabur dari rumah lagi?" tanyaku sudah dirundung kuatir.


"..."


Masih hening, sama sekali minatnya raib tentang sahut-menyahut. "Kau mau ke mana?"


"..."


"Aku tanya, kau mau ke mana?"


"...kumohon biarkan aku sendiri." Dia membalas, akhirnya. Nada bariton lemah terdengar parau dari seberang sana. Taehyung tidak baik-baik saja pasti. Bahkan terbata-bata ia berimbuh, "Ayah...aku...aku benci ayah, Kook."


"Katakan lebih jelas saat perasaanmu sudah tenang. Sekarang tolong beritahu aku di mana kau."


"Maaf, Kook...tidak bisa beritahu."


"Kalau begitu, katakan sesuatu yang bisa memastikan kau baik-baik saja, Tae."


Dia diam lagi. Melalui jaringan telepon, tertangkap di runguku desahan berat nafasnya. Tertatih-tatih. Dadanya sesak, kurasa.


"Ayo jalan-jalan ke Myeongdong besok," ujar Taehyung membuatku tercengang. Seringai lemah dan kekehan kecil menyisip bersama.


Bisa-bisanya dia mengatur suara berat itu menjadi lebih baik. Seolah luka sayatannya mampu pulih lebih cepat tanpa bekas. Dalam sepersekian detik, sobatku membuktikan dirinya seorang penyihir. Mantra apa yang diterapkannya, masih misteri. Yang pasti dia ini gila.


"Kau sinting, Tae."


🌻


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2