
Sampai di Cafe Rangga sudah duduk menunggu kedatangan Anisa. tidak lama kemudian dari kejauhan Anisa pun melambaikan tangannya menyapa Rangga.
"Sorry telat, apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Anisa sambil menghampiri Rangga
"Aku juga baru datang." jawab Rangga
"Syukurlah, tadi aku terjebak macet di jalan. senang bisa bertemu kamu lagi sekarang." ucap Anisa
"Jam berapa kamu berangkat sore nanti?" tanya Rangga ragu
"Sekitar jam 16.30 wib kayaknya." jawab Anisa sambil melihat jam di tangannya
"Oh, salam untuk keluarga kamu di sana." ucap Rangga sambil minum
"Iya, nanti akan kusampaikan." jawab Anisa sambil tersenyum
"Kuharap kamu segera kembali." ucap Rangga
"Aku tidak punya alasan untuk menetap lama di sini, satu-satunya alasanku dulu adalah kamu." ucap Anisa sambil menunduk menutupi kesedihan di matanya
"Ucapanku tadi jangan terlalu di pikirkan, aku hanya iseng berbicara." ucap Anisa sambil tersenyum
"Gpp santai saja ! bekerjalah di sini, nanti akan kucarikan tempat kerja yang bagus untukmu." jawab Rangga
"Terima kasih, akan aku pikirkan lagi nanti." ucap Anisa
Sementara Tania tidak sengaja mampir ke Cafe ini untuk makan siang, dari kejauhan Tania kaget melihat Rangga sekarang sedang makan siang bersama Anisa. untungnya Tania sigap menyikapi situasi, sambil menutupi wajahnya Tania langsung mencari posisi tempat duduk yang membelakangi arah mereka berdua. entah kenapa Tania merasa tidak enak kalau sampai terlihat oleh Anisa, mengingat statusnya sekarang adalah istrinya Rangga.
"Kenapa aku tidak suka melihat mereka bersama ya?" batin Tania
"Sadar Tania, apa yang sudah kamu fikirkan. ingat pernikahan ini hanya akan terjadi selama satu tahun. lagian dulunya mereka memang sepasang kekasih, kenapa aku harus merasa cemburu." ucap Tania berbicara sendiri.
Malamnya setelah di rumah, Tania belum tidur dan duduk di sofa sambil memakan ice cream. tidak lama kemudian Rangga pulang dan langsung duduk di sofa menghampiri Tania.
"Apa kamu gagal lagi interview hari ini?" tanya Rangga
"Nanti akan di kabari lagi katanya." jawab Tania sambil fokus menonton acara tv
Mendengar jawaban Tania, tawa Rangga langsung menggema di sudut ruangan.
"Otak udang seperti kamu, kemungkinan besar memang akan susah mendapatkan pekerjaan." ejek Rangga
"Apa kamu begitu senang mengataiku, pergi sana jangan menggangguku." ucap Tania menatap Rangga dengan kesal
"Aku hanya bercanda, berusahalah lebih keras lagi." hibur Rangga sambil melangkah pergi ke dapur.
Saat melihat meja makan kosong tidak ada makanan sama sekali, Rangga kesal dan langsung menghampiri Tania.
"Otak udang, apa kamu tidak memasak lagi malam ini?" tanya Rangga
"Masak mie instan saja, aku baru pulang malam ini jadi tidak sempat memasak." ucap Tania datar
"Apa? aku tidak suka makan mie instan." sanggah Rangga
"Makan saja apa yang ada dan ingat berhenti memanggilku otak udang." jawab Tania
Mendengar ucapan Tania, Rangga langsung berlalu pergi ke dapur dan mengabaikan ucapan Tania. karena merasa sangat kelaparan Rangga terpaksa memasak mie instan. mencium aroma masakan dari dapur, Tania langsung menghampiri Rangga.
"Boleh aku mintak? sepertinya masakan kamu sangat lezat" ucap Tania
"Pergilah, selera makanku akan hilang kalau kamu tetap ada di sini" jawab Rangga sambil fokus memakan mienya.
"Lebay sekali ! ngomong-ngomong apa kamu masih berhubungan dengan Anisa sekarang?" Tania ikut duduk di meja makan
__ADS_1
Rangga langsung tersendak saat makan, mendengar pertanyaan Tania.
"Apa kamu cemburu?" jawab Rangga sekenanya
"Kenapa juga cemburu, aku hanya tidak sengaja melihat kalian di Cafe siang tadi." jelas Tania
"Otak udang, apa kamu mengikutiku seharian ini?" selidik Rangga
"Ya ampun pikiran kamu terlalu jauh, untuk apa aku mengikuti kalian sampai ke sana." ucap Tania sambil ingin memukul kepala Rangga
"Sejak kapan kalian berbaikan lagi?" tanya Tania
"Sudahlah otak udang, jangan mengulik kehidupan orang terlalu jauh." ucap Rangga seakan malas menjawab pertanyaan dari Tania
"Baiah pak Rangga, selamat makan malam. oh iya, tadi aku tidak sengaja mendengar suara orang menangis di dapur ini. berhati-hatilah." ucap Tania menakuti Rangga sebelum beranjak ke lantai atas
Awalnya Rangga tidak mempedulikan ucapan Tania, tapi melihat suasana dapur terasa begitu hening membuat Rangga jadi terbayang ucapan Tania. akhirnya Rangga buru-buru menyelesaikan makannya dan bergegas lari naik ke lantai atas.
Hari ini Tania mengawali pagi dengan perasaan yang tidak begitu bersemangat, lantaran pagi-pagi sekali nenek Amirah sudah meneleponnya untuk datang ke rumah.
"Rangga tunggu, apa kamu mau keluar sekarang?" ucap Tania melihat Rangga baru akan melangkah keluar pintu
"Ada apa?" tanya Rangga
"Bisa beri aku tumpangan?" tanya Tania sambil memasang senyum di hadapan Rangga
"Memangnya kamu mau ke mana? apa kamu tidak membersihkan rumah pagi ini?" tanya Rangga
"Nenek kamu memanggilku untuk datang ke sana sekarang, nanti saja membersihkan rumahnya." jawab Tania
"Apa Mamaku sudah pergi? aku lupa mengunjungi mereka kemarin." ucap Rangga
"Iya kemarin mereka sudah pergi ke luar kota, cepatlah aku buru-buru." jawab Tania
"Rangga cincin kamu di mana?" selidik Tania
"Ada di laci, aku lupa memakainya." jawab Rangga sembari fokus menyetir mobil
"Apa? dengar ya, kuharap kamu tidak melupakannya lagi. tidak adil jika hanya aku yang memakainya." ucap Tania merasa kecewa
"Kenapa kamu jadi memerintahku begini, kalau kamu tidak mau memakainya lepaskan saja. begitu saja di buat ribet." ucap Rangga
"Aku memakainya karena menghargai keluarga kamu, apa kamu juga tidak memiliki pemikiran yang sama?" ucap Tania yang sudah emosi mendengar perkataan Rangga
"Berhentilah berbicara, aku jadi tidak fokus menyetir karena suara kamu." ucap Rangga tidak mau kalah
Akhirnya sepanjang perjalanan ke rumah nenek Amirah, Tania hanya diam karena merasa sangat jengkel dengan sikap Rangga.
"Jangan lupa saat pulang nanti, kamu harus tetap membersihkan rumah." perintah sebelum Tania keluar dari mobil karena sudah sampai di depan rumah nenek Amirah
Tanpa mengiyakan ucapan Rangga, Tania langsung masuk ke dalam rumah nenek Amirah. sementara Rangga hanya terperangah melihat Tania yang tidak mempedulikan ucapannya.
"Aneh sekali hanya karena aku tidak memakai cincinnya, dia langsung marah begitu." ucap Rangga berbicara sendiri dan langsung mengemudikan mobilnya ke Resto.
"Semangat Tania, kamu pasti bisa." ucap Tania sembari menekan bel rumah nenek Amirah
"Oh nak Tania, mari silahkan masuk." ucap bik Siti
"Iya bik, neneknya di mana?" tanya Tania
"Ada di kamarnya, tunggu sebentar saya panggilkan dulu" ujar bik Siti
Di kamarnya nenek Amirah baru saja selesai mencatat resep yang di ajarkan temannya dari sambungan telepon. Tidak lama kemudian nenek Amirah turun dan menyuruh Tania untuk mengikutinya ke dapur. sampai di dapur nenek Amirah langsung duduk di meja makan. diam-diam nenek Amirah membaca tulisan resep tersebut dengan seksama dan langsung di praktekkannya bersama Tania.
__ADS_1
"Kita akan belajar memasak apa nek?" tanya Tania melihat ada begitu banyak sekali sayuran di atas meja.
"Tidak usah banyak tanya, cuci semua sayuran ini, lalu potong dengan rapi." perintah nenek Amirah
Dengan rasa malas, Tania bergegas mencuci semua sayuran dan memotongnya. sementara nenek Amirah melihat cara Tania memotong sayuran dengan agak lambat, membuatnya ingin langsung ikut turun tangan.
"Sini berikan padaku, kamu itu kalau memotong sayuran harus gesit." celoteh nenek Amirah sambil menunjukkan cara memotong sayuran yang benar menurutnya
"Perasaan, nenek juga lambat memotongnya, awas nek hati-hati." ucap Tania melihat tangan nenek Amirah yang hampir tergores pisau ketika mengiris wortel
Nenek Amirah langsung melepaskan pisaunya di meja, dia jadi cemas melihat tangannya hampir terkena pisau.
"Kamu saja yang memotongnya, kepalaku pusing" ucap nenek Amirah
Mendengar keluhan nenek Amirah akhirnya Tania langsung menggantikan nenek Amirah memotong semua sayurannya. sekitar setengah jam mereka menumis semua sayuran serta udangnya menjadi satu akhirnya masakan itu selesai juga. mencium aromanya yang sangat begitu harum, Tania berfikir kalau masakan itu pasti sangat lezat. dengan bangga Nenek Amirah dan Tania meletakkan masakan itu ke atas meja.
"Apa nama masakan ini nek, sepertinya sangat lezat sekali." puji Tania
"Ini namanya Capcay udang, begitu saja tidak tahu." jawab nenek Amirah dengan sombongnya
"Ayo cepat kamu cicipi bagaimana rasanya." perintah nenek Amirah dengan bangga dan tidak sabar mendengar pujian dari Tania.
"Emm, kenapa rasanya jadi tidak karuan begini nek?" ucap Tania merasa kecewa setelah mencicipi makanan itu karena tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya
"Apa? bagaimana bisa? perasaan aku mengikuti semua petunjuknya dengan benar saat memasak tadi." jawab nenek Amirah sambil ikut mencicipi masakannya juga.
"Maksud nenek? apa nenek mengikuti resep seseorang?" tanya Tania merasa heran karena pikirnya nenek Amirah memang sudah pandai memasak.
"Hei pegawai, aku memasak sesuai dengan resep buatanku sendiri. kurasa masakan ini jadi tidak enak, karena kamu tadi terlalu banyak memberi garam dan lada." Nenek Amirah berusaha mencari alasan untuk menyalahkan Tania
"Sudah cepat bereskan dapur ini, pinggangku jadi nyeri semua karena terlalu lama berdiri di dapur" keluh nenek Amirah sambil meletakkan kertas resep masakannya di atas meja.
Melihat nenek Amirah langsung pergi dari dapur, Tania pun bergegas membereskan mejanya yang berantakan. saat hendak mengelap meja, tiba-tiba Tania tidak sengaja menemukan sebuah kertas dan langsung membacanya. Tania terperanjat saat membaca tulisan di kertas, yang isinya cara membuat capcay tumis seperti yang nenek Amirah ajarkan barusan.
"Ya ampun, jadi nenek mengikuti resep ini. kenapa tidak lihat di internet saja sekalian." ucap Tania sambil tertawa
Tania tidak sadar kalau di belakangnya sudah ada nenek Amirah, yang ternyata kembali ke dapur lagi untuk mengambil kipasnya yang tertinggal. mendengar Tania menertawakan tulisannya, nenek Amirah langsung murka seakan Tania sudah mengejeknya. di dalam hati nenek Amirah juga merasa malu karena sudah ketahuan, mengikuti resep tersebut secara diam-diam.
"Apa kamu merasa senang, karena sudah menertawakan tulisan itu?" ucap Amirah sambil berteriak dari belakang Tania.
Tania sangat merasa kaget dan langsung berhenti tertawa, mendengar suara teriakan orang di belakangnya.
"Nenek ! nek maaf, aku tidak bermaksud begitu." ucap Tania
"Aduh kepalaku...ini semua karena kamu kepalaku jadi sakit lagi." keluh nenek Amirah sambil memegang kepalanya
"Sini nek biar Tania gendong ke kamar." bujuk Tania sambil menyentuh pundak nenek Amirah
"Minggir, aku bisa jalan sendiri." tolak nenek Amirah langsung menepis tangan Tania
Nenek Amirah langsung tiduran di kamarnya sambil menangis. nenek Amirah merasa tersinggung karena Tania sudah merendahkan harga dirinya karena tidak bisa memasak juga. sementara Tania panik, melihat nenek Amirah sudah menangis akibat ulahnya.
"Semasa muda aku memang jarang ada di dapur lantaran sibuk bekerja, karena itu aku tidak punya waktu untuk memasak." keluh nenek Amirah berpura-pura menangis membelakangi Tania.
"Harusnya kamu bersyukur sudah tua begini, aku mau menyempatkan diri untuk mengajari kamu memasak. bagaimana bisa kamu menertawakan resep yang susah payah kubuat sendiri." Nenek Amirah masih tidak berhenti mengomeli Tania
"Maafkan aku nek, kenapa nenek jadi menyudutkan begitu seolah yang salah sekarang adalah aku." jawab Tania langsung menangis mendengar nenek Amirah yang tidak berhenti mengomel dari tadi.
Nenek Amirah jadi ikut panik, niatnya ingin berpura-pura menangis untuk menutupi kesalahannya malah jadi Tania yang menangis sungguhan. akhirnya nenek Amirah bangun dari ranjangnya dan berbalik arah membujuk Tania agar berhenti menangis.
"Pegawai, mau kuceritakan kisah yang sangat hebat pada zaman dahulu" ucap nenek Amirah membujuk Tania sambil tersenyum
Mendengar ucapan itu Tania jadi berhenti menangis dan mendengarkan nenek Amirah bercerita sambil mengipasi dirinya. Tania tertawa terbahak-bahak, saat memdengar cerita nenek Amirah yang begitu lucu menurutnya, seketika Tania menjadi senang dengan sikap nenek Amirah. saat Tania pulang, nenek Amirah langsung memanggil bik siti untuk memijat tangannya yang merasa kelelahan mengipasi Tania tadi.
__ADS_1
"Gara-gara si pegawai itu badanku jadi sakit semua, untung saja dia tidak membahas masalah resep tadi." ucap nenek Amirah berbicara sendiri.