
"Begini Rangga, aku akan memberi keputusan setelah melihat rumahnya dulu. siapa tahu kamu menipuku." ucap Tania
"Hei dengar ya, memangnya wajahku memiliki tampang penipu. hati-hati kalau bicara !" balas Rangga
"Siapa tahu saja, tidak ada yang tahu watak seseorang Rangga. apalagi aku baru mengenal kamu" ucap Tania
"Oke baiklah, kamu boleh melihat rumahnya sekarang." ucap Rangga
Tidak lama kemudian, mereka pergi meninggalkan Cafe dan langsung ke tempat perumahan RESORT GARDEN. sampai di sana Tania benar-benar takjub melihat halaman depan rumahnya yang begitu luas dan sejuk di pandang mata. pepohonan yang berbaris rapi sangat mendukung suasana asri lingkungan tersebut.
Rangga langsung mengajak Tania masuk untuk melihat bentuk rumah di dalamnya. lama mereka berkeliling di dalam rumah, langkah Rangga terhenti di belakang taman. Rangga tidak sengaja menemukan sebuah foto kenangannya bersama Anisa. melihat Rangga memperhatikan fotonya, Tania berusaha memahami perasaan Rangga dan langsung duduk di ayunan.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran? kulihat kamu begitu sangat mencintainya." tanya Tania iseng
"Sejak kami duduk di bangku SMA dulu, sebenarnya rumah yang ku bangun dengan susah payah ini adalah untuk Anisa. aku tidak pernah berfikir kalau hubungan kami akan berakhir seperti sekarang." ucap Rangga datar
Tania hanya terpaku mendengar penjelasan Rangga, dalam hati Tania iri dengan orang secantik Anisa bisa memiliki kehidupan sesempurna ini. Tania hanya tersenyum sendiri kalau melihat jalan hidupnya yang sangat berbeda jauh dari Anisa.
"Kenapa kalian tidak balikan saja? sepertinya Anisa juga masih mencintaimu" ucap Tania
"Tidak semudah itu, aku takut luka yang sama terulang lagi." jawab Rangga
"Sulit di mengerti" ucap Tania sembari berdiri dari ayunan
"Sudahlah lupakan masalahku, mari langsung ke intinya. bagaimana jawaban kamu mengenai rumah ini?" tanya Rangga
"Ya tuhan beberapa orang hanya galau perihal cinta, sedangkan aku menjadi galau karena melihat rumah ini." keluh Tania di dalam hati
Sejujurnya Tania sangat tidak ingin menerima tawaran Rangga, tapi kesempatan tidak datang dua kali. Tania berfikir dengan memiliki rumah ini secara tidak langsung ia bisa memperbaiki taraf hidupnya di masa yang akan datang nanti.
"Rangga apa tidak ada cara lain agar pernikahan itu tidak harus terjadi?" tanya Tania yang masih ragu dengan keputusannya
"Kalau ada cara lain aku juga tidak mau membohongi keluargaku dengan cara seperti ini. nenek di mata keluarga kami sangat berarti, kalau bukan karenanya kami mungkin tidak akan hidup seenak sekarang. bisa di bilang semua usaha yang di rintis Papaku adalah miliknya. hasil kerja keras nenekku sendiri di usianya yang muda dulu. karena itu kalau pernikahan ini tidak jadi di laksanakan, aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengannya nanti. kamu sudah tahu mengenai penyakitnya kan?" ucap Rangga
"Iya aku tahu, kemarin Mamamu juga menjelaskan hal yang sama denganku. Mama kamu saja sampai marah saat aku mengatakan tidak bisa menikah dengan kamu." jelas Tania
"Baiklah, tidak ada alasan yang tepat bagiku untuk menghindari kekacauan ini selain menerima tawaran kamu. semoga saja selama satu tahun nanti kesehatan nenek kamu semakin membaik dan dia bisa terbuka hati menerima perpisahan kita, bila waktunya sudah tiba." harapan Tania
"Tumben kamu bicara sebijak itu? Oke berarti kamu setuju dengan perjanjian pernikahan ini kan?" tanya Rangga
__ADS_1
"Iya aku setuju, tapi kita harus membuat beberapa syarat penting yang harus kita patuhi selama pernikahan nanti." ucap Tania
"Oke tidak masalah" jawab Rangga sembari masuk ke dalam rumah
Akhirnya lama mereka mengobrol, kesepakatan pernikahan pun terjadi. di dalam perjalanan pulang Tania masih teringat ucapan Rangga mengenai nenek Amirah.
"Hei Rangga, aku tidak menyangka kalau nenek kamu dulunya orang yang pekerja keras. jika melihat sifatnya yang suka memerintah begitu." Celoteh Tania di dalam mobil
"Nenekku berbuat begitu adalah hal yang wajar karena di usianya yang muda, dia sudah sudah menjadi pemimpin di perusahaannya." jawab Rangga
"Oh, pantas saja gaya sombong itu sangat melekat pada dirinya." ucap Tania
"Sudahlah, jangan terus mencari celah untuk mengatai nenekku." balas Rangga
"Iya, iya, sorry pak Rangga." jawab Tania santai
Sorenya Tania pulang ke rumah, dengan hati yang kalut memikirkan keputusan yang sudah dia buat sendiri siang tadi. betapa tidak, ini kali pertamanya Tania berani berbuat senekad ini. kalau bukan karena terjebak pada keadaan yang rumit, mungkin pikirnya hal seperti ini tidak perlu terjadi.
"Tania, udah pulang Tan? aku juga baru pulang nih." tanya Melly melihat Tania di depan pintu
"Iya Mel, ada hal penting yang harus aku ceritakan sama kamu. tapi sebelumnya janji jangan bilang siapa-siapa ya?" ucap Tania
Tania akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada Melly. sementara Melly langsung tercengang mendengar ucapan Tania. apa lagi sampai membahas masalah pernikahan.
"Tan aku masih gak nyangka memdengar apa yang kamu ceritakan sekarang." jawab Melly yang masih kaget
"Tan kamu yakin kalau keluarga kamu gak bakal tahu, sampai masa satu tahun tiba nanti?" tanya Melly
"Aku juga sebenarnya takut banget kalo sampai mereka tahu Mel."jawab Tania
"Ya udahlah Tan, berfikir positif aja. lagian kalian juga melakukannya demi nenek Amirah" ujar Melly
"Iya juga sih Mel" jawab Tania
"Benar apa yang di katakan Mamanya kak Rangga, walau bagaimanapun kalian harus tetap bertanggung jawab atas apa yang sudah kalian lakukan." ucap Melly
"Mel apa tuhan akan memaafkan kesalahanku nanti? sudah jelas apa yang kulakukan sekarang adalah perbuatan yang salah Mel. tapi aku juga tidak mau melibatkan keluargaku, apa lagi kalau sampai keluarga Rangga bertemu paman dan bibikku. aku takut nenek Amirah akan menceritakan semua kejadian yang dia lihat waktu itu pada pada mereka Mel. bisa habis aku di pukuli paman dan bibikku Mel." curhat Tania
"Iya Tan, aku ngerti gimana kerasnya didikan paman dan bibik kamu waktu kita masih sekolah dulu. kalau mereka sampai tahu kejadian ini, mereka akan kecewa sama kamu Tan karena merasa tidak bisa menjaga Amanah dari Orang tua kamu." ujar Melly
__ADS_1
Semenjak Orang tua Tania meninggal, hanya paman dan bibiknya lah yang bekerja keras menyekolahkan Tania dengan kondisi enokomi yang terbatas. memikirkan keadaan paman dan bibiknya yang cukup susah, hal itu juga menjadi salah satu bahan pertimbangan Tania akhirnya mau menerima tawaran dari Rangga.
Selang beberapa hari kemudian, pernikahan yang di inginkan nenek Amirah itu pun terjadi. walau sebelum acara pernikahan, Rangga harus mengalami beberapa kendala seperti mencari Orang tua samaran untuk Tania dan membujuk Papa Hermawan agar mau melaksanakan pernikahannya secara privasi.
Awalnya Papa Hermawan sangat kecewa dengan keinginan Rangga karena tidak bisa mengadakan acara pernikahan itu secara terbuka. meski Papa Hermawan tidak begitu menyukai Tania, tapi tetap saja dia ingin kalau pernikahannya di adakan secara terbuka dan mewah mengingat Rangga adalah anak tunggal di keluarganya. sedangkan Mama Rita berusaha menghargai keinginan Rangga karena menurutnya yang menjalani pernikahan itu adalah Rangga, jadi ia menyetujui apapun keputusan Rangga.
Sementara nenek Amirah, dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Papa Hermawan. nenek Amirah ingin mengundang semua teman-temannya di acara pernikahan Rangga, tapi itu tidak bisa dilakukannya sekarang demi menuruti permintaan Rangga.
Di dalam kamar hias pengantin, pagi ini Tania menatap dirinya sendiri di cermin dengan perasaan yang murung dan tidak bersemangat. sementara Melly sudah tampil rapi penuh senyuman untuk mendampingi Tania.
Pagi yang sejuk ini acara akad nikah pun berjalan sesuai rencana dan lancar tanpa ada halangan apapun lagi. dengan di bacakannya ijab kabul, sekarang mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri. melihat anaknya yang sudah menikah Mama Rita menjadi terharu dan bahagia. sementara Orang tua samaran Tania hanya bisa tersenyum sebaik mungkin melakoni perannya sebagai orang tua Tania. lain halnya dengan Tania dan Rangga, raut wajah mereka sama datarnya. tak ada kebahagiaan yang terpancar di mata mereka.
Acara pernikahan ini hanya sebatas akad nikah saja, jadi tidak ada yang special bahkan tamu yang hadir pun hanya keluarga dekat Rangga dan Orang tua samaran Tania. sahabat Rangga pun tidak ada yang ia undang kecuali Radit. sementara dari pihak Tania hanya Melly yang menyaksikan acara akadnya. Tania juga sengaja tidak ingin ada yang tahu pernikahannya karena ini hanya pernikahan sementara di dalam hidupnya.
Di ujung sana ada seseorang yang perasaannya begitu sangat terluka mendengar pernikahan Rangga. Anisa tidak menyangka kalau Rangga memang benar-benar sudah tidak mencintainya lagi. Sengaja Anisa pulang jauh-jauh dari luar negeri waktu itu hanya untuk memperjuangkan cintanya lagi dengan Rangga, karena pikirnya Rangga masih mencintainya. namun kenyataan yang harus di terima Anisa sekarang sangat begitu pahit sampai membuat badannya sendiri menjadi drop dan jatuh sakit.
Setelah acara selesai, Mama Rita langsung memberikan tiket jalan-jalan untuk Rangga dan Tania sebagai kado pernikahan mereka. sementara Rangga tidak sampai hati untuk menolak hadiah itu, apa lagi dalam pernikahan ini Rangga sudah membohongi Mamanya sendiri. Akhirnya Rangga terpaksa menerima tiket itu dan sorenya mereka langsung pergi ke bandara.
Sementara Tania di dalam hati sudah merasa jengkel dengan Rangga, karena menerima tiket itu tanpa mempertimbangkan pendapatnya terlebih dahulu. saat di dalam pesawat mereka pun saling mendiamkan diri satu sama lain.
Namun selang beberapa menit pesawat berjalan, Tania tidak sengaja membuat masalah dengan memuntahkan seluruh isi perutnya ke pakaian Rangga. Rangga yang melihat bajunya basah oleh muntah Tania langsung kaget dan ingin marah tapi di tahannya.
"Ya ampun, maaf Rangga. aku sungguh tidak sengaja melakukannya, sini biar aku bersihkan." ucap Tania sembari mengambil tisu untuk membersihkan muntahnya di baju Rangga
"Tidak perlu, minggir sana !" ucap Rangga sambil langsung melepas bajunya, akhirnya selama di dalam pesawat Rangga hanya memakai baju kaos dalam saja.
Malamnya ketika mereka tiba di hotel, Rangga langsung mengomeli Tania karena ulahnya di pesawat tadi.
"Dengar ya Tania, aku tidak mau tahu saat pulang nanti jangan pernah mengulangi kecerobohan seperti tadi." ucap Rangga duduk di sofa kamar hotel
"Apa kamu bilang, aku ceroboh. yang namanya muntah itu mana bisa di tahan Rangga. dasar manusia tidak berperasaan !" balas Tania
"Baiklah aku memang tidak berperasaan, berhubung kasur tidurnya cuma satu, malam ini silahkan kamu tidur di luar." jawab Rangga santai
"Baik, siapa juga yang mau tidur satu ranjang sama kamu !" ucap Tania langsung keluar dari kamar
"Dasar pria egois, tidak punya hati, menyebalkan. bagaimana bisa dia menyuruh wanita tidur di luar, sementara dia dengan enaknya tidur di kamar" Celoteh Tania setelah melangkah keluar sembari duduk di sofa
Akhirnya Tania memutuskan untuk tidur di sofa. namun karena sofanya terlalu kecil membuat Tania jadi tidak bisa tertidur dengan nyenyak. sementara nyamuk tidak mau kalah saingan untuk mengganggu tidur Tania malam ini.
__ADS_1