
Sampai di depan rumah sepupunya, ternyata Melly belum pulang bekeja. melihat Melly sepertinya akan pulang larut malam, Tania memutuskan untuk langsung menghampiri ibu kostnya.
"Ibu maaf mengganggu malam-malam begini, Tania mau bertanya rumah kost Melly ada kunci serapnya gak bu?" tanya Tania sungkan
"Eh Tania, masuk-masuk. kenapa pakaian kamu bisa basah kuyup begini? ada, tunggu saya ambilkan dulu ya." ucap Ibu pemilik kost
"Iya bu tadi habis kehujanan." jawab Tania
"Ini kuncinya, memangnya Melly belum pulang ya?" tanya ibu kost
"Belum, kayaknya Melly kerja sift siang hari ini. jadi pulangnya kebakalan malam bu." jawab Tania
"Oh pantes Tan." ucap ibu kost
"Ya sudah Tania permisi dulu ya bu, makasih ibu." ucap Tania mengakhiri percakapannya
"Iya Tan, sama-sama." jawab Ibu kost sambil tersenyum ramah.
Di dalam rumah selesai mandi Tania bergegas memasak mie instan karena perutnya sudah keroncongan sedari siang tadi. selesai makan Tania langsung merebahkan badannya di ranjang, untuk beristirahat sejenak.
Di kantor tempatnya bekerja, Kevin masih kepikiran siapa pria yang tinggal serumah dengan Tania siang tadi. akhirnya karena merasa penasaran, Kevin memutuskan untuk menyuruh seseorang menyelidiki pria itu secara diam-diam.
Malam ini Rangga pergi ke rumah sakit lagi untuk membesuk Anisa, namun setelah sampai di rumah sakit Rangga kaget kalau kedua orang tua dan neneknya sudah ada di rumah sakit sekarang.
"Rangga, masuklah lihat siapa yang datang sekarang?" sapa Anisa
Rangga langsung masuk sembari meletakkan makanan kesukaan Anisa di meja, yang ia bawa malam ini.
"Apa Tania tidak ikut Rangga?" tanya Mama Rita
"Iya kenapa pegawai tidak ikut, hanya kamu sendiri yang datang." sahut nenek Amirah
"Tania tidak pulang ke rumah malam ini Ma." jawab Rangga sambil mengingat pertengkarannya siang tadi.
"Maksud kamu?" Mama Rita kaget
"Maksud Rangga, Tania sedang menginap di rumah sepupunya." Rangga langsung membuat alasan.
"Oh pantas, Mama fikir kalian sedang bertengkar." ujar Mama Rita merasa tenang mendengar jawaban Rangga.
Melihat mereka sedang sibuk membicarakan Tania, entah kenapa Anisa merasa tidak senang. namun ia berusaha menutupi semuanya dengan senyuman.
"Apa mereka tahu, kalau kamu masuk rumah sakit lagi sekarang?" tanya Papa Hermawan
"Tahu om, besok mereka akan datang." jawab Anisa
"Baguslah, om juga sudah lama tidak melihat mereka sekarang. kalau Orang tua kamu sudah datang, nanti suruh mereka untuk mampir ke rumah om sekalian ya?" ucap Papa Hermawan
"Iya Om, besok akan Anisa sampaikan pesan Om." jawab Anisa
"Kamu juga cepat sehat, jangan terlalu sibuk bekerja melihat kondisi tubuh kamu mudah sakit begini." ucap Papa Hermawan sambil tersenyum ramah.
"Benar Anisa, Tante jadi khawatir kalau kamu sering sakit." ujar Mama Rita
"Iya Om, Tante, maaf sudah membuat kalian khawatir sekarang." ucap Anisa
"Tidak masalah, apa perlu Tante menemani kamu malam ini nisa?" ucap Mama Rita
"Kalian pulang saja, biar Rangga yang akan menjaganya malam ini Ma." sahut Rangga
"Ya sudah, kami pamit pulang dulu ya? jaga kesehatan kamu baik-baik. kalau ada perlu apa-apa hubungi Tante saja, jangan sungkan." ucap Mama Rita sambil tersenyum ramah.
"Anisa Nenek juga pulang ya? cepat sehat." ucap Nenek Amirah sambil memegang tangan Anisa.
"Iya Nek, hati- hati di jalan." ucap Anisa melihat mereka baru akan melangkah keluar pintu.
Setelah keluarga Rangga pulang, Anisa langsung bertanya pada Rangga mengenai Tania.
"Rangga apa Tania tahu, kalau kamu akan menginap di rumah sakit lagi malam ini?" ucap Anisa
"Entahlah, tidak perlu membahas namanya sekarang." ucap Rangga datar
__ADS_1
"Memangnya kenapa? apa kalian bertengkar?" tanya Anisa
"Istirahatlah sudah malam sa, besok kita sambung lagi ceritanya." ucap Rangga sambil memasangkan selimut di badan Anisa.
"Baiklah, kamu mau ke mana?" tanya Anisa melihat Rangga melangkah keluar pintu.
"Aku mau menelepon seseorang sebentar, masalah pekerjaan." jawab Rangga.
"Oh iya Rangga, jangan lama-lama." ucap Anisa
Rangga langsung duduk di kursi, di depan kamar inap Anisa. bukannya menelepon seseorang Rangga justru termenung menatap cincin pernikahannya dengan Tania.
"Pernikahan kami hanya tinggal enam bulan lagi, apa benar dia akan menyerah begitu saja?" ucap Rangga berbicara sendiri memikirkan kata-kata Tania siang tadi.
Malam ini ketika pulang bekerja, Melly sangat kaget melihat lampu di dalam rumahnya sudah menyala.
"Apa Tania pulang ke sini malam ini? tapi kenapa dia tidak memberi kabar?" ucap Melly merasa heran
"Tan, kamu di dalam ya?" teriak Melly di depan pintu rumah.
"Iya Mel ini aku, masuk saja." jawab Tania langsung menghampiri Melly di luar.
"Tania akhirnya kamu pulang juga, aku kangen tahu. tumben kamu gak kasih kabar mau ke sini?" tanya Melly sambil memeluk Tania.
"Hhehh iya, ponselku tertinggal di rumah. jadi aku tidak sempat mengabari kamu pagi tadi." jawab Tania sambil tersenyum santai
"Jam berapa kamu datang?" tanya Melly sambil menuangkan minumnya ke dalam gelas.
"Sore tadi, aku melibur kerja lagi hari ini." jawab Tania datar
"Ada masalah apa sampai harus melibur? apa karena Neneknya Amirah lagi?" tanya Melly
"Gak sih, hari ini aku habis jalan sama kak Kevin." ucap Tania berbohong.
Mendengar perkataan Tania barusan, Melly langsung tersendak saat sedang minum.
"Ya ampun Mel, hati-hati minum saja kok bisa langsung batuk begitu?" Tania langsung menepuk pundak Melly.
"Sama kak Kevin, memangnya kenapa?" jawab Tania santai
"Bukannya kak Kevin sudah mau menikah waktu itu? kok bisa kamu jalan sama kak Kevin?" ucap Melly
"Oh iya aku lupa cerita sama kamu." Tania sambil memukul jidatnya sendiri.
Akhirnya Tania menceritakan semua tentang Kevin pada Melly. dari awal pertemuannya sampai Kevin batal menikah sekarang.
"Tan, sedih juga ya. aku gak nyangka kalau kak Kevin akan gagal menikah waktu itu." ucap Melly datar
"Iya sama Mel, aku juga kaget." jawab Tania
"Terus dia tahu gak kalau kamu sudah menikah sekarang?" tanya Melly penasaran
"Iya gak lah Mel, aku malah gak mau kalau dia sampai tahu. ya walaupun gak penting juga sih menurutnya." ujar Tania
"Tetap saja Tan, siapa tahu dia kecewa mendengar kamu sudah menikah." jawab Melly
"Hhahah kalau dia kecewa, berarti dia juga menyukaiku Mel. sayangnya itu cuma halu. dari dulu sampai sekarang, hanya aku yang memiliki perasaan terhadapnya." ucap Tania sambil tersenyum
"Hheh iya juga sih, tapi aku ikut bahagia mendengar kamu bisa bertemu lagi sama pangeran berkuda hitam kamu." ucap Melly sambil menyenggol bahu Tania.
"Hahah masih ingat saja kamu Tan, sama julukan itu." ucap Tania.
"Iya dong, setiap hari dulu kamu sering menyebutnya. gimana aku gak hapal sampai sekarang." ujar Melly
Karena terlalu bersemangat membahas tentang Kevin, malam ini Tania jadi melupakan semua kesedihannya karena Rangga siang tadi.
Pagi ini Tania dan Melly mengawali hari penuh semangat sambil memasak sarapan bersama-sama.
"Mel aku jadi kangen suasana begini." ucap Tania
"Iya Tan, semenjak kita pisah tempat tinggal aku jadi kesepian sendiri di rumah. kamu tahu sendiri kan, dari awal bekerja kita selalu tinggal satu rumah." ujar Melly
__ADS_1
"Iya Mel, menjalani hidup begini rasanya sangat begitu menyenangkan. tenang dan tidak ada keributan." ucap Tania sambil tersenyum
"Hahahh, memang di sana kamu sering bertengkar sama kak Rangga?" tanya Melly
"Tiada hari tanpa keributan Mel kalau di sana." ucap Tania
"Hem wajar juga sih Tan, kalau kalian sering bertengkar. dua orang yang tidak saling kenal dekat mendadak tinggal satu rumah, hal yang lumrah kalau kalian sering tidak akur. bayangin keluarga dekat saja sering ribut satu sama lain, apalagi kalian?" ujar Melly
"Benar juga Mel." ucap Tania
"Gpp tetap semangat Tan, tinggal enam bulan lagi kok." Melly menyemangati Tania
"Fighting, fighting !" ucap Tania sambil tersenyum santai sambil mengangkat tangannya
"Nah, gitu dong." jawab Melly sambil mencicipi masakannya.
Selesai makan Melly dan Tania bergegas berangkat bekerja ke tempat masing-masing. namun sebelum berangkat bekerja, Tania terpaksa pulang ke rumah Rangga, lantaran ponsel dan baju seragam bekerjanya juga ada di sana. sampai di depan rumah Rangga, Tania menyemangati dirinya sendiri dan berusaha melupakan kejadian kemarin demi melanjutkan kembali masa pernikahannya. Tania sadar karena sudah membuat keputusan sejauh ini, ia harus berani bertanggung jawab dan menyelesaikan semuanya secara baik-baik.
Saat membuka pintu rumah, Tania kaget melihat Rangga sedang mengepel lantai rumahnya. dengan penuh percaya diri tanpa menyapa Rangga, Tania langsung naik ke lantai atas untuk segera memeriksa ponselnya.
Sementara Rangga langsung merasa malu karena Tania memergokinya sedang berberes rumah. Rangga langsung menghentikan aktifitasnya dan duduk di sofa.
"Sudah kuduga, otak udang tidak mungkin menyerah begitu saja demi mendapatkan rumah ini." ucap Rangga berbicara sendiri sambil tersenyum bangga melihat Tania membatalkan kata-katanya kemarin.
"Otak udang kufikir, kamu tidak akan pulang ke rumah lagi." ucap Rangga melihat Tania turun dari lantai atas.
"Aku masih memiliki hati dan perasaan, tidak seperti kamu yang selalu bertindak sesukanya tanpa memikirkan perasaan orang lain." sindir Tania sambil mengambil air minum di dalam kulkas
"Apa kamu mau memulai pertengkaran lagi pagi ini?" Rangga merasa kesal mendengar ucapan Tania
"Maksudku, sebelum bertindak sejauh itu aku juga memikirkan keluarga kamu. Nenek, Mama, dan Papa kamu, aku menyayangi mereka semua walau baru mengenalnya karena pernikahan ini." ucap Tania sambil membayangkan keluarga Rangga
"Walau pernikahan kita ini palsu, tapi aku sungguh tulus menyayangi mereka. meski aku tahu, mungkin suatu hari nanti mereka juga akan tetap membenciku." ujar Tania merasa sedih
"Jangan berbicara begitu, aku yakin keluargaku akan bisa memahami tindakanmu nanti setelah mengetahui kebenarannya." Rangga berusaha menghibur Tania.
Dalam hati Rangga merasa tersentuh mendengar ucapan tulus Tania yang menyayangi keluarganya.
"Mengenai kemarin, aku minta maaf." ucap Rangga sambil menunduk
"Maaf untuk apa?" Tania berpura-pura tidak mengingat kejadian kemarin
"Anisa mendadak masuk rumah sakit kemarin dan ponselku tertinggal di mobil, karena panik aku sampai lupa mengabari kamu." ucap Rangga
"Oh gpp santai saja, aku juga sudah melupakan masalah itu." ucap Tania berbohong walau sebenarnya Tania masih sangat kecewa apalagi mendengar alasannya karena Anisa lagi.
"Lain kali saat membuat janji, aku tidak akan membuat kamu menunggu lama lagi." ucap Rangga
"Ya ampun, kenapa wajah kamu sesedih itu? apa kamu sungguh merasa bersalah?" ejek Tania
"Lupakanlah ! Oh ya, kemarin pria itu datang lagi mencari kamu ke rumah. siapa namanya? aku lupa." ujar Rangga
"Kak kevin? iya kemarin aku juga sudah bertemu dengannya." jawab Tania santai
"Oh Kevin namanya, apa dia tahu kalau kamu sudah menikah?" tanya Rangga penasaran.
"Tidak, kamu tidak memberitahunya kan kemarin?" tanya Tania panik.
"Apa kamu sudah tidak waras? untuk apa aku memberitahunya." jawab Rangga
"Iya sih, tapi kamu sudah memberitahu Anisa kan? mana mungkin Anisa masih mau menerima kamu lagi, kalau bukan karena Anisa sudah mengetahui segalanya tentang pernikahan kita." sindir Tania.
Rangga sampai terperanjat mendengar ucapan Tania. yang di katakan Tania ada benarnya, kalau bukan karena Radit yang memberitahunya mungkin ia sekarang tidak akan kembali menjalin hubungan lagi dengan Anisa.
"Kenapa kamu terdiam, aku benar kan?" ucap Tania menatap lekat wajah Rangga.
"Hei otak udang jangan sembarangan kalau bicara, aku tidak mungkin melanggar janji yang sudah kubuat sendiri kemarin lalu." bela Rangga berusaha menutupi kebenarannya.
"Kamu berbohong Rangga !" batin Tania mendengar jawaban Rangga
"Oh baguslah, ya sudah lanjutkan tugas kamu membersihkan rumah tadi. aku mau berangkat bekerja sekarang, karena sudah hampir terlambat." ejek Tania sambil menatap jam di tangannya.
__ADS_1
"Hei otak udang beraninya kamu berbicara begitu." teriak Rangga melihat Tania pergi begitu saja.