True Monster

True Monster
Chapter 43 - Awal #2


__ADS_3

*Masih lanjutan cerita yang ada di buku


Suasana yang cukup asing bagiku, tempat ini dipenuhi oleh gambar anak-anak, hiasan dan dekorasi anak-anak memenuhi tempat ini, aku hanya bisa terdiam sambil mengikuti wanita itu dari belakang.


Kami terus berjalan dilorong yang meriah ini hingga ada sebuah papan besar yang menempel disebellah pintu yang bertuliskan.


"Ruang bermain".


Wanita itu membuka pintu dengan perlahan.


"Sreetttt"


"Halo anak-anak semua hehe kangenkan sama kakak?"


Dalam sekejap wajah wanita itu berubah menjadi ceriah padahal sebelumnya wajahnya sedikit tegang sebelum masuk tadi.


"Tidak siapa juga yang kangen kak Mel" sahut anak pria di bangian depan.


"eeee jangan gitu dong kakak jadi sedih nih humph!" dengan kerutan di dahinya dan ada lesung di pipinya.


"Oh ya kakak bawa teman nih, ayo sini masuk kamu ngapain di depan pintu saja".


Saat itu aku sedikit kaget karena tanpa sadar aku melamun sambil melihat wajahnya.


Aku berjalan masuk dengan perlahan tapi aku tidak tau wajah seperti apa yang harus perlihatkan di depan anak-anak ini, ah bodo amat masuk ajah.


"Hallo bocah-bocah"


"Ehhhh siapa dia kak Mel?" seluruh suara anak-anak itu menjadi satu bertanya.


Banyak juga anak-anak di sini kok aku jadi gugup ya.


"Pacar kak Mel ya??" ucap anak wanita dengan nada mengolok-olok.


"Bukan ih ngomong apa sih kamu, ini teman satu kelas kakak, ayo tolong perhatikan ya kakak ini mau perkenalan"


Teman sekelah aku saja tidak tau namanya, emang ada wanita itu di kelasku.


Wanita itu menyenggolku dengan tangannya sambil memberikan isyarat yang aneh di wajahnya.


Haduh kenapa aku bisa di sini coba dengan wanita yang aku tidak kenal bahkan namanya saja aku tidak tau, ada yang aneh dengan diriku hari ini.


"Perknalkan nama aku Daniel, aku teman sekolah dengan kakak ini"


"Wah Daniel nama yang bagus, apa hubungan kalian berdua" ucap anak wanita.

__ADS_1


"Kami hanya temen sekolah tidak lebih, aku bahkan tidak tau namanya"


"eeeeeee kok gitu, kalau gitu kenapa kak Daniel bisa ke sini?".


"Wanita ini yang memaksaku ke sini".


"Hei aku bukan wanita ini, aku punya nama, hemm iya sih aku yang salah, aku langsung memaksamu ke sini, namaku Melinda, semoga pertemanan kita lancar ya hehe".


Saat itu aku melihat senyum lebar dan manis dari wajahnya dan saat itu juga hidupku berubah.


Setelah perkenalan singkat itu, aku dan Melinda bermain dengan anak-anak yang ada di sana, aku tidak tau harus berbuat apa, aku hanya mengikuti arus saja karena seumur hidupku aku tidak pernah bermain dengan anak-anak.


Dan tak terasa waktu mulai sore.


"Ayo anak-anak kembali ke ruang tengah, sudah cukup mainnya" kata penjaga wanita yang ada di depan pintu tadi.


Seluruh anak-anak berlarian keluar ruang bermain dan pergi menuju ruang tengah.


"Trimakasih ya sudah mau menemani mereka bermain"


"Hehe tidak masalah, kami senang bermain dengan anak-anak, yakan Daniel"


Aku hanya terdiam karena sejujurnya aku sedikit tidak suka.


"Aduhh" akakiku diinjak Melinda dengan kencang.


Aku melihat wajah Melinda dan ada senyuman mencekam dari wajahnya itu dan herannya aku sedikit takut.


"Baiklah kami pulang dulu ya"


"Oke sekali lagi terimakasih yah".


Kami berdua berjalan menuju pintu keluar.


"Apa maksudmu tadi menginjak kakiku huh?"


"kamu yang salah, meskipun kamu tidak senang setidaknya baca suasana dong gimana sih, jadi cowok emang ga peka ya, gimana ada cewek yang mai sama kamu".


"Huh cewek?, aku cari pacar tinggal pilih, aku banyak duit, sekolah adalah kekuasaanku"


"Hahahaha kau pikir apa, kau pangeran atau semacamnya?"


"Hee kau tidak percaya ya?"


"Meskipun kau memang bisa memilih cewek sebebasmu tapi ada satu cewek yang tidak bisa kau pilih karena dia pasti akan menolakmu mentah-mentah"

__ADS_1


"Siapa cewek itu, emangnya dia secantik dan sekaya apa sih?"


Melinda mengangkat jari telunjuknya ke pipinya.


"Aku"


"Hahahahahahahahahahahahahahahahaha, siapa juga yang mau pacaran dengan kamu"


"jangan nyesel ya, meskipun kamu memohon dan menangis, aku ga akan jadi pacar kamu"


"Hahahahaha"


Hari itu untuk pertama kalinya aku tertawa sebesar itu.


"Sudah ya aku mau pulang dulu, sudah mulai malam juga, terimakasih ya sudah mau ikut hehe bye"


Aku tidak membalasnya dan hanya terdiam melihatnya berjalan sedikit demi sedikit menjauh dariku, dan rasanya waktu tiba-tiba kembali melambat rasanya baru beberapa menit kami di panti asuhan dan sekarang sudah malam, dan duniaku kembali gelap.


Sudut pandang Catastrophe


Ini apa, kenapa ada Daniel di dalam cerita ini? kenapa bisa ada, apa yang terjadi, apakah Daniel yang menulis buku ini dan ini adalah tempat persembunyiannya?.


Kepalaku tidak bisa mencerna informasi ini dengan baik karena ini terlalu aneh meskipun Daniel yang menulis buku ini tapi tidak mungkin karena usia dari buku ini saja sudah seperti beribu-ribu tahun.


Kami memasuki dunia ini baru beberapa belas tahun jadi tidak mungkin ini bisa terjadi.


Aku terus mencari informasi atau code yang terdapat di buku itu, setiap suduh aku periksa tapi tidak ada hingga di bagian paling akhir aku melihat ada satu halaman kertas yang hilang karena tersobek.


Aku mencari potongan halaman tersebut di seluruh rumah itu tapi aku tidak berhasil menemukannya.


Aku keluar dari rumah itu sambil menyimpan buku itu, dan di luar para hewan itu masih berbaris seakan menungguku keluar.


Saat aku berjalan satu langkah keluar pintu tiba-tiba ada burung kecil menghampiriku dengan lambat.


Dari jauh aku melihat kertas diparunya, dan benar saja kertas itu adalah potongan terakhir dari buku ini.


Burung itu memberikannya kepadaku, dengan cepat aku membacanya karena rasa penasaranku tidak bisa di bendung lagi.


"Jika seseorang membaca buku ini pasti adalah Roni, dan aku tau pasti wajahmu sangat kaget iyakan? haha, pasti banyak sekali pertanyaan di kepalamu itu, siapa aku? siapa Daniel, dan apa maksud dari buku ini".


"Pertama aku memang Daniel, tapi Daniel yang tidak kamu kenal, maksud aku membuat buku ini adalah sebuah petunjuk untukmu, agar kau tidak salah mengambil keputusan yang nanti pasti akan kau ambil".


"Jangan sepertiku, aku salah mengambil keputusan dan aku menyesalinya selamanya, tapi jika kau sudah membaca pesan ini aku sudah tidak ada lagi di dunia ini".


"Oh ya ingat satu hal, nanti saat tiba waktunya kau memilih kau harus mendengarkan kata hatimu pilih yang paling kau cintai jangan salah pilih, semoga kau bisa memilih yang terbaik".

__ADS_1


Aku benar-benar pusing


"Apa yang sebenarnya terjadi?" berbicara sendiri sambil menghela nafas.


__ADS_2