The Reason

The Reason
Part 12


__ADS_3

Tak lama kemudian Dodi orang yang menemani Anisa ke pesta hari ini, menghampiri Anisa yang sedang mengobrol dengan Rangga.


"Anisa, aku mencarimu tadi. dia siapa?" ucap Dodi menatap Rangga santai


"Ah iya, kenalkan dia Rangga. dan ini pacarnya Rangga" ucap Anisa berusaha menutupi perasaan kecewanya


Rangga pun saling berjabat tangan dengan Dodi sembari memperkenalkan Tania sebagai pacarnya. Tania yang merasa terjebak pada sebuah keadaan hanya bisa tersenyum ramah.


Selesai acara, Tania langsung pergi ke toilet. sementara Anisa sengaja menyusul Tania dan menunggunya di depan pintu. melihat Tania keluar, Anisa langsung menyapa Tania dengan tenang.


"Hei Tania, bisa kita bicara sebentar?" tanya Anisa


Akhirnya Anisa mengajak Tania ke belakang Taman, tempat yang di pikirnya cukup aman untuk berbicara dengan Tania.


"Apa kamu sungguh pacarnya Rangga?" tanya Anisa sopan


Tania hanya diam karena bingung harus menjawab apa, karena yang di tanya hanya diam, Anisa melanjutkan ucapannya lagi.


"Sebenarnya aku..." belum selesai Anisa bicara, seseorang datang


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Rangga


Anisa panik ketika orang yang berbicara di belakang nya adalah Rangga.


"Hah? aku dan Tania hanya mengobrol biasa saja, iya kan Tania?" jawab Anisa


Ketika Rangga ingin mengajak Tania pergi, Anisa mencegahnya.


"Tunggu Rangga ! " ucap Anisa sembari memegang tangan Rangga


"Maaf Tania, bisa tinggalkan kami sebentar" Anisa menatap Tania


Rangga hanya diam dan Tania pun mengerti apa yang di maksud Anisa.


"Rangga, aku mohon tolong kasih aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. lihat aku, apa kamu sungguh tidak mencintaiku lagi? katakan Rangga ! " Anisa dengan matanya yang sudah berkaca-kaca


Rangga hanya diam, ada perasaan tidak menentu di pikirannya.


"Lihat aku Rangga, katakan kalau kamu memang tidak mencintaiku lagi? aku akan pergi dari kehidupanmu, kalau aku memang sudah tidak ada lagi tempat di hatimu" ucap Anisa ragu


Mendengar Anisa mengatakan itu membuat Rangga merasa berada di sebuah di lema yang begitu dalam. Anisa tidak pernah tahu, betapa sulit perjuangannya untuk melupakan kejadian dua tahu lalu. dan sekarang ketika Rangga sudah mulai belajar mengikhlaskan dirinya, kenapa di saat itu pula Anisa datang lagi ke dalam hidupnya


Akhirnya Rangga melepaskan tangan Anisa dan berlalu pergi begitu saja. Anisa pun mencoba mengejar Rangga, akan tetapi di langkah nya terhenti tatkala melihat Rangga menggenggam tangan Tania.


tanpa berbicara sepatah katapun, Rangga langsung membawa Tania masuk ke dalam mobilnya. sementara Tania sontak kaget, kenapa Rangga tiba-tiba menarik tangannya.


Di dalam mobil, Tania yang sudah mulai jengkel langsung berbicara dengan Rangga.


"Maaf kak Rangga, aku memang bekerja di Resto Lapizza. tapi di luar dari jam kerja, bagaimana bisa kak Rangga berbuat begini?" ucap Tania dengan perasaan yang sudah emosi


Akan tetapi Rangga malah mengabaikan ucapan Tania. sepanjang perjalanan pikiran Rangga kacau, ada rasa sesal yang mengusik hatinya. Rangga tidak mengerti mengapa dia harus melakukan hal sebodoh ini.


Di depan Cafe, Rangga menghentikan mobilnya. membayangkan ucapan Anisa tadi membuat Rangga tanpa sadar langsung memukul setir mobilnya sendiri. Tania yang baru ingin memaki Rangga, jadi langsung takut melihat apa yang dilakukan Rangga sekarang.


Rangga pun turun dari mobil dan masuk ke dalam Cafe tanpa mempedulikan orang yang ada di sampingnya.


Melihat Rangga keluar mobil Tania diam sejenak, mencoba menenangkan pikirannya sebentar. beberapa menit kemudian Akhirnya Tania memutuskan untuk langsung pulang tanpa peduli dengan Rangga lagi. namun langkah nya terhenti saat suara ponsel di dalam mobil berbunyi.


"Apa ini ponselnya?" batin Tania


Tania melihat arah ponsel yang berdering dan ternyata yang menelpon adalah nenek Amirah. Tania bingung harus bagaimana, takut kalau telpon itu penting akhirnya Tania masuk ke dalam Cafe untuk memberikan ponsel itu ke Rangga.


Melihat suasana Cafenya sepi, membuat Tania mudah menemukan Rangga duduk di mana.


"Ponsel kamu tertinggal, ini ada telpon dari nenek kamu" ucap Tania sembari meletakkan ponsel ke meja Rangga.

__ADS_1


Saat Tania ingin segera melangkah pergi, tiba-tiba Rangga memanggilnya dari belakang.


"Hei Tania, tolong angkat telpon ini untukku. bilang pada nenek, aku akan pulang nanti" perintah Rangga sembari menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


"Apa? maaf kak aku harus pulang" tolak Tania tegas


"Apa kamu tidak dengar aku bicara ! " bentak Rangga tanpa sadar membuat Tania kaget


Tania langsung mengambil ponsel Rangga dan menjawab panggilan dari nenek Amirah.


"Halo, Nek Rangga bilang akan pulang nanti" Tania menjawab sesuai perintah. tanpa mendengar apa jawaban dari nenek Amirah, Tania langsung mematikan ponselnya.


"Minuman apa ini?" Tania sambil menaruh ponsel di atas meja, melihat Rangga yang tidak berhenti meminum itu sedari tadi


"Seandainya orang yang kamu cintai menyakitimu lalu pergi, setelah dua tahun kemudian dia datang untuk memperbaiki kesalahannya. bagaimana menurutmu, apa kamu akan menerimanya lagi?" tanya Rangga sambil terus minum


mendengar Rangga berbicara, Tania melihat raut wajahnya yang tampak kecewa. akhirnya Tania memutuskan untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Rangga.


"Hei Rangga, dia datang lagi untuk memperbaiki kesalahannya. berarti jelas, sih Anisa itu masih mencintaimu. dan kamu masih mencintainya, berikan dia kesempatan kedua ! begitu saja kamu buat rumit.." tidak sadar Tania ikut meminum apa yang Rangga minum di meja, tanpa membaca merk yang ada di botolnya.


Tania kaget tatkala menelan segelas minuman itu, rasanya sangat aneh.


"Mudah sekali kamu bicara Tania ! semua tidak sesederhana yang kamu pikirkan" jawab Rangga


"Aku heran mengapa hubungan kalian harus di buat serumit itu, sampai kamu berbuat sejauh ini. kamu sangat bodoh Rangga !" dalam keadaan sekarang Tania tidak peduli, apa yang dia katakan di depan Rangga.


"Apa? berani sekali kamu mengatakan aku bodoh ! kamu tidak tahu aku ini siapa?" jawab Rangga


"Hahah apa namanya kalau bukan bodoh Rangga, kamu sengaja membohonginya dengan menyebut aku ini pacar kamu. melakukan hal sekonyol itu, apa namanya kalau bukan bodoh?" ucap Tania santai


"Minuman apa ini, kenapa kepalaku tampak sakit sekarang" Tania bicara sendiri


"Iya, kamu benar juga Tania. aku memang bodoh, hanya ingin melihat dia cemburu aku bahkan melibatkanmu" ucap Rangga sembari melihat gelasnya yang kosong


Karena sudah terbawa dengan arus minuman itu, Tania jadi langsung mengucapkan apapun yang ingin dia katakan sedari tadi.


"Terserah kamu, aku mau pulang ! " balas Rangga langsung meninggalkan Tania di meja


Akhirnya Tania dan Rangga sama-sama mabuk dan tidak menyadari apa yang mereka lakukan sekarang. Tania pun langsung mengikuti Rangga masuk ke dalam mobil.


"Rangga bodoh, aku juga mau pulang" teriak Tania


Tanpa peduli dengan ucapan Tania, Rangga sibuk mencari nomor ponsel Radit dan menghubunginya.


"Hei dit, datanglah ke Cafe Celvia sekarang. kepalaku sakit, aku tidak bisa menyetir mobil !" perintah Rangga di telpon sembari memegang kepala nya yang pusing


"What? gak salah kamu bro" jawab Radit di seberang sana


"Datang aja cepat dit !" jawab Rangga


"Iya, iya, aku ke sana. tunggulah" jawab Radit langsung mematikan ponselnya


"Rangga, rangga, waktu di acara Tama main pergi aja ninggalin.. eh sekarang malah mintak jemput" ucap Radit di ujung sana sembari menyetir mobilnya


Di depan Cafe Celvia Rangga dan Tania sudah tersandar di kursi mobil. ketika Radit datang betapa kagetnya dia, menyaksikan Rangga dan Tania ada di dalam mobil yang sama.


Melihat mereka berdua sudah dalam keadaan mabuk, akhirnya Radit bergegas menyetir mobil membawa mereka pulang dan menitipkan mobilnya pada pegawai Cafe Celvia.


Radit terpaksa mengantar Rangga dan Tania ke Resto Lapizza karena tidak mungkin membawa Rangga pulang ke rumah nenek Amirah.


Sampai di Resto Lapizza, Radit langsung mengangkat Rangga naik ke kamarnya di lantai atas. sementara yang satunya, Radit bingung harus membawa Tania ke mana. melihat waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 Wib akhirnya Radit terpaksa membawa Tania ke kamar Rangga juga.


"Untung aja bro, kuncinya ada sama kamu. kalau enggak, bingung aku mau bawa kalian ke mana?" celoteh Radit


"Aku tinggal sekarang gpp kali ya, aman juga kok ! masa iya gue mesti nungguin kalian tidur di sini" Radit sembari melangkah ke arah pintu

__ADS_1


Melihat Rangga yang tidur di sofa dan Tania tidur di ranjang, radit pun berfikir tidak akan terjadi apa-apa. apalagi sekarang mereka sudah tertidur. akhirnya Radit pulang dan mengunci pintunya dari luar, karena Rinta pegawai Rangga juga sedang tidak tidur di toko malam ini.


Akan tetapi tak lama Radit menutup pintu, dalam keadaan tidak sadar Rangga malah bangun dan berpindah tidur ke ranjang di samping Tania. Alhasil sambil menarik selimut, Rangga dan Tania tidur berdua di ranjang yang sama.


Di ujung sana, melihat Rangga tidak pulang nenek Amirah pun memutuskan untuk datang ke Resto Lapizza besok pagi. karena khawatir dengan Rangga, yang semalaman tak memberi kabar kalau tidak jadi pulang ke rumah.


Pagi ini walaupun badan nenek Amirah sedang tidak sehat, namun nenek Amirah bersiap dan berpakaian rapi untuk pergi menemui Rangga di Resto Lapizza.


"Sampai di sana nanti, aku akan meminta Rangga menemaniku ke rumah sakit saja. entah kenapa dari semalam dadaku terasa sesak dan nyeri" batin nenek Amirah


Sampai di depan Resto Lapizza, nenek Amirah sibuk menghubungi Rangga untuk membuka pintu rukonya. namun yang di hubungi nomornya malah tidak aktif, tak lama kemudian Rinta datang dan membuka pintu.


"Kamu ini lama sekali datang, nenek sudah hampir setengah jam menunggu di depan sini. Apa Rangga malam ini tidur di ruko?" tanya nenek Amirah pada Rinta


"Maaf nek, aku semalam tidak pulang ke ruko. tapi coba nenek cek dulu di kamar lantai atas" jawab Rinta


"Rangga ini semalam tidak jadi pulang, di hubungi juga nomornya tidak aktif. apa dia tidak berfikir kalau neneknya sekarang sedang sakit" gerutu nenek Amirah sembari naik ke lantai atas


Sampai di lantai atas nenek Amirah langsung membuka pintu dan wajahnya merah padam tatkala melihat kejadian waktu itu terulang lagi untuk yang kedua kalinya.


Melihat mereka masih di dalam selimut yang sama, nenek Amirah mengambil Air segelas di atas meja kerja Rangga dan langsung menyiramkannya ke wajah Tania.


"Emm air apa ini? apa kamar kita bocor Mel?" Tania terbangun namun belum sadar kalau dirinya sekarang ada di ranjang Rangga.


"Apa kamu bilang?" nenek Amirah kaget mendengar ucapan Tania


"Ya Ampun, kenapa pagi gini wajah nenek Rangga sudah ada di depanku? apa aku masih bermimpi? tapi kenapa mimpinya malah di kamar Rangga ya? " batin Tania sembari mengucek matanya sendiri


Tania masih meraba ruangan yang tampak tidak asing di matanya pagi ini. setelah melihat ke samping, Tania langsung berteriak kaget melihat Rangga ada di samping tempat tidurnya. sementara Rangga langsung terbangun mendengar suara teriakan di telinganya.


"Berhentilah berteriak pegawai ! membuat telingaku sakit saja" ucap nenek Amirah sembari menahan sesak di dadanya


Tania langsung terdiam mendengar nenek Amirah berbicara. dalam hati Tania masih kesal kenapa nenek Amirah harus menyiramkan air di wajahnya.


"Kamu? apa yang kamu lakukan di sini? kenapa kamu ada di ranjangku?" tanya Rangga kaget .


Melihat Rangga yang kebingungan, Tania pun sama bingungnya. hingga Tania merasa kesulitan bagaimana menjelaskan semuanya pada nenek Amirah. Tania masih terus berfikir bagaimana bisa dia ada di sini.


Rangga semakin kaget ketika melihat nenek Amirah sudah ada di kamarnya sepagi ini.


"Nek, ini tid..." Rangga langsung berdiri mendekati nenek Amirah


Belum selesai Rangga berbicara, nenek Amirah langsung menampar wajah Rangga begitu saja.


"Cukup Rangga ! nikahilah sih pegawai itu, rasanya nenek nanti tidak akan pergi dengan tenang kalau melihat kamu sudah berbuat sejauh ini ! Dadaku...." nenek sambil memegang arah dadanya yang sakit dan mulai tertunduk lemas


"Nek, ada apa dengan dada nenek? ayo kita ke rumah sak..." belum selesai Rangga bicara, nenek Amirah sudah tidak sadarkan diri.


Tania juga sama paniknya menyaksikan apa yang sudah terjadi. sementara Rangga langsung menggendong neneknya turun di ikuti oleh Tania di belakangnya.


Sampai di bawah, Rangga tidak melihat mobilnya terparkir di depan Resto Lapizza. Rinta yang melihat Rangga membawa nenek Amirah turun juga ikut panik dan yang lebih tidak habis pikir, kenapa Tania juga ada di sini sepagi ini.


"Tania, cepat pesankan aku taksi !" perintah Rangga sembari menggendong neneknya


Tanpa mengiyakan, Tania langsung berdiri di depan jalan mencari taksi. ketika taksinya sudah ada, Rangga langsung pergi ke rumah sakit. sebenarnya Tania ingin ikut mengantar nenek Amirah ke rumah sakit namun Tania tidak berani, melihat Rangga juga tidak mengatakan apapun padanya.


"Tan, nanti kalau kamu mau pulang tolong tutup aja pintunya dari luar. aku mau naik ke atas lagi" ucap Rinta melihat Tania sudah melangkah ke arah toilet.


Tania hanya mengiyakan ucapan Rinta, sembari masuk ke dalam toilet. di dalam sana Tania menangis sesenggukan karena pikiran nya sangat begitu kacau. Tania menyalahkan dirinya sendiri, mengapa bisa melakukan tindakan sefatal ini.


Akhirnya setelah hampir setengah jam menangis di dalam toilet, Tania berusaha bersikap tenang dan berfikir positif. melihat pakaiannya masih utuh saat bangun pagi tadi, Tania yakin tidak terjadi apa-apa semalam.


Tania pun akhirnya pulang ke rumah kost, di tengah perjalanan pikirannya mulai seimbang dan bisa mengingat jelas apa saja yang dirinya lakukan semalam.


"Sepertinya, aku memang harus berhenti bekerja di sana" batin Tania dengan wajah letihnya setelah sampai di depan rumah

__ADS_1


__ADS_2