
Sudah satu bulan sejak hari pernikahan kami dan sekarang seluruh persiapan militer telah siap dan saatnya memulai operasi pemusnahan manusia dan aku akan menamai operasi Nemesis keren kan.
Dalam satu bulan ini aku sudah menjelaskan rencana ini kepada seluruh menteri dan mereka semua setuju dengan rencanaku kecuali satu orang yaitu Isabella yang merupakan ratu sekaligus hukum negara ini.
Saat rapat beberapa minggu lalu.
"Apakah tidak ada jalan lain selain memusnahkan para manusia itu?" Isabella.
"Apa kau punya rencana? ditengah situasi seperti ini apakah kau mempunyai rencana?" Cata.
"Bagaimana jika kita akan melakukan negosiasi perdamaian karena keadaan militer kita lebih hebat dibanding manusia jika kita bernegosiasi maka mereka pasti akan menerimanya" Isabella dengan wajah yang penuh dengan percaya diri.
"Bagaimana jika mereka sudah lebih kuat dari militer kita? apakah mereka akan tetap memenuhi perjanjian damai?, benar seperti katamu yang hebat yang berkuasa tapi jika mereka suatu saat menjadi lebih dari kita maka mereka tidak akan seperti kita tapi mereka akan langsung memusnahkan kita" Cata.
"Tapi jika kita memusnahkan mereka kita sama seperti mereka hanya mementingkan diri sendiri" Isabella wajah percaya dirinya mulai hilang.
"Ratu Isabella meskipun begitu kita memang harus melakukannya, dalam peperangan tidak ada yang benar maupun salah karena masing-masing dari kita hanya melindungi diri kita masing-masing jika kita tidak melawan maka diri kita yang mati" Dion.
"Aku hanya ingin memutuskan rantai kebencian ini meskipun aku harus menjadi pembunuh massal" Cata.
Wajah Isabella menjadi sangat kesal terlebih saat dia melihat wajahku, ahhh sebentar lagi akan terjadi KDRT aku harus membuat lembaga perlindungan pria huhhh.
Dan benar saja saat malam aku mau beristirahat dari hari yang sangat lelah ini aku berjalan dan hendak memasuki kamar dan ternyata dari dalam pintu kamar di kunci.
"Isabella ini kenapa dikunci ya?" sambil mengetuk dengan pelan.
Tapi tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam kamar.
"Huiii sayangku apa kau masih bangun?" ketukanku semakin keras.
"Berisik kau bodoh ya sama sekali tidak peka berarti ini tandanya kau tidur di luar" suara Isabella sangat keras hingga membuatku terkejut.
Aku membalikkan tubuhku dan bersender di pintu dan dengan perlahan tubuhku mulai turun dan duduk di depan pintu.
"Maafkan aku Isabella semua demi kaum kita yang aku cintai dan terutama demi keluarga kita nanti karena aku ingin di masa depan anak-anak akan hidup bebas tanpa adanya penderitaan perang yang berkelanjutan" dengan suara yang pelan.
Dukk.
Ah ada apa, aku terjatuh kebelakang dan melihat wajah Isabella dari bawah.
"Bodoh cepat masuk aku tidak ingin dicap sebagai penyiksa raja iblis bodoh" dengan pipi yang mengembang.
"Apa kau memaafkanku?"
"Sapa yang bilang aku memaafkanmu aku memerintahkan kau untuk masuk karena nama baikku bisa rusak karena tingkah bodohmu itu humm".
Aku masuk ke dalam kamar dan wajah Isabella masih saja sedikit gambek tapi aku tau dia hanya sedang menutupi rasa malunya saja dan karena itu dia sangat lucu hehe.
Kembali ke waktu awal.
Aku berjalan ke atas tembok istana dan saat aku sudah ada di atas sudah ada tiga pasukan yang jumlah mereka masing-masing 20 ribu prajurit dan di belakang mereka masing-masing ada 100 ribu pasukan Undead ku jadi total pasukan yang ada di hadapanku ada 360 ribu pasukan dan Hades, Ares, dan Poseidon masing-masing ada diketiga pasukan itu.
Langit yang luas dan biru, udara yang sejuk berhembus melalui rambutku hingga rambutku terurai bergelombang.
"Para prajuritku sudah waktunya kita semua menerima panggilan untuk kebebasan kita atas penindasan dari para manusia, dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kekuatan kita kepada seluruh mahkluk hidup yang ada di benua jika kita BEBAS"
__ADS_1
Para prajurit itu menepuk dada mereka dengan tubuh yang tegap melihat ke atas langit, suara tepukan itu terdengar hingga ke langit.
"Aku sudah membagi kalian menjadi tiga pasukan penyerangan dan nama dari pasukan kalian adalah" aku mengangkat tanganku dan menunjuk pasukanku dari kiri ke kanan.
"Ares, Hades, Poseidon" supaya gampang aku ingat haha.
Seluruh pasukan menghentakkan tombaknya ke tanah saat aku memberi mereka nama.
"Dan yang akan menjadi jendral untuk Ares adalah Silon, Hades adalah Doni, dan Poseidon akan dipimpin oleh Eriot"
Silon, Doni, dan Eriot maju ke depanku dan mereka bersujud.
"Apa kalian akan bersumpah setia dan berani dalam menjalankan tugas penting kalian?" aku mengangkat pedang ku yang berwarna hitam pekat ke atas mereka.
"Kami akan dengan setia dan berani dalam menjalankan tugas kami hingga akhir hayat kami" kata mereka dengan serentak dan tegas.
Aku mengangkat pedangku ke atas langit.
"aku memerintahkan masing-masing dari jenderal akan memimpin pasukan untuk menghancurkan kerajaan Georda oleh Ares, Merlion oleh Hades, dan Borean oleh Poseidon"
"Seluruh pasukan serang!" sambil menurunkan pedangku ke bawah.
Dan Hedom akan ku hancurkan dengan tanganku sendiri.
Di suatu kota di negara Georda yang dekat dengan perbatasan wilayah kerajaan Hedom ada seorang anak kecil yang berusi sepuluh tahun.
Hemmm ah pagi yang cerah, aku merenggangkan tubuhku dan berdiri dari kasur yang kecil dan keluar dari kamar.
Aku berjalan ke ruang makan dan terlihat adikku yang berbeda satu tahun denganku sedang menyiapkan makan.
"Kakak cepat makan nanti terlambat berkerja"
"iya iya aku makan"
Aku duduk dan melihat telur dan sayuran yang terlihat lezat, aku memakannya dengan sangat lahap.
"Memang masakan adikku sangat lezat"
"Sudah cepat pergi"
Aku keluar dari rumah dan berlari menuju perternakan yang terletak dekat dengan tembok kota.
Disepanjang jalan aku memanggil nama semua orang yang lewat karena populasi dikota ini sangat sedikit jadi aku bisa mengingat nama dan wajah mereka semua.
"Pagi bibi Annie"
"Pagi Rudo seperti biasa kau sangat bersemangat"
Yah meskipun kehidupanku sederhana tapi aku lebih senang hidup seperti ini dibandingkan kehidupanku yang sebelumnya sangat membosankan.
"Pagi paman Ozi apa yang harus aku lakukan?"
"pagi Rudo kau bisa membawa para domba itu menuju rumput yang ada di luar tembok kota belakang"
"baik paman"
Aku berjalan dengan kawanan domba yang berjalan mengikutiku, aku sangat senang dengan hidup seperti ini udara dan pemandangan yang alami dan sangat bebas, jika sudah punya banyak uang aku ingin membuat perternakanku sendiri karena aku sangat senang dengan hewan tapi aku sedikit penasaran bagaimana nasib teman-teman ku yang lainnya ya?.
Aku berjalan melewati pintu kota dan ada dua penjaga yang berjaga di pintu itu.
__ADS_1
"Halo Rudo rajin sekali pagi-pagi sudah berkerja" ucap salah satu penjaga
"terimakasih paman kalian juga semangat yah"
Matahari mulai tinggi dan udara mulai terasa panas, para domba juga sudah selesai makan dan buang air waktunya kembali ke kandang.
Saat aku sudah dekat dengan pintu tiba-tiba lonceng kota berbunyi dengan sangat nyaring dan dua orang penjaga itu terlihat panik, aku tidak tau dari makna suara lonceng itu tapi aku memiliki perasaan yang tidak enak.
Aku berlari dan mendekati paman penjaga itu dan bertanya.
"Ada apa paman?"
"Rudo kau cari adikmu dan lari melalui pintu belakang kota ini karena ada banyak sekali pasukan monster yang berjalan menuju kota ini"
Tanpa pikir panjang aku berlari meninggalkan domba dan terus berlari menuju rumahku yang terletak di bagian tengah kota.
Aku terus berlari dengan sekuat tenaga dan dari arah depan terlihat banyak sekali puing-puing batu yang terlempar dan terjatuh menghantam rumah.
Ada lubang yang sangat besar ditembok kota yang terlihat dengan sangat jelas dari mataku dan dari lubang itu masuk monster yang sangat banyak jumlahnya.
Aku mempercepat langkah kakiku dan dari kejauhan aku melihat rumahku hancur tertimpa batu besar.
Ah ah ah tidak tidak tidak kepalku sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Dinna" teriakku dengan keras sambil menggali tumpukan kayu rumah.
"Dinna di mana kau?"
"Kakak disini"
Suara rintihan kecil terdengar dari belakangku, aku pergi mencari sumber suara itu dan terlihat Dinna yang terlihat sangat lemas.
"Dinna kau tidak apa-apa?" sambil membersihkan debu dan serpihan batu kecil dari tubuhnya.
"Kakak cepat lari" dengan suara yang lemas.
"Ayo kita lari berdua"
Tapi aku tidak bisa menahan tangisku ketika aku melihat perutnya yang tertancap batu yang cukup besar dan kakinya tertimpa batu.
"Ah kenap semua ini terjadi kenapa" air mata terus menetes.
"Kakak tidak apa kakak harus selamat demi aku juga karena kakak harus mewujudkan mimpi kita yaitu mempunyai perternakan sendiri"
"Tidak tidak tidak tanpamu aku tidak berguna tolong jangan tinggalkan aku"
Terdengar suara teriakan minta tolong dan tangisan dari seluruh penjuru kota.
Lalu ada paman penjaga gerbang yang datang ke arahku, dia menarik bajuku dan menggendong ku di pundaknya.
"Lepaskan apa yang kau lakukan, aku tidak bisa meninggalkan Dinna"
"apa kau ingin mati dan membuang seluruh harapan adik mu itu huh?"
Dan terlihat Monster yang menggunakan armour serba hitam dan menggunakan pedang yang sangat besar berdiri di atas Dinna.
"Apa yang kau lakukan monster jika kau berani menyentuhnya sedikit saja aku akan membunuhmu pasti aku akan membunuhmu" dengan suara yang berteriak keras.
Monster itu mengangkat pedangnya.
"Kau tuli aku akan membunuh pasti aku akan membunuhmu pasti ahhhh tidakkk" dengan suara yang mulai serak.
Dan pedang itu menusuk leher Dinna hingga terputus.
"Aku pasti akan membunuhmu aku kan membunuh kalian semua aku pasti akan membunuh kalian semua" aku menggigit bibirku hingga berdarah.
Rasa kebencian ini tidak akan hilang hingga aku membunuh kalian semua.
__ADS_1