The Reason

The Reason
Part 24


__ADS_3

Saat sudah di rumah, Tania langsung duduk termenung di meja makan. Tania tidak mengerti kenapa Rangga harus menceritakan semua rahasia pernikahannya pada Anisa.


Sementara Rangga di restorannya, sedang mengobrol bersama Radit sahabatnya.


"Bro sorry banget aku benar-benar gak ada maksud buat menceritakan semuanya pada Anisa." ucap Radit merasa tidak enak


"Sudahlah, mau bagaimana lagi." jawab Rangga pasrah


"Ngomong-ngomong sejak kapan kamu memutuskan kembali bersama Anisa. sebelum menikah dengan Tania, kamu bahkan tidak mau menerima permohonan maafnya." tanya Radit.


"Entahlah aku tidak mengerti dengan jalan pikiranku sendiri, tapi yang jelas setelah aku menikah kufikir aku benar-benar sudah kehilangan Anisa." ujar Rangga


"Maksud kamu?" Radit tidak mengerti


"Mendengar aku sudah menikah, Anisa mengikhlaskan aku bersama Tania. di saat itulah aku benar-benar merasa takut akan kehilangan dia dari kehidupanku." jawab Rangga


"Wah kacau kamu bro, harusnya kamu tidak perlu membawa Tania ke dalam masalahmu sejauh ini." ucap Radit


"Semoga suatu hari nanti kamu bisa membuat keputusan dengan lebih bijak, jangan plin plan seperti sekarang." Radit merasa kecewa dengan sikap Rangga


Selesai mengatakan itu semua, Radit langsung bergegas pulang. sementara Rangga hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan dari Radit.


Saat pulang ke rumah, Rangga langsung menghampiri Tania di meja makan. melihat Tania tidak menyapanya sama sekali, mereka pun duduk termenung dengan pikirannya masing-masing.


"Rangga bagaimana kalau aku menyukaimu saat ini?" tanya Tania datar


"Maksud kamu?" Rangga bingung


"Kurasa aku mulai menyukaimu, aku tidak mengerti kenapa perasaanku jadi begini." jawab Tania


Lama Rangga terdiam melihat ekspresi wajah Tania yang tampak sedih dan kecewa.


"Hahah aktingmu benar-benar bagus sekali Tania, aku sampai terperangah melihat raut wajah kamu." Rangga langsung tertawa mendengar menanggapi ucapan Tania


"Apa? apa aku terlihat sedang bercanda?" ucap Tania kaget melihat reaksi Rangga


"Tuangkan saja semua perkataan kamu itu ke dalam novel. aku yakin banyak orang yang tertarik membacanya." ejek Rangga


"Ah iya, seharusnya aku tidak mengatakan semua ini padamu." jawab Tania berpura-pura tertawa.


"Lelucon kamu malam ini sangat membuatku terhibur. Rangga aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu." Rangga tidak berhenti tertawa mengejek Tania


Melihat sikap Rangga yang mulai menyebalkan, Tania pun kembali merasa benci dengan Rangga.


"Otak udang apa kamu lupa, aturan yang barusan kamu buat pagi tadi? kalau ada hal yang penting bicarakan melalui ponsel, hhah bagaimana bisa kamu melanggarnya malam ini." ucap Rangga


"Berhentilah berbicara Rangga, kamu sangat menyebalkan malam ini." ucap Tania langsung naik ke lantai atas.


Rangga berteriak memanggil Tania yang langsung pergi, tanpa membereskan meja makannya terlebih dahulu. melihat Tania tidak menghiraukan panggilannya, akhirnya Rangga sendiri yang membereskan meja makannya.


"Wah, apa aku sudah tidak waras? bagaimana bisa aku mengatakan semua perasaanku padanya? kenapa aku harus menyukai pria brengsek sepertinya? sadar Tania, sadar, sadar.." ucap Tania sambil memegang kedua pipinya.


Tania merasa sangat kecewa dengan sikapnya sendiri, dia berusaha menyadarkan pikirannya yang salah.


Pagi hari ini Rangga turun dan langsung menyapa Tania dengan ramah tidak seperti biasanya.


"Selamat pagi istriku, semoga harimu selalu menyenangkan. aku mencintaimu." sapa Rangga sambil tersenyum manis menatap Tania

__ADS_1


Tania hanya terperangah menyaksikan aksi Rangga pagi ini, membuatnya semakin kesal dan lebih memilih mengabaikan keberadaan Rangga di depannya.


"Apa kamu masih marah?" tanya Rangga duduk di meja makan


"Baiklah, mari kita menonton bioskop bersama nanti malam. aku yang akan memesan tiketnya." ucap Rangga


"Apa kamu serius?" tanya Tania penasaran


"Iya, lagian selama menikah kita tidak pernah jalan-jalan bersama." ujar Rangga


"Baiklah, kita bertemu di mall trade center saja nanti." saran Tania


"Oke sampai nanti otak udang." ucap Rangga langsung pergi ke Restoran.


Selesai bekerja Tania bergegas pulang ke rumah dan berdandan serapi mungkin, untuk pergi ke bioskop bersama Rangga. setelah sampai di mall Tania duduk di sebuah kursi sambil menunggu kedatangan Rangga.


Di ujung sana Rangga sedang terburu-buru ke rumah sakit karena mendadak Anisa jatuh pingsan lagi di tempatnya bekerja. Rangga sampai melupakan janjinya dengan Tania untuk pergi menonton bioskop bersama malam ini.


Sambil sibuk menghubungi Rangga yang sedari tadi tak kunjung mengangkat teleponnya, di depan bioskop Tania tetap memutuskan untuk menunggu kedatangan Rangga.


"Maaf mba, mallnya sebentar lagi akan tutup. apa masih mau tetap menunggu di sini?" tanya pegawai di dalam bioskop


Melihat mallnya sudah akan tutup, Tania terpaksa pulang dengan perasaan kecewa menyelimuti hatinya. ia tidak mengerti kenapa Rangga bisa bersikap begini terhadapnya. bahkan saat Tania sudah ada di rumah, Rangga sama sekali tak memberinya kabar.


di kamarnya Tania kembali menangis karena sikap Rangga yang selalu mengecewakannya.


Saat pagi Tania hanya duduk terdiam di sofa, melihat Rangga semalaman tidak pulang dan tidak memberi kabar sama sekali. tak berapa lama Rangga pulang, namun bukannya meminta maaf kepada Tania dirinya malah mengabaikan Tania begitu saja. di saat itulah emosi Tania semakin memuncak menghadapi sikap Rangga yang kadang bersikap semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Rangga aku mau berbicara." ucap Tania menghentikan langkah Rangga naik ke lantai atas.


"Wah, kamu fikir cuma kamu yang punya kesibukan Rangga. aku juga memiliki kesibukan, dalam hidup ini kamu tidak bisa bersikap semau kamu." ucap Tania menahan emosi


"Sudahlah Tania, jangan bertele-tele apa yang ingin kamu katakan? aku lelah." jawab Rangga sedang malas berdebat dengan Tania


"Hei pria brengsek, lain kali jangan berani membuat janji kalau tidak bisa menepatinya." ucap Tania emosi


"Apa?" Rangga kesal mendengar Tania meneriakinya dengan kata brengsek.


"Membuatku menunggu lama di depan bioskop, sampai mallnya tutup kamu bahkan tidak memberiku kabar sama sekali. setidaknya kirimkan pesan kalau memang tidak bisa datang." ujar Tania menahan tangisnya


"Hei otak udang, apa kamu bodoh? sudah tahu aku tidak ada kabar, setidaknya kamu bisa pulang. mengapa harus menunggu di depan bioskop, seperti orang idiot." ucap Rangga emosi


"Idiot? kamu bilang aku idiot? iya aku memang idiot, bodoh, sampai harus bersikap seperti itu untuk orang sebrengsek kamu. aku sudah tidak tahan lagi, mari kita akhiri pernikahan palsu ini." tanpa sadar air mata Tania terjatuh begitu saja.


"Baiklah, pergilah ! aku tidak akan menahan kamu. kamu fikir aku tidak tersiksa dengan pernikahan palsu ini?" ucap Rangga


Mendengar perkataan Rangga yang semakin menyakitkan hatinya, Tania langsung pergi begitu saja.


"Pergi sana, jangan pernah kembali lagi. aku muak melihat tingkah kamu yang selalu kekanak-kanakan." teriak Rangga meluapkan semua kekesalannya melihat Tania melangkah keluar pintu.


Saat ini Tania termenung sambil duduk di kursi yang ada di taman, di sana Tania menangis sesenggukan. dia ingin sekali menghentikan air matanya agar tidak terjatuh, namun dengan kondisi perasaannya yang menyedihkan sekarang hanya dengan menangislah pikirannya merasa lebih lega. tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya, Tania langsung mencari tempat untuk berteduh.


Di rumah pikiran Rangga juga sama kacaunya, Rangga tidak mengerti kenapa semuanya harus berakhir seperti sekarang. karena terlalu emosi, Rangga pun memukul tangannya sendiri ke cermin yang ada di kamarnya.


Saat turun ke lantai bawa, Rangga baru sadar kalau di luar sedang terjadi hujan lebat. Rangga pun mengkhawatirkan keadaan Tania yang sekarang sedang berada di luar. hampir satu jam Rangga berdiri di depan jendela, berharap kalau Tania akan segera pulang. namun cukup lama Rangga menunggu, Tania pun tak kunjung datang.


merasa khawatir Rangga pun mencoba menghubungi Tania, namun tidak di angkat. akhirnya di tengah hujan lebat itu, Rangga memutuskan langsung mencari Tania berjalan kaki sambil membawa payung. beberapa menit Rangga mencari, ia tidak menemukan keberadaan Tania di sekitar lingkungan rumahnya.

__ADS_1


Setelah cukup lama mencari, Rangga pun memutuskan segera pulang ke rumah melihat hujan semakin deras.


"Mungkin dia sudah berada di rumah Melly sekarang." ucap Rangga berusaha meyakinkan pikiran buruknya sendiri.


Sementara Tania karena tidak membawa ponsel, akhirnya Tania bergegas mencari wartel di sekitar dekat taman. untungnya Tania berhasil menemukan saluran telepon untuk meminta bantuan pada sahabatnya, Melly. namun saat menghubungi Melly panggilannya tidak di angkat sama sekali.


"Mungkin sekarang Melly sedang sibuk bekerja." batin Tania sambil mematikan sambungan teleponnya


Tania bingung harus meminta bantuan siapa lagi, akhirnya ia hanya bisa menunggu hujan redah sambil berteduh di bawah batang pohon.


Tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan Tania, sambil membuka kaca mobilnya Kevin langsung memanggil Tania untuk menyuruhnya langsung masuk ke dalam mobil. Tania kaget kenapa Kevin tiba-tiba bisa berada di sekitar taman ini. melihat Kevin menawarkan tumpangan, Tania langsung bergegas masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana kamu bisa terjebak hujan di sini?" tanya Kevin heran


"Ah iya, tadi aku tidak sengaja berjalan di sekitar taman ini. aku tidak menyangka akan datang hujan sederas ini." ucap Tania tersenyum santai


"Oh." jawab Kevin datar


"Kenapa kakak bisa berada di sekitar sini?" tanya Tania


"Aku tadi mampir ke rumahmu, pemilik rumah bilang kamu sedang keluar. aku menelepon kamu tidak di angkat, di mana ponselmu?" tanya Rangga.


"Ponselku ketinggalan di rumah, maaf sudah merepotkan kakak hari ini." jawab Tania


"Gpp untung aku menemukanmu di sekitar sini." ujar Rangga sambil tersenyum.


"Iya kak, makasih." ucap Tania datar


"Bisa tolong antar aku ke rumah temanku? aku ingin menginap di rumahnya malam ini." ucap Tania berusaha menutupi masalahnya.


"Oke Tan, apa kamu sedang ada masalah sekarang?" tanya Rangga


"Tidak ada kak." jawab Tania sambil tersenyum


"Kalau kamu mau berbagi cerita denganku, aku malah senang. jangan sungkan Tan, kamu tidak bisa menutupi semuanya hanya dengan sebuah senyuman." ucap Kevin sambil fokus menyetir mobil.


Tanpa mengiyakan, Tania hanya tertegun mendengar ucapan Kevin. yang di katakan Kevin memang ada benarnya namun Tania berusaha menanggapi ucapan Kevin dengan candaan.


"Hahahh, iya kak. suatu hari nanti akan aku ceritakan pengalaman pahit hidupku pada kakak." jawab Tania


"Mengapa harus menunggu suatu hari nanti?" ucap Kevin.


"Untuk sekarang waktunya sedang tidak tepat." jawab Tania sambil tersenyum santai


Kevin hanya tersenyum mendengar jawaban Tania, tidak terasa lama mereka mengobrol mobil Kevin pun sampai di depan rumah Melly.


"Apakah ini rumah sepupu yang kamu ceritakan tadi?" tanya Kevin


"Iya kak, apa mau mampir dulu?" tanya Tania sambil keluar dari mobil Kevin


"Sudah sore lain kali saja Tan, mungkin kamu juga perlu istirahat sekarang." ucap Kevin


"Baiklah, sekali lagi terima kasih sudah mau membantuku tadi kak." ucap Tania


"Santai saja." jawab Kevin sambil memutar mobilnya dan pamit pulang.


"Ponselku bahkan tertinggal di rumah Rangga sekarang, melelahkan sekali rasanya. idiot, bodoh, dia bahkan meneriakiku dengan kata-kaya yang kasar." batin Tania sambil berjalan ke arah pintu rumah Melly.

__ADS_1


__ADS_2