The Reason

The Reason
Part 31


__ADS_3

Cukup lama mereka menghabiskan waktu berkumpul bersama, pulangnya anisa menawari tania tumpangan. tania terpaksa menerima tawaran itu, karena merasa tidak enak dengan keluarga rangga. saat di jalan anisa mengajak tania untuk minum bersama di sebuah cafe.


"Aku ingin meminta maaf atas sikapku kemarin, aku tidak menyangka kalau kamu akan semarah itu." ucap anisa.


"Tidak masalah, lupakan saja. mungkin aku terlalu berfikiran picik saat itu. aku juga mau meminta maaf karena sudah membuat kalian merasa tidak nyaman." jawab tania.


"Tania boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya anisa.


"Apa?" jawab tania.


"Sebenarnya aku sudah mengetahui rahasia pernikahan kalian, tapi itu bukan masalah bagiku. satu hal yang ingin aku pastikan sama kamu?" ucap anisa.


"Apa rangga yang memberitahu kamu?" tanya balik tania.


"Bukan, temannya yang memberitahuku. sudahlah itu penting. sekarang tolong jawab pertanyaanku dengan jujur, apa kamu menyukai rangga?" tanya anisa.


"Seperti yang kamu tahu pernikahanku dengan rangga, terjadi hanya karena salah paham." jawab tania.


"Baguslah, kuharap kamu tidak akan menjadi orang ketiga antara aku dengan rangga. apa kamu mengerti maksudku?" sindir anisa.


"Kenapa berbicara begitu, apa kamu merasa takut?" ucap tania.


"Aku percaya dengan rangga. lagian setelah pernikahan kalian berakhir, aku dan rangga akan segera menikah." ucap tania.


"Harusnya kamu tidak perlu mengajakku minum bersama, kalau hanya untuk menanyakan hal semacam ini." ucap tania.


Anisa terdiam memdengar ucapan tania. apa yang dikatakan tania barusan, juga ada benarnya.


"Sudahlah, aku duluan pergi. tidak perlu mengantarku pulang." ucap tania sambil beranjak pergi.


Di jalan tania merasa sangat kecewa, mendengar rencana pernikahan yang dikatakan anisa barusan. malamnya tania memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan menginap di rumah melly.


Saat rangga pulang dia kaget, melihat tania tidak ada di rumah. tak lama kemudian, rangga langsung menghubungi tania.


"Hei kemana saja kamu? kenapa belum pulang?" teriak rangga di telepon.


"Tidak perlu berteriak begitu, aku tidak akan pulang malam ini karena sedang menginap di rumah temanku." jawab tania.


"Apa? kenapa kamu tidak memberitahuku dari tadi?" ucap rangga.


"Aku lupa ! sudah ya aku matikan, besok pagi aku akan pulang." jawab tania di ujung sana sambil mematikan ponselnya.


Mendengar tania tidak pulang malam ini, rangga merasa sedih. rumahnya tampak sepi, saat tania tidak ada di rumah.


Melihat tania tiba-tiba mau menginap di rumahnya, melly merasa heran.


"Tan apa kamu sedang ada masalah?" tanya melly.


"Gak ada mel, aku hanya sedang merasa bosan saja." jawab tania.


"Gak usah bohong, wajah kamu kelihatan sendu gitu. udah cerita aja, ada masalah apa sih?" ucap melly


"Mel sebenarnya sore tadi, aku habis bertemu dengan anisa. dia sudah tahu semuanya mengenai pernikahan kami." ucap tania datar.


"Apa? terus tan, dia bilang apa lagi?" jawab melly kaget.


"Dia bilang akan segera menikah dengan rangga setelah kami bercerai nanti." ucap tania.


"Kok sampai hati banget, anisa ngomong kayak gitu. siapa yang memberitahunya tan?" tanya melly.


"Radit mungkin, soalnya cuma radit yang tahu betul semua awal masalah kami bisa berakhir begini." ucap tania.


"Oh iya ya tan, untung aja anisa gak sampai ngomong sama keluarganya kak rangga ya?" ucap melly.


"Iya mel..." jawab tania datar.


Paginya tania pulang ke rumah rangga, namun saat tiba di rumah tania kaget melihat rangga sudah memasak makanan.


"Apa kamu yang memasak makanan sebanyak ini?" ucap tania sambil menatap meja makan.

__ADS_1


"Iya duduklah, ayo kita sarapan." jawab rangga sambil tersenyum senang.


Tania bergegas duduk di meja makan dan mencicipi semua masakan rangga.


"Bagaimana rasanya?" tanya rangga ragu.


"Enak sekali, ternyata kamu pintar masak juga ya?" puji tania.


"Baguslah kalau enak !" jawab rangga.


Saat makan rangga heran, melihat wajah tania tampak murung dan tidak seperti biasanya.


"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya rangga ragu.


"Tidak ada !" jawab tania tanpa menatap wajah rangga.


"Apa kemarin nenek membuat kamu kesal lagi?" tanya rangga.


"Tidak !" jawab tania cuek


"Apa mama dan papaku mengatakan sesuatu, yang menyakiti perasaan kamu?" tanya rangga masih penasaran melihat sikap tania sangat diam sekali pagi ini.


"Tidak rangga, mereka memperlakukan aku dengan baik kemarin. sudah fokus makan saja, aku sedang tidak mood diajak bicara sekarang ! " jawab tania menegaskan.


"Baiklah, maafkan aku." ucap rangga datar.


hari ini rangga memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. entah kenapa rangga masih memikirkan sikap tania pagi ini. sementara tania selesai mencuci piring di dapur, dia pun bergegas pergi ke taman belakang tanpa menegur rangga sama sekali.


"Dia bahkan mengabaikan aku sekarang !" batin rangga.


Rangga sengaja mengikuti tania di taman belakang, sambil berpura-pura olahraga di depan tania. namun tania hanya diam dan fokus membaca buku sambil duduk di ayunan.


Merasa tidak di tegur tania sama sekali, rangga langsung masuk ke dalam rumah lagi. sambil mondar mandir di depan sofa, akhirnya rangga menemukan ide untuk menarik perhatian tania.


"Otak udang bisa tolong ambilkan aku minum?" teriak rangga di sofa.


Tania bergegas mengambilkan minum dan menaruhnya di meja. rangga kaget melihat reaksi tania biasa saja, saat rangga sengaja memerintah tania seperti itu.


"Baiklah ! " jawab tania datar.


"Dia tidak marah sama sekali, saat aku terus menyuruhnya sedari tadi?" batin rangga.


Selesai masak mie instan, tania menaruhnya di meja makan dan bergegas naik ke lantai atas. sementara rangga melihat mie nya sudah di buat tania, akhirnya rangga terpaksa memakannya meski dia sendiri masih merasa kenyang saat ini.


Di kamarnya saat tania baru saja akan tidur siang, tiba-tiba kevin menelponnya.


"Ada apa kak?" tanya tania.


"Apa kamu sedang sibuk sekarang?" tanya balik kevin di ujung sana.


"Lagi santai saja kak.." jawab tania.


"Bisa kita bertemu, aku bosan makan siang sendirian saat ini." ucap kevin


"Baiklah kak." jawab tania merasa tidak enak untuk menolak ajakan kevin.


Selesai berpakaian dengan rapi tidak lama kemudian tania turun ke lantai bawah, sementara rangga kaget melihat tania langsung keluar pintu begitu saja.


"Otak udang kamu mau ke mana?" tanya rangga di depan pintu.


"Aku ada urusan sebentar, saat selesai nanti aku akan langsung pulang." jawab tania.


"Tunggu ! cincin kamu di mana? apa kamu sengaja tidak memakainya hari ini?" ucap rangga sambil melihat jari tangan tania.


"Ada di kamar, aku lupa memakainya tadi." jawab tania


Tania sengaja melepaskan cincinnya. tania merasa kecewa, mendengar rangga akan segera menikah dengan anisa setelah perceraiannya nanti.


"Mana bisa kamu melupakannya, cepat pakai cincinnya kembali !" perintah rangga.

__ADS_1


"Aku malas naik ke atas lagi, aku hanya keluar sebentar. pulang nanti akan aku pakai lagi cincinnya." tolak tania.


"Kamu ini, tunggu sebentar biar aku ambilkan ! di mana kamu menaruh cincinnya?" tanya rangga.


"Di laci meja hiasku." jawab tania.


Sambil menungu rangga mengambil cincinnya, tania merasa aneh dengan sikap rangga belakangan ini. rangga menjadi lebih perhatian, tidak seperti biasanya.


Di kamar tania, sambil mengambil cincin pernikahannya di laci. rangga tidak sengaja melihat kalender tania.


"Jadi besok adalah hari ulang tahunnya?" ucap rangga sambil membaca catatan di kalender tania.


Tak lama kemudian selesai mengambil cincinnya, rangga langsung turun. tanpa meminta izin, rangga langsung memakaikan cincinnya di jari manis tania. sementara tania terperangah melihat apa yang di lakukan rangga sekarang. ada perasaan, antara bahagia dan sedih melihat sikap rangga sekarang.


"Aku mohon jangan pergi, biarkan pernikahan kita terus berlanjut seperti sekarang. jangan menikah dengannya, tetaplah bersamaku..." batin tania tiba-tiba berbicara di luar kendalinya sendiri.


"Otak udang apa kamu terharu, melihat aku memakaikan cincin ini di jarimu?" ejek rangga


"Tidak sama sekali, memangnya kenapa?" tanya tania berusaha menahan air matanya.


"Lihat mata kamu sampai berkaca-kaca begitu?" ucap rangga.


"Sudahlah aku hampir terlambat, aku pergi ya?" ucap tania pamit keluar pagar.


"Otak udang, cepat pulang ! aku menunggumu, saranghae." teriak rangga sambil melambaikan tangannya.


Tania tersenyum dan membalas lambaian tangan rangga. di jalan tania menangis sesenggukan, perasaannya menjadi tidak menentu. tania tidak mengerti, kenapa dirinya menjadi sesedih ini sekarang.


Saat sampai di cafe karena terburu-buru, tania tidak melihat kalau di dalam cafe sekarang ada mama rita yang sedang sibuk mengobrol dengan temannya. untungnya letak meja kevin dan mama rita agak berjauhan jadi mereka tidak saling melihat satu sama lain.


"Kenapa mata kamu sembab?" tanya kevin setelah tania duduk di meja makan.


"Benarkah?" jawab tania sambil mengeluarkan kaca di dalam tasnya.


"Apa kamu habis menangis?" selidik kevin.


"Iya kak aku habis jatuh dari tangga, karena sakit aku jadi menangis di rumah tadi." jawab tania sambil memaksakan senyum.


"Apa kaki kamu terluka?" tanya kevin kaget.


"Tidak kak, hanya nyeri sedikit saja. tapi ini sudah agak baikan kok." jawab tania.


"Syukurlah, lain kali hati-hati saat turun tangga." ucap kevin serius.


Tania hanya mengiyakan ucapan kevin, dalam hati pikirannya masih tertuju pada rangga.


"Apa kamu sedang ada masalah? wajah kamu terlihat murung sekali hari ini?" tanya kevin.


"Tidak ada kak, aku baik-baik saja." jawab tania sambil tersenyum.


Dari jauh mama rita kaget melihat tania sedang makan bersama pria, di tempat yang sama dengannya. sambil berdiri, mama rita langsung menghampiri tania.


"Tania sedang apa kamu di sini? siapa dia?" tanya mama rita penasaran.


"Ma..ma..," jawab tania terbata.


"Lain kali ajaklah rangga kalau makan siang di luar ! tidak baik tania, nanti kalau ada yang mengenal kamu di sini, bisa salah paham." sindir mama rita.


"Maaf ma, dia teman lama tania." jawab tania.


Belum sempat kevin memperkenalkan diri, mama rita sudah beranjak pergi meninggalkam tania. di jalan pulang, mama rita merasa kecewa dengan sikap tania.


Selesai makan kevin mengajak tania duduk di taman. melihat wajah tania terlihat sangat sedih, kevin bisa mengerti bagaimana perasaan tania sekarang.


"Maafkan aku, sudah membuat kakak merasa tidak nyaman di cafe tadi." ujar tania berusaha menahan air matanya.


"Gpp aku yang salah, seharusnya aku tidak mengajak kamu makan siang hari ini?" jawab kevin merasa kesal dengan dirinya sendiri.


"Kakak tidak salah, sungguh jangan bicara seperti itu kak.." ucap tania terisak sambil menangis.

__ADS_1


Cukup lama tania menangis, kevin hanya terdiam. dalam hati, ingin sekali kevin merangkul tania dan menghapus air matanya. namun dia tak bisa berbuat sejauh itu.


__ADS_2