
Tak lama kemudian acara makan siang bersama selesai, rangga merasa senang karena semuanya sudah berjalan sesuai keinginannya. sedangkan tania malah merasa sangat kesal sekali menyaksikan apa yang terjadi hari ini.
"Otak udang makan siangnya sangat menyenangkan sekali ya?" tanya rangga
"Kamu bilang menyenangkan? aku bahkan merasa sangat malu melihat tingkah kamu di depan kak kevin tadi." jawab tania sambil sibuk membereskan meja makannya.
"Memangnya kenapa dengan sikapku hari ini?" ucap rangga sambil tersenyum.
"Apa kamu masih tidak menyadari kesalahanmu? susah memang kalau berbicara dengan orang idiot seperti kamu." teriak tania.
"Hei otak udang harusnya kamu bersyukur, hari ini aku memperlakukan kamu dengan sangat baik di depan dia." ucap rangga.
"Mencela masakan istrinya sendiri di hadapan orang lain, apakah itu juga termasuk perlakuan baik?" sindir tania.
"Apa kamu marah karena aku mengatakan masakan kamu tidak enak tadi? pikiran kamu memang sangat picik sekali tania." ucap rangga merasa kesal.
Merasa malas memulai perdebatan lagi dengan rangga, tania langsung berhenti berberes dan naik ke lantai atas.
"Otak udang aku belum selesai bicara ! " teriak rangga melihat tania pergi.
Merasa ucapannya di abaikan, rangga langsung mengetuk pintu kamar tania. namun di dalam kamarnya, tania tak menghiraukan suara teriakan rangga sama sekali.
"Otak udang, apa kamu marah padaku hanya karena pria seperti kevin?" teriak rangga sambil menggedor pintu.
Melihat tania tidak membuka pintu kamarnya, akhirnya kevin langsung pergi. meski sedikit kesal melihat sikap tania barusan, tapi tak bisa dipungkiri dalam hati rangga sangat senang sekali. dia merasa bahagia karena berhasil mengerjai tania dan kevin siang ini.
Malamnya rangga bolak balik di sofa, memperhatikan tania tidak turun-turun dari siang tadi. akhirnya rangga berfikir kalau sikapnya siang tadi mungkin sedikit keterlaluan.
"Otak udang keluarlah, ada yang mau aku katakan." ucap rangga mengetuk pintu kamar tania.
"Ada apa? cepat katakan ! " jawab tania sambil membuka sedikit pintu kamarnya
"Minggu lalu kita tidak jadi nonton bioskop bersama.." ucap rangga
"Terus?" jawab tania cuek
"Apa kamu mau menonton bioskop bersamaku malam ini?" tanya rangga ragu
"Tidak mau moodku sedang buruk, pergilah ! " ucap tania.
"Tunggu dulu." rangga mencegah tania
"Ada apa lagi?" jawab tania kesal.
"Ayolah otak udang, kita tidak pernah pergi bersama selama menikah. anggap saja ini kenangan kita setelah berpisah nanti." ucap rangga sambil menunduk.
Mendengar perkataan rangga begitu tulus, tania menjadi tidak tega untuk menolaknya. apa lagi mendengar kata perpisahan, membuat tania sadar kalau momen seperti ini mungkin tidak akan terulang lagi suatu saat nanti.
Sementara di dalam hatinya, rangga tidak mengerti kenapa tiba-tiba ucapan seperti itu bisa terlontar dari mulutnya. padahal niatnya tadi hanya untuk membujuk tania, agar tidak merasa marah lagi karena ulahnya siang tadi.
"Baiklah, tunggu sebentar aku berganti pakaian dulu." jawab tania datar.
"Oke aku tunggu di bawah, jangan lama." jawab rangga
Di dalam kamarnya, tania bersemangat memilih baju dan berdandan dengan rapi. setelah selesai tania bergegas turun menemui rangga di dalam mobil.
"Apa kamu sudah tidak marah lagi?" tanya rangga sambil tersenyum senang.
"Aku tidak akan berada di mobil ini, kalau aku masih marah." jawab tania sambil merapikan rambutnya.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah mall. tania dan rangga langsung memasuki lift menuju tempat di mana lantai bioskop berada.
Selama di dalam bioskop tania fokus menonton, karena film yang di pilihkan rangga sangat sesuai dengan seleranya. lain halnya dengan rangga, baru berapa menit berada di dalam sana sudah membuatnya merasa kejenuhan. sebenarnya rangga tidak terlalu menyukai film tersebut, akhirnya hampir selama film di tayangkan mata rangga malah tertidur dengan lelapnya.
Saat selesai menonton, tania baru menyadari kalau kepala rangga sudah bersandar di bahunya sejak tadi.
"Dasar idiot, dia mengajakku menonton tapi malah tertidur di dalam bioskop." ucap tania kesal.
Tak lama kemudian, ponsel tania berbunyi. melihat yang menelpon adalah anisa, tania kaget dan ragu untuk mengangkatnya. sementara rangga karena terlalu lelapnya tertidur, suara ponsel tania pun tidak membuat dia terbangun sama sekali.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya tania dengan malas menjawab panggilan telepon dari anisa.
"Apa rangga sedang bersama kamu sekarang?" tanya anisa
"Kenapa tidak menelponnya langsung saja?" jawab tania merasa heran mendengar pertanyaan anisa.
"Jawab saja pertanyaanku barusan ! " ucap anisa merasa kesal.
"Iya dia bersamaku, ada apa?" tanya balik tania.
"Di mana kalian sekarang?" tanya anisa sudah panik mendengar jawaban tania
"Di trade center mall, kami baru seles..." jawab tania.
Belum sempat tania menyelesaikan ucapannya, anisa malah langsung memutuskan panggilannya.
"Wah, aku bahkan belum selesai bicara." batin tania kesal sambil menatap ponselnya.
"Hei idiot, cepat bangun ! bahuku jadi pegal semua karena kamu." gerutu tania sambil mendorong kepala rangga.
"Hah? apa filmnya sudah selesai?" tanya rangga kaget melihat keadaan di dalam bioskop sudah tidak ada orang lagi.
Tania langsung bergegas keluar meninggalkan rangga begitu saja di kursi bioskop. melihat tania tidak menjawab pertanyaannya, rangga bergegas mengejar tania.
"Otak udang tunggu, apa kamu marah? sorry aku ketiduran." tanya rangga setelah berada di dalam lift.
"Apa ponsel kamu sedang tidak aktif sekarang?" tanya balik tania.
Mendengar ucapan tania, rangga langsung mengecek ponsel di saku celananya.
"Ah iya ponselku mati, karena habis baterai." jawab rangga.
"Pantas saja." jawab tania datar.
"Ada apa?" tanya balik rangga.
Saat berada di dalam mobil, rangga bergegas mengecas ponselnya. selama di jalan pulang, rangga heran kenapa wajah tania terlihat tampak kesal.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya tania melihat rangga menepikan mobilnya ke sebuah restoran.
"Ayo kita makan dulu, aku lapar." ajak rangga
Belum sempat keluar, tiba-tiba ponsel rangga berbunyi. rangga terperanjat melihat yang menelponnya sekarang adalah anisa.
"Kenapa? angkat saja." ucap tania seakan sudah tahu kalau yang menelpon rangga adalah anisa.
"Ah iya, baiklah.." jawab rangga merasa tidak enak.
Setelah mengangkat telepon tersebut, rangga langsung memutarkan mobilnya ke mall lagi.
"Apa kita tidak jadi makan?" tanya tania
"Nanti saja, anisa meminta aku menjemputnya di depan mall tempat kita menonton bioskop tadi." jawab rangga sambil fokus menyetir.
"Apa? jadi sekarang kamu mau ke sana lagi?" tanya tania kesal.
"Apa di bioskop tadi anisa menelpon kamu?" tanya rangga
"Iya, memangnya kenapa?" tanya balik tania.
"Kenapa kamu tidak bilang? dia bahkan menyusul kita ke mall sekarang." gerutu rangga.
"Seharusnya dia bisa menelpon kamu dulu sebelum pergi, kenapa dia bodoh sekali ! " celetuk tania merasa kesal mendengar ucapan rangga.
"Jaga cara bicara kamu tania ! " ucap rangga dengan tegas.
"Apa? kenapa kamu marah? kamu saja sering meneriaki aku otak udang, kenapa aku tidak boleh mengatainya bodoh." jawab tania emosi.
Rangga berusaha menahan amarahnya, karena mobilnya sekarang sudah tiba di depan mall. dari kejauhan anisa langsung menghampiri mobil rangga, sambil tersenyum seramah mungkin meski di dalam hati anisa kesal melihat tania satu mobil bersama rangga.
__ADS_1
"Masuklah.." ucap rangga datar.
"Aku tidak suka duduk di sana, apa kamu bisa pindah ke kursi belakang tania?" ucap anisa santai.
Belum sempat rangga berbicara, menyadari dirinya sudah di sindir tania langsung keluar dari mobil. bukannya untuk pindah duduk di kursi belakang, namun tania memutuskan pergi meninggalkan mobil rangga begitu saja.
Melihat tania pergi, rangga kaget dan langsung keluar mobil mengejar tania ke pinggir jalan. belum sempat tania menyeberang jalan, tiba-tiba tangan seseorang menariknya dari belakang. tania kaget melihat yang memegang tangannya sekarang adalah rangga.
"Lepaskan aku ! " ucap tania sambil mengusap air matanya di depan rangga.
"Ayo masuk ke dalam mobil." ucap rangga sambil menarik tangan tania.
"Apa kamu tidak dengar, lepaskan tanganku sekarang ! " teriak tania sambil menarik tangannya dari genggaman rangga.
Melihat semua orang memperhatikan dirinya dan tania, rangga malah langsung memaksa tania untuk masuk kembali ke dalam mobilnya. karena sudah sangat emosi, tiba-tiba tanpa sengaja tania langsung menampar wajah rangga begitu saja di depan semua orang.
"Apa kamu tuli? aku bilang lepaskan tanganku sekarang ! " ucap tania dengan tegas.
Rangga merasa sangat kaget, ini pertama kalinya dia melihat tania semarah ini. entah kenapa rangga merasa sangat merasa terluka melihat air mata tania menetes di depannya sekarang.
"Pergilah, semua orang sedang melihat kita sekarang." ucap tania datar
Rangga masih terdiam di depan tania, tanpa menjawab sepatah katapun. sementara tania, tanpa sadar dia langsung menghubungi kevin untuk menjemputnya sekarang.
"Aku mohon pulanglah denganku, jangan pergi bersamanya." ucap rangga menahan tania.
"Kamu egois rangga ! " ucap tania langsung pergi ke halte meninggalkan rangga di pinggir jalan.
Melihat tania duduk di halte sambil menangis, entah kenapa hati rangga merasa sangat begitu hancur. rangga bahkan melupakan kehadiran anisa di depan mobilnya sedari tadi.
Di halte tania tidak mengerti, kenapa suasana hatinya saat ini sangat buruk. tania bahkan tidak bisa menahan air matanya sendiri agar tidak terjatuh di tempatnya sekarang.
"Aku mohon, berhenti menangis. kamu benar-benar bodoh tania ! " ucap tania sambil berusaha menghapus air matanya.
Di ujung sana, ada seseorang yang juga sama kecewanya dengan tania. dalam hati anisa menyadari satu hal, mungkin tanpa sadar rangga sudah mulai menyukai tania saat ini. meski rangga tidak pernah mengatakannya, tapi malam ini anisa bisa melihat semuanya dengan jelas.
"Maafkan aku, sudah membuat kamu kecewa malam ini." ucap rangga menghampiri anisa.
Dalam hati, ingin sekali rangga mengatakan itu pada tania. namun semuanya sangat sulit terucap di depan tania. lagi dan lagi sebuah ego sudah menahan hati rangga untuk tidak mau mengatakan itu di hadapan tania.
Anisa hanya terdiam tanpa menjawab ucapan rangga, dia langsung masuk ke dalam mobil. sepanjang jalan, rangga dan anisa terdiam dengan pikiran kalutnya masing-masing. setelah sampai di depan apartemen, anisa langsung keluar tanpa mengucapkan apapun.
"Anisa tunggu.." ucap rangga sambil keluar dari mobil.
"Pulanglah, aku lelah ! " ucap anisa langsung pergi meninggalkan rangga.
Melihat sikap anisa malam ini, rangga menyadari kalau dia juga sudah membuat anisa kecewa. di dalam perjalanan pulang, tiba-tiba rangga langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan. pikirannya sangat begitu kacau, sampai saat ini rangga masih tidak bisa memahami perasaannya saat ini.
Sedangkan tania sekarang, sudah berada di taman bersama kevin. setelah menjemput tania di halte, kevin sengaja memberhentikan mobilnya di taman.
"Menangislah, tidak perlu di tahan. meski kamu tidak menceritakan apapun, tapi aku bisa memahami perasaan kamu sekarang." ucap kevin duduk di samping tania.
"Terima kasih kak." jawab tania.
"Untuk apa?" tanya kevin datar.
"Sudah mau menjemputku malam ini." jawab tania.
"Tania apakah sudah terlambat, kalau aku mulai menyukai kamu sekarang?" ucap kevin berbicara serius.
"Kenapa mengatakan hal seperti itu di saat aku sudah menikah? tapi terima kasih, aku bahagia mendengarnya." jawab tania santai karena berfikir kalau ucapan kevin hanya sebuah lelucon untuk menghiburnya.
"Lihat aku ! " ucap kevin
"Hah? " jawab tania sambil tersenyum menatap kevin.
"Aku serius mengatakan ini. kurasa, aku mulai menyukai kamu sekarang." ucap kevin
Menatap wajah kevin dengan seksama, tania hanya bisa terperangah dan bingung mau menjawab apa. dalam hati tania berfikir bagaimana bisa kevin menyatakan perasaannya dengan sesantai itu sementara dia tahu kalau statusnya sekarang sudah menikah.
__ADS_1