
Sore ini Rangga sudah tiba di rumah neneknya. dengan terburu-buru Rangga masuk ke dalam rumah ternyata Rangga tidak menemukan siapa-siapa.
"Apa lagi di kamar lantai atas ya" Batin Rangga sambil berjalan ke kamar neneknya
"Hm tumben sore gini nenek di kamar? biasa nya di belakang rumah mengurus tanaman nenek" Ucap Rangga langsung masuk kamar neneknya
"Rangga, kenapa kamu telat datang? apa lagi sibuk di toko? kamu ini mengunjungi nenek seminggu sekali saja sudah malas" Celoteh nenek Amirah
"Gak nek, bukan malas aku lupa tadi karena ada tamu di toko" sambil memeluk nenek nya
"Tamu? siapa? wanita ya?" nenek Amirah penasaran
"Radit nek temen Rangga" Ucap Rangga berbohong
"Ayo temani nenek di kebun belakang ya, nenek kadang jenuh berkebun sendiri. mau ngajak siti dia sibuk dengan pekerjaan rumah" curhat nenek
Siti adalah pembantunya nenek Amirah. siti sudah sepuluh tahun menemani nenek Amirah sejak suami nenek Amirah masih ada, namun dua tahun silam kakek Rizal meninggal karena itulah mama Rangga memberikan perintah agar Rangga selalu rajin ke tempat nenek nya. sedangkan papa dan mama Rangga selalu sibuk dengan bisnisnya masing-masing.
"Rangga kamu kapan akan menikah? kalau kamu sudah menikah nanti kalian tinggal di rumah nenek saja ya? biar nenek tidak kesepian" Ucap nenek Amirah sambil duduk melihat Rangga menyirami tanaman
"Nek, Rangga belum kepikiran mau menikah. iya nanti kalau sudah menikah Rangga akan tinggal sama nenek ya" jawab Rangga tersenyum
"Iya tapi kapan? kamu tidak melihat usia nenek semakin tua sekarang?" nenek menyadarkan Rangga
Rangga hanya diam dalam pikirannya Rangga masih mengingat Anisa. entah kenapa semenjak pertemuan tadi bayangan wajah Anisa semakin hidup di pikiran Rangga.
Saat Rangga pulang dari rumah nenek nya toko sudah tutup. Rangga pun segera naik ke lantai atas, di kamarnya segera mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya yang begitu penat hari ini.
-----
Siang ini Tania dan Melly berjalan kaki berangkat kerja bersama lantaran Melly kerja di sift siang. sampai di toko Melly langsung menyapa Dawiyah
"Dawiyah kamu tahu gak sore kemarin bayu cerita kalau insiden Alpukat yang di ributin kak Rangga kemarin ternyata ulah Rahmad" Tania hanya diam mendengar Melly membahas Alpukat lagi
"Masa sih? kok bisa Mel?" Tanya Dawiyah
"Iya, kata Bayu mungkin niatnya mau bantuin cuma salah ukuran waktu di plastikin" balas Melly
"Kak Rangga udah tahu?" tanya Dawiyah
"Belum sih" Melly menatap Tania
Dawiyah dan Melly menyarankan Tania untuk menjelaskan semuanya ke Rangga akan tetapi Tania memilih untuk tidak mau membahas masalah itu lagi. akhirnya mereka pun hanya diam mendengar jawaban Tania.
sibuk mereka mengobrol tidak lama kemudian ponsel toko berbunyi
"Tolong buatin ice chocolate hazelnut, langsung antar ke atas ya" pesan Rangga
Karena semua pegawai di sana paling malas kalau melihat wajah Rangga yang dingin kecuali Melly, membuat Dawiyah langsung kepikiran membagi tugas yang menguntungkannya.
"Aku yang bikin, kamu yang nganternya ke atas ya Mel" Ucap Dawiyah sambil tersenyum
__ADS_1
"Daw aku mau aja tapi tolong tidak untuk hari ini, Alis ku lagi gak rapi banget. sumpah aku lagi gak pede sekarang" Melly sambil menatap cermin
"Mel, mel... kamu tuh lebay banget soal penampilan. lagian cuma nganter minum aja kan? kak Rangga gak bakal sibuk memperhatikan alis kamu aja" sahut Tania
"Iya Tan tetep aja aku lagi gak pede hari ini, kamu aja ya?" Melly memelas
"Gak deh , kamu tahu kan masalahku Alpukat kemarin. aku juga masih males lihat muka kak Rangga" bela Tania
"Plisss lah Tan" Melly memohon
"Nih ya, pokok nya udah aku buat tinggal tugas kalian yang nganterin. terserah siapa yang mau ke atas" Dawiyah meletakkan minuman nya di depan Tania dan Melly
Karena tidak tega melihat Melly memohon akhirnya Tania dengan berat hati membawa minuman itu ke lantai atas. setelah Tania naik ternyata tidak lama kemudian nenek Rangga datang.
Sampai di lantai atas Tania berusaha memasang senyuman sebaik mungkin sebelum mengetuk pintu.
"Permisi kak" Ucap Tania
"Iya masuk, letakkan aja minumannya di sana" tunjuk Rangga sembari membaca buku
Saat Tania baru selesai menaruh gelasnya ke meja, tiba-tiba seekor kucing menelusup kaki Tania. karena Tania paling geli melihat kucing sontak Tania kaget dan langsung lari menaiki sofa di ruangan kerja Rangga. Rangga pun kaget dan langsung menghampiri Tania, Rangga tertawa ternyata yang di hindari Tania hanya seekor kucing.
"Rangga awas di dekat kakimu ada kecoa lewat" teriak Tania sambil berdiri di sofa
Rangga langsung menaiki sofa dan tidak sengaja menabrak tubuh Tania hingga tanpa sadar kalau sekarang mereka sedang terbaring di sofa yang sama. sementara Tania terperangah baru menyadari kalau seorang Rangga takut melihat kecoa dan cukup lama mereka saling terdiam. sementara dari depan pintu kerja Rangga, Nenek Amirah sudah menatap mereka dengan raut wajah yang kaget dan kecewa. nenek amirah pun sudah berfikir buruk melihat apa yang terjadi di depan matanya sekarang. nenek Amirah sangat merasa kecewa dan tidak percaya kalau cucu nya bisa melakukan perbuatan sekotor ini dengan pegawai nya. padahal yang di lihatnya hanya sebuah salah paham tidak seperti apa yang di pikirkan nenek Amirah sekarang.
Nenek Amirah berdiri lemas tiba- tiba penglihatan nya buram. sementara Rangga langsung berlari menyanggah nenek nya yang sudah mau terjatuh ke lantai. melihat nenek nya pingsan Rangga pun panik.
Tania pun langaung bergegas mengambil kunci mobil dan mengikuti Rangga turun. setelah berada di depan toko, Rangga langsung merebahkan nenek nya di belakang mobil.
"Tan tolong ikut aku ke rumah sakit, jaga nenekku di belakang mobil aku akan menyetir" perintah Rangga panik
Tania yang ikut panik hanya mengiyakan apa yang di perintahkan Rangga. sepanjang perjalanan Rangga sangat mengkhawatirkan neneknya, Rangga takut terjadi sesuatu terhadap neneknya. sementara orang di belakang mobil sama panik nya, Tania sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi tadi.
Di toko Melly dan Dawiyah berusaha berfikir kenapa tiba-tiba nenek Amirah bisa langsung pingsan padahal sebelum naik ke lantai atas nenek Amirah terlihat baik-baik saja.
Sampai di rumah sakit Rangga masih menunggu dokter memeriksa nenek nya. Tania hanya duduk di kursi karena bingung mau melakukan apa. walaupun sebenarnya Tania juga khawatir kalau sampai terjadi sesuatu dengan nenek Rangga, entah bagaimana nasibnya. kalau cuma di pecat dari pekerjaan mungkin Tania masih bisa mencari pekerjaan lain tapi kalau harus bertanggung jawab terhadap neneknya Rangga, Tania bingung harus berbuat apa. belum lagi harus menghadapi kemarahan Rangga.
Saat dokter keluar Tania langsung tersadar dari lamunan nya. Rangga pun langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagainana dok keadaan nenek saya? apa dia baik-baik saja?" Tanya Rangga yang khawatir
"Syukurlah nenek kamu baik-baik saja sekarang, dia hanya syok menerima suatu kejadian hingga membuatnya pingsan" jelas Dokter Hermawan
Mendengar apa yang di jelaskan dokter, Rangga pun menyadari kesalahannya terhadap apa yang terjadi tadi. sementara dokter nya pergi, Rangga langsung masuk ke ruangan di mana nenek nya terbaring sekarang. Tania hanya duduk menunggu di luar, sembari melihat jam di tangan nya sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Tania ingin izin pulang tapi tidak berani berbicara dan tidak enak juga dengan Rangga.
Di dalam ruangan nenek nya, Rangga lupa kalau Tania masih di rumah sakit. setelah dua jam berlalu Rangga baru menyadari ada Tania di luar kamar nenek nya.
"Tan kenapa kamu belum pulang dari tadi?" Tanya Rangga
"Aku gak enak kak mau ngomong, maaf ya kak atas kejadian tadi sore" Tania hanya menunduk karena merasa bersalah
__ADS_1
"Gpp bukan seutuhnya salah kamu kok, tadi aku juga salah. udah malam kalau kamu pulang sendiri bahaya, jadi malam ini menginaplah di sini" Ucap Rangga sambil melihat jam di tangannya
"Gak usah kak, nanti aku telpon Melly aja minta jemput di sini" Tolak tania karena bingung kalau menginap akan tidur di mana
"Emang kamu bawa ponsel?" Rangga tahu kalau Tania tidak membawa ponsel lantaran Rangga juga lupa membawa ponsel karena panik tadi
" Oh iya ya" Tania baru sadar kalau ponsel nya tertinggal di toko
"Di dalam ada sofa tidurlah di sana biar aku tidur di luar" Rangga duduk di kursi luar
Tania bingung harus menuruti perkataan Rangga atau tetap di luar. sementara kalau Rangga tidur di kursi luar Tania juga merasa tidak enak. tapi di luar sendirian juga membuat Tania takut. karena serba salah akhirnya Tania masuk ke dalam kamar nenek Rangga.
"Baru kali ini tidur di rumah sakit, seandainya di ruangan kerja Rangga tadi tak ada kucing mungkin masalahnya tidak akan sepanjang ini" Tania sambil merebahkan tubuhnya di sofa
Waktu sudah beranjak di pukul 01.00 wib , Tania belum bisa memejamkan mata. pikirannya masih menjalar ke mana-mana. terlebih Tania melihat nenek Amirah yang masih tertidur dari tadi. Tania heran kenapa tidak ada keluarga Rangga yang ke rumah sakit padahal neneknya sekarang sedang di rawat di rumah sakit.
"Apa Rangga sengaja tidak mengabari mereka ya? kalau karena ponselnya tertinggal bukannya Rangga bisa meminjam telepon di rumah sakit? " batin Tania
"Nek cepat sadar ya ! aku mohon semoga nenek baik-baik saja nanti" Tania berbicara sendiri sambil melihat wajah nenek Amirah di ranjang
-------
Kala pagi tiba Tania masih tertidur nyenyak di sofa karena semalam Tania baru bisa tertidur dini hari alhasil paginya Tania masih ada di alam mimpinya. Rangga yang masuk menatap Tania dan berencana ingin membangunkannya tapi melihat nenek sudah sadar fokus Rangga jadi teralih ke nenek Amirah.
"Nenek sudah bangun? Nek maafin Rangga atas kejadian kemarin" Rangga menggenggam tangan nenek Amirah
"Nenek tidak menyangka Rangga, kamu sudah merusak nama baik keluarga. nenek kecewa sama kamu" Nenek Amirah sambil menatap ke arah jendela
"Nek dengarkan penjelasan Rangga dulu, semua tidak seperti yang nenek pikirkan" belum sempat menjelaskan, Nenek memotong ucapan Rangga
"Bagaimana nenek bisa percaya denganmu sementara mata nenek sendiri menyaksikan kalian terbaring di sofa yang sama dan hanya ada kalian berdua di sana. nenek tidak mau mendengar penjelasan kamu lagi Rangga" Ucap nenek dengan nafasnya yang berat
Sementara Tania mendengar suara orang samar-samar dari tidurnya, Tania pun langsung terbangun dan sadar kalau hari sudah pagi. Tania merasa sangat malu bagaimana bisa tertidur dengan begitu lelapnya hingga tidak menyadari Rangga dan neneknya sudah mengobrol dari tadi. melihat Tania sudah bangun Rangga langsung menyuruh Tania pulang tapi di cegah oleh nenek Amirah.
"Mendekatlah" perintah nenek Amirah melihat Tania
Rangga hanya terdiam sementara Tania berjalan ke arah nenek dengan gugup.
"Kamu pegawainya Rangga kan? nenek baru melihatmu" Ucap nenek Amirah menyelidik
"Hah, ii..iya nek" jawab tania terbata
"Sudah berapa lama kamu bekerja di tempat Rangga?" tanya nenek Amirah
"Baru nek. nek mohon maaf sebelumnya kalau Tania lancang begini nek, Tania mau menjelaskan kalau apa yang nenek lihat kemarin tidak seperti apa yang nenek pikirkan" belum selesai Tania berbicara Nenek amirah langsung memotong ucapan Tania
"Rangga tolong antar nenek pulang, nenek tidak mau berlama-lama di rumah sakit. kamu tahu kan nenek tidak betah kalau terlalu lama ada di rumah sakit" nenek berusaha bangun dari ranjang
Rangga hanya bisa mengiyakan perintah neneknya lantaran nenek Amirah memaksa ingin segera pulang. akhirnya Rangga memanggil dokter untuk meminta saran apakah neneknya sudah di perbolehkan pulang atau belum. dan dokter pun mengiyakan karena melihat kondisi nenek amirah sudah baik-baik saja. dengan berat hati rangga menuruti keinginan neneknya walaupun dalam hati Rangga masih merasa khawatir.
🍁
__ADS_1