True Monster

True Monster
Chapter 41 - Monster


__ADS_3

Sudut pandang Rudo


" ha ha ha ha"


Suara desahan yang kecil terus keluar dari mulutku, aku terus berjalan lurus mengikuti jalan yang tidak terlalu besar yang muat hanya dengan satu kereta kuda saja.


 


 


Aku sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi, aku hanya bisa mengikuti jalan kecil ini entah membawaku ke mana dengan tatapan kosong aku terus berjalan sambil melihat tanah yang kering.


 


 


Hingga tanpa sadar hujan turun dengan sangat deras dan aku melihat ke atas langit awan yang gelap menutupi seluruh langit aku tidak tau apakah sekarang siang atau malam.


 


 


Dalam hujan itu aku hanya bisa menangis dengan berteriak dengan keras.


 


 


"Ahhhh kenapa semua ini terjadi, aku hanya ingin hidup bahagia dengan adikku, apa Dewa tidak ada? di mana kau?"


 


 


Setelah beberapa menit aku berteriak aku berhenti dan duduk di atas genangan tanah basah yang mulai menjadi lumpur.


 


 


Aku mengangkat tangan kananku dan melihat ada noda darah yang telah bercampur dengan lumpur dan aku mendengar suara rintihan dari belakangku.


 


 


"Kakak kenapa kau meninggalkanku?"


 


 


Aku melihat kebelakang dan aku melihat kepala adikku dan tubuhnya yang sudah terpisah dan matanya menatap tajam ke arahku hingga menembus pikiranku dan aku berteriak dengan kencang.


 


 


"Maafkan aku"


 


 


"Oooo ada apa nak?" dengan suara yang lembut.


 


 


huh apa yang terjadi?, aku berada di atas kasur dan aku melihat ada wanita tua yang duduk di samping kasur dengan membawakan mangkuk yang berisi bubur hangat.


 


 


"Kau sudah bangun, syukurlah tenang saja kau sudah aman tadi kau hanya bermimpi buruk"


 


 


Aku tidak bisa membalas perkataannya karena bibirku sangat kaku hingga aku tidak bisa menggerakannya.


 


 


"Sekarang kau makan dulu saja yah, aku akan keluar"


 


 


Wanita itu berjalan dengan perlahan keluar dari ruangan itu, aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan mengais dengan pelan karena rasa sakit yang ada di dadaku ini sangat sakit.


 


 


Tangisku berhenti ketika aku mencium aroma yang sangat lezat dari bubur itu dan dalam seketika perutku sangat lapar dan dengan cepat aku mengambil bubur itu dan memakannya dengan cepat.


 


 


Setelah selesai makan tubuhku mulai bertenaga dan bibirku mulai bisa berbicara, aku berjalan menuju pintu kayu yang polos itu.


 


 


Saat aku membuka pintu itu dengan perlahan dan terlihat ruang makan yang sangat sederhana yang ada banyak sekali kain dan baju yang disusun rapih ditembok kayu.


 


 


"oh kau sudah mendingan ya?"


 


 


Suara yang ibu itu datang dari kananku.


 


 


"Terimakasih bu karena sudah menampungku"


"Tidak apa-apa" sambil tersenyum.


"Apa ibu tau keadaan kota ku?"


"Aku tidak tau secara pasti tapi kota asalmu sudah diratakan oleh para monster dan aku menemukanmu di jalan yang jaraknya cukup jauh dari kota mu dan disini adalah desa kecil yang cukup jauh dari jalan utama"


 


 


Ah aku hanya bisa menatap ke bawah dan rasa tiba-tiba timbul rasa penyesalan dalam hatiku dan aku bertanya di dalam hati.


 

__ADS_1


 


"Kenapa aku harus hidup?"


 


 


"hey siapa namamu?"


Dalam sekejap aku tersadar dalam lamunku, aku menegakkan kembali kepalaku dan memandang ibu itu kembali.


 


 


"namaku Rudo"


"Aku Mehima, kau aman disini tenang saja"


 


 


Aku duduk di lantai dan melihat ibu itu sedang merajut baju warna biru dan memiliki motif segitiga yang berwarna merah putih.


 


 


"Ibu seorang penjual baju?"


"Iya aku satu-satunya pembuat baju di desa ini"


"Pantas saja ada banyak sekali baju di ruangan ini, tapi kenapa bisa sebanyak ini? apakah penduduk desa ini cukup banyak?"


"Penduduk desa ini tidak banyak hanya ada aku"


 


 


Huh aku kebingungan mendengar perkataannya dan aku tidak berani menanyakan alasan kenapa penduduk desa ini hanya dia seorang.


 


 


"Aku sedang membuat baju untukmu, apakah kau menyukainya?"


"Ya aku suka, warna biru adalah warna kesukaanku"


 


 


Ibu itu terus merajut baju itu dengan senyuman tipis di bibirnya, aku berjalan menuju pintu lalu tiba-tiba ada suara kayu yang terinjak dengan keras.


 


 


Ibu itu berdiri dari duduknya dan meninggalkan baju yang sedang dibuatnya.


 


 


"Tunggu Rudo kamu mau ke mana?"


"Ah aku hanya ingin melihat keadaan sekitar saja"


"Kau tidak akan kemana-mana kan?"


 


 


Wajah ibu itu menjadi sangat gelisa tapi dengan perlahan dia kembali duduk dan mulai merajut lagi.


 


 


Aku membuka pintu dengan perlahan dan terlihat hutan yang sangat lebat dan di sekeliling rumah itu terlihat puing-puing rumah yang sudah hancur dan lapuk dan ada noda hangus.


 


 


Tanah di desa itu sedikit tidak rata dengan banyak sekali cekungan.


 


 


Desa ini sudah lama ditinggalkan dan ibu itu masih berada di sini, aku berjalan untuk menyusuri tempat itu dan terlihat ada banyak sekali makam dekat dengan rumah ibu Mehima.


 


 


Di makam itu ada banyak sekali bunga yang sangat cantik dan indah, aku berjalan di tengah makam itu dan siapapun pasti tau jika makam itu dirawat dengan sangat hati-hati.


 


 


"Ini adalah makam dari penduduk desa"


 


 


Suara ibu Mehima terdengar dari arah belakangku.


 


 


"Desa ini dulunya sangat damai dan dipenuhi oleh anak-anak yang ceria, aku dan keluargaku sangat bahagia hidup di desa ini hingga suatu ketika ada bencana yang melanda desa ini"


 


 


"Bencana datang dengan sangat cepat dan di saat semua orang tertidur dan aku sedang ada di hutan sedang mengumpulkan hiasan batu untuk baju, tiba - tiba terdengar suara yang sangat keras seperti batu yang menghantam tanah"


 


 


"Saat aku kembali ke desa aku melihat api yang sangat besar dan terlihat jika seluruh desaku sudah rata dengan tanah"


 


 


"Aku berlari menuju rumahku yang tersisa puing-puing, aku melihat anak dan suamiku sudah hangus terbakar"


 


 


Ibu itu menangis sambil duduk didekat makam anaknya.

__ADS_1


 


 


Aku meninggalkan ibu itu yang sedang mengais sambil memeluk batu nisan dan pergi mencari sumber ledakan itu, dalam pikiranku sepertinya  itu adalah batu meteor yang menghantam desa ini.


 


 


Dan saat aku menuju alun-alun desa keadaan semakin kacau yang menandakan sumber ledakan sudah dekat.


 


 


Dan benar saja ada cekungan yang sangat besar dan dalam dan di bagian tengah itu sudah mulai tertutup oleh tanah.


 


 


Aku turun ke kawah itu dan menggali tanah itu dengan tangan untuk mencari batu meteor itu karena rasa penasaran yang sangat tinggi.


 


 


Hingga tanganku menyentuk benda keras dan bentuk dari benda itu mulai terlihat dan ternyata itu adalah pedang yang cukup besar.


 


 


Aku terheran-heran melihat pedang itu karena pedang itu sangat indah dan rasanya pedang itu seperti memanggilku.


 


 


Aku memegang gagang pedang itu dan tiba-tiba ada seperti sesuatu yang masuk ke dalam tubuhku hingga seluruh tubuhku dipenuhi oleh perasaan yang aneh dan dalam sekejap rasa sakit yang ada di dalam hatiku terpancar keluar.


 


 


"Ahhhhhhhhhh"


 


 


Aku berteriak kesakitan rasanya dadaku seperti ingin meledak dan rasa kebencian ini terus meluap luap.


 


 


Dan tiba - tiba ada tulisan di depanku.


 


 


"Apa kau ingin balas dendam?"


Melihat tulisan itu aku hanya bisa mengangguk sambil teringat dengan mata adikku.


 


 


"Apakah kau ingin berhenti menjadi manusia?"


Melihat tulisan ini aku ada sedikit keraguan tapi rasa benci ini jauh lebih besar daripada rasa takutku dan aku langsung mengangguk.


 


 


Lalu seluruh tubuhku diselimuti oleh awan hitam pekat dan aku mulai merasakan keanehan dari tubuhku tangan kakiku seperti membesar bahkan suaraku mulai aneh.


 


 


Hingga awan hitam itu hilang aku melihat tanga ku sudah tidak seperti manusia melainkan monster yang aneh.


 


 


"Haaa apa-apaan ini"


Aku terjatuh tanpa sadar pedang itu terlepas dari tanah karena aku masih memegang pedang itu.


 


 


"Monster?"


 


 


Terdengar suara dari belakangku, saat aku menoleh ternyata ada ibu Mehima yang sedang menatapku.


 


 


"Bukan bu ini aku"


Eh ada yang aneh aku tidak bisa berbicara dengan benar, suara ku seperti orang bisu.


 


 


Ibu Mehima lari ketakutan dan saat dia berlari ada rasa haus darah mengalir ke kepalaku, rasa haus darah itu terus memenuhi kepalaku dengan biskan yang terus terdengar di telingaku.


 


 


"Bunuh, bunuh dia, bunuh, bunuh dia"


 


 


Ahhhh apa-apaan ini dan beberapa saat kesadaranku seperti menghilang dan setelah aku sadar aku membuka mataku dengan perlahan, aku merasakan kehangatan dari tanganku.


 


 


Dan aku melihat tangan kananku menusuk dada ibu Mehima.


 


 


Tapi ada yang aneh hatiku tidak merasa sedih dan menyesal melainkan rasa yang tidak aku ketahui tapi aku tidak membenci ini.

__ADS_1


__ADS_2