
LIMPAHAN perkara dunia berbuah kekaguman bisa kurapalkan banyak-banyak. Semisal rupa-rupa naungan langit di setiap iklim. Guyuran daun oranye pada musim gugur, para boneka salju di musim dingin yang dipahat anak-anak kecil, tarian puspita menyambut musim semi, serta orang yang merasa cukup atas segarnya es krim mint di taman yang dihujani terik musim panas.
Kemarin dialog pertama yang kumulai bersamanya bermula, seseorang yang jadi kausa atas kebebasan diriku memuja sesuatu.
Bebas, dan tidak salah. Takkan ada yang menyalahkan dan disalahkan dalam urusan cinta.
Renjana bergejolak saat kutemui sorot mata itu memandang semesta. Lurus dan sarat benci. Iris netra melukiskan luka tersirat yang tak sembarang orang mampu mencermati, tapi aku sanggup. Jadi, tolong jangan caci maki aku ketika jemari ini gerenyau menekan shutter kamera. Carut-marut tak kasat mata yang sangat cantik, sampai aku jatuh cinta. Tak tahan ingin kuabadikan.
Siapa manusia yang kebal ditimpuk salju bertubi-tubi? Mungkin hanya akulah yang dimaksud. Diksi-diksi pilihannya sepantas salju bersuhu minus derajat. Tapi, terima kasih. Cencala itu menyegarkan kembali kesemrawutan otakku yang lembur kerja. Sebagaimana bongkahan es bergemeletuk menabrak dinding gelas berisi jus, diminum pada celah tandusnya tanah Korea.
Desas-desus juga rumor menuntun ragaku menyelami makna perangainya lebih dekat. Tak satu pun isu-isu mengenainya terbukti. Orang-orang merekati seorang empunya jenama Yoon Sara sebagai tipe selektif yang handal berperan dan mengecoh lawan bicara dengan jurus jitu sarkastik. Kontras gambarannya justru di warna mataku serasa biru, laksamana singa betina kesepian. Entah mengapa.
"Sebelum aku pergi, kau tidak ingin berteman denganku?"
Tak paham lagi, kalimat konyol apa yang telah kulontarkan sebenarnya? Belum tentu dia memang kesepian, tapi ingin sekali rasanya menemani Yoon Sara. Walau aku harus terbiasa karena tampik selalu jadi kawan.
🌻
"KAU masih berkutat dengan kamera?"
Gerakku terjeda ketika seseorang bertubuh bidang di hadapanku bertanya. Bunyi jepret kamera terlanjur menjawab lebih dahulu, menangkap objek nuansa vintage dari proporsi tata letak dua cangkir latte yang bagiku sangat aestetik. Lirik sejenak si penanya, lalu kulanjutkan sesapan pertama di mulut cangkir. Ayolah, orang ini ternyata menanti jawaban lebih dari sekadar sapa-sahut dari shutter. Sebab arah tatapnya belum juga beralih dan penuh kuriositas.
"Sudah kubilang, mana mungkin kutinggalkan hobiku," komentarku lantas sembari meletakkan kembali cangkir di lepeknya.
Orang yang sekarang mengerutkan kedua alisーtak cukup puas oleh serangkaian jawaban klasik temannya sendiri, adalah sobatku sejak usia kami belum mencapai kepala satu. Dia tetangga seberang rumah yang jadi makhluk pertama mewarnai hidup monokrom sang putra tunggal Kim. Pun sebagai korban wabah dari masa rumit antara kami.
Jeon Jungkook. Masyarakat mengenalnya JK, pejudo muda berbakat yang cukup disegani beberapa kalangan bandit kampus. Struktur wajah bisa jadi tipu daya, terlihat dari paras Jungkook tidaklah seseram yang siapa pun mampu prediksi. Bibir segar yang dipadu-padankan bola mata besar memberi kesan lugu terhadap kerabatku yang satu ini.
Ingin tahunya meraih level maksimum. Kegiatan lancang Jungkook diaplikasikan tanpa aba-aba, menyambar kamera yang terletak di samping cangkir milikku. Menolak usah atas permisi, begitu saja mengutak-atiknya.
"Tidak berubah, kau suka sekali memotret langit. Dan seperti biasa kalau kau yang ambil, kualitas hasilnya lebih menakjubkan untuk sebuah kamera saku." Acap kali detak tipis dari tombol slide yang dipijit Jungkook membantah sunyi. Fokusnya enggan diganggu gugat terbukti pada kernyit dahi yang terukir tangguh. "Dan...oh!"
Tiba-tiba ibu jari perkasa punya Jungkook tertunda menekan tombol berikutnya. Kusaksikan netra galaksinya agak membulat, pupil matanya melebar.
"Aku baru tahu kau suka memotret orang sebagai objek," lanjutnya mengangkat pandangan. Berlama-lama tatap mata Jungkook penuh interogasi menganalisa banyak hal dari perubahan air wajahku. Sambil tangan itu terjulur bersama kamera saku, dia menunjuk-nunjuk display nya. "Siapa gadis ini?"
Aku mengerti binar mata Jungkook yang tersiasati takjub. Dua belas tahun ini memang bisa dihitung jari diskusi kami menyangkut-pautkan isu wanita. Tidak segelintir pun dari kami yang peduli kondisi kaum Hawa, termasuk bila itu penting untuk diperbincangkan. Dan ini pertama, dia bersua dengan diriku yang salah tingkah.
"Oh, someone special ?"
Payah, serasa dicecar dua kata sakral. Ini bahaya terhadap sudut bibirku yang terobos saja naik ke atas melekukkan senyum. Kukatupkan bibir, namun ia begitu keras kepala. Percuma saja. Hasilnya bagian bawah bibirku tergigit pelan, salah tingkah.
Jari telunjuk sudah mengetuk-ngetuk meja tanpa irama yang beraturan, kulakukan tanpa alasan pula. Aku malu karena setiap organ layaknya sulit berjalan sesuai kendali. Mencari-cari entitas ternyaman tuk dipandang, mana saja asalkan atensi ini tidak terpengaruh mesem-mesemnya Jungkook yang menghakimi. Mesam-mesemnya itu menular, tahu. Keparat orang ini.
Kalau begini cara Jungkook menyelidiki perasaan seseorang, ia cukup diacungi jempol. Aku tak lagi bisa menyangkal bahwasannya bulan-bulanan kami mengenai objek foto adalah gadis belia di taman kemarin, si penikmat es krim sedingin integritasnya.
"Dia temanku yang satu jurusan. Aku memotretnya karena...bukankah dia terlihat sangat segar ketika berpadu dengan background?" dalihku, berupaya menjelaskan pada Jungkook agar salah tingkah lebih cepat menuju akhirnya dan kami dapat tukar pikiran dengan serius. Jari telunjukku memresentasikan partikel-partikel yang perlu kami diskusikan, selain topik personal mengenai gadis itu belaka. "Lihat, background kali ini musim panas dan itu menjadikan dia sangat indah dijadikan objek. Bahkan es krim mint yang di genggamannya ini benar-benar memberikan kesan dingin yang menyegarkan padanya. Kau setuju denganku?"
Sepertinya Jungkook memang tidak minat menjadikan Yoon Sara sebagai topik serius. Atau mungkin dia menanti saat yang tepat bahasan khusus tentang gadis itu lepas dari bibirku. Cuma manggut-manggut saja kepalanya, mencoba paham. Kembali cetak-cetuk tombol merajah percakapan kami, dilanjutkannya kutak-atik kamera saku.
"Kudengar, dia itu benci laki-laki."
Aku berhasil mendapat kembali perhatian Jungkook tatkala berujar begitu. Mengerut dahinya, linglung. Seakan raga dan akal sama sekali tak menunjukkan satu jalur, aku mengganggunya yang tengah berpikir keras.
"Siapa yang kau maksud?"
"Gadis yang kau lihat di foto itu."
__ADS_1
Dia tidak menjawabku lagi, fokusnya tertuju kamera. Beberapa saat keheningan melanda dan ini waktu yang tepat untukku kembali menyeruput secangkir latte panas yang nyaris kehilangan keunggulan suhunya. Aku bukan tipe peminum kopi hangat di musim panas seperti Jungkook, tapi kupikir ini caraku untuk terlihat dewasa.
"Kenalkan aku padanya," sela Jungkook tiba-tiba saja. Terima kasih untuknya karena sukses membuatku tersedak sekarang.
Aku terbatuk-batuk. "Kenapa tiba-tiba? Kupikir kau tidak tertarik."
"Temanmu berarti temanku juga, bukankah itu prinsip kita?"
Putar mata dan menghela tipis, Jungkook perlu tahu bentuk frustrasi yang kuhempas barusan. "Ini tidak mudah, kau tahu? Dia beda dengan perempuan lain."
"Sama, ketika kau mampu menaklukkannya. Ayolah, Tae. Kau pasti punya keahlian itu," celetuk sobatku sejak dua belas tahun lalu, matanya memicing penuh provokasi. Bahkan aku ragu kalimat spontannya dibuahi dari cikal bakal kontemplasi.
Payahnya kami sama-sama terkekeh dan mengerjapkan mata dua kali, tanpa mengiyakan atau menyanggah.
Sial, kami selayaknya dua manusia dogol. Basa-basi menertawai bualan Jungkook yang benar-benar tidak esensial. Kedua alis Jungkook terangkat sepintas, seolah mumpuni digila-gilai wanita sekali kedip sebelah mata. Memang iya, sih, bisa jadi ini fakta setelah ada kemajuan pada kemampuan responsifnya terhadap kaum Hawa. Aku jamin. Tapi, nyatanya masih harus dipertanyakan kapan itu terjadi.
Decak sebal dariku mengakhiri durasi cekikikan janggal kami. "Bicaramu seolah baru saja menaklukkan tiga perempat dari seluruh wanita di Korea, sadarlah kau bahkan belum pernah berfoto bersama wanita selain ibumu."
Dia cengengesan sambil wajah itu tertunduk malu. "Aku sok tahu, ya, haha. Itu kata-kata yang sering diucapkan pria nakal di drama."
Lugunya seorang Jeon Jungkook.
Selain itu, ini kali pertama mendengar kawanku sungguh antusias perihal dara.
🌻
AKU dan Jungkook umpama pantulan cermin di permukaan riak air, serupa namun entah mengapa rasanya berbeda. Bahkan di usia tanggung pembukaan kepala dua, kami belum memutuskan pisah selain masalah jurusan yang dipilih. Jurnalistik sudah menyatu dengan jiwanya, sementara aku lebih suka seni rupa. Berkelindan pada estetika perhiasan bumi secara alami membuatku mudah diikat sayang. Kamera sebagai media komunikasiku bersama alam, si pujaan hati.
Omong-omong, kediamanku beroposisi dengan istana sederhana Jeon di distrik Jungnang. Malam setelah kelulusan bahkan kami habiskan di kedai soju yang sama, ditemani benda kesayangan dan masing-masingnya merutuki keputusan dibalik lapang dada. Tahun yang kumaksud merupakan awal klimaks usia Jungkook resmi mencicipi arak. Sebenarnya aku dua tahun lebih dulu, tapi kurang bernyali besar menikmati soju pertama sendirian sampai Jungkook ajak.
Selesai mengikis detik kosong bersama Jungkook di luar kampus, cap anak seni supel merajai keningku tatkala masuk jurusan dan duduk di bangku kelas. Orang mengira warna-warni memberkati hidupku dan tertularlah ribuan warna pastel kepada yang beruntung kuberi atensi. Padahal bukanlah aku sang konglomerat, maupun priyai bahkan bangsawan yang asetnya tersebar di setiap mata memandang. Alih-alih seorang penggoda sekali pun, baru merapati satu wanita saja rasanya bersilang-selimpat.
"Kim Taehyung."
Seseorang memanggil namaku yang baru saja merebahkan tas di atas meja. Kelas hari ini belum dimulai, mungkin sebentar lagi. Beruntung sepertinya dosen masih terjebak macet wilayah pusat kota. Asal tebak saja, yang pasti garis wajah kendur tanda penuaan itu dan nada bariton maskulin ciri khasnya belum kentara menyapa kelas.
Pelaku yang mencuri pandangku dari tas, menyambut dengan juluran tangan memapah sebuah tas lain berbahan kertas ivory cokelat dilapisi motif kucing hitam yang digambarkan susah payah meraih titik tali pegangannya. Untuk selanjutnya kupanggil dia Hoseok dari Jung Hoseok, temanku satu jurusan si pecandu musik millenial pop Korea. Dia hampir ingat semua grup rookie yang baru debut, maupun grup kalangan senior. Gaya fesyennya juga mirip-miriplah.
"Aku dapat titipan ini dari seseorang, katanya untukmu," ujarnya. Kuterima barang pemberiannya ragu-ragu. Meneroka setiap sisi tas sejenak, memastikan ini bukan lelucon semata atau hadiah dari orang asing tak kukenal. Baru kemudian menjelajahi beban di dalamnya.
"Dan kau tahu barang itu dari siapa?" timpal Hoseok berbisik dengan mencondongkan wajahnya antusias, turut berkeinginan jadi saksi atas bentuk barang yang kudapat. Berbalik tubuhku membelakanginya, spontan menolak Hoseok ikut campur. "Yoon Sara. Taehyung kau harus tahu, Yoon Sara. Oh, aku sama sekali tidak menyangka. Ternyata level kita memang beda di mata seorang Yoon Sara."
Dia memukul punggungku serampangan, menimbulkan rintih 'aduh' kecil keluar dari rongga mulutku tak sengaja. "Tak ingin bertukar jiwa denganku satu hari saja, Tae? Selamanya pun tak apalah."
Tukar jiwa, ndasmu.
Ternyata sikap es Yoon Sara menuai pro kontra. Dan aku yakin betul Hoseok ini masuk ke pihak pro. Dia penggemarnya malah.
Luput dari si energik Hoseok, lewat senyum yang mendadak bertamu di garis bibirku serasa menyulut pongah entah dari mana mulanya. Astaga, keberuntungan menyinari nasibku walau hei, Yoon Sara cuma mengembalikan kardigan yang dipinjam kemarin.
Aku lihat lipatan rapih kardigan beraroma semerbak parfum mawar sebagaimana baru saja disetrika. Bagian depannya ditempel perekat yang terhubung oleh secarik potongan persegi kertas buffalo kuning yang dilipat dua seperti kartu undangan. Si pemberi pasti memanfaatkan sisa kelebihan sampul buat tugas laporan artikel minggu lalu.
Sebelum lebih jauh mempelajari abjad yang dipilih Yoon Sara dalam surat kecil, kularung kerling sarat makna ke arah Hoseok. Kode lirikan yang menitahnya hengkang. Lantas merajuk saja sobatku itu, segitu cepat mengerti.
"Kapan-kapan kau harus menjelaskan hubungan kalian," gerutunya pasrah dan dia pergi.
"Tunggu aku," kataku percaya diri, meyakininya. Sedikit mengeraskan suara karena dia sudah lenyap dibalik pintu kelas. Hari ini jam mata kuliah pilihan kami beda, gilirannya setelah jadwalku berakhir. Hoseok itu terlalu patuh ketetapan atau memang bukan ambisius tipikalnya, jadi takkan main terobos menyisip kelas.
__ADS_1
Baiklah, lupakan persoalan Jung Hoseok. Mari kembali saja ke lipatan kertas kuning sederhana tertanda tulisan tangan Yoon Sara. Dia menggunakan huruf sambung yang agak serong ke kanan. Persetan tentang itu, toh masih tetap rapih dan mudah dibaca.
Surat diawali namaku,
"Untuk Kim Taehyung (kalau aku tidak salah tulis),"
Senyumku tambah merekah. Dia mengingat namaku dan menyuratkannya dengan sangat baik.
"Kardigan ini kukembalikan. Tidak tahu pasti apa yang kau dengar dari orang-orang sekitar tentangku, tapi percayalah aku tidak bisa berlama-lama dengan barang lelaki. Okay, tak perlu percaya juga sebenarnya, sih. Yang penting terima kasih."
Aku cekikikan bisu di tempat. Melalui aksara yang tiba, kujumpai lagi sifat baru terkuak diam-diam. Yoon Sara bukan orang kejam yang tanpa pandang bulu melontarkan kata. Bimbang menyusun tutur tepatnya. Terbayang jelas raut bingungnya yang setengah mati memikirkan penyampaian baik terkait terima kasih.
Baiklah, aku percaya. Batinku menyahut, gemas.
Pemuda sepertiku akan linglung sendiri menghadapi wanita secara personal. Apalagi dirapati pengoleksi nomor telepon pria yang suka sekonyong-konyong meneror ponsel pintarku. Semenakutkan itu kah wanita? Sampai tak sanggup kuhitung berapa kali aku gonta-ganti nomor telepon dan membiarkan orang tertentu saja perkara chit-chat.
Mari kita putar haluan keadaannya. Bagaimana kalau aku yang diberi peluang meneror seorang primadona? Tentu target utamaku adalah Yoon Sara.
Netraku beredar melacak jejak sasaran nomor telepon yang sebentar lagi akan menghuni kontak Kim Taehyung. Persiapkan itu, Yoon.
Oh, tempat duduknya di ujung sana. Tidak terlalu depan, urutan kedua kira-kira. Sebaris dengan bangku yang kududuki. Kelas untuk mata kuliah tipografi biasanya memakai ruang yang luasnya setara auditorium. Bangku belajarnya juga memanjang membentuk kurva dengan papan tulis sebagai poros. Satu meja bisa berbagi sederet puluhan mahasiswa mungkin, dibelah jalur menuju pintu masuk kelas.
Kerlingan kami sempat bersua. Namun, arah pandang Yoon Sara melengos cekatan sebelum tertangkap basah. Sayang sekali dia terlambat. Justru jadinya lucu, kesan menggemaskan sudah kusemat untuknya. Semakin tertarik kudatangi figur standar gadis yang punya perkiraan tinggi seratus enam puluh senti lebih dikit. Surai lurus panjang hitam legam diikatnya serumpun. Bulu mata lentik yang dari samping masih saja mempertahankan posisi sebagai daya tarik. Hidungnya mungil, tapi bangga menonjolkan diri dicap mancung. Dia menjilati bibir sesekali, memusatkan rungu terhadap kicauan teman sebelahnya.
"Yoon Sara?" Selamat, aku telah merusak percakapan para gadis.
Terkejut dia dan sontak bergeser duduk ke sisi kanan ketika sebelah kirinya yang kosong tahu-tahu diisi olehku. Sekarang aku benar-benar percaya kandungan suratnya, kami dibentang jarak yang meruak. Sekitar lewat tiga puluh senti dia benar-benar kalang-kabut selayaknya ikan kecil diincar hiu. Mata dan mulutnya terkatup rapat, helaan nafasnya perlahan-lahan seperti dia memang perlu sebagai penawar atas peluh tipis yang bergelimang di pelipis.
"A, aku ingin mengembalikannya tadi pagi, tapi kau tidak ada di kelas. Jadi, aku menitipkannya pada sembarang orang." Terbata-bata bicaranya tanpa melirikku. Dia berusaha, aku percaya. Bahkan terlampau gembira, dia telah menjuarai kompetisi siapa yang mengawali percakapan.
"Tidak masalah. Orang yang kau titipkan beruntungnya itu temanku."
"Kalau begitu, pergilah. Kurasa tempatmu bukan di sini," gumamnya ketus. Menyibukkan diri membenahi alat tulis mungkin salah satu pengalihan atensinya agar tak lancang menuju diriku. Memang tak semudah dugaan. Tenang, aku masih mendengarnya dan takkan berlalu cepat.
"Oh, Taehyung. Tumben kau duduk di sini," tegur sapa seseorang menyusup ke dialog kami yang sebagian besar berisi diam. Teman Yoon Sara, yang sejak tadi mencerocos banyak cerita. Entah mau seakrab apa kubalas sapanya, karena bahkan aku tidak kenal.
"Aku sedang ingin duduk di sini, bukankah ide yang bagus?"
Temannya menepuk pelan punggung Yoon Sara. "Hei, dia mengajak kita bicara. Bukankah kita beruntung?"
"Kau saja, Lisa. Bukan kita."
"Kupikir aku juga mengajakmu bicara, Sara," tukasku sok akrab. Delik tajam langsung menyerang seolah berkata, 'Siapa kau seenaknya panggil nama kecilku!'
Sorot runcing mengamatiku gencar, bisa-bisa Yoon Sara ini memenangkan emblem pembunuh formalitas dari cara ia mencekam. Tegasnya warna mata Yoon menyelubungi kedalaman kolam netraku yang sudah lama tidak ditatap seteliti itu.
"Apa ini? Apa ini? Kalian dekat?" Lisa mengagitasiーsetidaknya aku baru tahu nama dia berkat Yoon Sara. Seolah kabar gembira ini mesti digembar-gembor, muka senang teman si peminjam kardiganku layak jadi pusat mata. Menggebu-gebu asanya pada imajinasi romansa.
Satu kali kibasan tangan Yoon Sara mematahkan spekulasi, itu cukup. Alih-alih berhasrat menyangkal, mungkin memang tidak minat mengemis kepercayaan dari penilaian orang.
"Hei, Yoon Sara," panggilku, tapi nihil reaksi. Ayolah, pria mana yang masih saja bersikeras menobatkan gadis ini sebagai singa betina kesepian? Bahkan tatkala dirinya bersikap acuh dan kerap sibuk dengan salinan memo. "Ayo, makan es krim bersamaku seusai ini."
Dari caranya merangkai kata, menghabiskan waktu sendiri, pelitnya menyebar sahut, bernyaman-nyaman ria memerankan si pendengar mumpuni. Dia kesepian. Aku tahu dari pendar redup galaksi yang kurang semarak menghias netranya, asak luka serta sembiluan.
Kudapati jeda di aksinya. Ajakanku menggubrisnya hingga menyeret sang curiga menodai sorot mata. Beri aku alasan, mengapa begitu yakin Yoon Sara membutuhkan seseorangーpenyelamat hari-hari pilunya yang dijalani sendirian?
Aku ingin lebih dekat dengannya. Sejauh mana hatiku bertahan.
__ADS_1
🌻
To Be Continued.