
Ketika pagi tiba, mereka sudah duduk di meja yang berbeda untuk sarapan. Tania sarapan dengan sepiring mie instan, sedangkan Rangga sarapan dengan hidangan lezat yang sudah di sediakan oleh pihak hotel.
Dari samping meja Tania menatap Rangga dengan perasaan jengkel sambil memakan mienya, sedangkan Rangga juga berbalik arah membalas tatapan Tania dengan penuh kebencian.
Selesai sarapan Rangga hanya sibuk menghabiskan waktu paginya di kolam renang, sementara Tania hanya duduk di sofa sembari memegang kertas dan pena. di kertas itu Tania sibuk mengatai Rangga brengsek akibat ulahnya semalam yang tega menyuruhnya tidur di sofa luar.
Selesai berenang Rangga melihat Tania dari tadi hanya tiduran di sofa, karena merasa kasihan akhirnya Rangga berinisiatif mengajak Tania untuk ikut jalan-jalan ke luar.
"Aku mau keluar, apa kamu mau ikut?" ucap Rangga di dekat sofa
Mendengar Seseorang berbicara di dekatnya, Tania hanya diam mengabaikan ucapan Rangga sambil menutupi wajahnya dengan handuk.
"Apa kamu tidak bosan dari tadi hanya tiduran di sofa saja?" tanya Rangga lagi
Tania masih diam tak mau menanggapi ajakan Rangga. dalam hati Tania juga bosan kalau harus menghabiskan waktu seharian ini hanya tiduran di sofa.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku pergi sendiri. waktu terlalu berharga kalau hanya untuk di habiskan dengan hal yang sia-sia Tania." ucap Rangga sambil melangkah pergi keluar pintu
Mendengar ucapan Rangga, Tania langsung bergegas berganti pakaian dan mengikuti Rangga keluar. sebenarnya Tania malas sekali pergi berdua saja dengan Rangga, tapi kalau mau jalan-jalan sendiri Tania tidak hapal arah jalan di kota ini. maklum saja selama hidupnya, Tania belum pernah jalan-jalan ke luar kota.
"Tadi di ajak baik-baik sok nolak, sekarang malah ngikut sendiri." batin Rangga Melihat Tania sudah bergegas mengikutinya dari belakang
Di sepanjang jalan Tania hanya diam, Rangga mencoba membuka percakapan dengan menawari makanan pada Tania.
"Apa kamu mau beli ice cream?" tanya Rangga membujuk mood Tania yang jelek sedari tadi
"Di mana?" mendengar kata ice cream akhirnya Tania menanggapi Rangga berbicara
Setelah makan ice cream yang di belikan Rangga, seketika mood Tania menjadi baik. melihat Tania tersenyum, Rangga menjadi ikut senang karena berhasil membujuknya hanya dengan sebuah ice cream.
Namun saat di tengah jalan tidak sengaja seorang anak kecil berlari lalu menabrak tubuh Tania, sementara ice cream yang ada di tangan Tania sudah menempel di baju putih Rangga.
"Kenapa kamu bodoh sekali. bajuku jadi kotor karena kamu." ucap Rangga membentak Tania
Mendengar ucapan Rangga yang meneriakinya bodoh, Tania langsung menangis di tengah jalan.
"Kenapa kamu menangis? di bilang begitu saja sudah menangis." Rangga merasa bersalah.
"Tentu saja aku menangis, karena kamu selalu mengataiku bodoh." ucap Tania sembari mengusap air matanya sendiri.
Ranggga langsung terdiam saat Tania masih terus menangis, sementara orang yang lalu lewat di jalanan sudah memperhatikan mereka dari tadi.
"Berhentilah menangis, kamu tidak lihat semua orang memperhatikan kita." ucap Rangga sudah panik
"Aku tidak peduli, seumur hidup tidak ada orang yang meneriaki aku bodoh." ucap Tania dengan isak tangisnya yang semakin kencang
__ADS_1
"Tania apa kamu mau naik sepeda? di dekat pantai itu ada sepeda, kita bisa menyewanya." bujuk Rangga
Tania menoleh ke arah pantai dan merasa tertarik dengan apa yang di ucapkan Rangga barusan mengenai sepeda. Akhirnya mereka berkeliling di sepanjang pinggir pantai dengan menggunakan sepeda. saat sore Rangga dan Tania menghabiskan waktu dengan menikmati senja yang terpancar cerah di ujung sana.
keesokan harinya liburan mereka di kota B pun berakhir. ketika pulang, mereka sudah sepakat untuk menempati rumah yang di tawarkan Rangga pada Tania waktu itu. sampai di rumah, Tania langsung naik ke lantai atas untuk meletakkan barangnya. saat hendak memasuki kamar tersebut, betapa kagetnya Tania melihat ruangan kamarnya yang begitu bagus dan tertata Rapi.
Tania langsung turun karena ingin mengucapkan terima kasih pada Rangga yang sudah menyediakan kamar untuknya sebagus itu.
"Rangga apa kamu yang menyediakan kamar itu untukku?" ucap Tania sambil tersenyum
Mendengar Tania berbicara, Rangga malah sibuk minum dan mengabaikan ucapan Tania.
"Sikap dinginnya kambuh lagi" batin Tania sambil memanyunkan bibirnya di belakang Rangga
Selesai minum Rangga langsung bergegas ke lantai atas dan meninggalkan Tania begitu saja di depan kulkas. Tania hanya bisa terperangah menghadapi tingkah Rangga yang acuh terhadapnya.
Di dalam kamarnya sekarang, Rangga masih memikirkan isi pesan yang di kirim Anisa pagi tadi. lama Rangga termenung di dekat jendela, sontak suara ponsel pun mengagetkan lamunan Rangga.
Setelah Rangga melihat ponselnya, ternyata yang menelpon adalah Anisa. dengan rasa malas Rangga terpaksa menerima telepon tersebut.
"Halo" suara Rangga datar
"Halo Rangga, kamu sudah kembali dari liburan ya?" tanya Tania di ujung sana
"Ada apa?" tanya balik Rangga
Rangga terdiam mendengar ucapan Anisa. ada perasaan sedih mengusik hati Rangga, karena ucapan Anisa yang terdengar tulus di seberang sana.
"Maaf aku tidak bisa, karena sedang sibuk sekarang. semoga kamu cepat sembuh, aku tutup teleponnya." jawab Rangga langsung mematikan ponselnya.
Di ujung sana Anisa merasa cukup sedih mendengar ucapan Rangga, baru kali ini ia melihat Rangga sedingin itu terhadapnya. namun Anisa berusaha memahami sikapnya, karena mengingat dirinya dulu juga pernah menyakiti hati Rangga.
Malam ini di meja makan, Tania sibuk menulis peraturan apa saja yang harus di penuhi selama mereka tinggal satu rumah. melihat Rangga turun dari lantai atas, Tania langsung memanggilnya untuk membahas isi peraturan pernikahan mereka secara bersama-sama.
"Duduklah, ayo kita buat kesepakatan apa saja yang harus di patuhi selama pernikahan kita?" ucap Tania sambil memanggil Rangga
"Baiklah berikan aku kertas, tulis beberapa point yang penting saja" ucap Rangga
Tania langsung memberikan kertas dan alat tulis pada Rangga. akhirnya mereka menuliskan isi persyaratan yang di inginkan pada kertas masing-masing
"Yang pertama di larang mencampuri privasi hidup masing-masing, itu adalah hal yang paling penting Rangga." ucap Tania
"Baiklah aku setuju mengenai itu." jawab Rangga
"Aku tidak suka rumah yang berantakan, kamu harus merapikan rumah ini sebersih mungkin. jadikan itu aturan point kedua di kertas kita." ucap Rangga
__ADS_1
"Apa? mana bisa, rumah ini sangat besar. aku tidak akan punya waktu untuk membersihkannya. lagian kamu tahu sendiri, aku juga harus mencari kerja demi menyambung kebutuhan hidupku." tolak Tania mendengar ucapan Rangga
"Aku tidak mau tahu, terserah bagaimana cara kamu membagi waktunya." ucap Rangga
"Baiklah berhubung aku belum mendapatkan pekerjaan, berikan aku upah selama aku membersihkan rumah ini." saran Tania
"Oke, satu juta perbulannya. jangan lupa untuk mengerjakannya setiap hari." ucap Rangga
"Hei pak Rangga, pasaran gaji pembantu saja lebih dari itu. dua juta kalau mau, aku akan mengerjakan semua tugas rumah ini dengan baik." tawar Tania sambil terseyum
"Ya sudah dua juta, tapi ingat kamu harus membersihkan semuanya dengan detail. kaca di setiap sudut rumah ini harus kamu lap setiap hari." perintah Rangga
"Iya baiklah, akan aku tulis semua tugas ini di syarat kedua kita." jawab Tania sambil menulisnya di kertas
"Oh ya, biaya renovasi kamar kamu tadi langsung ku potong dari gaji kamu." ucap Rangga sambil tersenyum penuh kemenangan
"Dasar pelit !" batin Tania sambil menatap Rangga
"point ke tiganya apa lagi?" tanya Tania
"Kalau pihak ketiga ada yang mengetahui rahasia kita, maka rumah ini batal menjadi milik kamu" ucap Rangga
"Baik akan ku tulis, point ke empat di larang bersikap tidak sopan atau berusahalah menjaga sikap sebaik mungkin selama kita tinggal satu rumah. ingat itu Rangga, jangan pernah meneriaki aku bodoh lagi" ucap Tania dengan tegas
"Terserah, tulis saja di kertas." Rangga seakan tidak peduli dengan ucapan Tania
"Oh iya saat aku di rumah, kamu wajib menyediakan sarapan dengan lengkap. aku sudah membayar upah kamu dengan cukup besar, jadi kerjakan semuanya dengan baik ya?" ucap Rangga mengejek Tania
"Tambahkan lagi, setiap pelanggaran yang terjadi akan di kenakan saksi membayar denda seratus ribu. catat itu dengan baik Tania." perintah Rangga
"Iya baiklah akan ku tulis." jawab Tania sambil menulis aturan yang di tambahkan Rangga
"Masalah masakannya, kamu harus makan apa saja yang ada." Tania juga menambahkan aturan
"Apa?" Rangga tidak terima dengan apa yang di ucapkan Tania barusan
"Kenapa? dengar ya, aku tidak mungkin memasak makanan dengan menuruti selera kamu setiap hari." celetuk Tania
"Iya, baiklah." Rangga mengalah
"Sementara itu dulu, kalau ada aturan yang perlu di tambahkan nanti kita rundingkan lagi di lain waktu." ucap Tania
Akhirnya mereka menulis ulang semua syarat yang telah di sepakati di atas meja dan langsung saling menandatangani kertas masing-masing. rapat malam ini di tutup dengan saling berjabat tangan sebagai tanda kalau peraturan itu sudah di buat atas kesepakatan bersama. setelah selesai mereka langsung bergegas pergi ke kamar masing-masing.
Di kamar, Tania melamunkan perjalanan hidupnya dan tidak menyangka kalau dirinya sudah berada di tempat asing ini sekarang. sambil menatap foto Orang tuanya, di dalam hati Tania mengatakan kalau suatu hari nanti ia akan menjadi orang yang berhasil dan hidup mandiri tanpa harus merepotkan orang lain lagi.
__ADS_1
"Aku jadi merindukan Melly saat menjelang tidur malam begini." batin Tania sambil memeluk bantal gulingnya dan beranjak tidur