The Reason

The Reason
Part 9


__ADS_3

Akhirnya Rangga mengantar neneknya pulang ke rumah. sementara Tania sekarang sudah ada di mobil Rangga, lantaran nenek Amirah menyuruh Tania untuk ikut pulang sekalian. setibanya di rumah, nenek kaget kenapa di depan rumahnya ada sebuah mobil terparkir dengan plat BG yang tampak asing. Rangga juga berfikir siapa yang datang ke rumah neneknya sepagi ini. saat turun dari mobil betapa kagetnya Rangga melihat Anisa sudah duduk di depan pintu rumah neneknya.


Sementara Tania berusaha membantu nenek Amirah turun dari mobil, sampai di depan pintu nenek Amirah terkejut melihat Anisa.


"Maaf nek sudah datang sepagi ini, rencana mau menemui nenek tapi kata mba siti nenek belum pulang dari kemarin" Anisa langsung berdiri dari kursi menghampiri nenek


"Iya tidak apa-apa, mari masuk" nenek Amirah tersenyum ramah


"Duduklah, nenek kemarin habis dari tempat Rangga" ucap nenek Amirah


Rangga langsung naik ke lantai atas karena merasa lelah semalaman menginap di rumah sakit dan mengabaikan Anisa. melihat Rangga naik ke atas Tania berniat pamit pulang akan tetapi nenek Amirah melarangnya dan menyuruh Tania menunggu sebentar. Anisa pun menatap wajah Tania yang seperti tidak asing di matanya.


"Dia pegawainya Rangga, kemarin nenek di rawat di rumah sakit, karena harus menginap semalam jadi nenek minta bantu sama dia untuk menemani nenek" nenek menjelaskan


"Oh nenek sakit apa? kenapa tidak menghubungi keluarga nenek yang lain?" tanya Anisa kaget


"Tidak apa-apa, biasa sakit kepala nenek kambuh. cuma menginap sehari di rumah sakit nenek tidak mau banyak merepotkan orang. kamu tahu sendiri dari dulu orang tua Rangga sering tinggal di luar kota" ucap nenek Amirah


Tania hanya diam saja mendengar pembicaraan mereka. dalam hati Tania merutuki Rangga karena sudah membuatnya terlibat sejauh ini dan meninggalkannya sendiri tanpa memberikan perintah agar Tania bisa segera pulang.


"Sampai kapan aku harus duduk bersama kedua orang asing ini? sih Rangga tadi mana sih, main pergi aja. aku mau pulang neneknya belum mengizinkan sementara nenek ini sibuk mengobrol dari tadi. sabar Tania" batin Tania yang merasa serba salah


Tak berapa lama kemudian Rangga turun dengan pakaian rapi karena sudah mandi. melihat Tania yang sudah menatapnya dengan jengkel akhirnya Rangga langsung mengajak Tania pulang bersama.


"Ayo Tan kalau mau bareng pulang, sekalian aku juga mau ke Resto" ucap Rangga berjalan keluar pintu


Tanpa berpamitan dengan nenek Amirah Tania langsung pergi keluar mengikuti Rangga.


"Rangga aku tidak menyangka kalau kamu benar-benar sudah berubah. aku tahu kita sudah tidak punya hubungan lagi, tapi tidak bisakah kamu menyapaku hanya sebagai teman saja saat ini?" batin Anisa yang merasa sedih karena Rangga benar-benar mengabaikannya


"Rangga tunggu dulu, kamu ini main pulang saja. kasihan Anisa di dalam melihat kamu bersikap begitu" Nenek berjalan keluar ingin menahan Rangga


"Apalagi nek, Rangga buru-buru banyak kerjaan di toko" balas Rangga sambil membuka pintu mobil


"Ya sudah, pegawai itu pulang sama kamu ya?" nenek Amirah melihat Tania di depan mobil Rangga


"Iya nek, Rumahnya tidak jauh dari toko Rangga jadi sekalian saja" Rangga menatap Tania


"Oh ya sudah hati-hati" sahut nenek sambil melihat Tania mengingat kejadian kemarin


Nenek akhirnya masuk ke dalam rumah lagi, mengingat Anisa masih ada di dalam.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Rangga sinis


"Duduk di belakang, kenapa kak?" jawab Tania


"Duduk di depan ! aku tidak mau terlihat seperti supir kamu"


"Ya Ampun sifat dinginnya kambuh lagi ! menyuruh orang pindah tempat duduk aja harus bicara sekasar itu. menyebalkan ! " batin Tania sambil membuka pintu mobil depan


Sepanjang perjalanan pulang Tania hanya diam menatap kaca mobil, Rangga yang melihat ke arah Tania jadi teringat kejadian kemarin. sebenarnya dari tadi ada yang ingin Rangga katakan karena itu menyangkut harga dirinya tapi Rangga bingung harus memulai semua dari mana.


"Tan masalah kecoa kemarin jangan cerita sama siapapun ! " Rangga sambil menatap ke arah depan mobil


"Hahah terserah saya dong tuan Rangga, itukan haknya saya" batin Tania tertawa puas mengingat kejadian kemarin


"Apa kamu tidak dengar aku bicara?" Rangga melihat Tania dari tadi tidak merespon ucapannya


"Eh, iya kak" Tania baru sadar belum menjawab perkataan Rangga


"Iya apa?" selidik Rangga


"Masalah kecoa kan kak? iya aku gak akan cerita sama orang lain" jawab Tania sekena nya


"Baguslah !" ucap Rangga tenang


Akhirnya Tania sampai di depan Resto Lapizza, Tania langsung bergegas pulang. sampai di rumah Tania segera merebahkan badannya di ranjang. Melly yang baru selesai mandi terkejut melihat Tania sudah ada di kamar tidur.


"Tania..... bikin kaget aja sebelum masuk tuh ucap salam atau apa kek, langsung tiduran aja aku pikir tadi siapa?" Melly sambil mengeringkan rambutnya

__ADS_1


"Sorry Mel, aku capek banget semalaman nginep di rumah sakit mana tidur di sofa lagi. badanku rasanya sakit semua" sahut Tania dengan mata terpejam


"Oh iya Tan, ceritain masalah nenek Rangga kemarin kok bisa pingsan sih waktu naik ke lantai atas?" Melly yang penasaran masalah kemarin


"Nanti aja ya Mel, sumpah aku ngantuk banget mau tidur lagi" Balas Tania


"Yaaa Tan masih pagi ini woy?" Ucap Melly


Yang di tanya malah tidak menjawab lagi, akhirnya Melly beranjak ke dapur untuk membuat sarapan pagi.


"Hm harumnya... seorang Melly selain cantik ternyata pinter masak juga" batin Melly memuji dirinya


Tania dengan wajah percaya dirinya sudah ada di depan meja makan. mencium bau masakan membuat Tania langsung bergerak bangun dari tempat tidur.


"Isss kamu ini Tan, aku ajak cerita tadi malah bilang mau tidur. giliran ada makanan aja langsung bangun" celoteh Melly


"Hheheh... perutku ternyata keroncongan juga Mel, mana bisa fokus tidur" sahut Tania sembari mengambil sendok


"Ya udah terserah kamu deh, Ehh ceritain dong apa yang terjadi kemarin?" tanya Melly


"Gini Mel kemarin waktu di suruh kak Rangga narok minumannya ke meja, tiba-tiba seekor kucing langsung nempel di kakiku. dan karena aku panik mau menghindar gak sengaja aku nabrak kak Rangga, eh kami jadi barengan jatuh ke lantai. nah neneknya kak Rangga salah paham, pikirnya aku dan kak Rangga mau melakukan perbuatan buruk di dalam ruangan itu. ya udah deh nenek kak Rangga langsung pingsan karena kaget" jelas Tania sambil tangannya sibuk makan


"Oh pantes aja Tan, jadi semalam kamu nginep di rumah sakit sama kak Rangga ya? kamu tidur di mana dong kalo kak Rangga juga ada di sana?" Kesimpulan yang di ambil hanya langsung tentang Rangga


"Di sofa Mel, kak Rangga di kursi luar" jawab Tania datar


Melly pun lanjut makan setelah mendengarkan penjelasan dari Tania. sementara Tania yang sudah selesai makan langsung pergi mencuci piring ke dapur.


--------


Siang ini Tania dan Melly pergi kerja dengan terburu-buru karena habis pulang dari mall. sembari sibuk berlari tepat di depan pintu Resto Lapizza Melly tidak sengaja menabrak nenek Amirah. Melly langsung sibuk meminta maaf sementara Tania sudah menutupi mukanya pakai jaket karena mengetahui yang di tabrak dekat pintu adalah nenek Amirah.


"Aduh ngapain lagi tuh nenek siang gini ke Resto, semoga aja dia gak ngebahas masalah kemarin" batin Tania panik


Nenek amirah langsung duduk di meja tanpa menanggapi permintaan maaf Melly.


"Apes banget aku ngapain mesti nabrak nenek Amirah sih? untung dia gak ngoceh" batin Melly


"Mba udah berapa lama nenek kak Rangga di sini?" ucap Tania sambil duduk di lantai menghindari nenek Amirah


"Baru banget Tan, kalian datang dia baru mau masuk ke dalam" jawab Dawiyah


"Eh Daw kak Rangga ada di atas gak ya? kalau kak Rangga sampai melihat kami datang telat gawat, bisa di omelin lagi kita Tan" Tanya Melly


"Kalian beruntung hari ini, kak Rangga udah keluar dari pagi tadi" ucap Dawiyah


"Tolong panggilkan Rangga di atas" perintah nenek Amirah yang sudah ada di depan meja kasir


Sementara yang ada di kasir tidak menyadari keberadaan nenek Amirah di depan mereka sontak menjadi terkejut apalagi melihat wajah nenek Amirah yang tegas dan dingin sama seperti Rangga.


"Maaf nek lupa bilang kak Rangganya sedang tidak di toko dari pagi tadi nek" Dawiyah memberanikan diri menjelaskan


"Rangga ini sudah tahu neneknya akan datang dia malah pergi" Celoteh nenek Amirah sambil menatap Tania


"Hei pegawai kamu ikut saya sekarang ! "


"Saya nek, ke mana?" jawab Dawiyah kaget


"Bukan kamu tapi dia ! " sorot mata nenek Amirah menatap Tania


"Hah? tapi nek saya sedang bekerj....." belum sempat Tania menolak nenek Amirah sudah menatap tajam Tania seakan marah kalau ucapannya di bantah


Akhirnya Tania berhenti bicara dan hanya mengiyakan ucapan nenek Amirah. sedangkan nenek Amirah sengaja membawa Tania ke rumahnya lantaran semenjak kejadian kemarin nenek Amirah masih berfikir kalau Tania adalah pacarnya Rangga.


"Aduh Mel masalah apa lagi ini, menghadapi Rangga aja aku mumet apalagi neneknya?" keluh Tania sambil melihat nenek Amirah keluar


"Sabar ya Tan, semangatttt ! turutin aja dulu nanti kalau kak Rangga udah pulang aku langsung kabarin kamu. jangan lupa bawa ponsel kamu Tan" Melly memberi semangat pada Tania


Tania berusaha tersenyum seramah mungkin dan langsung masuk ke mobil nenek Amirah.

__ADS_1


"Mel kenapa nenek kak Rangga tiba-tiba ngajak Tania ikut dengannya?" tanya Dawiyah


Melly pun panjang lebar menjelaskan semuanya. sementara Dawiyah hanya menggelengkan kepala pikirnya ada-ada saja masalah yang di buat Tania selama bekerja di sini.


"Saya sengaja mengajak kamu ikut ke rumah, karena saya ingin mengetahui bagaimana bibit, bebet, bobot keluarga kamu" ucap nenek Amirah di dalam mobil


"Ya tuhan.... jadi nenek Rangga masih berfikir aku pacarnya sih Rangga?" batin Tania sambil menatap layar ponsel yang ada di tangannya


"Tidak perlu panik begitu nanti saya akan menghubungi Rangga" ucap nenek Amirah melihat Tania yang dari tadi hanya menatap layar ponsel di tangannya


"Aku harap Melly segera menelpon, bisa gawat banget kalau mesti di introgasi sama si nenek Rangga ini" batin Tania


"Pegawai apa kamu tidak mendengarkan saya bicara?" nenek Rangga mulai kesal melihat Tania yang diam tidak menjawab ucapannya dari tadi


"Eh i..iiya denger nek" jawab Tania terbata


Sampai di rumah nenek Amirah, Tania langsung di suruhnya duduk di meja makan. sembari makan nenek Amirah sibuk menanyakan banyak hal tentang Tania. sementara Tania hanya bisa menjawab seadanya saja.


Kala hari semakin beranjak sore, Melly belum mengabari Tania sama sekali dan baru saja Tania berfikir ingin pamit pulang tiba-tiba nenek Amirah berbicara


"Ayo ikut saya berkebun di belakang rumah" perintah nenek Amirah


Tania pun dengan berat hati terpaksa mengikuti langkah kaki nenek Amirah ke belakang rumah. pikirnya tidak mungkin harus menolak. sampai di belakang rumah Tania takjub ada kebun sayur seluas itu dan tanaman bunganya yang berjejer rapi.


"Kamu pakai topi ini, bantu saya membersihkan kebun sekarang" nenek Amirah sambil memberikan topi besar ke Tania


"Apa yang harus Tania lakukan nek?" Tania sembari mengikat rambut dan memasang topi yang di berikan nenek Amirah


"Pindahkan semua pot bunga itu ke dekat pagar sebelah sana" perintah nenek Amirah sambil duduk di kursi


"Hah? sebanyak ini nek?" Tania kaget melihat pot bunga sebanyak itu harus di angkat satu persatu


"Ya ampun... aku fikir cuma di suruh metik sayuran aja gitu, ternyata melakukan hal semelelahkan ini" Tania menggerutu di dalam hati sambil melihat nenek Amirah di ujung sana


Sudah hampir setengah jam Tania bolak balik memindahkan pot bunga itu, sementara nenek Amirah hanya duduk santai sambil memakan buah-buahan di depan Tania.


"Nek, Tania sudah tidak kuat lagi ini terlalu banyak nek" Tania yang mulai kesal


"Selesaikan saja pegawai tinggal beberapa pot lagi tanggung, kamu ini pemalas sekali" Celoteh nenek Amirah sambil menatap sinis Tania


Tania mulai jengkel lantaran nenek Amirah terus memanggil namanya dengan sebutan pegawai padahal Tania sudah berapa kali menyebut namanya di depan nenek Amirah namun tetap saja di panggil pegawai. Tania masih berusaha sabar dan mendengarkan perkataan nenek Amirah.


"Pegawai kalau sudah selesai mengangkat pot bunganya tolong cabuti rumput tanaman yang di sana ya" nenek Amirah sambil menunjuk arah kebun sayurannya


Melihat nafas Tania yang sudah pengap lantaran tidak istirahat sedari tadi akhir nya Tania hanya diam dan langsung mengerjakan apa yang di suruh nenek Amirah.


"Nek rumput yang ini terlalu besar untuk di kerjakan pakai tangan, apa nenek tidak punya alat untuk memotongnya langsung?" tanya Tania dengan nafas yang ngos-ngosan


"Kamu ini pemalas sekali, nenek saja terbiasa melakukannya pakai tangan sendiri" jawab nenek Amirah sambil memegang kipas di tangannya.


"Huh, kalau bukan neneknya si Rangga, udah lama aku tinggalin kerjaan ini. sabar Tania sabar.... jangan sampai menciptakan masalah baru lagi" batin Tania berusaha menenangkan hatinya yang sudah panas mendengar ucapan nenek Amirah


Lama Tania berkelut di tengah kebun sayuran, sementara suara nenek Amirah di kursi sana sudah meneriakinya.


"Pegawai berapa lama lagi kamu akan selesai mengerjakannya? kaki nenek sudah mulai keram karena menunggu kamu dari tadi" celoteh nenek Amirah


"Pegawai kamu ini lamban sekali mengerjakannya, nenek heran kenapa Rangga mau menyukai kamu yang pemalas ini" nenek Amirah masih terus mengomel tanpa menghiraukan Tania yang sudah mulai emosi


"Nek rumput ini terlalu banyak dan besar, butuh waktu lama untuk mengerjakannya. namaku Tania nek bukan pegawai, lagian kenapa nenek tidak melakukannya sendiri kalau mau cepat. satu lagi nek Tania bukan pacarnya Rangga" dengan wajahnya yang sudah kotor dan berantakan di tengah kebun sedari tadi, akhirnya Tania meluapkan seluruh emosinya di depan nenek Amirah


"Aduh kepalaku,...." belum sempat berbicara nenek Amirah sudah terduduk lemas sambil memegang kepalanya


Sontak Tania panik dan langsung berlari pikirnya nenek Amirah mau pingsan lagi, padahal nenek Amirah hanya sakit kepala biasa lantaran kesal mendengar ucapan Tania yang berani meneriakinya


"Nenek, sini Tania bantu" tangan Tania memegang pundak nenek Amirah


"Aduh sakit kepalaku...minggir saya mau berdiri sendiri" ucap nenek Amirah sambil mengibaskan tangan Tania di pundaknya


Sementara Tania sangat merasa panik dan merasa bersalah melihat nenek Amirah yang sudah marah besar karena ucapannya barusan. Tania hanya memperhatikan nenek Amirah berdiri sendiri dan bingung harus berbuat apa lagi.

__ADS_1


🍁


__ADS_2