
Saat aku ingin melanjutkan permainan itu tiba-tiba ada suara dari samping yang mendekat, aku menengok ke kiri dan melihat Isabella yang sedang membawa dua orang dengan melompat-lompati atap rumah dan aku tau siapa yang dia bawa.
Isabella berdiri di depanku dan menurunkan kakek dan Rize, ekspresiku datar melihat kedatangan mereka.
Kakek dan Rize terlihat kebingungan melihat wujudku yang berubah menjadi monster dan Rize memeluk kakeknya karena takut melihatku.
"Cata Kakek dan Rize harus dibawa ke tempat yang aman" Isabella.
Aku berjalan mendekati mereka, kakek dan Rize semakin ketakutan, wajah Isabella terlihat bingung karena ekspresiku sangatlah datar.
"Apakah cucukku dapat diselamatkan Cata?" ucap kakek dengan suara yang dipenuhi rasa takut dan tubuhnya bergetar hebat.
"Begitu yah, aku tau jika suatu saat hari ini pasti akan terjadi, ulah manusia yang begitu kejam kepada para monster sudah seperti penghargaan bagi mereka, tapi setidaknya bisakah tidak dengan rasa sakit?" kakek sambil memeluk cucunya di tanah.
Rize terlihat bingung dan takut karena melihat kekeknya yang meneteskan air mata sambil memeluknya.
"Maafkan kakek Rize karena kakek tidak bisa membesarkanmu tapi setidaknya kau bisa bertemu dengan orang tuamu lagi" wajah kakek tersenyum sambil mengusap kepala Rize.
Isabella berlari kepadaku sambil meneriakkan sesuatu tapi aku tidak mendengar apa yang dia bicarakan.
"Gluttony"
Aura hitam membungkus dan memakan mereka dengan cepat tidak tersisa sama sekali bahkan tidak terdengar suara jeritan dari mulut mereka.
"Kenapa kau membunuh mereka, mereka sudah merawat kita apakah kau sudah gila?" sambil memegang tanganku.
"Rize apakah dengan cara ayahmu terdahulu dengan kebaikan bisa merubah dunia ini?, jika aku membiarkan mereka bebas pastinya mereka akan mati dengan monster yang lainnya atau akan menimbulkan dendam baru" sambil melepaskan tangan Isabella.
Aku berjalan kembali menuju teman-temanku tapi aku sekarang sudah bosan dengan permainan tadi.
"Baiklah maafkan aku teman-teman telah membuat kalian menunggu, ayo langsung kita percepat saja tadinya aku mau melakukan ini sampai kalian tersisa empat orang tapi kita langsung ke intinya saja"
"Sekarang Astorfo siapakah yang kau pilih dirimu sendiri atau mereka ber lima?"
Semua orang yang ada disana terlihat putus asa sambil menundukkan kepalanya ke tanah dan tidak ada dari mereka yang berani untuk berbicara, ditengah keheningan itu aku mulai menghitung.
__ADS_1
"Lima"
"empat"
"tiga"
Saat hitungan ke tiga mulai terdengar suara tangisan dengan suara pelan dari Amellisa.
"Huuuuu kenap ini terjadi mama tolong huuuuu"
"Dua"
Mulai terdengar suara penyesalan mereka tapi Astorfo masih tidak berbicara apapun.
Saat aku ingin menghitung angka satu Astorfo menyelak hitunganku.
"Mereka, aku memilih mereka".
Wajah dari temannya terlihat kaget dan mereka tidak berani berkata-kata.
Ini aneh sekali tidak mungkin Astorfo bisa sebaik ini dia berani mengorbankan nyawanya demi orang lain?, tidak mungkin.
"Gabi sekarang aku sudah berubah berkat Rihana, aku sangat ingin membunuhmu dan ingin balas dendam tapi dulu aku telah melakukan hal yang sangat jahat kepadamu bahkan meskipun sekarang aku tau yang membunuh Rihana adalah kau aku merasa aku tidak memiliki hak untuk dendam kepadamu dan nyawa teman-temanku lebih berharga bagiku"
"Huhh apa apaan itu? lalu kenapa kau tidak berubah sejak dulu? kenapa kau terus menyiksaku dulu? kenapa kau selalu mempermalukan ku dulu? kenap kenap kenapa kenapa KENAP tidak dari dulu?" sambil menginjak kepalanya.
"Maafkan aku Gabi sejak lahir di dunia ini aku selalu ingin minta maaf"
"Huh kau minta maaf sekarang sudah terlambat, di dunia ini aku memiliki orang yang mencintaiku mereka lebih berharga dari apapun juga karena kalian menghancurkan kerajaan monster orang yang ku cinta orang yang berharga mati dibunuh dengan sadis sekarang kau ingin minta maaf?"
"Maaf Gabi"
"Maafkan kami Gabi, kami sangat menyesal" kata lima orang yang lain dengan wajah penuh dengan penyesalan.
Apa apaan ini kenapa semuanya begini aku ingin melihat wajah penderitaanmu tapi kenapa begini aku ingin melihat wajah keputusasaan kalian tapi kenapa begini, ahh ini sama sekali tidak menyenangkan.
__ADS_1
"Cata biarkan mereka hidup, pasti ada cara lain untuk membuat dunia yang damai, tanpa adanya perang, mereka pasti akan membantu kita dalam bernegosiasi dengan manusia"
Aku melihat ke atas langit, ada cahaya yang melewati cela awan hitam dan tepat mengarah kepadaku.
Aku mengingat semua perbuatan mereka dulu di sekolah, aku pernah dipukuli hingga tubuhku memar dan wajahku dipenuhi darah dengan gigi yang sudah tidak lengkap.
Aku pernah dipaksa minum air ****** yang terlihat kotor, jika tidak mereka akan menyundutkan rokok ke seluruh tubuhku.
Aku pernah ditelanjangi di depan kelas pada saat jam istirahat dengan tubuh yang di ikat di papan tulis hingga wali kelas masuk dan melihatku tapi wajahnya merasa jijik dan membiarkanku tetap di ikat hingga pelajaran selesai.
Di dunia ini aku memiliki keluarga yang sangat mencintaiku, untuk pertama kalinya aku merasakan kehangatan dari kata cinta tapi kalian semua merebutnya.
Dan sekarang kalian minta maaf?.
"hahahahahahahahahaha" aku tertawa dengan sangat keras sambil memegang wajahku dengan satu tangan semua orang yang ada disana melihatku.
Dan kembali melihat langit yang cahaya yang tembus melalui awan gelap semakin lama semakin redup tertutup oleh awan yang lebih gelap lagi.
Tetesan air mulai berjatuhan dengan lambat, tetesan air itu semakin lebat menuju permukaan tanah tapi tidak ada satupun tetesan air yang membasahi tubuhku.
Karena aku adalah badai itu sendiri, badai tidak akan berhenti sampai awan gelap menghilang dan sekarang awan itu semakin gelap.
"Aku juga mina maaf teman-temanku" dengan senyuman tipis yang keluar dari wajahku.
Wajah mereka terlihat senang dan legah karena pikir mereka, mereka telah selamat.
Tapi tubuh mereka selain Astorfo diselimuti dengan bayangan hitam dan dalam sekejap tubuh mereka hilang tanpa bersisa karena ku telah memakan mereka tanpa ada penderitaan.
"Gabi kenapa kau bunuh mereka, bunuh saja aku, aku sudah memilih mereka untuk hidup kenapa kau mengingkari janjimu itu?" terus berteriak dengan wajah yang dipenuhi putus asa.
"Cata kenapa kau melakukan ini?" kata Isabella dengan wajah sedih.
"Isabella kau sama sekali tidak mengerti dengan jahatnya dunia ini, apa menurutmu dengan berdamai bisa menyelesaikan masalah?, ayahmu sudah mencoba berdamai tapi mereka terus menolak niat baik ayahmu".
"Satu satunya cara agar dunia ini damai agar dendam yang terus mengikat kita seperti rantai agar hilang salah satu di antara kita harus musnah dan aku tidak bisa berhenti sampai disini, harus ada orang yang melakukannya" aku melihat dengan serius ke mata Isabella yang terlihat ingin menangis.
__ADS_1
Hatiku yang dipenuhi kepahitan kepada mereka semua sudah lenyap dan hanya membekaskan kekosongan dihati tapi aku tidak boleh berhenti sampai disini karena aku masih memiliki tugas untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik
Dan rencana besar pemusnahan manusia dimulai.