
PANDANGANKU ini masih lekat memandangi luasnya hamparan perkebunan teh yang membentang luas membelah cakrawala,membentuk undakan-undakan cantik yang melengkapi indahnya panorama dusun kecil di ujung senja kota puncak.
Aliran jernih yang menganak sungai mengalir berliku-liku mengikuti alur seluit bukit kecil yang terjal.Betapa indahnya alamku di dusun kecil yang penuh dengan berbagai mimpi yang sering menjadi penghias tidur malam ku,mimpi yang serta merta akan merubah perlahan perjalanan kisah hidupku.
Namaku ANNABILA gadis sipemilik mimpi-mimpi indah itu,dan aku adalah sosok gadis yang selalu mempuyai mimpi besar untuk bisa bangkit dari keterpurukan kesenjangan hidupku ini.
Masa kecilku memang tidaklah terbilang cukup bahagia, karena setelah ke dua orang tua ku meninggal aku hidup dan tumbuh besar dengan seorang nenek yang penuh dengan keterbatasan sosial dalam membesarkan ku ini,namun nenek adalah perempuan yang begitu sangat menyayangiku lebih dari apapun.
Perjalanan hidup ku tak hanya sampai di situ saja,aku yang hidup dengan serba kekurangan telah terbiasa dengan rasa susah yang mendera.Mau tak mau aku di tuntut untuk terus bekerja banting tulang hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupku bersama nenekku tersayang.
Tapi aku selalu bersyukur dalam ketiadaanku ini aku selalu dikuatkan oleh seorang malaikat yang tak bersayap,malaikat yang selalu menjagaku serta mendidikku dengan penuh kasih sayang walau dalam keterbatasannya.
Dia selalu mendidikku dengan begitu mandiri,memahami arti kehidupan yang sesungguhnya,memberikan berbagai motifasi agar aku tak patah semangat.Karna kelak jika semua telah tiada aku masih bisa berdiri dengan kuat di kakiku tanpa harus banyak mengeluh.
Dialah nenekku yang sangat begitu menyayangiku lebih dari siapapun,dialah satu-satunya orang yang sangat berharga dalam hidupku.
Kelak nanti aku akan persembahkan kebahagiaan yang aku miliki hanya untuk nenekku.
" An !! ayo pulang...!" Teriak nenek mengejutkan aku dari lamunan panjangku.
" I iya nek.Tunggu sebentar nek, Ana beresin dulu tehnya." Balasku seraya bergegas merapihkan karungan teh yang berada di hadapanku.
" Yaa ampunn !!" Nenek menggeleng setelah meleihat pekerjaanku belum rapih.
" Kamu dari tadi ngapain saja atuh ?kok baru di rapihin ?" Tanya nenek dengan lembut lalu ia membantu merapihkannya.
" Tadi Ana kecapean nek,jadi istirahat dulu sebentar." Ucapku sambil segera merapihkan keranjang yang berisi teh teh segar lalu di alihkan kedalam karung.
" Kamu tuh ya, bukannya cepat-cepat selesaiin dulu pekerjaan kamu malah santai santai saja.Ini teh udah sore." Imbuh sang nenek dengan sabar.
Aku hanya tersenyum seraya terus merapihkan daun teh teh tersebut.
" Kamu teh baik baik saja ? nenek perhatikan dari tadi melamun saja.Jangan suka ngelamun apa lagi di tengah kebun kaya gini nanti kesurupan." Ujar nenek mengingatkannku dengan barbar.
Aku lagi lagi hanya tersenyum lucu menatap sang nenek.
" Tidak atuh nek, Ana mah ngelamunya juga tidak yang macam- macam, Ana mah ngelamunnya juga ingin ngebahagiain nenek." Ucapku seraya mengikat keras ujung karung yang sudah berisi penuh teh-teh hijau yang sudah aku petik.
" Anna !! Nenek sudah melihat kamu sehat sama rajin bekerja saja itu sudah cukup membuat nenek bahagia.Nenek tidak berharap lebih,yang penting kita masih di beri kesehatan buat ngejalani hidup ini." Ucap nenek bijak seraya merangkul hangat pundakku.
Aku tidak mampu menjawab lagi hanya mampu tersenyum getir seraya merangkul pinggangnya sang nenek.
" Ayu atuhh nanti kita ke sorean setor tehnya !" Ucap nenek mengajak ku pulang.Tak lama ia pun mengangkat kembali keranjang yang berisi teh hijau dan meletakan nya di atas punggungnya,dan aku pun manut mengikuti langkah nenekku dari belakang.
Terkadang sering aku amati dalam diam ku ketika nenek harus mengangkat beban sebegitu beratnya namun dia tidak pernah mengeluh sesikitpun tentang rasa lelahnya.
Benar benar tak ada kata sedikitpun keluhan yang terlontar dari mulutnya seolah- olah dirinya selalu menunjukan bahwa diriya baik-baik saja, bahkan yang sering aku lihat nenek selalu terlihat tegar dan sabar dalam menghadapi kenyataan hidup ini.
__ADS_1
Sekalipun itu hanya sekedar kata cape,sama sekali tak indahkan oleh dirinya dan ia selalu menyunggingkan semyuman yang tak pernah pudar.
Sesampainya di tengkulak aku dan nenek segera menyerahkan daun pucuk-pucuk teh tersebut.
" Mak War sore sekali mak kesininya ? " Seorang perempuan setengah baya menyembul dari arah pintu gudang penyimpanan teh. Yang usianya yaa tidak terlalu jauhlah dengan usianya sang nenek, hanya saja penampilannya masih terlihat segar dan modis.Mungkin karena segala kebutuhan hidupnya lebih tercukupi sehingga setidaknya membuat dia terlihat lebih segar dan terawat.
Penampilannya yang selalu terlihat staylis menjadikan perempuan tua itu terlihat lebih awet muda di banding nenekku.
" Iya Nyai , tadi sore gerimis jadi saya berhenti sebentar,takutnya hujannya akan deras,tapi tau taunya ternyata hanya gerimis saja " Ucap nenekku dengan penuh hormat.
" Gimana An kamu cape ya ?" Tanya Nyai menatapku lembut.
" Ahh tidak terlalu juga nyai,cuman sedikit pegel saja " Jawabku seraya meluruskan kakiku untuk melepas lelah.
NYAI adalah panggilan perempuan ningrat di tanah sunda yang notabenenya memiliki keturunan para bangsawan.Nyai ini yang mempunyai nama lengkap RADEN NYAI PURWA DINATA pun pemilik perkebunan teh yang sangat luas hingga berhektar-hektar di dusun tempat kelahiranku ini.
Tanahnya yang luas hingga berhektar hektar serta memiliki pegawai yang hampir mencapai puluhan membuat ia termasuk salah satu orang yang terkaya di desaku ini.
Tidak hanya itu meski Nyai termasuk orang yang terpandang namun beliau sangat dermawan dan memiliki hati yang tulus dalam membantu orang-orang yang mengalami kesulitan ekonomi di tempat itu dan tidak tetkecuali nenekku.
Nyai sangat menyayangi nenekkku sehingga masih membiarkan nenek bekerja di perkebunan tehnya meski dengan usianya semakin senja.Karena hampir dari sebagian hidupnya nenek ku menghabisakan waktunya untuk mengabdi di perkebunan Nyai hingga sampai saat ini.
" Mak War, ini beras sama lauk pauknya jadi kamu tidak usah beli lagi dan uang tehnya bisa kamu simpan saja buat keperluan yang lain." Ucap Nyai sambil menyodorkan sekeresek sembako ke hadapan nenekku.
" Aduh !! makasih banyak nyai,maaf saya ngerepotin Nyai jadinya " Ucap nenek dengan menatap tidak enak hati.
" Tidak apa-apa Mak War !!.Selama saya masih bisa menolong saya pasti akan menolong Mak." Sela Nyai tersenyum lembut dan aku hanya menyimak saja tanpa ikut berbicara.Nyai menolehku dan ia pun berkata padaku.
Aku terhenyak lalu berseru kecil.
" Benarkah Nyai ? " Seruku dengan sangat girang.
" Iyaa.Nay juga ada bilang bahwa dia sudah kangen sama kamu " Ucap Nyai dengan ramah.
" Kalian memang sabahat baik dari kecil." Sela lagi Nyai dengan menatapku lembut.
" Gimna keadaanya Nay Nyai ?." Tanyaku dengan cemas.
" Hmmm...," Nyai terlihat menarik napas dia terlihat mencoba menyembunyikan sesuatu hal yang berat dari raut wajahnya.
" Kali ini mudah-mudahan kondisinya Nay akan terus membaik ya An." Ucap Nyai dengan perasaan pilu.
" Iyaa.Aamiin nyai,saya selalu mendo'akan semoga neng Naiysa teh cepat sembuh." Sela nenek menimpali dengan perasaan sedih.
" Iya aamiin." Sahutku hanya tersenyum lembut.
" Makasih banyak do'anya mak." Balas Nyai lembut.
Nenek bersama ku mengangguk dengan penuh hormat.
" Kalau begitu kita akan pamit dulu nyai hari sudah semakin sore nanti kami kesorean nyampe rumah."Pamit nenekku dengan penuh hormat.
" Yaa sudah atuh kalian istrihat." Ucap Nyai dengan ramah.
__ADS_1
Aku bersama nenek pun segera bergegas meninggalkan rumah Nyai,tanpa berbicara kita saling terdiam dalam perjalanan menuju pulang.
__________
MALAM menanti sang pagi berjalan merambat melalui celah-celah waktu yang terus berputar.
Aku yang sedang terdiam dalam sepi mencoba mengingat kembali ke waktu yang silam,aku,Naisya dan Randika adalah teman di masa kecil yang selalu bersama dalam keadaan suka dan duka,dan mereka pulalah yang bisa merima kehadiranku tanpa mempersalahkan ke adaanku ini.
Naiysa adalah sahabat kecilku yang selalu memberikan apa yang kubutuhkan,dia adalah sosok sahabat yang begitu sangat perhatian sehingga kebaikannya melebihi seorang saudara,faras yang cantiknya serta sikapnya yang menarik dari dulu tidak pernah berubah hingga sampai saat inipun Nay tetap cantik dan enerjik.
Masa-masa yang indah itu selalu ku kenang dan kami pun tumbuh bersama hingga masa dewasa menjelang.
" Anna !" Panggil nenek dengan suara lirih.
" Nenek." Jawabku dengan tersentak kaget.
" kamu teh belum tidur ?ini kan sudah larut malam ?" Tanya nenek menghampiriku.
" Ana teh sepertinya belum ngantuk nek." Jawabku sambil terus memandangi langit biru yang berhiaskan bintang-bingang kecil bertaburan.
" Tidur atuh !nanti subuh kamu teh kesiangan,dan pastinya kita teh bakalan telat memetik tehnya." Ucap nenek sambil berdiri di sampingku.
" Beberapa menit lagi ya nek Ana masih ingin menatap langit itu." Ucapku seraya menunjuk ke arah langit sana.
" Memangnya teh ada apa di langit sana?" Tanya nenek sambil mendongkak ikut menatap ke arah langit sana.
" Ada mimipi-mimpi indah dan harapan yang berarti untuk Ana dan nenek di masa depan nanti he he ." Ucapku sambil memeluk tubuh yang renta itu,namun masih ada semangat yang kuat untuk menjalani kerasnya kehidupan ini.
" Nenek yakin suatu saat nanti kamu akan mendapati kebahagiaan itu.Dan percayalah kamu pasti bisa bangkit dari kesulitan ini." Ujar sang nenek menatapku sendu.
" Aah nek,seandainya aku di takdirkan menjadi orang kaya raya ingin rasanya aku bawa nenek dari kehidupan yang sulit ini." Pekiku dalam hati dengan menatap getir paras wajah nenekku tersebut.
_______€€
SANG fajar telah menyingsing menggantikan waktu sang malam,menjemput sang pagi yang akan datang dengan berbagai kegiatan.Aku berdiri di depan rumah sederhanaku dengan beberapa peralatan tempurku yang sudah aku siapkan sebelumnya.
Sebuah keranjang besar sudah berada di punggungku, itu artinya aku sudah bersiap-siap untuk pergi keperkebunan teh.
Tak lama aku berjalan beriringan dengan sang nenek menyusuri jalan setapak yang di sebelah kanan kirinya tumbuh ilalang yang memagari.
Sesekali aku menghela dan menyapu lembut peluhku yang mulai bercucuran di dahiku,sinar mentari mulai menghatkan tubuh yang sudah kian basah oleh peluh.
Aku toleh nenekku yang berjalan tidak jauh dariku ia terlihat begitu tenang dan sedikitpun tidak ada rasa lelah di raut wajahnya itu,yang terlihat hanya ada garisan kulit yang sudah menua dengan seiring waktu yang bergulir.
Sesampainya di bukit tinggi yang terhampar luas akan tumbuhan teh yang menghijau, aku pun tak menunggu lama segera memulai aktivitasku, tanpa beristirahat,tanpa menjeda apapun aku langsung berjibaku dengan pekerjaanku.Dan di tepi perkebunan sebelah sana sudah terlihat banyak para pekerja yang lainnya yang memulai kegiayatannya.
Sebagai mata pencarian pokok di dusun ini,memetik teh merupakan pekerjaan yang sudah menjadi turun-temurun dari keluarga pendahulunya,pekerjaan ini di gelutinya hingga sekarang ini,dan pada umumnya yang bekerja di perkebunan ini terbilang para kaum perempuan yang mendominasi.
Seperti aku dan nenekku ini.Aku dari usia tujuh tahun sudah di ajarkan untuk bekerja,tak ada waktu untuk bermain atau sekedar berleha-leha di saat usia masa kecilku.Semua ku lakukan dengan ikhlas tanpa harus mengeluh.Yaa aku tidak bisa melihat saja dan berdiam diri ketika melihat kehidupanku yang seperti ini.
Aku berjuang dengan sekuat tenagaku dan berdo'a di sepanjang sujudku yang selalu menemaniku di setiap iringan langkahku.
*Bersambung*
__ADS_1