
Kevin tersenyum tulus menatap tania, dia ingin sekali mengetahui apa jawaban tania. meski sebenarnya kevin sadar menyatakan perasaannya di saat sekarang adalah hal yang tidak tepat.
"Aku sudah menikah kak, bagaimana bisa kakak membuat lelucon sekonyol itu." jawab tania sambil tersenyum.
"Kalau seandainya kamu belum menikah, apa kamu akan menerima perasaanku?" tanya kevin.
"Tentu, kurasa semua wanita pasti menyukaimu. kakak adalah orang yang baik dan rendah hati, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada kakak?" ucap tania berbicara jujur.
"Apa kamu serius?" tanya balik kevin.
"Iya aku serius ! tapi, apa kakak tidak malu memiliki pasangan yang status sosialnya tidak sederajat dengan kakak?" ucap tania sambil tertawa.
"Kurasa kamu sangat mengenalku tania, aku bukan orang yang seperti itu." jawab kevin tegas.
"Lupakanlah kak, faktanya sekarang aku sudah menikah." jawab tania datar.
"Aku akan menunggu kamu berpisah dengannya ! bila waktunya tiba, tolong terima aku hadir di sisi kamu tania." ucap kevin sambil memegang tangan tania.
Tania terperanjat mendengar ucapan kevin, dia bingung kenapa kevin seakan sangat memahami kondisi pernikahannya sekarang.
"Kak ayo pulang, sudah malam." ucap tania sambil melepaskan tangannya dari kevin.
"Baiklah.." jawab kevin datar.
Selama di dalam perjalanan, tania hanya terdiam memikirkan ucapan kevin barusan. tak lama kemudian mobil mereka sampai di depan rumah tania.
"Kamu tidak perlu terburu-buru memberikan jawabannya. aku bisa menunggu jawaban kamu kapan saja." ucap kevin sebelum tania keluar dari mobilnya.
"Hah? iya kak, makasih. maaf sudah merepotkan kakak lagi malam ini." jawab tania sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, mobil kevin pun berlalu pergi dari rumah tania. saat memasuki rumah, tania kaget melihat semua lampu belum menyala.
"Apa dia belum pulang?" ucap tania berbicara sendiri.
Tania langsung menghidupkan seluruh lampunya dan beranjak naik ke lantai atas. malam ini pikiran tania sangat kalut sekali, karena habis bertengkar dengan rangga, di tambah ucapan kevin yang membuatnya merasa bingung.
Paginya rangga baru pulang ke rumah. semalam dia memutuskan untuk tidur di toko. saat memasuki rumah, rangga langsung melangkah ke dapur untuk memeriksa makanan karena dari semalam dia belum makan sama sekali.
"Apa dia tidak memasak?" ucap rangga kaget melihat di meja, tidak apapun yang bisa di makan.
Karena habis bertengkar semalam, rangga jadi tidak berani menyapa tania pagi ini. akhirnya rangga memutuskan untuk memasak mie instan sendiri. selesai sarapan rangga langsung naik ke lantai atas.
Tak lama kemudian, rangga memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tania. rangga berniat untuk meminta maaf atas sikapnya semalam, namun dia bingung bagaimana cara mengatakannya.
"Otak udang, keluarlah aku mau bicara sebentar." ucap rangga ragu sambil mengetuk pintu.
"Ada apa?" tanya tania setelah membuka pintu kamarnya.
"Aku..aku mau.." ucap rangga terbata.
"Kalau tidak penting, akan aku tutup pintunya !" ucap tania acuh.
Melihat tania seperti mau mengabaikannya, akhirnya rangga malah berbicara lain kata.
"Otak udang, apa kamu tidak akan berberes? lihat rumah ini kotor sekali !" ucap rangga membuat alasan untuk menyapa tania.
__ADS_1
"Nanti saja, aku sedang malas melakukannya sekarang ! " jawab tania langsung menutup pintunya.
"Otak udang, buka pintunya !" teriak rangga sambil terus menggedor pintu kamar tania.
"Ada apa lagi?" teriak tania langsung membuka pintunya kembali.
"Apa kamu tidak lihat hari sudah siang begini, kapan kamu akan membersihkannya?" ucap rangga.
"Sore nanti akan aku bersihkan." teriak tania kesal.
"Tidak bisa ! bersihkan sekarang, temanku akan datang ke rumah. kamu harus melakukannya sekarang !" ucap rangga membuat alasan agar tania segera keluar dari kamarnya.
Mendengar teman rangga akan datang ke rumah, mata tania melotot kesal pada rangga. akhirnya dengan berat hati terpaksa menuruti perintah rangga. melihat tania sudah bergegas turun dan menyapu, rangga merasa senang sambil duduk santai di sofa.
"Otak udang, apa semalam pria itu sungguh menjemput kamu di halte?" tanya rangga ragu.
"Iya.." jawab tania datar sambil menyapu rumahnya.
"Apa kamu masih marah denganku?" tanya rangga lagi.
"Tidak ! " jawab tania cuek.
"Aku minta maaf, aku janji tidak akan bersikap seperti itu lagi." ucap rangga sambil berpura-pura membaca buku.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba suara ponsel tania berbunyi. dia langsung memeriksa ponsel di sakunya. tania tersenyum sendiri sambil membaca isi pesan di ponselnya.
"Otak udang, apa kamu tidak mendengar ucapanku barusan?" tanya rangga melihat tania tidak merespon ucapannya.
"Memangnya kamu bicara apa tadi?" tanya balik tania sambil tersenyum menatap layar ponselnya.
Setelah membaca isi pesan dari kevin, tania langsung mengecas ponselnya di kamar dan bergegas membersihkan seluruh rumah. sementara rangga karena penasaran, akhirnya dia memberanikan diri masuk diam-diam ke kamar tania untuk memeriksa pesan siapa yang sudah membuat tania tersenyum dari tadi.
"Apa? berani sekali pria ini mengajak tania makan siang di luar ! " ucap rangga kesal setelah membaca pesan di ponsel tania.
"Rangga di mana kamu? kapan teman kamu akan datang ke rumah?" teriak tania di depan kamar rangga.
Rangga sudah panik mendengar suara teriakan di lantai atas, sementara dirinya sekarang masih terjebak di kamar tania. sedangkan tania, merasa tidak mendapat jawaban dari rangga dia langsung pergi begitu saja dan bergegas masuk ke kamarnya.
Akhirnya rangga memutuskan untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian tania, karena sudah panik takut ketahuan.
"Kenapa colokan kabelnya sudah terlepas ya?" ucap tania merasa heran melihat ponselnya tidak di cas sama sekali.
"Sudahlah mungkin aku lupa mengecasnya kali." jawab tania bingung.
Di dalam lemari, rangga sudah merasa pengap meskipun baru berapa menit ada di sana. sementara tania karena ingin segera pergi makan siang bersama rangga, dia pun bergegas membuka lemari untuk berganti pakaian.
"Ya ampun kenapa lemarinya susah sekali di buka?" ucap tania sambil terus menarik pintu lemari pakaiannya.
Di dalam sana, rangga berusaha sekuat tenaga menahan pintunya agar tidak bisa terbuka oleh tania.
"Wah, membuang waktuku saja !" gerutu tania sambil terus menarik pintu lemarinya.
Rangga sudah kehabisan tenaga melihat tania terus menarik pintunya. akhirnya dia hanya bisa pasrah, ketika pintu itu terlepas dari genggamannya. sementara tania langsung berteriak karena kaget melihat rangga tiba-tiba ada di dalam lemarinya.
"Surprise..." ucap rangga berpura-pura memberikan kejutan pada tania.
__ADS_1
"Wah, kamu benar-benar sudah tidak waras rangga ! apa yang kamu lakukan di dalam lemari pakaianku?" ucap tania sambil mengepalkan tangannya di pinggang.
"Kamu tidak lihat, aku sedang memberi kamu kejutan sekarang ! apa kamu tidak kaget?" ucap rangga sambil memaksa dirinya tertawa, padahal dalam hati rangga sudah merasa sangat malu sekali.
"Hei idiot, cepat keluar dari kamarku !" ucap tania kesal sambil menarik tangan rangga.
"Hhahh otak udang aku hanya bercanda, kenapa kamu jadi kesal begini. baiklah aku akan keluar." jawab rangga langsung melangkah keluar pintu.
Melihat rangga pergi dari kamarnya, tania merasa sangat panas hati. bagaiamana bisa rangga bisa mengerjainya sejauh itu.
"Aku benar-benar tidak habis fikir, kenapa si brengsek itu lancang sekali masuk ke kamarku?" ucap tania emosi.
Saat ini di dalam kamarnya, rangga sudah merasa sangat khawatir karena tania akan keluar makan siang bersama kevin. rangga sibuk mencari ide untuk menggagalkan acara makan siang tania siang ini.
"Otak udang tunggu !" ucap rangga melihat tania baru mau turun ke lantai bawah.
"Ada apa lagi? cepat katakan, aku sudah terlambat sekarang !" ucap tania sambil melihat jam di tangannya.
"Otak udang gawat ! aku baru saja menelpon mama, katanya sakit nenek kambuh lagi." ucap rangga berakting sebaik mungkin.
"Apa? benarkah? ayo kita ke sana rangga." ucap tania sudah panik.
Rangga terperangah melihat tania mempercayai perkataannya begitu saja. akhirnya tania bergegas pergi mengajak rangga ke rumah nenek amirah. di jalan rangga merasa gelisah karena kebohongannya sendiri. sementara tania terlihat panik dan langsung memberitahu kevin, kalau dia batal menemuinya siang ini.
"Rangga, aku merasa tidak enak karena kita tidak membawa makanan apapun ke rumah nenek?" ucap tania.
"Hah? tidak perlu, di rumah nenek juga ada banyak makanan." jawab rangga.
Tania hanya terdiam mendengar jawaban rangga, tidak lama kemudian mobil mereka tiba di rumah nenek amirah. dalam hati rangga merasa tidak tenang karena takut ketahuan. saat tania masuk ke dalam rumah, dia kaget kenapa rumahnya tampak sepi sekali.
"Di mana mama dan papa bik?" tanya rangga.
"Sedang keluar nak rangga, kalau nenek ada di kamarnya." mendengar orang tuanya sedang pergi, rangga merasa tenang.
Mendengar ucaoan bik sisti, tania segera naik ke lantai atas. sementara rangga langsung menyusul tania ke kamar nenek amirah.
"Nenek, rangga datang. apa nenek sekarang sudah tidak sakit lagi? rangga sangat mengkhawatirkan nenek." ucap rangga langsung memeluk neneknya dan berpura-pura panik agar tania mempercayainya.
"Iya nek, apa nenek sudah baikan sekarang?" sambung tania setelah berada di kamar nenek amirah.
"Nenek baik-baik saja, memangnya ada apa? tumben kalian datang ke sini berdua?" ucap nenek merasa heran.
"Tapi rangga bilang nenek...." ucapan tania langsung di potong rangga.
"Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi. yang penting nenek sekarang sudah baik-baik saja." ucap rangga sambil berpura-pura tersenyum memeluk neneknya.
"Pegawai memangnya rangga bilang apa?" ucap nenek amirah penasaran.
"Rangga bilang sakit nenek kambuh lagi?" jawab tania ragu.
Mendengar ucapan tania, rangga hanya bisa tertunduk malu karena sudah ketahuan berbohong.
"Apa? cucu kurang ajar ! bagaimana bisa kamu mendoakan nenek sakit lagi? sudah jelas nenek baik-baik saja sekarang." ucap nenek amirah langsung memukul kepala rangga pakai kipasnya.
"Ampun nek, rangga tidak bermaksud begitu. semalam rangga bermimpi kalau sakit nenek kambuh lagi." bela rangga berusaha membuat alasan.
__ADS_1
Nenek amirah pun menghentikan pukulannya, setelah mendengar penjelasan dari rangga. sementara tania sudah kesal, mengetahui kalau rangga ternyata sudah membohonginya dari tadi.