The Reason

The Reason
Part 13


__ADS_3

Di depan pintu Rumah, langkah Tania terhenti mendengar dering ponsel berbunyi di dalam tasnya.


"Siapa yang nelpon sepagi gini?" batin Tania sembari mengangkat telpon


"Halo Mel" jawab Tania


"Halo, Tan sorry baru kasih kabar aku lagi keluar sekarang. kunci rumah aku titip sama ibu kost ya. kamu lagi di mana?" tanya Melly dari ujung sana


"Oh iya Mel, ini aku baru pulang" jawab Tania


"Syukurlah, tadi aku buru-buru ada kerjaan bentar sampai lupa kasih kabar kamu. Oke, sudah dulu ya Tan" ucap Melly


"Oke Mel" balas Tania, sembari berjalan ke depan rumah ibu kostnya


Sampai di dalam Rumah, Tania langsung merebahkan badannya. di kamar, Tania masih mengkhawatirkan bagaimana keadaan nenek Amirah saat ini.


"Nenek Rangga mungkin sangat kecewa kali ya, sampai dia menampar Rangga kayak gitu. apa lagi mendengar kata nikahilah, ihhh amit-amit... jangan sampai kejadian" ucap Tania membayangkan kata nikahilah yang di lontarkan nenek Amirah pagi tadi.


Di rumah sakit, Rangga masih menunggu pemeriksaan nenek Amirah. tidak lama kemudian, Dokter keluar dan mengatakan nenek Amirah sudah sadar.


"Rangga saran saya, ke depannya tolong jaga nenek kamu baik-baik. mengingat riwayat penyakit jantung yang di deritanya, nenek kamu kapan saja bisa berada dalam kondisi yang kritis" ujar Dokter Gunawan menjelaskan


"Apa saya sudah boleh masuk melihatnya Dok?" tanya Rangga


"Silahkan, hanya saja kondisinya belum terlalu pulih" jawab Dokter Gunawan


Rangga pun bergegas masuk ke kamar, setelah Dokter Gunawan pergi.


"Syukurlah nenek sudah sadar, Rangga sangat mencemaskan keadaan nenek " ucap Rangga duduk di dekat nenek Amirah


"Tolong hubungi Mama dan Papa kamu Rangga, ada hal penting yang ingin nenek bicarakan pada mereka" ucap nenek yang kondisinya sedikit melemah


"Ada apa nek? apa nenek masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Rangga


"Nikahilah pegawai itu, mungkin hidup nenek tidak akan lama lagi. nenek tidak akan pergi dengan tenang, memikirkan apa yang sudah kalian perbuat pagi tadi" ucap nenek dengan wajah kecewa


"Nek Rangga mohon jangan berbicara begitu, tolong maafkan Rangga nek. nenek tidak perlu memikirkan masalah itu, tidak terjadi apa-apa antara aku dan dia nek" ucap Rangga mencoba meyakinkan nenek


"Pergilah ! nenek tidak mau berbicara dengan kamu lagi, sebelum kamu melakukan apa nenek katakan barusan" ucap nenek Amirah


Melihat keadaan nenek Amirah seperti sekarang, Rangga terpaksa menghubungi Orang tuanya di luar kota. siangnya Mama Rita dan Papa Hermawan tiba di bandara dan langsung bergegas ke Rumah sakit.


Di depan kamar nenek Amirah, Papa Hermawan langsung menghampiri Rangga.


"Bagaimana kamu ini, menjaga nenek saja tidak bisa" ucap Papa Hermawan memarahi Rangga


"Sudahlah Pa, ayo kita lihat kondisi nenek Rangga dulu" Mama Rita memberi saran


Setelah masuk ke dalam kamar nenek Amirah, Mama Rita langsung duduk di dekat ranjang.


"Ma, bagaimana kesehatan mama bisa menurun seperti ini?" Mama Rita kaget melihat kondisi nenek Amirah


"Apa Rangga tidak pernah memperhatikan kesehatan neneknya selama kami pergi Ma" Papa Hermawan menimpali


Melihat putra dan menantunya sudah ada di sini, nenek Amirah langsung mengatakan semua kejadian itu pada mereka dan meminta mereka agar segera mengurus pernikahan Rangga. nenek Amirah merasa hidupnya tidak akan lama lagi melihat kondisinya sekarang yang cukup lemah di tambah lagi dengan kejadian yang membuatnya syok pagi tadi.


Mendengar apa yang di katakan nenek Amirah, Papa Hermawan langsung keluar dan menampar Rangga. sementara Rangga hanya bisa diam melihat reaksi papanya.


"Papa tidak pernah mendidik kamu untuk melakukan perbuatan seburuk itu Rangga ! bukankah kemarin sudah Papa katakan, jangan membuat malu keluarga ! " wajah Papa Hermawan sudah memerah menahan emosi


"Papa sangat kecewa sama kamu Rangga" Papa Hermawan sibuk memukul kepala Rangga lantaran merasa emosi


Selang beberapa saat Mama Rita keluar, melihat apa yang terjadi Mama Rita langsung menengahi dan menghentikan tindakan Papa Hermawan.


"Sudah Pa, hentikan ! kita sedang barada di Rumah sakit. kasihan Rangga kalau Papa terus memukulnya begitu ! " cegah Mama Rita

__ADS_1


"Ayo kita pulang Ma ! Papa akan semakin emosi kalau terus melihat wajahnya di sini" ucap Papa Hermawan sembari memegang dasinya dan melangkah pergi


"Rangga, tolong jaga nenekmu sebentar. nanti setelah bik siti datang, kamu pulanglah ke rumah. kita bicarakan semuanya di Rumah" perintah Mama Rita


Setelah Orang tuanya pergi, Rangga langsung memukul tembok yang ada di depannya. Rangga tidak menyangka kalau masalahnya akan menjadi sebesar ini. mengingat kejadian kemarin, Rangga sangat menyesali tindakan cerobohnya hingga membuat nenek Amirah jatuh sakit seperti sekarang.


Beberapa jam kemudian bik Siti datang dan langsung menghampiri Rangga.


"Bik tolong jaga nenek, aku mau pulang. kalau terjadi sesuatu dengan nenek, segera hubungi Rangga ya bik" perintah Rangga sebelum pergi


"Iya nak Rangga" jawab bik Siti


Sebelum pergi Rangga langsung menghubungi Radit, mendengar mobilnya masih di sana, Rangga menyuruh Radit untuk menjemputnya di rumah sakit.


"Bro nenek kamu sakit lagi ya?" ucap Radit ketika tiba di depan rumah sakit


"Semalam gimana ceritanya, sih Tania bisa ada di kamarku dit?" ucap Rangga malah balik bertanya sembari membuka pintu mobil


Akhirnya Radit segera menjelaskan semuanya secara detail. sementara Rangga saat mendengar penjelasan itu hanya bisa terdiam.


Tak berapa lama, Rangga pun langsung menceritakan kejadian pagi tadi sama Radit. Rangga berharap sahabatnya bisa memberikan saran terbaik untuknya sekarang. mendengar kata pernikahan yang di ucapkan nenek Amirah di rumah sakit, membuat Rangga sangat merasa pusing harus berbuat apa.


"Apa kamu menyukai Tania?" tanya Radit iseng sembari menyetir mobil


"Gila kamu dit ! aku aja baru kenal, mana mungkin aku menyukainya. lagian dia cuma pegawaiku. tidak lebih dari itu !" jawab Rangga


"Kali aja bro, lagian Tania juga cantik. tidak akan rugi kalau kamu menikahinya" ucap Radit menjahili Rangga dengan ucapannya


"Udah deh dit, aku tuh butuh saran. gimana caranya biar nenek menghentikan niat konyolnya barusan !" jawab Rangga sembari menyandarkan kepala nya di kursi mobil


"Lagian ingat ya, aku hanya akan menikah dengan orang yang aku cintai !" tegas Rangga menatap mata Radit


"Ya udah nikahin aja Anisa, keluarga kamu pasti setuju. aku lihat, kamu juga masih mencintainya" jawab Radit seadanya


"Becanda bro, jangan di masukin ke hati ! ya udah nanti aku coba bantu jelasin sama nenek dan Papa kamu gimana? kan walau bagaimana pun yang membawa Tania kemarin aku juga bro" Radit merasa bersalah atas tindakannya semalam


"Gak bisa juga dit.. kalau Papa tahu aku mabuk semalam, dia malah tambah berfikir buruk denganku. kan kamu tahu sendiri, selama ini aku gak pernah mabuk separah itu" jelas Rangga


"Hahah iya juga bro lupa, lagian kamu sih cuma karena Anisa bisa berbuat segila itu" jawab Radit sembari tertawa


"Udah dit gak usah nyebut nama dia lagi" jawab Rangga


"Rangga, Rangga" balas Radit sambil tersenyum


Akhirnya beberapa menit berlalu, Rangga tiba di rumah dengan wajah malasnya. sementara Radit langsung pulang naik taksi meninggalkan mobil Rangga di sana.


Rangga pun langsung naik ke lantai atas tanpa mempedulikan Papa Hermawan memanggilnya di meja makan.


Papa Hermawan dan Mama Rita langsung melanjutkan makan tanpa Rangga. setelah selesai makan, Papa Hermawan memberi perintah pada Mama Rita untuk menyuruh Rangga menemuinya nanti.


Sembari menuju ke kamar Rangga, pikiran Mama Rita masih sangat kalut mendengar ucapan nenek Amirah di rumah sakit siang tadi.


"Rangga, ini Mama nak tolong buka pintunya" ucap Mama Rita mengetuk pintu kamar Rangga


"Rangga, Papa menyuruh kamu turun untuk menemuinya. lebih baik kamu temui sekarang, sebelum Papa kamu bertambah marah" ucap Mama Rita melihat Rangga tidak membuka pintunya


"Iya Ma, pergilah nanti Rangga turun" sahut Rangga di balik pintu


Mama Rita hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Rangga sekarang. melihat Rangga tak kunjung membuka pintu, Mama Rita pun segera turun ke lantai bawah.


Ketika hari sudah beranjak sore, Rangga belum juga menemui Papa Hermawan. Rangga malah langsung pergi diam-diam dari rumah karena masih marah dengan sikap Papanya di rumah sakit tadi.


"Di mana anak itu Ma, sampai kita mau pergi sekarang dia masih belum keluar juga dari kamarnya" Papa Hermawan melihat jam di tangan


"Tidak tahu Pa, tadi Mama sudah naik ke lantai atas katanya dia akan menemui Papa nanti" jawab Mama Rita

__ADS_1


"Coba lihat anak itu, katakan pada Rangga untuk menyusul ke rumah sakit nanti" perintah Papa Hermawan


Mama Rita pun bergegas naik ke lantai atas lagi. saat mengetuk pintu tidak ada sahutan dari Rangga.


"Tidak di kunci pintunya" batin Mama Rita sembari membuka pintu


"Pantas saja, orangnya sudah tidak ada di kamar" ucap Mama Rita bicara sendiri


Melihat di dalam kamar Rangga malah tidak ada orang, akhirnya Mama Rita langsung turun dan mengatakan pada Papa Hermawan kalau Rangga sudah pergi.


"Anak itu benar-benar membuat pusing kepala saja !" keluh Papa Rangga sembari memijat keningnya


"Papa juga, kenapa harus memukulnya saat di rumah sakit tadi. mungkin Rangga masih marah Pa" Mama Rita memikirkan Rangga


"Harusnya Papa yang marah Ma, bagaimana bisa Rangga melakukan tindakan sebodoh itu" bela Papa Rangga


"Sudahlah Pa, ayo kita ke rumah sakit sekarang. kasian bik Siti dari tadi sendirian di sana" saran Mama Rita


Mereka baru mau bergegas pergi, tiba-tiba dering ponsel berbunyi di tangan Mama Rita


"Halo, ada apa bik?" jawab Mama Rita mendengar bik Siti yang menelpon


"Cepat ke sini nyonya, keadaan nenek bertambah parah sekarang" jawab bik Siti panik di seberang sana


"Apa? tunggulah, kami baru bergegas mau ke sana !" ucap Mama Rita lebih panik dari yang menelpon


Mendengar kabar itu mereka langsung pergi ke rumah sakit. sepanjang perjalanan Papa Hermawan sangat cemas dan berharap tidak terjadi apa-apa pada nenek Amirah.


Sampai di rumah sakit, mereka bergegas masuk ke ruang kamar nenek Amira.


"Di mana Rangga" nenek Amirah dengan suaranya yang serak


"Ibu tenanglah, nanti Rangga akan datang. sekarang istirahatlah dulu tidak perlu memikirkan apapun" saran Mama Rita dengan perasaan cemas melihat nenek Amirah sekarang sudah di pasang alat bantu pernapasan.


"Tidak, aku belum tenang kalau Rangga belum datang" jawab nenek Amirah


"Tunggulah Ma, sebentar lagi Rangga akan datang. aku akan menghubunginya sekarang" ucap Papa Hermawan menenangkan nenek Amirah


Sementara di Resto Lapizza, Rangga sibuk memperhatikan CCTV melihat seseorang yang di tunggunya tak kunjung datang.


"Di mana anak itu, kenapa sudah jam segini masih belum datang" ucap Rangga berbicara sendiri


Akhirnya karena merasa penasaran, Rangga bergegas turun dan menanyakan langsung pada Melly


"Mel, Tania mana? kenapa jam segini dia belum datang?" Rangga sambil melihat jam di tangannya.


"Loh aku fikir Tania udah izin sama kak Rangga" jawab Melly kaget


"Maksud kamu?" Rangga tidak mengerti


"Iya kak, tadi Tania kasih kabar gak akan masuk kerja hari ini karena ada urusan yang mendadak penting katanya. aku fikir Tania udah izin sama kak Rangga" ujar Melly menjelaskan


Rangga hanya terdiam dan langsung mengingat masalah pagi tadi.


"Apa dia marah karena kejadian semalam ya?" batin Rangga


Tidak lama kemudian, dering ponsel menyadarkan lamunan Rangga.


Saat mengangkat telpon Rangga langsung panik dan bergegas pergi tanpa berbicara apa pun lagi dengan Melly.


Melly sudah ikut panik lantaran Tania melibur kerja tanpa meminta izin terlebih dahulu dengan Rangga.


"Mel kok bisa sih Tania libur gak izin gitu?" Dawiyah heran


"Iya Daw, aku aja bingung. mana di hubungin sekarang nomor Tania gak aktif lagi" Melly sembari fokus memperhatikan layar ponselnya

__ADS_1


__ADS_2