True Monster

True Monster
Chapter 31 - Permulaan


__ADS_3

Sorakan dan suara alunan musik yang sangat meriah memenuhi panggung, tirai merah yang sedikit demi sedikit terlipat di atas panggung dan ada seperti pancaran cahaya yang menyorot diriku di seluruh panggung seperti layar hologram jika di duniaku dulu.


Aku berjalan dengan lantai kayu yang terbesit akibat gesekan dari sepatuku, saat aku sampai di depan tirai semua tepukan tangan dan alunan musik terhenti.


Dari wajah mereka ada yang sedikit bingung karena bukan Barry yang maju melainkan orang lain, aku mengambil benda sihir untuk pengeras suara.


"Maafkan tuan ku Barry, dia tidak bisa datang untuk berdiri di atas panggung dia sedang mengalami sakit mendadak dan sedang dirawat, dia memberitahuku untuk menggantikannya selaku wakil jenderal" aku membukukan tubuhku sedikit.


Tepuk tangan kembali terdengar, aku melihat sekeliling dengan cepat dan , ada banyak sekali penduduk kota yang melihat acara ini dari luar stadion ,saat aku melihat ke kursi VIP aku melihat wajah yang sangat aku rindukan yaitu wajah para sahabatku.


ooopsss aku menutupi mulut dengan tangan karena tanpa sadar senyumanku hampir keluar, aku harus menahannya sebentar lagi.


"Para tuan dan nyonya yang terhormat, selamat datang ke kota Marras sebagai perwakilan dari kerajaan Hedom kami sangat senang atas kedatangan kalian."


"Pesta dan sambutan tidak sebesar rasa terimakasih kami kepada kalian semua karena mau datang dan menyetujui aliansi ini."


"Seperti yang kalian tau jika raja iblis yang baru sudah bangkit, kebangkitannya membuat kerajaan Hedom terkena dampak yang sangat hebat."


"Sudah ada dua kota yang telah menjadi korban dari amukan raja iblis itu, bahkan Raja Hedom sebelumnya mati di tangannya."


Aku mendapatkan sinyal dari prajurit undead yang bernama babi,dan sinyal itu adalah tanda Isabella sudah sukses melakukan tugasnya.


Kemarin malam.


Aku memerintahkan Isabella besok pagi dia akan pergi mengelilingi kota dan meletakkan prajurit tengkoraknya yang ada sepuluh ke seluruh penjuru kota dan saat semuanya dimulai dia harus menjaga gerbang agar tidak seorangpun bisa keluar dari kota.


"Para hadirin sekalian kita tau siapakah musuh dunia ini, musuh sebenarnya, musuh yang seharusnya dihancurkan agar bisa membawa perdamaian ke dalam dunia ini."


Aku mengangkat tangan kananku dan mengacungkan jari telunjukku ke arah tengan mereka.

__ADS_1


Wajah mereka semua bingung dan bisu melihat tanganku yang menunjuk mereka, wajah bodoh para manusia ini sangat nikmat sekali untuk dipandang ahhhhh aku sudah tidak tahan.


Skill Mimic(Ilusi yang merubah wujudku seperti manusia) ku perlahan menghilang, tanduk dan ekorku mulai terlihat dan aku sudah tidak bisa menahan senyuman ini.


"Namaku Catastrophe Raja Iblis yang baru AKU MENYATAKAN PERANG KEPADA KALIAN SEMUA, AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA HINGGA TIDAK TERSISA DAN MEMBANGUN KERAJAAN MONSTER YANG SEMPURNA DAN KOTA INI AKAN MENJADI IBUKOTA DARI KERAJAAN MONSTER YANG BARU" aku berteriak dengan kencang dan lekukan di bibirku yang lebar yang terlihat jelas di wajahku.


Dalam sekejap terjadi kepanikan yang luar biasa, seluruh orang pergi menjauh dan para kesatria dan prajurit mengeluarkan senjata mereka dan wajah syok para orang yang aku kenal dikota ini sangatlah nikmat.


"Bangkitlah"


Cahaya hitam pekat keluar dari seluruh penjuru kota, para prajurit ku bangkit dan mengepung kota .


Prajurit yang berada di hadapanku semuanya gemetaran ketakutan bahkan ada yang sampai terjatuh tidak sedikit juga yang lari ketakutan.


Tapi ada tujuh orang yang berdiri dengan peralatan bertempur yang lengkap berjalan mendekatiku ahhhh aku sangat ingin bertemu mereka di pesta besar ini.


Sudut pandang Isabella.


Tapi yang paling memalukan adalah aku sering sekali memeluknya seperti anak kecil arggg sangat memalukan, tapi aku sangat berterimakasih kepadanya karena telah menyelamatkanku dari neraka itu.


Aku sangat benci dengan manusia tapi aku bertemu dengan kakek dan Rize mereka adalah manusia yang baik, mereka mau menerimaku apa adanya dan merawatku padahal saat itu aku sedang gila.


Aku tau mungkin karena di mata mereka aku hanyalah seorang gadis manusia yang malang dan patut untuk dikasihani.


Jika semua manusia seperti mereka kami para manusia dan monster bisa hidup berdampingan tanpa ada rasa benci dan dendam.


Aku berkeliling kota sambil melakukan perintah Cata untuk menaruh sepuluh pasukan tengkorak di dalam bayangan di setiap sudut kota yang cukup sepi karena sepertinya semua penduduk pergi melihat stadion.


Setelah selesai aku memerintahkan tengkorak Babi yang dekat dengan gerbang barat untuk mengirimkan sinyal kepada Cata jika aku sudah siap, aku bergegas pergi ke gerbang kota yang berada di barat.

__ADS_1


Aku berjalan mendekati gerbang Gerbang barat, keadaan gerbang tertutup dan sangat sepi, hanya ada beberapa prajurit yang menjaga gerbang.


Aku membunuh mereka satu persatu tanpa ketahuan sehingga tidak terjadi keributan.


Setelah semua telah aku bunuh aku berdiri di atas gerbang, dan tiba-tiba cahaya hitam pekat keluar dari setiap arah aku meletakan prajurit tengkorak.


Dari tanah yang berwarna hitam pekat keluar pasukan Undead hingga menutupi seluruh penjuru kota.


Aku kaget dengan rencana sesungguhnya Cata yaitu pemusnahan massal kota.


Dari atas aku melihat banyak manusia yang berlarian dari arah stadion menuju gerbang.


Aku teringat dengan kakek dan Rize, aku turun dari gerbang dan berlari  ke kota untuk menyelamatkan mereka, aku berlari dengan sangat cepat melewati prajurit Undead yang berjalan maju menuju bagian tengah kota.


Aku menggunakan skill Mana Sense(Melihat aliran mana dan melacaknya) dengan itu aku bisa melacak keberadaan mereka, mereka masih ada di rumah.


Aku berlari menuju rumah mereka dengan cepat, aku masuk ke dalam rumah mereka dengan sangat tergesa-gesa.


"Eh Isa dimana Cata?" kakek.


"selamat datang kakak Isa" Rize.


Tanpa membalas mereka aku menarik mereka dengan kedua tanganku, wajah mereka terlihat heran dengan sikapku.


Tapi saat kami keluar rumah suasana kota sudah mencekam, suara jeritan dimana-mana, genangan darah di tanah berbatu, di sepanjang jalan ada banyak sekali mayat dan potongan tubuh tercecer dimana-mana.


Kakek dan Rize hanya bisa  terdiam melihat itu semua, aku menggendong mereka di pundakku untuk membawa mereka ke tempat yang aman.


Aku melompat ke atap rumah untuk menghindari para prajurit Undead yang ingin membunuh semua manusia  dan terus melompat menuju tempat cata, dari jauh terlihat seperti ada pertempuran dari arah stadion.

__ADS_1


Aku tidak bisa bergerak dengan cepat karena aku sedang membawa orang di pundakku.


Saat hampir sampai ke tempat Cata berada dari jauh aku melihat Cata yang sedang berdiri diam sambil melihat ke arah langit dan di hadapannya ada tujuh manusia yang berjejer dan terikat dengan kegelapan.


__ADS_2