
Akhirnya rangga dan nenek amirah sibuk bercerita saat bersama. sedangkan tania hanya melongo memperhatikan mereka. hampir beberapa jam ada di rumah nenek amirah, sorenya tania dan rangga pamit pulang.
"Kamu benar-benar membuatku kesal seharian ini !" ucap tania saat sudah di dalam mobil.
"Aku tidak bermkasud berbohong, sungguh semalam aku bermimpi kalau nenek sedang sakit." jawab rangga sambil memaksakan senyumnya.
"Di rumah tadi kamu tidak bilang kalau itu hanya mimpi, sudah mengaku saja tidak perlu membuat alasan sejauh itu." ucap tania
Melihat wajah tania kesal, rangga tidak berani berusaha membela diri lagi. merasa malas pulang ke rumah, akhirnya tania mengirim pesan pada melly.
"Mel hari ini kamu kerja sift apa?" tanya tania
"Pagi tan, ini bentar lagi mau pulang. ada apa tan?" balas melly di ujung sana.
"Gpp, aku ke tempat kamu ya? ini lagi di jalan." jawab tania.
"Oke tan ! " balas melly
Tak lama kemudian, tania meminta rangga untuk menurunkannya di sebuah halte. dalam hati rangga curiga, kalau tania akan menemui kevin sore ini.
"Memangnya kamu mau ke mana sore begini?" tanya rangga.
"Ada urusan ! " jawab tania
"Apa kamu mau menemui pria itu lagi?" tanya rangga.
"Tidak, untuk apa aku menemuinya sore begini." jawab tania datar.
Mendengar jawaban tania, rangga merasa tenang. beberapa menit kemudian mobil rangga pun berhenti di depan halte dishub.
"Pulangnya nanti mau aku jemput tidak?" tanya rangga sambil tersenyum.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." jawab tania langsung keluar dari mobil.
Setelah mobil rangga pergi, tania merasa heran melihat sikap rangga tidak seperti biasanya.
"Ada apa dengannya hari ini, sampai bersikap sok perhatian begitu." batin tania.
Akhirnya tidak membutuhkan waktu lama, tania sudah tiba di rumah melly. melihat tania datang, melly menjadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat berada di mobil kevin.
"Tan kemarin waktu kak kevin ke rumah kamu, dia ada cerita sesuatu gak sama kamu?" tanya melly ragu.
"Gak ada mel, memangnya kenapa?" tanya balik tania.
"Syukurlah ! " jawab melly spontan.
"Maksud kamu?" tanya tania heran.
"Hheheh gpp tan, lupakan saja." jawab melly.
"Mel kamu tahu gak, kemarin kak kevin tiba-tiba mengungkapkan perasaannya denganku." ucap tania sambil mengingat kejadian kemarin.
Melly langsung panik, mendengar ucapan tania barusan.
"Serius tan? terus kamu jawab apa?" tanya melly
"Jelaslah aku tolak, kamu tahu sendiri statusku apa sekarang? tapi yang membuat aku bingung, kak kevin bilang mau menungguku? aku merasa aneh saat mendengar ucapannya seserius itu?" ucap tania.
"Maafin aku tan, aku sungguh tidak bermaksud menceritakan rahasia pernikahan kamu sama kak kevin." batin melly merasa bersalah.
"Mel kok bengong sih?" ucap tania melihat melly tidak merespon ucapannya sama sekali.
__ADS_1
"Hah? sorry tan aku jadi terbawa suasana mendengar ucapan kamu. tapi jujur kamu masih menyukai kak kevin juga kan?" tanya melly.
"Hem aku bingung mel, aku memang menyukainya dari dulu. tapi terkadang ada pada momen tertentu aku merasa takut kehilangan rangga di dalam hidupku. konyol bukan mel?" jawab tania sambil tersenyum.
"Tan jangan bilang kamu mulai menyukai kak rangga?" tebak melly.
"Entahlah mel, aku tidak bisa memahami jalan pikiranku sendiri. satu sisi aku sangat membencinya, di sisi lain aku kadang merasa takut kehilangan dia suatu hari nanti." jawab tania datar.
"Tan ternyata perasaan cinta dan kagum itu jauh berbeda sekali ya? kamu tidak pernah mengatakan ini saat bersama kevin dulu." ucap melly.
"Benarkah? tapi aku sungguh menyukai kak kevin. kamu tahu sendiri kan, dari dulu aku selalu menjadi pengagum rahasianya." ucap tania
"Tidak ! kamu cuma mengaguminya saja tan. kalau memang kamu menyukainya, kurasa sekarang kamu tidak akan mengalami dilema seperti ini." ujar melly.
Sementara di depan sebuah Restoran ternama, lasfera. rangga sedang menunggu anisa pulang bekerja. saat ini anisa mulai bekerja sebagai chef di restoran lasfera. setelah anisa selesai bekerja, mereka pun pergi ke sebuah cafe untuk makan malam bersama.
"Rangga apa kamu tahu, aku cemburu melihat kamu mengejar tania kemarin malam." ucap anisa tersenyum sinis.
"Apa kamu masih mengingat kejadian kemarin? maafkan aku karena membuat kamu merasa tidak nyaman kala itu." jawab rangga merasa bersalah.
"Jangan bersikap seperti itu lagi dengan tania !" ucap anisa dengan perasaan kecewa.
"Iya aku tidak mengulanginya." jawab rangga datar.
"Berapa bulan lagi pernikahan kalian akan berakhir, setelah kalian berpisah nanti, apa kita akan segera menikah?" ucap anisa tersenyum menatap rangga.
Rangga terdiam dan bingung harus menjawab apa. dalam hati rangga justru merasa sedih mendengar ucapan anisa. dia tidak menyangka kalau waktu akan berjalan secepat ini.
"Bicara apa aku tadi? sudahlah tidak perlu di jawab, aku terlalu egois mengatakan semua itu di saat sekarang. aku lelah, ayo kita pulang ! " ucap anisa berpura-pura tersenyum.
"Iya baiklah." jawab rangga datar.
Setelah mengantar anisa pulang, rangga jadi memikirkan ucapan anisa. rangga tidak mengerti, dalam hati dia tidak ingin kalau pernikahan itu segera berakhir.
"Apa kamu baru pulang juga?" tanya rangga kaku.
"Iya, rangga ada yang mau aku tanyakan padamu?" ucap tania sambil duduk di meja makan.
"Katakanlah." jawab rangga santai.
"Apa kamu sudah memikirkan alasan yang tepat, mengenai perceraian kita nanti?" tanya tania dengan perasaan sedih.
"Belum, aku belum memikirkannya sejauh itu." jawab rangga seadanya.
"Kamu tidak boleh membuat mereka kecewa begitu saja, apa lagi nenek kamu. setidaknya kamu harus bisa meyakinkan mereka, kalau pernikahan kita selama ini tidak pernah terjalin atas dasar cinta." ucap tania berusaha tersenyum meski dalam hati dia merasa sedih dengan perkataannya sendiri.
Tiba-tiba hati rangga merasa sakit hati, mendengar apa yang dikatakan tania barusan. namun rangga berusaha menutupi perasaan kecewa itu di depan tania saat ini.
"Nanti akan aku pikirkan." jawab rangga.
"Iya pikirkanlah dari sekarang, aku tidak mau situasinya menjadi semakin rumit nanti." ujar tania.
"Apa kamu akan tetap tinggal di rumah ini, saat kita sudah berpisah nanti?" tanya rangga ragu.
"Setelah kita berpisah, aku akan pergi. aku tidak mau berada di sini lagi." jawab tania
"Jadi rumah ini bagaimana?" tanya rangga penasaran.
"Akan aku jual ! " jawab tania spontan
"Apa? Hei otak udang, bagaimana bisa kamu menjualnya begitu saja. aku membangun rumah ini dengan penuh perjuangan, setidaknya kamu harus bisa merawatnya dengan lebih baik setelah kita berpisah ! " teriak rangga kesal.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi mengaturku? terserah aku dong mau aku apakan rumah ini? lagian tidak mungkin aku tetap tinggal di sini saat kita sudah bercerai, apa kata keluarga kamu nanti?" teriak tania sama kesalnya dengan rangga.
"Pokoknya kamu tidak boleh menjualnya, titik ! " ucap rangga tidak mau kalah.
"Wah, dasar egois ! bicara dengan kamu memang tidak akan pernah berakhir baik." ucap tania merasa emosi dan langsung pergi meninggalkan rangga begitu saja.
"Otak udang, aku belum selesai bicara !" teriak rangga.
Di kamarnya rangga merasa kalut, mengingat apa yang terjadi seharian ini. memikirkan ucapan anisa dan tania, tidak sadar membuat pikiran rangga menjadi cukup rumit.
Sementara tania sama sedihnya, karena sebenarnya dia tidak ingin pernikahan ini cepat berakhir. namun tania sadar, dia tidak memiliki sebuah alasan untuk mempertahankan pernikahan ini lebih jauh.
Sedangkan anisa sama kalutnya di ujung sana, anisa merasa kecewa mengingat rangga tidak menanggapi ucapannya sama sekali. padahal anisa berharap, kalau tadi rangga akan mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya merasa bahagia. namun yang terjadi malah sebaliknya, rangga hanya terdiam begitu saja.
Pagi ini rangga kaget melihat di meja tidak ada makanan sama sekali. sementara piring kotor juga sudah menumpuk di dapur.
"Apa otak udang belum bangun di jam segini?" ucap rangga kesal.
Tidak lama kemudian tania turun dengan santainya menuju ke dapur. rangga merasa senang, pikirnya tania akan segera memasak sarapan untuknya pagi ini. namun yang terjadi malah sebaliknya, tania hanya mengambil roti di dalam kulkas dan beranjak duduk di sofa.
"Otak udang apa kamu tidak membuat sarapan pagi ini? lihat piring kotor di dapur, kapan kamu akan membersihkannya?" teriak rangga.
"Aku tidak akan membersihkan rumah hari ini !" ucap tania santai sambil sibuk makan.
"Maksud kamu?" tanya rangga.
"Apa kamu lupa tanggal berapa sekarang? kamu sudah terlambat mentransfer gajiku bulan ini. aku akan mengerjakan tugas rumah, setelah gajinya sudah kamu transfer nanti." ucap tania santai.
"Wah kamu keterlaluan sekali, aku hanya terlambat dua hari kamu sudah bersikap begini." ucap rangga kesal.
"Aku pergi dulu, mama kamu barusan menelponku untuk datang ke sana." ucap tania sambil menyudahi sarapannya.
"Apa? untuk apa mama menyuruh kamu ke sana sepagi ini?" tanya rangga kaget.
"Mana aku tahu !" jawab tania.
"Otak udang, hati-hati di jalan." ucap rangga sambil melambaikan tangannya melihat tania melangkah keluar pagar.
Dari kejauhan tania hanya terperangah melihat sikap rangga. tania merasa heran, selama pernikahannya baru kali ini rangga bersikap seramah itu.
Melihat tania sudah pergi, rangga tersenyum senang. saat masuk ke dalam rumah, rangga langsung membuat sarapannya sendiri dan bergegas pergi ke restoran.
Saat sampai di rumah nenek amirah, tania kaget melihat anisa sudah ada di sana juga.
"Dia terlihat sangat akrab sekali dengan keluarga rangga." batin tania menatap mereka dari balik pintu kamar nenek amirah.
Di rumahnya saat ini, nenek amirah dan orang tua rangga merasa sangat senang melihat anisa datang. anisa membawa banyak sekali barang dan pakaian yang di belinya untuk mereka. sementara tania, dia hanya bisa menatap mereka di balik pintu dengan perasaan sedih. pikirnya saat sudah berpisah dengan rangga nanti, keluarga rangga akan tetap terlihat bahagia seperti sekarang.
Lama tania melamun, dari dalam kamar mama rita baru menyadari kedatangan tania. dia pun langsung menghampiri tania sambil merangkulnya.
"Eh tania kamu sudah datang, kemarilah. apa kamu sudah mengenal anisa?" ucap mama rita
"Sudah ma, rangga pernah cerita." jawab tania sambil berusaha tersenyum.
"Ah iya tante, kami pernah bertemu di restoran rangga kemarin." ucap anisa sambil tersenyum di depan tania.
"Pegawai lihat ini, cocok tidak untuk nenek?" tanya nenek amirah sambil memakai baju yang di berikan anisa.
"Bagus nek, nenek terlihat cantik sekali memakainya." puji tania.
"Tania duduklah, papa senang kamu datang." sapa papa hermawan sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Iya pa.." jawab tania
Melihat anisa membelikan barang mewah untuk mereka, membuat tania semakin sadar kalau anisa memang pantas menjadi bagian dari keluarga rangga. tania merasa sedih selama menikah, dia bahkan belum pernah memberikan barang apapun untuk keluarga rangga.