True Monster

True Monster
Chapter 10 - Penyesalan


__ADS_3

Sudut pandang Mario salah satu dari orang yang di reinkarnasi.


Aku terbangun karena mendengar suara yang sangat keras dari luar, dan aku mendengar kegaduhan dari dalam istana, dan ada suara ketukan pintu dari ruanganku yang mewah.


"Pangeran Rei, ada keadaan genting ada monster yang menyerang kota"


"huh masih ada yang pasukan raja iblis yang masih selamat"


"Bukan pasukan pangeran, tapi hanya satu monster"


"Huh jangan bercanda satu monster bisa berbuat apa dikota benteng ini"


Aku berdiri dari tempat tidur, menggunakankan armour perangku dan mengeluarkan senjata dari skill dimensi(Skill ini mampu menyimpan benda mati apapun dan memiliki batasan tertentu tergantung dari level skill ini)


Setelah selesai menggunakan peralatan perangku, aku keluar dari pintu dan melihat cahaya yang sangat terang dari jendela yang menghadap kota, aku berjalan menuju jendela itu karena cahaya yang terang ini sangatlah aneh ditengah malam begini.


Saat aku melihat ke jendela, aku sangat terkejut dengan apa yang ku lihat, keadaan kota yang sudah dipenuhi api dan reruntuhan dan yang lebih mengerikannya lagi ada lubang-lubang yang cukup besar di semua bagian kota yang membentuk kawah seperti dihantam meteor.


Melihat itu aku kesal karena bisa menjadi aib bagi namaku sendiri aku adalah pangeran keempat dari kerajaan Hedom, Rei Hedom, kota benteng yang berada di perbatasan dengan daerah monster hancur oleh satu monster mau ditaruh di mana wajahku jika menghadap ayah nanti.


Aku memerintahkan prajurit itu untuk mengumpulkan semua pasukan di halaman istana, aku berjalan menuju balkon halaman dan setelah beberapa saat didepanku sudah ada lima ribu kesatria dan seribu penyihir dan dua jenderal Elite(Jenderal Elite adalah jabatan tertinggi di militer Hedom karena tugas mereka adalah melindungi anggota kerajaan sehingga membutuhkan otoritas yang tinggi, tapi bukan jenderal terkuat) di sisiku.


Sudah ada prajurit yang keluar untuk melawan monster itu dan dipimpin oleh satu Jenderal Elite tapi belum ada kabar dari mereka mungkin mereka sedang bertarung.

__ADS_1


Aku memerintah pasukan dibagi menjadi dua unit pertama akan mengikutiku ke kota untuk melawan monster itu dan satunya akan menjaga istana, saat kami bersiap untuk keluar tiba-tiba salah satu prajurit yang sedang mengintai di atas tembok bilang jika monster itu sedang berjalan ke istana.


Prajurit itu bergetar dan ketakutan, aku memerintahkan semua prajurit untuk membuat formasi pertahanan, aku menaiki tembok untuk melihat monster itu.


Saat aku naik dan melihatnya sendiri sosok monster itu sangat mengerikan dengan rambut yang berwarna putih tanduk yang berada didua sisi kepalanya dan wajah yang sedikit terlihat seperti manusia, dengan ukuran badan seperti remaja dan tangan kiri yang aneh seperti api biru dan kaki kanannya hitam pekat.


Tapi bukan itu yang membuat aku takut tapi kepala yang dipegangnya dengan tangan kirinya, kepala itu adalah jenderal Elite yang memimpin pasukan keluar.


Monster itu terus berjalan dan dia menembakkan api yang sangat besar ke pintu istana yang besar dan terbuat dari Logam yang tebal hingga pintu itu meleleh.


Dam aku melihat banyak bola-bola hitam yang menempel di seluruh tembok istana, salah satu jenderal bernama Lukas menarikku ke bawah dan membawaku menuju belakang istana.


Bola-bola tadi membesar dan menutupi seluruh tembok dan prajurit yang sedang berjaga ditembok dan tiba-tiba menghilang, tembok menjadi berlubang dan roboh dan banya prajurit tubuhnya terbelah hingga membuat tanah menjadi berwarna merah.


Lukas terus menarikku hingga ke kandang kuda dan dia memerintahkanku untuk lari, aku menolak perintahnya karena ini akan menjadi aib bagi namaku sendiri dan dia bilang jika kota ini sudah tidak ada harapan lagi, saat ditengah perdebatan kami.


Saat aku mengendarai kuda itu hingga satu menit tiba-tiba kudaku terjatuh hingga aku terbaring di tanah, aku duduk dan melihat kebelakang dan monster itu sudah ada di belakang dengan tatapan dinginnya.


Aku terdiam dan melihat kepala Lukas yang sudah ada ditangnya dan masih mengeluarkan darah, tubuhku berkeringan dan rasa takut yang luar biasa ku rasakan hingga dadku sesak.


"apa kau Mario"


Aku mendengar suara monster itu yang memanggil namaku dengan suara yang berat dan pengejaan masih sedikit berantakan, aku berpikir jika dia adalah salah satu teman sekelasku dulu karena tidak ada yang tau nama kami sebelum datang ke dunia ini selain teman kelas dulu.

__ADS_1


"Ya aku Mario teman sekelasmu dulu sebelum datang ke dunia ini, kau tidak akan membunuhku kan kita teman sekelas"


"Ah ternyata benar Mario, lama tidak berjumpa kau tau siapa aku?, dulu kita sering bersenang-senang"


Aku tidak tau karena wajahnya yang sangat jelek mungkin karena dia menjadi monster makanya wajahnya berbeda tidak seperti yang lainnya sama dengan sebelumnya.


"Reza kan aku tau kau itu Reza"


"Bukan aku Gabi"


Mendengar nama gabi membuat seluruh tubuhku merinding dan keringat sebesar biji jagung menetes di seluruh kulitku karena dulu aku adalah salah satu orang yang melakukan pembullyan paling parah ke Gabi.


Aku bersujud dan minta ampun atas semua perbuatan burukku dulu karena telah membully Gabi, tapi dia menginjak telapak tangan kananku.


"Dulu aku juga sudah bersujud untuk minta ampun kepada kalian padahal aku tidak ada salah tapi apa kalian berhenti setelah aku bersujud?"


Aku tidak bisa membalas perkataannya, dia menekan kakinya hingga telapak tanganku hancur dan rebuk , aku berteriak dengan kencang hingga menangis dan menarik tangku dari kakinya dan telapak tanganku sudah tidak ada karena sudah putus dan ada di kakinya.


Aku terus berteriak dengan taganku yang mengeluarkan banyak darah dan aku menusuknya dengan pedangku dan dia dengan mudah menahan pedang itu dengan tangannya, kepalaku sudah tidak bisa berpikir untuk bertarung dan menggunakan skill hanya ketakutan yang besar melahap semua isi kepalaku.


Pedangku dilelehkan dengan cepat dan dia mengambil lelehan pedangku yang jatuh di tanah dan menempelkan logam panas itu ke tangan ku yang sedang terluka.


Aku terus berteriak dan minta ampun tapi dia terus menyiksaku, dia meremukkan semua kaki dan tanganku hingga suara ku habis untuk berteriak dan air mataku sudah mengering hingga tidak bisa keluar lagi.

__ADS_1


Dia menginjakkan kakinya di dadaku dan saat pandanganku mulai gelap aku mendengar suara seperti ranting yang patah dan aku tau jika itu adalah tulang dadaku yang patah dan remuk karena diinjak saat itu aku menyesali semua perbuatan yang telah ku lakukan dulu.


Tapi semuanya sudah terlambat hasil dari apa yang ku lakukan dulu semuanya sudah ku terima sekarang dan ini kah kematian semua padangan menjadi kabur dan perlahan mataku menutup hingga semuanya menjadi gelap.


__ADS_2